Selasa, 21 November 2017

PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah dan DPR meninjau ulang Undang Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air atau lebih dikenal sebagai undang-undang privatisasi air karena tidak adil bagi masyarakat.

"Demi keadilan kita minta undang-undang privatisasi air ditinjau ulang," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj usai membuka rapat kerja Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU sekaligus seminar bertajuk "Perubahan iklim, Penanggulangan Bencana dan Lingkungan di Indonesia" di Jakarta, Jumat.

PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang

Sebelumnya, di dalam forum tersebut, yang dihadiri antara lain Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, CEO WWF Indonesia Efriansyah, Deputi Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sugeng Tri Utomo, Direktur Bappenas Suprayoga Hadi, dan Ketua LPBINU Avianto Muhtadi, Said Aqil menyoroti privatisasi dan monopoli terhadap sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak.

PKS Piyungan Taubat

Padahal, lanjutnya, konstitusi negara, UUD 1945, mengamanatkan cabang-cabang produksi yang yang menguasai hajat hidup orang banyak, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

PKS Piyungan Taubat

Islam, kata Said Aqil, juga melarang keras penguasaan sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak oleh orang atau kelompok tertentu sehingga menyengsarakan yang lain.

“Dalam Islam ditegaskan bahwa air, api dan rumput diharamkan dimiliki oleh individu, ini merupakan barang publik untuk kepentingan bersama,” katanya.

Dalam konteks sekarang, air bisa dikategorikan sebagai sumber-sumber mata air yang kini banyak dikuasai oleh perusahaan air minum dalam kemasan, yang akhirnya menyebabkan penduduk sekitarnya kesulitan air.

Sementara itu, “api” bisa dimaknai dengan berbagai macam bentuk sumber energi seperti minyak bumi, batubara dan lainnya. Kang Said mengungkapkan, secara kasat mata bisa dilihat bekas-bekas galian batubara di Kalimantan dan Sumatra yang bisa menimbulkan bencana besar, sementara hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Dalam konteks “rumput” ia menjelaskan bahwa hal ini bisa dianalogikan dengan potensi sumberdaya hutan, yang sekarang juga mengalami kerusakan luar biasa. Lebih dari 80 juta hektar hutan di Indonesia rusak, sementara penduduk yang berdiam di sekeliling hutan tetap menderita.

Ia menegaskan, jika ada aturan Allah yang dilanggar, maka manusia akan mendapatkan dampaknya. Segala doa dan permohonan tidak akan dikabulkan karena ada aturan besar yang dilanggar.

“Doa dari para ulama dan istighotsah tak ada faedahnya karena melanggar aturan, kecuali tindakannya diperbaiki,” tuturnya.

Ia menegaskan himbaun untuk meninjau ulang aturan privatisasi air ini sama sekali bukan politis atau karena kepentingan tertentu, tetapi murni demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren, RMI NU, Hadits PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock