Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2018

Luka Menuju Makkah

“Ahlan wasahlan, ya ukhti!”

Sayyidah Khumairah menyapaku ketika pak Rosyad mengenalkanku kepadanya. Binar matanya menyuguhkan keramahan dan kehangatan yang meluap ke dalam kalbuku. Kegugupan yang sedari awal mencengkramku perlahan surut. Seolah Aku bukan orang asing yang baru saja menjejakkan kaki di rumahnya. Kutatap suaminya Sayyid Kamil. Tak ada beda. Mereka sama-sama hangat penuh kerendahhatian.

Luka Menuju Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Luka Menuju Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Luka Menuju Makkah

“Semoga nak Sarifa nyaman bekerja di sini,” ucap Sayyid Kamil.

Aku hanya tersenyum tanpa berucap sepatah kata pun dalam ta’aruf ini. Lalu Sayyidah Khumairah menjelaskan tugas-tugasku bekerja di rumahnya. Terhitung ringan karena mereka tidak mempunyai anak. Ia juga berulang kali mengucapkan terima kasih pada pak Rosyad yang telah mengantarkan pembantu baru di rumahnya.

PKS Piyungan Taubat

Ya, Aku bekerja hanya sebagai pembantu rumah tangga biasa di negeri para nabi ini. Tak peduli, apapun pekerjaanku asalkan halal dan bisa membantu biaya pendidikan Naya, adikku nun di tanah air sana, serta menyampaikanku pada angan yang tak henti membara. Kuliah di Makkah adalah mimpi yang sekian tahun terjaga lekuk hidup. Tekad dan ketawakalanlah yang menyanggaku menata hidup baru, bersama kesendirian, dekapan rindu kepada keluarga dan kerabat-kerabatku di tanah air. Semoga mesir jalan awalku menggamit mimpi di kota ka’bah ini.

PKS Piyungan Taubat

Cairan hangat menapaki kedua pipiku tatkala pak Rosyad pamit pulang dan tak menemaniku lagi. Ia masih banyak urusan terkait profesinya sebagai agen visa dan pengkoordinir TKW dari indonesia. Meski kami baru mengenal dalam beberapa hari, namun sungguh saat ini hanya dia orang yang setanah air denganku.

“Jaga dirimu baik baik, sepertinya Sayyidah Khumairah menyukaimu hingga ia begitu hangat, dan jaga pula kepercayaannya,” pesan pak Rosyad.

Aku mematung dijalari kegugupan. Oh tuhan..., bukan main saat ini aku benar-benar sendiri di negeri orang. Sering kudengar kisah kisah tragis tentang nasib para pengembara dari tanah air terutama pekerja rumah tangga sepertiku. Sebagian dari mereka didera permasalahan serius, majikan yang tak memberi gaji, pekerjaan rumah yang sangat berat, siksaan majikan perempuan yang dipicu kecemburuan kepada suaminya karena menggoda atau terlibat hubungan istimewa dengan khodimahnya.

Lalu seperti apakah nasibku ke depan? Akankah tak ada beda dengan nasib kawan kawanku yang berujung duka? Ataukah didera rindu pada tanah air yang tiada henti menjamah lorong kalbuku?

***

Goresan waktu menyadarkanku bahwa tak ada satu pun sikap yang menggundahkan jiwaku dari Sayyidah Khumairah atau Sayyid Kamil. Semakin hari rasa sayang mereka benar-benar menenangkanku. Mereka tak pernah memberi pekerjaan yang berat untukku, sewajarnya saja. Bahkan tiap pekan kami berlibur ke tempat tempat bersejarah di Mesir. Ah, andai saja Sayyidah Khumairah mengajakku singgah di Makkah, kota pemangku mimpiku, pastilah rindu dan ketidaksabaran ini sedikitnya terobati meski tidak dengan tujuan kuliah.

Makkah, kau semakin meliuk-liuk di dasar hatiku menawarkan sejuta kenyamanan kalbu kala gema adzan membahana. Nikmatnya shalat berjama’ah di Masjidil Haram, tiap langkah tertata rahmat dari-Nya. Apalagi sambil menimba ilmu. Sungguh, Makkah tunggullah aku meraup ilmu-ilmu di tempat nabi kita mendakwahkan syi’ar-syi’ar agung agama islam.

“Sarifa, tolong kamu jaga Abi! Dia sakit. Aku harus menghadiri acara yang sangat penting,” perintah Sayyidah Khumairah. Ia tampak tergesa gesa keluar rumah.

Pengembaraanku pada Makkah seketika buyar. Aku tercenung mencerna ucapannya. Sayyid Kamil sakit, hanya Aku yang merawatnya hingga malam nanti. Terus terang hatiku enggan menjaganya. Bukan karena aku tak ingin merawatnya, tapi hatiku berfirasat lain. Mungkin karena gugup berhadapan dengan Sayyid Kamil, apalagi sampai menunggui di kamarnya. Bayangan teh Narti, tetanggaku di Indonesia, berkelebat. Nasib tragis menimpanya ketika ia berdua di rumah majikannya.Hanya berdua dengan majikan laki laki. Si majikan bersikeras menjamah tubuh teh Narti hingga tubuhnya dipenuhi luka pukulan dan kembali ke tanah air tanpa mengantongi uang serupiah pun. Aku bergidik ngeri mengingat nasibnya berakhir luka.

Perlahan kuseret kakiku ke tempat tidur Sayyid Kamil ia nampak terkulai dalam balutan selimut tebal. Aku hanya mematung di pintu kamar tak berani menanyakan sakit yang ia derita atau sekedar menawarkan air hangat.

“Sarifa, kemarilah!” ujarnya seraya melambaikan tangan. Seketika tenggorokanku tercekat . Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutku untuk mengiyakan atau segera menyeret langkahku ke arahnya.

“Kemarilah!” pintanya kembali ketika aku masih bergeming. Dengan segala ketawakalan, perlahan kakiku melangkah dan kini berada di sampingnya.

“Duduk!” perintahnya seraya menunjuk ke sampingnya.

Dadaku bergemuruh, bertalu-talu seakan satu kata yang ia lontarkan bagai dentuman keras yang menanggalkan kekuatanku. Mau tak mau aku pun terduduk di sampingnya. Ia beringsut dan mensejajari posisi dudukku.

Huuhhh.... dadaku semakin tak karuan. Lalu, kurasakan sesuatu tengah menggerayang di punggungku. Kontan aku bangkit dengan perasaan amat mencekam.

“Diam atau kau mati!” kecamnya begitu buas.

Langkahku tersekat menuju kamarku. Seketika tangisku memecah. Lututku terasa berat melemah dan akhirnya ambruk.

“Ya Allah........tolong Aku!” pekik hatiku.

Ia beranjak mendekatiku, ia tersenyum penuh kegetiran. Tubuhku bergetar hebat, keringatku bercampur air mata yang kini jadi isakan yang sejadinya.

Sayyid Kamil yang begitu ramah kini menjelma hewan buas.

“Diam! Jangan menangis! Aku tidak akan mengapa-apakanmu. Kalau kamu bisa memenuhi keinginanku,” bentaknya. Bengis. Tepat di telingaku.

“Sayyid kalau mau makan atau air hangat saya akan bawakan sekarang,” tawarku tetap dengan tangis membuncah dan suara yang nyaris lenyap.

“Aku tak butuh itu. Lagi pula aku tidak sakit. Bagaimana kamu bersedia menemaniku menikmati surga duniawi?”

Aku menyeret kakiku kuat-kuat. Sial! Mengapa begitu kaku dan berat. Sedangkan dia terus mendekatiku. Tak mau menyerah.

“Tap...!” ia mencengkram kedua bahuku.

Aku meronta, memukulnya sekuat mungkin. Ia semakin tertantang malah. Jilbab dan penutup wajahku dengan kasar dijambak hingga tak sehelai kain pun yang menutupi kepalaku.

Lagi-lagi ia tersenyum penuh kemenangan. Tubuhku diseret dan diempaskan begitu saja ke atas ranjang.

Ia mendekati tubuhku. Sementara aku tak henti menepisnya, meski tubuhku semakin melemah.

“ Ya Allah, tak ada yang mampu menolongku selain Kau!” batinku menjerit menunggu pertolongan-Nya .

“Abii!” seketika bentakan keras menghentakkan Sayyid Kamil yang tengah membabi-buta. Ia menoleh ke belakang.

Tampak Sayyidah Khumairah berdiri menahan lonjakan amarah. Ia berlalu tanpa melontarkan satu kata pun. Sayyid Kamil berlari memburunya. Dan entahlah yang mereka lakukan. Sejurus kemudian terdengar suara pecahan beling bersahutan.

Aku selamat! Terimakasih, ya Allah! Tangisku meledak sambil memeluk kedua lututku. Sebutir cairan menjatuhi tanganku, memerah. Kuusap, darah bersimbah dari sudut bibirku. Ah, aku terisak sejadi-jadinya.

***

Tiga hari berlalu dari kejadian itu, selama itu Sayyidah Khumairah tampak jengah di depanku. Hingga aku tak tahan. Akhirnya aku memutuskan mengemasi barang-barangku.

Malam tadi sudah kuceritakan semua kejadian kepada Pak Rosyad. Ia sangat kaget dan menyuruhku untuk segera pergi dari rumah ini. Ia juga akan menjemputku beberapa saat lagi. Terakhir kutatap gambar ka’bah yang menggantung di dinding kamarku. Aku terisak sambil beranjak berniat menata langkah baru di luar sana.

“ Tunggu perempuan penggoda!”

“Plakk...” tamparan keras mendarat di wajahku. Tubuhku seketika terpelanting.

Aku terbangun gelagapan. Tampak di depanku Sayyidah Khumairah dengan wajah bengis. Matanya membulat. Kudengar deru nafas memburu di dadanya.

“Sayyidah, sungguh saya tidak pernah menggoda Sayyid Kamil,” ujarku merajuk bercucuran air mata.

Ia tak menggubris. Malah menyungkurkanku ke lantai.

Aku meringis.

Ketika aku bangkit, sebuah benturan keras mengambrukkan tubuhku. Seketika butir-butir cahaya hitam menyergap retinaku. Bumi terasa berputar mengelilingiku. Cairan hangat membasahi kepala. Ah, tubuhku ringan melayang-layang.

Sunyi menyungkupi tubuhku.

Hai! Apa itu? Ka’bah tampak terbang seolah akan menjemputku yang tengah melayang. Lalu itu! Riuh mahasiswi Makkah memasuki sebuah gedung. Namun, mengapa ada seorang perempuan yang tersenyum kepadaku. Dan herannya, perempuan itu adalah aku! ?

Dan cahaya Makkah begitu jelas menyemburat. Gema adzan menyusuri relung-relung hatiku. Namun, tiba-tiba senyap. Ka’bah seketika hilang tak adalagi suara suara yang menangkupi telingaku.

Kemana?

Senyap!

Kombongan, 3 Maret 2013

SITI ROHMAH adalah santriwati Pondok Pesantren Nuruh Huda, Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Ia masih tercatat sebagai siswi Madrasah Aliyah Nurul Huda.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul Ulama, Berita, Pondok Pesantren PKS Piyungan Taubat

Kamis, 15 Februari 2018

Tak Terbukti Iran Buat Senjata Nuklir

Moskow, PKS Piyungan Taubat. Direktur Institut Orientologi Akademi Sains Nasional Armenia Ruben Safrastyan, dengan mengacu pada sifat program nuklir damai Iran, mengatakan tidak ada bukti mengenai upaya Teheran untuk membangun senjata nuklir.

Tak Terbukti Iran Buat Senjata Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Terbukti Iran Buat Senjata Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Terbukti Iran Buat Senjata Nuklir

Dalam satu wawancara dengan situs Rusia Regnum pada Jumat, Safrastyan mengatakan bahwa tidak ada organisasi intelijen di dunia yang memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Iran sedang membuat senjata nuklir.

Ia menambahkan bahwa informasi dari semua organisasi intelijen menunjukkan bahwa Iran belum mampu mencapai tingkat pengayaan uranium untuk memungkinkan membuat senjata nuklir.

PKS Piyungan Taubat

Direktur Institut Orientologi Armenia melanjutkan bahwa Iran tidak melanggar program deklarasi nuklir damainya dan inspeksi dari para ahli Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) telah membuktikan kenyataan ini beberapa kali.

PKS Piyungan Taubat

Analis Armenia mengatakan bahwa Iran belum membuat keputusan politik untuk membuat senjata nuklir, dan menambahkan bahwa mempertimbangkan upaya damai Iran di wilayah tersebut, mereka tidak akan membuat senjata atom.

Ia mengatakan bahwa ancaman-ancaman AS dan militer rezim Zionis dan propaganda media mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran merupakan bagian dari perang psikologis terhadap Iran, dengan tujuan menciptakan ketidakpuasan dan kekhawatiran di kalangan rakyat Iran.

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber   : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul Ulama, Pondok Pesantren PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 10 Februari 2018

Keharaman Menunda Pelaksanaan Zakat Harta

Harta yang telah memenuhi segala persyaratan wajib zakat, seperti nisab (jumlah minimum wajib zakat) dan haul (mencapai setahun) harus segera dikeluarkan zakatnya. Seperti dijelaskan pada tulisan sebelumnya, secara umum aset zakat harta/kekayaan (zakat mal) meliputi hewan ternak, emas dan perak, bahan makanan pokok, buah-buahan, dan mal tijarah (aset perdagangan). Berbeda dari zakat fitrah, kewajiban zakat mal adalah wajib faur (harus segera dilaksanakan), tidak boleh ditunda-tunda, ketika syarat wajib telah terpenuhi.

(Baca: Dua Jenis Zakat yang Wajib Ditunaikan)Menunda pembayaran zakat mal sebab menunggu momen tertentu seperti bulan Ramadhan atau yang lainnya, hukumnya haram. Hal ini disebabkan kebutuhan para mustahiq zakat (orang yang berhak menerima zakat) tidak bisa ditunda. Syekh Zakariya al-Anshari berkata:

Keharaman Menunda Pelaksanaan Zakat Harta (Sumber Gambar : Nu Online)
Keharaman Menunda Pelaksanaan Zakat Harta (Sumber Gambar : Nu Online)

Keharaman Menunda Pelaksanaan Zakat Harta

? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ?

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat

“Membayar zakat pada waktunya ketika sudah memungkinkan hukumnya wajib dengan segera karena hal itu diperintahkan seiring kebutuhan para mustahiq zakat yang mendesak.”(Zakarya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, jilid IV, halaman 481)

Kecuali penundaan yang dilakukan sebab ada alasan yang dibenarkan, seperti tidak ditemukan mustahiq zakat, menunggu kerabat yang akan diberi zakat, menunggu kedatangan tetangga yang membutuhkan, atau menunggu orang yang lebih membutuhkan. Syekh Zainuddin al-Malibar berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jika penundaan karena menunggu kerabat, tetangga, orang yang lebih membutuhkan atau orang yang lebih soleh, maka tidak berdosa.” (Zainuddin al-Malibar, Fathul Mu’in, Semarang, Toha Putra, cetakan ke tiga, 2001, halaman 76)

Ini pun jikalau para mustahiq zakat yang telah ada tidak dalam kondisi sangat mendesak (darurat). Jika sangat mendesak, maka tidak boleh ditunda lagi. Sayyid BakriibnSyatha  berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Bolehnya menunda sebab menunggu kerabat, orang yang lebih membutuhkan atau tetangga yang membutuhkan jika memang kondisi para mustahiq zakat yang ada tidak sangat mendesak. Jika kondisinya sangat mendesak, maka haram ditunda, karena sesungguhnya menolak bahaya dari mereka (para mustahiq zakat yang telah ada) hukumnya wajib, sehingga tidak boleh ditinggalkan hanya karena untuk meraih fadlilah (kesunnahan).”(Sayyid Bakri ibn Syatha, I’anatuth Thalibin, Beirut, Dar al-Fikr, cetakanpertama, 1997, jilid II, halaman:200)

(Baca juga: Ancaman bagi Orang yang Tidak Membayar Zakat)Pada prinsipnya, setelah harta yang dizakati memenuhi persyaratan, maka harus segera dibayarkan tidak boleh ditunda lagi jika telah terkumpul tiga perkara:

1. Harta yang dizakati berada di tempat muzakki (orang yang membayar zakat) atau di tempat yang mudah dijangkau oleh muzakki.

2. Para mustahiq zakat, baik semua atau sebagian, telah ditemukan.

3. Jatuh tempo untuk harta zakat yang diutang dan bisa ditagih seketika itu.

Sedangkan untuk harta piutang (harta yang diutang orang lain) yang belum jatuh tempo, berada pada orang yang ingkar terhadap tanggungan utangnya, atau berada pada orang yang tidak mampu membayar maka hukumnya seperti harta yang hilang atau dicuri, yaitu waktu pembayaran zakatnya saat harta-harta tersebut telah berada dalam kekuasaannya (lihat SayyidBakriibnSyatha, I’anatuth Thalibin, Beirut, Dar al-Fikr, cetakanpertama, 1997, jilid II, halaman: 201-202)

Waallahu a’lam.





(Moh. Sibromulisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Daerah, Pondok Pesantren PKS Piyungan Taubat

Rabu, 07 Februari 2018

17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda

Kudus, PKS Piyungan Taubat. Keceriaan terlihat dari wajah 17 santri Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Desa Krandon, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pada Senin (10/6) lalu, mereka diwisuda sebagai  tanda lulus menghafal Al-Quran 30 juz pada haflatul hidzaq.

17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda

Haflatul Hidzaq (wisuda) dibuka pengasuh Pesantren Yanbuul Quran KH Ulil Albab Arwani, sementara doa dan pemberian sanad kepada khotimin (santri yang sudah khatam menghafal) diserahkan langsung oleh KH Mc Ulinnuha Arwani. Acara dihadiri para orang tua dan disaksikan para kiai, antara lain KH Arifin Fanani, KH Mashum AK, dan KH Munfaat.

Pimpinan Pesantren Yanbuul Quran KH A Ainun Naim dalam sambutannya memberikan apresiasi atas jerih-payah dan kesungguhan para santrinya dalam menghafal al-Quran selama di pesantren, “Para khotimin patut bersyukur atas rahmat yang diberikan Allah SWT. Namun ini masih permulaan,” katanya.

PKS Piyungan Taubat

Ainun Naim berpesan supaya para santri ke depan tetap giat belajar dan mengaji, agar hafalannya semakin baik. Tidak sekadar baik dalam bacaan (tahsin tilawah), tetapi sesuai dengan tahsin dalam aturan membacanya, seperti baik tajwidnya.

"Yang terpenting, apapun cita-cita panjenengan semua, tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan menjadi generasi Qurani yang berpegang teguh pada nilai-nilai dan ajaran Al-Quran, tuturnya.

PKS Piyungan Taubat

 

Redaktur: Abdullah Alawi

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pondok Pesantren PKS Piyungan Taubat

Minggu, 04 Februari 2018

Hadiri Kongres Pergunu, Rhoma Irama Ingatkan Pentingnya Ukhuwah Islamiyah

Mojokerto, PKS Piyungan Taubat. Akhir-akhir ini marak adanya kelompok yang sering membidah-bidahkkan dan suka mengkafir-kafirkan kelompok lain. Hal itulah yang membuat tidak kondusifnya ukhuwah Islamiyah.

Hadiri Kongres Pergunu, Rhoma Irama Ingatkan Pentingnya Ukhuwah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Kongres Pergunu, Rhoma Irama Ingatkan Pentingnya Ukhuwah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Kongres Pergunu, Rhoma Irama Ingatkan Pentingnya Ukhuwah Islamiyah

Demikian dikatakan oleh H Rhoma Irama dalam kegiatan “Semarak Kongres II Persatuan Guru Nahdlatul Ulama” di halaman Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10) malam.

Pria yang juga dikenal dengan sebutan Raja Dangdut itu menyayangkan terjadinya suasana tidak kondusif pada jalinan ukhuwah Islamiyah.?

Melalui sebuah syair Rhoma lalu mengungkapkan, "Tuhan kita sama, Nabi kita sama, kiblat kita sama. Kenapa harus saling mengkafirkan? Shalat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama. Kenapa harus saling membidahkan?”

PKS Piyungan Taubat

Ia menambahkan, perbedaan yang tidak penting jangan dipermasalahkan. Bina rasa persaudaraan bukan permusuhan. Semua harus diwujudkan.

Semarak Kongres II Pergunu merupakan kegiatan Pra-Kongres. Selain peserta Kongres, acara ini juga dibanjiri santri dan warga sekitar. Sebelumnya pengunjung dihibur dengan penampilan grup nasid dan kasidah. (Kendi Setiawan/Fathoni)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kajian Islam, Pondok Pesantren, Kiai PKS Piyungan Taubat

Rabu, 31 Januari 2018

Ketika Gus Dur Menangis Lihat Kitab Etika Aristoteles

Dalam kesempatan sambutan ketika silaturrahim ke Pondok Pesantren Al-Asyariah Kalibeber Wonosobo, Jawa Tengah tahun 2000, Gus Dur yang waktu itu sedang menjabat sebagai Presiden RI menceritakan bahwa pada tahun 1979 dirinya pernah berkunjung ke Maroko.?

Di salah satu masjid negara setempat ia mendapati sebuah kitab terjemahan arab, yaitu kitab etika karangan Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno.?

Ketika Gus Dur Menangis Lihat Kitab Etika Aristoteles (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gus Dur Menangis Lihat Kitab Etika Aristoteles (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gus Dur Menangis Lihat Kitab Etika Aristoteles

Kitab yang berisi tentang materi etika atau akhlak tersebut terletak di sebuah bejana kaca ruang hampa udara. Itu dimaksudkan supaya bisa tahan lama, karena kitab dimaksud ada sejak zaman permulaan Islam.

Menyaksikan kitab langka yang berada di bejana kecil itu, Gus Dur menangisinya. Melihat Gus Dur menangis terharu, imam masjid setempat bertanya:

"Kenapa anda menangis,” tanya sang imam masjid.

PKS Piyungan Taubat

"Kalau bukan karena kitab ini, saya tidak akan jadi muslim," jawab Gus Dur.

Lewat cerita di atas Gus Dur menyimpulkan bahwa akhlaknya para kiai dan ulama Indonesia yang selama ini dipraktikkan itu bersumber tidak hanya diambil dari nilai-nilai saja, melainkan juga diambil dari nilai-nilai dan etika sebelumnya. Dia mencontohkan, Aristoteles lahir 1200 tahun sebelum Islam. Kalau tidak karena kitab ini, kata Gus Dur, dirinya tidak akan jadi seorang muslim.

Karena menurut Gus Dur, seorang muslim adalah yang menerapkan nilai-nilai dan etika Islam yang ditujukan untuk mewujudkan kebaikan bersama dan keadilan di tengah masyarakat. Bukan muslim yang hanya menonjolkan simbol-simbol Islam, tetapi jauh dari nilai dan etika Islam rahmatan lil alamin.

Pada kesempatan pidato itu Gus Dur juga bercerita, dirinya ? sering ditanya orang tentang perbedaan Islam di Indonesia dengan Islam di negara lain. Menurut Gus Dur, Islamnya sama, tetapi perwujudan dan manifestasinya itu yang lain-lain.

"Yang membedakan adalah adanya tradisi keulamaan (di Indonesia) yang diambil dari Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, yaitu tradisi LSM yang bergerak di luar pemerintahan. Dalam istilahnya Taufik Abdullah yaitu tradisi multikratonik," jelas Gus Dur.

PKS Piyungan Taubat

"Ada kraton pusat yang memegangi satu tata nilai, namun tidak sampai mematikan tata nilai di pondok-pondok pesantren, di padepokan-padepokan kejawen, dan di pasturan," tambahnya.?

Dengan kata lain, menurut Gus Dur, hal semacam itu adalah ungkapan dari apa yang kita miliki bersama sebagai bangsa Indonesia. Dan ini menjadi inti dari keputusan muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin, sepuluh tahun sebelum Indonesia merdeka.

Karena itu, dalam pandangan Gus Dur, Islam di Indonesia dapat berkembang dengan baik, tanpa harus melalui bermacam-macam hal. Sedangkan sekarang (tahun 2000) terpampang di hadapan kita, adanya bahaya kalau agama dijadikan alat politik untuk mencapai sesuatu. Maka jadinya seperti di Maluku, saat terjadi konflik hebat bermuatan SARA.

"Karena itu, kita harus berhati-hati jangan sampai agama jadi alat politik. Partai politik berdasar agama boleh-boleh saja. Tetapi partai politik harus mendasarkan programnya ? pada kepentingan nyata masyarakat. Bukan pada ajaran agama yang resmi. Jadi agama dalam pelaksanaanya bukan dalam perumusannya,” tutur Gus Dur. (M Haromain)

Disarikan dari:

Tabloid POLES, edisi 09 (10 September 2000)

Elis Suyono dan Samsul Munir Amin,? Biografi KH Muntaha Alhafidz: Ulama Multidimensi,? Penerbit UNSIQ Wonosobo dan Pesantren Al-Asyariah Kalibeber. ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Makam, Pondok Pesantren, Anti Hoax PKS Piyungan Taubat

Rabu, 24 Januari 2018

Kisah Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dan Karma Seekor Burung

Dalam dunia Tasir, ulama dan intelektual muslim tidak asing lagi dengan nama ini, Abu al-Qosim Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari al-Khowarozmi al-Mu’tazili yang lahir Rabu 27 Rajab 467 H atau 18 Maret 1075 M.

Dia juga memperoleh gelar Jaarullah (tetangga Allah) penamaan itu diberikan karena beliau lama tinggal berdekatan dengan Makkah.

Dia merupakan ulama produktif dalam menulis dengan berbagai tema, terutama bahasa, kalam, dan tafsir. Dia juga ulama yang terbuka dengan berbagai corak pemikiran kala itu.

Kisah Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dan Karma Seekor Burung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dan Karma Seekor Burung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dan Karma Seekor Burung

Dia juga pembesar Mu’tazilah dan terbuka dan tanpa tedeng aling-aling dalam bermu’tazilah. Dikatakan saat dia bertamu ke rumah sahabatnya, ia selalu berkata:

? ? : ? ?  ? 

Tiada orang hebat lahir tanpa bisa kita pelajari kehidupannya. Sudah, populer bahwa Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili tidaklah tumbuh dengan fisik yang lengkap. Dia termasuk ulama difable (kaki patah, red) yang bermental baja.

PKS Piyungan Taubat

Keadaan tersebut terjadi akibat kecelakaan saat dia seumuran remaja. Peristiwa terjadi pada saat ia menempuh perjalanan untuk keperluan studi. Latar belakang difable terungkap,  karena ada sebagian ulama menanyakan tentang kondisi difable beliau.

Az-Zamakhsyari menjawab:

“Pada masa kecil, aku pernah menangkap seekor burung, dan aku juga mengikat kakinya dengan benang, selanjutnya aku pun melepaskan dia dari tanganku dan kemudian burung tersebut masuk ke lubang, dan aku menarik kakinya yang terikat dengan benang, hingga aku menyebabkan kakinya patah.

Kemudian ibuku memarahiku dan berkata kepadaku:

PKS Piyungan Taubat

? : ? ? ? ? ? ? ?

Ibu berkata: Semoga Allah memutuskan kaki yang jauh sebagaimana engkau memutuskan kakinya (si burung).

Lanjut Az-Zamkhsyari bercerita, “maka pada saat aku menempuh perjalanan ke Bukhoro untuk menuntut ilmu, aku terjatuh dari kendaraanku kemudian pecahlah (patah, red) kakiku”.

Versi lain dikatakan, “musim dingin menimpa dirinnya saat masih berada di tengah perjalanan, dan saking dinginnya membuat dia menggigil dan tersungkur jatuh ke tanah, hingga membuat kaki beliau patah. Dan dia memakai alat bantu kayu sebagai gantinya”.

Demikian, kenang beliau tentang kisah yang membuat ibunya marah-marah. Sehingga menerima peringatan Allah langsung melalui ibunya. Beliau selain terkenal dengan karangan al-Kasysyaf, juga karangan lain seperti wa Athwaqu adz-Dzahab, wa Nawabighul Kalam, wa Rabi’ul al abror, wa Asas al Balaghoh dan lain-lain. (? ? ?)

Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Diolah dari:

Al-Allamah Jaarullah Abi al-Qosim Mahmud bin Umar Az Zamakhsyari, Al Kasysyaf: Haqoiq Ghowamid at-Tanzill wa ‘Uyun al-Aqowil Fi Wujuh at-Ta’wil, tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud; Ali Ahmad Mughowwish; Fathi Abdur Rahman Ahmad Hijazi, Juz 1, (Riyadh: Maktabah al ‘Abikan, 1998 M/1418 H), hal 11-19.

Muhammad Abu al-Yusr Abidin, Hikaya Shufiyah, cet 7 (Damaskus: Dar Al Basyair, 2001 M /1421 H), hal. 178-179.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kajian Sunnah, Pondok Pesantren PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock