Sabtu, 02 Desember 2017

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, PKS Piyungan Taubat. Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. PKS Piyungan Taubat berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

PKS Piyungan Taubat

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

PKS Piyungan Taubat

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

100 HARI SLAMET GUNDONO

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, NU Online

Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. NU Online berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

?

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

?

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

?

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

?

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

?

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

?

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

?

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

?

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

?

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

?

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

100 HARI SLAMET GUNDONO

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, PKS Piyungan Taubat

Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. PKS Piyungan Taubat berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

100 HARI SLAMET GUNDONO

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, PKS Piyungan Taubat

Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. PKS Piyungan Taubat berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat PKS Piyungan Taubat.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock