Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj atau yang akrab disapa Kang Said menyayangkan kasus kekerasan berupa pembangkaran rumah ibadah umat Kristen di Aceh Singkil. Dia menegaskan, semestinya hal tersebut tidak selayaknya terjadi.

“Kasus intoleransi, apalagi terkait kekerasan fisik tidak selayaknya terjadi di Indonesia yang merupakan bangsa santun, ramah, berdab, dan berbudaya,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara pembukaan Nahdlatul Ulama Cultural and Business (NUCB) Expo 2015 yang digelar oleh LTMNU, Rabu (14/10) di Gedung Smesco UKM, Jl Gatot Subroto Jakarta.

Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi

Jauh sebelum Islam datang di wilayah Nusantara, kata Kang Said, bangsa Indonesia sudah mempunyai budaya yang beragam dan peradaban yang bisa dikatakan cukup maju. Seluruh keyakinan agama menyatu hingga memberi spirit nilai terhadap budaya di negeri ini.

PKS Piyungan Taubat

“Islam yang disebarkan ke Nusantara oleh para Wali Songo tidak dengan kekerasan, melainkan disebarkan secara damai dengan tetap mempertahankan identitas kultural Nusantara,” jelas Kiai asal Kempek Palimanan, Cirebon, Jawa Barat ini.

Sebab itu, lanjutnya, Islam di Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri sehingga disebut Islam Nusantara. Yaitu Islam yang membawa Rahmat di tengah keberagaman, terbuka (inklusif), dan tidak anti-budaya, ramah, toleran, moderat, serta tetap berada di jalur kebenaran syariat.

PKS Piyungan Taubat

“Sehingga melalui budaya, Islam menjadi kuat dan tradisi pun terpelihara dengan baik sebagai identitas Indonesia. Dan yang pasti, Islam Nusantara menolak budaya negatif sebagaimana yang terlarang dalam agama,” tegas Pengajar Tasawuf di Program Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Hadir dalam pembukaan expo ini, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani, Menristek Dikti, H Muhammad Nasir, Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang, Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, Ketua LTMNU, KH Mansyur Syaerozi, Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen, perwakilan dari Kedutaan Negara sahabat, ulama dari Mesir, Tunisia, Maroko, Turki, dan para pengelola masjid dari berbagai daerah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Kamis, 01 Februari 2018

Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini

H. Helmy Faishal Zaini, mantan menteri PDT dipercaya menjadi sekretaris jenderal PBNU periode 2015-2020. Dengan pengalamannya dalam berbagai bidang dan jaringannya yang luas, ia diharapkan mampu turut menjalankan bisi, misi, dan program yang menjadi amanat NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang mengayomi puluhan juta pengikutnya. Bagaimana ia melihat NU ke depan, berikut wawancara dengan Mukafi Niam di ruang kerjanya di lt3 gedung PBNU, Jum’at (28/8).

Sebagai orang yang diberi amanah untuk menjalankan peran sekjen PBNU, bagaimana Mas Helmy melihat NU ke depan?.
Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini

Ada tiga hal yang menurut saya menjadi PR besar yang akan terus relevan dengan perkembangan dunia yang dinamis. Pertama adalah langkah yang disebut deradikalisasi. Ini meliputi tiga level, yaitu level fikrah, kedua, haraqah, ketiga amaliahnya. Upaya deradikalisasi harus dimulai dari perspektif pikirannya atau pada manhaj-nya. Kalau haraqah harus ada aksi kegiatannya sedangkan pada tataran amaliah dengan menjaga tradisi yang sudah ada. Ini pekerjaan yang menjadi fokus kita. Banyak orang berpikir dan berharap terhadap NU tentang ini. 

Selanjutnya apa? . Pekerjaan rumah kedua adalah mengambil anak muda. Ini kan generasi indie, ada anak band, Superman is Dead dan lainnya yang menurut saya punya grass root yang kuat. Mereka harus tahu bagaimana itu NU dan mereka jumlahnya besar. Jadi sangat penting bagaimana kita membuat pola transformasi yang bisa masuk ke lapis anak muda tersebut. Mereka juga harus jadi NU, paling tidak punya kesadaran tentang NU. 

PKS Piyungan Taubat

Yang ketiga apa Mas?. Pekerjaan ketiga adalah karena ini organisasi ulama, maka harus punya perencanaan yang matang dalam konteks memproduksi para ulama pewaris nabi. Ulama yang ideal adalah yang mewarisi sifat-sifat kenabian. Dalam konteks leadership-nya, amanah, fathanah, siddiq, dan tabligh. 

PKS Piyungan Taubat

Dulu kita punya pola pengembangan kader keulamaan. Ini kan dalam tanda petik meng-upgrade atau mensosialisasikan ide-ide besar NU itu apa, agar mereka satu pemahaman dan satu visi. Ini tugasnya syuriyah yang dijalankan oleh tanfidziyah. 

Mengenai rekomendasi dan program hasil muktamar bagaimana?. Adapun pekerjaan yang bersifat rekomendasi dan program muktamar, kita akan konsen pada tiga hal. Pendidikan dengan fokus pada pendidikan menengah dan tinggi. Kedua bidang kesehatan dengan memberikan fasilitasi ruang pelayanan kesehatan pada warga NU, dan ketiga pada pengembangan ekonomi kerakyatan. 

Apa langkah dalam pengembangan ekonomi kerakyatan?. Ekonomi kerakyatan ini kita definisikan dalam dua basis. Pertama adalah basis produksi yang berasal dari sektor voluntary, yang bersifat partisipasif, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Bagaimana hal ini dikelola secara baik sehingga menghasilkan sesuatu untuk pengembangan pendidikan, keagamaan, kemudian layanan sosial. Ke depan bisa untuk mengembangkan rumah sakit, beasiswa, dll. Ini harus dikelola secara baik.

Model kedua, yang sifatnya reguler, dengan mengembangkan investasi berbasis komunitas unggulan yang dimiliki pesantren. Ini misalnya yang dilakukan oleh pesantrennya Al Ittifaq di Ciwidey Bandung. Kemudian yang dilakukan oleh Kiai Nawawi Sidogiri dengan pengembangan BMT Sidogiri. Pola ini yang harus dikembangkan di pesantren-pesantren lain sebagai pusat produksi dan pertumbuhan ekonomi. Ini kalimatnya kan sederhana tetapi rumit dalam pelaksanaannya. Bisa menjalankan ini saja sudah luar biasa. 

Anda mulai terlibat di NU sejak IPNU, pola pengkaderan dulu kan berbeda dengan sekarang seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup?. Saya mulai berorganisasi dari di IPNU tingkat PAC dan PC Cirebon, sempat juga menjadi anggota PMII, juga di Ansor. 

Untuk strategi dakwah, yang bersifat akidah tak bisa kompromi, tetapi soal cara bisa berkompromi. Ini yang dilakukan oleh Walisongo. Kalau dulu tantangannya ketika mendakwahkan Islam Aswaja adalah berhadapan dengan adat budaya lokal yang sudah mengakar, dan mereka berhasil. Sekarang tantangannya adalah masyarakat baru yang modern. Kalau menggunakan teknologi lama sudah tidak bisa. Sekarang dakwah harus lewat Twitter, FB, Instagram dan media sosial lainnya. Sudah harus pakai periskop. Kesadaran beberapa kiai, ulama, dan muballigh yang masuk ke sosmed itu luar biasa. Di NU ada Gus Mus, ada Gus Ali, ada Yusuf Mansur, ada Anwar Zahid. Kalau kita lihat follower-nya, mereka adalah orang yang tidak terjamah pesantren. Ini yang saya maksud sebagai penjaring. 

Di lingkungan anak muda yang aktif di ranah sosial media ada Ahmad Sahal, ada Syafiq Hasyim, ada Syafiq Allielha, ada Ulil Abshar, meskipun menjadi kontroversi. Kita harus melihat mereka sebagai potensi anak muda yang bisa masuk ke dunia baru itu, yang oleh beberapa yang lain tidak masuk. Jadi ini sifatnya berbagi tugas saja, karena ada fakta bahwa jumlah warga yang masih tradisional di pedesaan masih sangat banyak. Pola lama harus tetap dikembangkan. 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Pendidikan PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 27 Januari 2018

Kisah Pengajian dan Wayang

Tahun 1970-an, di Cianjur ada seorang ajengan masyhur, karena kedalaman ilmunya. Ia dikenal dengan dengan julukan Mama Ajengan Ciharashas, atau Ajengan KH Muhammad Syuja’i.?

Mama Ajengan Ciharashas (yang pernah berguru pada Mama Ajengan KH Syatibi Gentur, Cianjur, guru ulama-ulama di Jawa Barat), memiliki ribuan santri dari bebagai pelosok Nusantara. Selain mengajar, ia sering memberi ceramah umum di pengajian semisal muludan, rajaban, hingga pesta pernikahan atau sunatan di pelosok-pelosok kampung.?

Pada suatu ketika, ia mendapat undangan ceramah di wilayah Cianjur. Tak dinyana, panggung tempat ia berceramah berhadapan dengan panggung pementasan wayang golek. Dua acara berbarengan ini hanya terhalang jalan raya.?

Kisah Pengajian dan Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pengajian dan Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pengajian dan Wayang

Meski demikian, Mama Ajengan Ciharashas tetap menjalankan tugasnya berceramah. Begitu pula dalang wayang golek. Keduanya berjalan sebagaiamana mestinya. Hadirin dari berbagai tempat datang untuk tujuan masing-masing, sebagian berniat menyimak ceramah, sebagian menonton wayang golek. Tak ada gegeran karena perbedaan.

PKS Piyungan Taubat

Namun, ketika Mama Ajengan Ciharashas berceramah, penonton wayang golek berbondong-bondong pindah dan menyimak pengajiannya. Padahal ia tak mengimbaunya. Apalagi mengharamkan wayang golek. Ia mengaji sebagaimana ia mengajar santrinya.

Salah seorang panayagan (pengiring musik wayang golek) yakni tukang rebab, kepincut pengajian Mama Ajengan Ciharashas. Ia bernama Sulaiman, biasa dipanggil Eman. Ayahnya seoorang kades di salah satu desa Cianjur. Kades pecinta seni yang mengarahkan anak-anaknya pada kesenian.

PKS Piyungan Taubat

Ketika ceramah Mama Ajengan selesai, Eman mendatanginya. Ia lalu menceritakan niatnya menjadi santri.

Menurut Ajengan Hasybi Hizbullah, pengasuh pesantren Asyroful Huda, Sukaraja, Sukabumi, Eman adalah teman semasa ia menjadi santri Ciharashas. Hasybi bersaksi, tukang rebab tersebut sangat rajin mengaji dan muthola’ah. Saking rajinnya, ia sering meninggalkan makan.?

“Santri-santri sering menanak nasi untuk dia. Tapi ketika diajak makan, ia selalu bilang ‘nanti saja.’ Kemudian disisain. Tapi tak dimakan pula. Sampai jadi oncom (berjamur) nasi itu,” papar Hasybi.

Eman kemudian menjadi santri kesayangan Mama Ajengan. Ia dinikahkan dengan salah seorang adiknya.? Selanjutnya ia diangkat menjadi pengajar pesantren tersebut. Santri-santri memanggilnya mama ajengan anom (kiai muda).

Karena Mama Ajengan Ciharashas tidak memiliki putra dan putri, ia menjadi pelanjut kepemimpinan pesantren.

“Mama Ajengan Anom terkenal dengan shalatnya yang khusuk. Kalau shalat itu, satu rakaat bisa 5 menit. Jadi kalau shalat isya bisa 20 menit. Kalau shalat Subuh bisa lebih lama lagi,” jelas Hasybi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Internasional PKS Piyungan Taubat

Minggu, 24 Desember 2017

Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid

Seringkali kita mendengar pengajian dan ta’lim baik di masjid perkantoran, masjid komplek, maupun di mushalla-mushalla yang membahana, menyerukan Islam dengan lantang tanpa basa-basi. Pengajaran-pengajaran itu membahas berbagai ajaran Islam. Mulai dari fiqih, tauhid, hadits hingga tafsir.

Sebenarnya hal ini harus diapresiasi oleh kaum muslim, karena dapat dikatakan sebagai kemajuan dakwah Islam. Begitu hebatnya para da’i itu hingga mampu menjadikan para jama’ah betah mengikuti pengajian, baik dengan humor maupun dengan retorika yang mengagumkan.

Sayangnya, seringkali kelihaian retorika dan gaya penampilan tidak diimbangi oleh pemahaman. Ini dikarenakan keterbatasan penguasaan para da’i terhadap materi berbahasa Arab. Kebanyakan dari mereka mengambil pemahaman dari buku-buku terjemahan. Oleh karena itu menjadi agak janggal ketika para da’i dan ustadz itu dengan fasih menyampaikan berbagai materi, tetapi terkesan kurang percaya diri ketika mengutip ayat-ayat al-qur’an dan hadits. Imbasnya, telinga jama’ah malahan terbiasa mendengarkan potongan terjemah dari ayat al-Qur’an atau terjemahan sebuah hadits bukan lantunan ayat al-Qur’an. Padahal pahala yang ada dalam al-Qur’an itu ketika dibaca (al-mutaabad ditilawatihi), bukan ditulis apalagi diterjemahkan.

Tidak hanya itu, yang lebih aneh lagi adalah ketika materi pengajian itu ternyata adalah tafsir al-Qur’an. Bagaimana pantas seseorang mengajarkan tafsir al-Qur’an padahal ia tidak mampu membaca al-Qur’an dengan tartil sesuai aturan ilmu tajwid? Walaupun pada zaman sekarang ini banyak materi tafsir al-Qur’an yang tersebar dalam versi terjemahan. Hal ini mengingatkan kita pada sejarah lama kaum oreintalis yang mempelajari kandungan dan isi al-Qur’an tanpa membaca teksnya, mereka mempelajari al-Qur’an dengan tujuan menghinakan Islam. Naudzubillah min dzalik.

Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid

Maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah bolehkah membaca al-Qur’an tanpa tajwid? dan bagaimana hukumnya mengajarkan tafsir al-Qur’an tanpa berbekal ilmu tajwid?

Sebelum membicarakan tentang hukum membaca al-Qur’an tanpa tajwid, terlebih dahulu perlu dijabarkan apakah tajwid itu? Pada dasarnya isitilah attajwid yang dikenal sebagai ilmu membaca al-Qur’an adalah:

PKS Piyungan Taubat

إعطاء كل حرف حقه ومستحقه

Artinya Memberikan hak dan mustahaq tiap-tiap huruf (dalam al-Qur’an).  Yang dimaksud hak-hak huruf adalah sifatnya yang dzatiyah yang lazim baginya. Seperti Jahr, Syiddah dan istila. Sedangkan mustahaknya adalah sifat-sifat yang timbul dari dzat tersebut, seperti tafkhim dan tarqiq.

Adapun hukum membaca al-Qur’an dengan tajwid adalah fardhu ain. Dengan kata lain siapapun yang membaca al-Qur’an maka wajib baginya membaca sesuai aturan tajwid. Baik laki-laki maupun perempuan, baik ustadz, ahli tafsir, ahli hadits, ilmuwan maupun fisikawan, selama dia muslim maka membaca al-Qur’an harus dengan tajwid.

PKS Piyungan Taubat

Sebagaimana difirmankan Allah swt

   ÙˆØ±ØªÙ„ القرأن ØªØ±ØªÙŠÙ„ا. dan bacalah al-Qur’an dengan tartil. Dalam tafsir baidhowy diterangkan bahwa yang dimaksud tartil adalah:

أى جوده تجويدا

Tajwidkanlah bacaan (al-Qur’an)mu dengan tajwid yang benar 

Begitu juga yang diterangkan dalam Al-Mandzumatul Jazariyyah:

والأخذ بالتجويد حتم لازم * من لم يجود القرأن أثم

لأنه به الإلــــــه أنـــــزلا  * وهكذا منه إلينا وصلا

Menggunakan tajwid adalag wajib/lazim. Dan barang siapa tidak mentajwidkan al-Qur’an adalah berdosa. Karena dengan tajwidlah Allah turunkan dia (al-Qur’an) dan begitulah hingga ampai ke kita.

Pendapat ini senada dengan ancaman sebuah hadits yang berbunyi:

رب قارئ للقرأن والقرأن يلعنه

Terkadang kejadian orang membaca al-Qur’an dan al-Qur’an itu malah melaknatnya

Demikianlah dosa seorang pembaca al-Qur’an tanpa mempedulikan tajwidnya. Lantas bagimana dengan seseorang yang membahas tafsir tetapi tidak mengerti tajwid? boleh-boleh saja selama dia membahas tafsir tanpa membaca al-Qur’an, tetapi mana mungkin membahas tafsir al-Qur’an tanpa membacanya. Andaikan ada, itu sungguh tidak sopan.

(Redaktur: Ulil Hadrawy). Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Jumat, 22 Desember 2017

Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji

Demak, PKS Piyungan Taubat. H Fatkhul Muin membukukan kisah uniknya dalam menunaikan Ibadah Haji tahun 2012 silam. Buku berjudul Kisah Unik Seputar Ibadah Haji diterbitkan deepublish.com bulan Agustus ini.

Buku setebal 150 halaman tersebut berisi banyak hal diantaranya serunya thawaf dan sai, shalat di Hijir Ismail, nikmat dan segarnya zam-zam. Muin juga berbagi cerita ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah, shalat di masjid Jin, naik Jabal Rahmah sampai mengunjungi pasar Ja’fariyah.

Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji

Di bagian lain ia juga mengisahkan wukuf di Arafah, mabit di

Muzdalifah dan di perkemahan Mina.

PKS Piyungan Taubat

Buku tersebut juga memuat tips-tips bermanfaat seputar haji. Diantaranya persiapan mental, fisik dan materi. Ditambah jadwal pemberangkatan haji juga pengetahuan haji berkenaan rukun, wajib dan kesunahan haji.

PKS Piyungan Taubat

Saat dikonfirmasi PKS Piyungan Taubat, Fatkhul Muin, penulis buku menyatakan ditulisnya buku tersebut karena dirinya baru menunaikan haji kali pertama. “Banyak hal yang terekam selama 40 hari meninggalkan tanah air,” katanya.

Rekaman aktivitas tersebut mulai memasuki embarkasi, naik pesawat, turun di Bandara Jeddah, memasuki maktab sampai dengan pelaksanaan ibadah haji.

Dari itu, lelaki yang tinggal desa Kedung Mutih kecamatan Wedung kabupaten Demak tersebut tidak ingin melupakan cerita dan kejadian unik itu. Alhasil buku diterbitkan.

Ia berharap buku perdananya bisa dijadikan referensi bagi siapa saja yang akan menunaikan haji dan umroh.

Disamping itu, pegiat jurnalisme warga tersebut mengharapkan pembaca tergerak hatinya atau mendapatkan panggilan Nabi Ibrahim agar segera menunaikan haji. Sehingga dalam menunaikan rukun kelima bisa dilaksanakan dengan tenang, aman dan nyaman. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Minggu, 17 Desember 2017

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang

Kerawang, PKS Piyungan Taubat. Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Karawang selalu mempunyai cara yang unik dalam methode dakwahnya. Ahad, 26 Februari 2012 bertempat di Masjid Raya Al-Amien Perumnas Bumi Telukjambe Karawang jajaran PC Fatayat NU Karawang menyelenggarakan Festival Barzanji.

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang

Acara yang bertemakan “Membumikan Shalawat sebagai wujud cinta kepada Rasulullah SAW dengan Mentradisikan Al-Barzanji” diikuti oleh 12 Tim yang berasal dari berbagai kecamatan di seantero wilayah Kabupaten Karawang.

Perhelatan Festival Al-Barzanji ini dimulai tepat pukul 09.00 dan berakhir pukul 14.00 WIB dengan diselingi jeda istirahat untuk Shalat Dhuhur dan makan siang.

PKS Piyungan Taubat

“Kita adalah generasi penghubung antara para pendahulu dengan generasi anak-anak kita, untuk itu maka kami berusaha mentradisikan Al-Barzanji ini sebagai wujud rasa cinta kita kepada Kanjeng Nabi SAW, menjaga amanah dari generasi pendahulu dan siap mewariskannya kepada generasi penerus kita” ujar Ustadzah Hj Yani Suryani Mustari selaku Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Bekasi.

Masing-masing tim begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Masing-masing tim berusaha menunjukkan kemampuannya sebagai yang terbaik.Acara ditutup dengan pemberian penghargaan secara simbolik kepada Tim dari PC Muslimat NU Karawang.

PKS Piyungan Taubat

”Semua tim perform dengan sangat baik, dalam festival ini tidak ada juaranya, semuanya kami berikan penghargaan sebagai apresiasi terhadap partisipasinya, semua tim adalah Sang Pemenang” sahut Ustadzah Hj. Yani Suryani Mustari. Methode dakwah yang indah. Shalawat begitu membumi dan merasuk dalam relung-relung hati kami.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Arief Widhiharto

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Rabu, 13 Desember 2017

Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia

Jakarta, PKS Piyungan Taubat

Kerja sama antara Yayasan Puan Amal Hayati dan Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia (Perduki) yang menggelar pasar murah (bazar) merupakan cerminan konkret dari kondisi keberagamaan di Indonesia yang penuh toleransi dan penuh rasa simpati terhadap satu sama lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Yenny Wahid kepada PKS Piyungan Taubat di sela-sela bazar yang digelar di halaman kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jalan Warung Sila No 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (5/7) sore.

Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia

“Saya melihat ada keinginan untuk saling membantu antarsesama penganut agama. Inilah kekuatan Indonesia. Ini harus terus kita perjuangkan agar tidak pernah hilang dari bumi Nusantara,” ujar Wakil Sekretaris PP Muslimat NU ini.

Acara tersebut, lanjut Yenny, merupakan bentuk kerja sama antara Yayasan Puan Amal Hayati yang dipimpin Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid bekerja sama dengan PERDUKI. “Bukan Perdukunan Indonesia lho yaa,” candanya sembari tertawa riang.

Yenny menambahkan, setiap bulan Ramadhan masyarakat memiliki banyak kebutuhan yang sangat tinggi. Sementara harga barang seperti sembako (sembilan bahan pokok) cenderung naik. Lalu, ada keinginan untuk membantu masyarakat agar mereka bisa membeli barang-barang dengan harga murah.

Saat ditanya tentang diskon harga yang sangat murah, Yenny menjawab lebih dari separo harga. “Lebih, Mas. Saya nggak tau berapa persennya, cuma yang jelas murah sekali memang. Mestinya perpaket yang harganya 50 ribu, di sini dijual 20 ribu. Bahkan ada yang cuma 10 ribu,” ujarnya.

PKS Piyungan Taubat

Menurut putri kedua Gus Dur ini, bazar memang dijadikan wahana berbagi kepada masyarakat. “Ini memang hanya untuk masyarakat sekitar sini. Jadi, ini upaya untuk berbagi aja,” tandas pemilik nama lengkap Zannuba Arifah Chafsoh ini.

Yenny Wahid sangat terharu lantaran ada pihak di kalangan nonmuslim yang sangat peduli dengan masyarakat Ciganjur yang masuk kategori kaum lemah. “Kami berterima kasih karena dari umat agama lain punya kepedulian kepada kaum mustadh’afin,” ujarnya.

Yenny berharap, bazar ini terus diadakan tidak hanya di satu tempat. Namun juga di tempat lainnya. “Terus bergulir. Bukan cuma di Ciganjur. Tapi juga di banyak tempat. Semoga bisa kita lakukan itu,” harapnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Kyai PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock