Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Hukum Menata Alis hingga Tipis

Assalamualaikum wr.wb

Redaksi Bahtsul Masail PKS Piyungan Taubat yang dirahmati Allah. Saya punya teman perempuan di tempat bekerja. Ia berhias sedemikian rupa. Yang saya tanyakan, bolehkah merapikan alis? Kalau alis dicukur habis bagaimana? Apakah itu termasuk mengubah ciptaan Allah? Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamualaikum wr.wb. (Syukur/Jakarta)

Hukum Menata Alis hingga Tipis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menata Alis hingga Tipis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menata Alis hingga Tipis

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga Allah merahmati Anda di mana pun berada. Bentuk dan gaya berhias mengalami perubahan yang sangat cepat. Gaya berhias ditentukan kadang oleh mode yang sedang tren, kenyamanan yang bersangkutan, atau motif lainnya.

PKS Piyungan Taubat

Penanya yang budiman, alis sebagaimana tubuh secara keseluruhan merupakan perhiasan wajah yang Allah karuniakan kepada manusia. Karenanya kita diwajibkan merawat perhiasan yang telah Allah berikan. Di samping perawatan kita juga harus merapikan anugerah-Nya.

Namun demikian ada sejumlah rambu-rambu yang mesti dipatuhi dalam hal merawat tubuh. Misalnya seperti hadits Rasulullah SAW sebagai berikut.

PKS Piyungan Taubat

«? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?»

Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut, perempuan yang membantu menyambung rambut, perempuan yang menajamkan gigi, perempuan yang membantu menajamkan gigi, perempuan yang menato tubuh, perempuan yang membantu menato tubuh, perempuan yang mencabut alis, perempuan yang merenggangkan gigi demi berhias yang mana mengubah ciptaan Allah.”

Perihal hadits di atas, ada baiknya kita menyimak pandangan Syekh Ahmad bin Ghanim yang bermadzhab Maliki. Menurutnya, mencukur bulu alis harus dibedakan dari “menyambung rambut” seperti disebutkan di dalam hadits.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? -: «? ? ? ? ? ?» ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Dari keterangan larangan menyambung rambut ini, kita dapat memahami ketidakharaman untuk menghilangkan bulu sebagian alis atau alis secara keseluruhan. Ini yang disebut tarjih, tadqiq, tahfif. Berikut ini tambahan keterangannya.

Ibnu Rusyd mengatakan, pendapat yang membolehkannya ditolak karena menyalahi dalil. Dalil yang mengharamkannya jelas disebut di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut....” “Mencabut alis” adalah mencabut bulu alis hingga tipis dan indah. Tetapi riwayat dari Sayidatina Aisyah RA membolehkan penghilangan bulu alis dan bulu di wajah. Pendapat terakhir ini sesuai dengan keterangan yang lalu yaitu pendapat yang mu‘tamad membolehkan pencukuran seluruh bulu perempuan kecuali rambut. Larangan di dalam hadits ini bisa dimengerti bagi perempuan yang dilarang untuk berhias seperti perempuan yang ditinggal wafat suaminya dan perempuan yang suaminya tanpa kabar entah di mana.

Khalil berkata, perempuan yang ditinggal wafat suaminya meskipun belum dewasa, meskipun ahli kitab, perlu meninggalkan aktivitas berhias. Demikian juga perempuan yang suaminya tanpa kabar entah di mana. Tiada halangan untuk menakwil dalil yang memiliki sejumlah kemungkinan makna ketika ada isyarat yang mencegah salah satu makna. Mencabut bulu alis di sini tidak bisa dikatakan sebagai kategori “mengubah ciptaan Allah”. Hemat kami, tidak semua “mengubah ciptaan Allah” itu dilarang. Coba perhatikan, sesuatu yang memang fitrahnya seperti berkhitan, memotong kuku, mencukur rambut, mengebiri hewan yang boleh dimakan, dan banyak lagi contoh lainnya, diperbolehkan. (Lihat Ahmad bin Ghanim An-Nafrawi Al-Azhari Al-Maliki [wafat 1126 H], Al-Fawakihud Dawani ala Risalah Ibni Zaid Al-Qairuwani, Darul Fikr, Beirut).

Pada prinsipnya Islam memang tidak mengharamkan laki-laki maupun perempuan untuk berhias. Karena Allah memang menitipkan tubuh kita sebagai anugerah-Nya untuk dijaga dan dirawat. Sejauh tidak melanggar rambu-rambu yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, berhias sangat dianjurkan karena Islam menyukai kerapian baik rambut, kuku, kumis, dan lain sebagainya. Hanya saja untuk masalah mencukur bulu alis untuk kerapian perlu juga mempertimbangkan aspek kepantasan. Jangan sampai melebihi batas seperti mencukur habis alis hingga bulu di atas mata itu yang menjadi perhiasan wajah kehilangan fungsinya. Bukan kerapian yang didapat, justru keburukan keburukan yang ada.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga jawaban ini bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima masukan dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Khutbah, RMI NU, Humor Islam PKS Piyungan Taubat

Minggu, 11 Februari 2018

Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi

Bandung, PKS Piyungan Taubat 

Lembaga Dakwah PBNU bersilaturahim kepada pesantren tua di kabupaten dan kota Bandung Jumat lalu (8/9). Pesantren pertama yang dikunjungi adalah Baitul Arqom, Lemburawi, Kecamatan Pacet. Pesantren tersebut didirikan KH Muhammad Fakih (Mama Fakih) bin KH Muhammmad Salim sekitar tahun 1922. 

Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi

Rombongan diterima salah seorang pengasuh pesantren tersebut, KH Athoillah. Setelah rehat dan berbincang, kemudian berziarah ke kompleks pemakaman keluarga pesantren. Di kompleks pemakaman, Kiai Athoilah mengatakan, nasab leluhurnya masih bersambung dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Mama Faqih merupakan keturunan ke-17 dari wali Cirebon tersebut. 

Saat ini Baitul Arqom memiliki sekitar 1.500 santri. Mayoritas berasal dari kabupaten-kabupaten di Jawa Barat. Namun, hampir dari setiap provinsi, dari Aceh hingga Papua, ada yang mondok di pesantren itu. Jika ditambahkan dengan mahasiswa dan mahasiswi di STAI pesantren, bisa mencapai 2.500 orang. 

Menurut Kiai Athoillah, salah satu faktor adanya santri dari berbagai wilayah adalah karena jejaring para kiai pendahulu yang merupakan dai keliling ke daerah-daerah. KH Ali Imron dan KH Yusuf Salim adalah dai populer yang tak henti-hentinya menyebarkan ajaran Islam. 

KH Yusuf Salim sering berdakwah hingga ke luar Jawa. Selepas berdakwah itulah, ada orang tua yang menitipkan anaknya di Baitul Arqom.

PKS Piyungan Taubat





PKS Piyungan Taubat

Terispirasi dari Sahabat Nabi

Sebagaimana umumnya pesantren tua, kiai pendiri hampir tidak menamakan pesantren secara khusus. Pesantren hanya dikenal dengan nama kampungnya. Di Jawa Barat misalnya dikenal Pesantren Gentur (sebuh tempat di Cianjur) Gunung Puyuh (di Sukabumi).

Di Jawa juga seperti itu, pesantren Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari  lebih dikenal nama kampung tempat pesantren itu berdiri, Tebuireng. Baitul Arqom, masa kepemimpinan Mama Faqih hanya dikenal sebagai Pesantren Lemburawi. 

Pada tahun 1964, Mama Faqih wafat meninggalkan sembilan keturunan, buah pernikahannya dengan Hj. Maryamah. Putra-putrinya adalah Hj. Anisah Mabruroh, H. Rd Sofwan, Hj.Nyimas Qona’ah, KH Ali Imron, KH Taufiq Abdul Hakim, Hj. Neng Kholishoh Kamilah, Neng Endah Zainab, KH Yusuf Salim Faqih, KH Madani Sulaiman. Kepemimpinan Pesantren Lemburawi dillanjutkan menantu Mama Faqih, KH Ubaidillah. 

Pada tahun 1970, Pesantren Lemburawi berubah nama menjadi Baitul Arqom Al-Islami. Menurut KH Athoillah, nama itu terinspirasi dari nama sahabat Nabi Muhammad SAW, Arqom bin Arqom. Sahabat Arqom tergolong beriman pada masa awal Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah Islam. 

Pada masa sulit dengan dakwah sembunyi-sembunyi itu, Arqom merelakan rumahnya menjadi, untuk istilah sekarang semacam basecamp untuk berdakwah Nabi Muhammmad dengan sahabat-sahabat. Baitul Arqom sama dengan rumahnya Arqom dengan fungsi pusat dakwah. 

KH Ubaidillah wafat 11 Februari 1986. Karena ia tidak memiliki keturunan, kepemimpinan pesantren dilanjutkan putra keempat Mama Faqih, KH Ali Imron. Pada masa dia, pesantren dikelola bersama saudara dan keponakanya, KH Taufiq Abdul Hakim, KH Yusuf Salim, Kiyai Madani Sulaiman, KH Sulaeman Ma’ruf,  KH Abdul Khobir Hasan, KH Fuad Musthofa Hanan, dan para asatidz lainya.

KH Ali Imron adalah menantu KH Ruhiat, tokoh NU Tasikmalaya, pendiri Pondok Pesantren Cipasung. Dengan demikian, KH Ali Imron merupakan adik ipar dari KH Ilyas Ruhiat, Rais ‘Aam PBNU (1994-1999) masa Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. 

KH Ali Imron wafat pada Juni 2005. Kepemimpinan Baitul Arqom dilanjutkan KH Yusuf Salim yang wafat pada Juli 2009. Kini, Pesantren Baitul Arqom, pesantren pusat dakwah itu, dilanjutkan kiai-kiai muda dari keturunan Mama Faqih. Salah seorang di antaranya KH Athoillah. (Abdullah Alawi)       

  

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul, Khutbah PKS Piyungan Taubat

Rabu, 07 Februari 2018

Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran

Jakarta, PKS Piyungan Taubat - Ribuan umat Islam yang berada di Orivinai Papua akan ikut menyukseskan Gerakan Nusantara Mengaji (GNM). Salah seorang koordinator GNM Indrajaya menyatakan, kurang lebih tiga belas daerah akan ikut menyukseskan Nusantara Mengaji.

"Kita Papua insya Allah akan melangsungkan 2000 hataman yang akan tersebar di beberapa daerah di Provinsi Papua seperti Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, Jayawijaya, Timika, Nabire, Yapen, Biak, Kerom, Wamena, Merauke, Bufendigul, dan Asmat," kata Indrajaya saat ditemui di Masjid Al-Askar Entrop.

Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran

Untuk di Jayapura, menurut Indrajaya, Walikota sendiri akan mengunjungi titik-titik yang menyelenggarakan Nusanara Mengaji.

"Program Nusantara Mengaji ini bertujuan mengajak umat Islam khususnya di Jayapura untuk berdoa bersama bagi keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bangsa dan rakyat Indonesia. Jadi walikota Jayapura sangat mendukung kegiatan ini. Insya Allah Walikota selain mengunjungi titik-titik yang mengadakan Nusantara Mengaji, ia juga akan hadir dalam acara pembukaan Nusantara Mengaji yang akan dilaksanakan di Masjid Asolihin, Abepura Ahad malam," tambah Indrajaya.

PKS Piyungan Taubat

Abdul Wahab selaku koordinator Kantor Berita Aswaja (KBA) Provinsi Papua mendukung kegiatan Nusantara Mengaji. Menurut Wahab, pihaknya juga akan membantu dalam hal dokumentasi.

PKS Piyungan Taubat

"Ini momen yang bagus untuk menunjukkan bahwa Papua itu indah penuh toleransi, kami berniat ingin ikut mempublikasikan secara live acara pembukaan Nusantara Mengaji yang akan dilaksanakan nanti malam melalui aplikasi Nutizen," tutur Abdul Wahab. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Khutbah PKS Piyungan Taubat

Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak?

Oleh Syafiq Hasyim

Banyak kalangan santri, termasuk saya sendiri, yang tidak tahu menahu atau belum tahu tentang bagaimana sejarah sebuah kitab itu menjadi bentuk buku, terutama proses menjadikan manuskrip (ma?t) ke dalam bentuk kitab yang tercetak, sebagaimana yang kita nikmati setiap hari di pesantren kita.

Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak?

Seingat saya, di pesantren-pesantren NU memang diwasiatkan tentang pentingnya menjaga sanad guru (rangkain) ketika mengaji sebuah kitab, tapi sayangnya tidak diajarkan bagaimana sesungguhnya sebuah kitab itu sampai ke percetakan dan lalu bisa kita baca pada forum santri.

Mengetahui sejarah pembukuan kitab itu penting sekali, sebab berbeda dengan Al-Qur’an yang kita hafalkan, kitab-kitab ini ditransmisikan kepada para murid lebih banyak lewat tradisi tulisan.

PKS Piyungan Taubat

Zaman dulu,ketika masih ngaji di pesantren, saya juga hanya memikirkan dan menikmati kitab-kitab yang sudah“jadi” mulai dari terbitan Menara Kudus sampai Dar al-Fikr.? Pada masa itu, terasa lega sekali jika sudah mampu membeli kitab, apalagi kitab-kitab yang biasa menjadi pegangan kitab NU.

Kitab besar pertama yang saya beli dari hasil honorarium mengajar di Madrasah Diniyyah Awwaliyah adalah I?y?’?Ul?m al-D?n, versi yang 4 jilid. Ketika itu saya berada di kelas 3 Madrasah Tsanawiyyah. Setiap sore, pada waktu lepas, sebelum ngaji, kitab ini saya tengok dan sedikit-sedikit diberikan makna gandul atasnya. Kertas kuning dan cetakan huruf Arab yang indah yang mengadopsi temuan Johannes Gottenberg, seorang inventor teknologi mesin cetak dari Jerman, senantiasa menarik minat saya untuk membuka kitab-kitab tersebut.

PKS Piyungan Taubat

Sampai suatu hari saya mendapatkan rezeki nomplok dimana seorang tetangga yang bekerja di Saudi Arabia membelikan kitab Fathul Bari 13 jilid sebagai hadiah untuk saya. Saya menerimanya dengan senang hati dan tersanjung. Baru pertama kali dalam hidup saya mempunyai kitab cetakan luar negeri. Keterpesonaan pada kulit muka kitab yang solid, sangat beda dengan versi cetakan Menara Kudus, serta kertas putihnya yang sangat indah itu tidak ada habisnya.

Bagi saya, melihat Fathul Bari masa itu, tidak ada kata lain kecuali mengaguminya. Tapi tetap saja kekaguman saya berhenti hanya sampai pada batas keindahan cover, kertas dan sudah barang tentu isinya.

Dan terasa aneh, ketika itu, saya tidak menaruh minat untuk tahu sama sekali tentang bagaimana sejarah kitab mewujud menjadi buku yang indah seperti ini. Bahkan saya tidak tertarik sama sekali membaca catatan editornya(mu?aqqiq) yang biasa dicantumkan di halaman depan. Sama sekali saya tidak memikirkan peran muhaqqiq-nya (editor) dalam mewujudkan manuskrip Fathul Bari atau kitab-kitab besar lainnya ke dalam bentuk edisi kitab tercetak (printededition). Padahal dalam setiap kitab terutama yang dicetak belakangan, proses editing dari manuskrip menjadi printed edition biasanya didedahkan. Misalnya, sang editor akan menyatakan jika edisi kitab ini didasarkan pada manuskrip yang tersimpan di perpustakaan mana, soal variant readingnya dlsb.

Terus terang, hal yang demikian tidak menjadi perhatian ketika ngaji sebuah kitab, minimal saya tidak mengalaminya.Untuk pengarang kitab-kitab tersebut pastilah terlintas di benak saya, karena sebelumnya sudah mendengar soal mereka dari para kyai di pondok, tapi editor saya tidak pernah mendengar. Mata saya mulai terbuka ketika mendapatkan kesempatan melihat secara langsung manuskrip-manuskrip kitab-kitab besar yang tersimpan dengan rapi di banyak perpustakaan besar di dunia dari mulai Timur Tengah, Asia Tengah, Amerika, sampai Eropa.

Setelah melihat manuskrip-manuskrip itu, saya mulai menyadari soal dunia penulisan kitab pada masa dimana Johannes Gutternberg belum menemukan mesin cetaknya. Menurut sejarah, Johannes Gutternberg baru menemukan mesin cetak sekitar tahun 1439 M dan ini berarti proses kepengarangan sudah melampaui zaman puncak keesaman Islam. Artinya, di dunia Islam, sudah banyak jutaan buku atau kitab yang beredar. Rezim al-Makmun saja mulai proyek penerjemahan buku-buku berbahasaYunani pada sekitar abad 8 M. Belum kitab-kitab yang ditulis oleh para penulis Muslim sendiri, dari rentang abad 7-14 M.

***

Mengetahui sejarah dan proses pengalihan versi manuskrip ke dalam versi cetak ini cukup penting bagi kita pertama untuk mendapatkan kesadaran betapa sulitnya menghadirkan versi cetak sebuah kitab. Pada masa pra-mesin cetak, semua kitab ditulis dengan tangan, lalu dikumpulkan dan dijilid. Seorang mu?allif (author) bisa menuliskan buah pikirnya dengan cara menyalinnya sendiri, namun tidak jarang yang meminta tangan murid atau sahabatnya untuk menyalinkannya.

Kitab-kitab yang berjilid-jilid itu tidak hanya membutuhkan pikiran, tenaga dan waktu, namun juga uang yang besar untuk mewujudkannya. Pada masa di mana kertas seperti yang kita lihat sekarang belum ditemukan, orang menulis di atas kertas yang terbuat dari olahan kulit domba atau hewan sejenis, di mana satu jilid kitab bisa menghabiskan ratusan kulit domba.Mushaf Qur’an San’a yang tersimpan di Perpustakaan National Berlin misalnya, konon bisa menghabiskan 300 domba lebih.

Sekali lagi, ini artinya untuk menulis sebuah kitab butuh orang kaya yang mampu menfasilitasi penulisan dan penggandaannnya. Di sinilah, saya jadi mengerti kenapa sebuah kitab sering berkaitan dengan permintaan seorang raja atau penguasa karena merekalah yang memiliki uang untuk membiayai penulisan sebuah kitab itu. Sebuah fragmen hubungan pengarang penguasa yang butuh dipahami lain dari hanya sekadar relasi kuasa dari yang kuat terhadap yang lemah.

Selain itu, mengetahui sejarah dan proses manuskrip juga berguna untuk menengarai tuduhan-tuduhan soal tahrif (pendistorsian redaksi asli) oleh kelompok tertentu atas sebuah kitab. Sebelum jatuh pada kesimpulan adanya ta?r?f, kita sebaiknya membaca dulu muqaddimah yang diberikan oleh editornya dulu. Seorang editor yang baik adalah yang menjelaskan tentang metodologi ta?q?qnya, termasuk menjelaskan asal usul manuskrip yang dia kerjakan. Perlu diketahui bahwa sebuah kitab bisa memiliki lebih dari satu salinan manuskrip. Penyalin ini pun sendiri terkadang hidup pada zaman yang berbeda dengan pengarang atau penyalin-penyalin lainnya. Atau sebuah kitab bisa saja ditulis oleh pengarangnya hanya satu saja, lalu dari yang satu ini ditulis lagi oleh murid dan sahabat-sahabatnya. Dari proses menulis inilah bisa saja terjadi kekurangan atau hal-hal yang ketelingsep dan ini hal yang manusiawi saja. Ibn Taymiyyah misalnya, karena tulisannya tangan jelek sekali dan sulit dibaca oleh orang lain, maka beliau meminta orang lain untuk menuliskan ulang tulisannya (copy).

Kita mungkin bisa jatuh pada kesimpulan tentang terjadi ta?r?f pada sebuah printed edition, jika sumber manuskrip yang digunakannya sama persis dan kita menemukan perbedaannnya di sana. Itu pun itu harus melihat kredibilitas editornya dulu. Hal ini perlu kita ketahui agar jika benar terjadi distorsi, maka apakah distorsi tersebut itu disebabkan oleh cara metodologi muhaqqiq dalam membaca dan mengedit manuskripnya berbeda atau disebabkan oleh kepentingan ideologis tertentu dari sang mu?aqqiq. Sudah barang tentu,? untuk mengetahuinya secara pasti butuh studi yang mendalam. Judgment atau prejudice tidak akan membantu kita banyak kecuali memproduksi kecurigaan-kecurigaan baru. Kecurigaan sangat penting dalam tradisi pengembangan ilmu pengetahuan, namun jika kecurigaan bukan perwujudan kebencian yang ideologis. (Waall?hu ‘alamu bi al-?aw?b).

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, meraih Dr. Phil dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, FreieUniversität, Berlin)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul, Khutbah, RMI NU PKS Piyungan Taubat

Rabu, 31 Januari 2018

Kiai Idham Tak Mau Dimakamkan di Kalibata

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. KH Idham Chalid yang sempat menjabat wakil perdana menteri, ketua DPR RI, Ketua MPR RI serta beberapa kali menjadi menteri berpesan kepada putra-putrinya untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia meminta untuk dimakamkan di komplek pendidikan Darul Qur’an, Cisarua, Bogor yang menjadi tempat pengabdiannya setelah usai dari pentas politik, selain Yayasan Perguruan Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan.

Demikian disampaikan putra ke-5 KH Idham Chalid, Saiful Hadi, di sela-sela menerima para tamu yang bertakziyah di rumah, Ahad (11/9) siang. Di komplek Darul Qur’an pun saat ini tidak ada pemakaman. Kiai Idham Chalid adalah orang pertama yang dimakamkan di tempat itu.

Kiai Idham Tak Mau Dimakamkan di Kalibata (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Idham Tak Mau Dimakamkan di Kalibata (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Idham Tak Mau Dimakamkan di Kalibata

“Beliau berpesan untuk dimakamkan di Darul Qur’an yang didirikan pada sekitar tahun 1967. Kalau Darul Ma’arif didirikan beliau pada sekitar tahun 1958,”katanya.

PKS Piyungan Taubat

Dua lembaga pendidikan itulah yang terutama menjadi tempat KH Idham Chalid berkiprah. Beberapa kader dua lembaga ini kelak muncul sebagai tokoh seperti Hamzah Haz dan Zainuddin MZ.

Menurut Saiful, semenjak ‘lengser’ dari pentas politik, tak ada upaya yang ditempuh untuk kembali lagi. “Setelah selesai dari politik beliau mengurus pesantren saja. Pernah juga aktif dalam organisasi tarekat,” katanya.

PKS Piyungan Taubat

Kiai Idham meninggal dunia setelah sekitar 12 tahun berada di pembaringan. Pada tahun-tahun terakhir pun tokoh NU asal Kalimantan Selatan ini sudah tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga dan para tamu.

Sementara sejumlah tokoh nasional yang bertakziyah Ahad siang itu langsung duduk dan berdoa untuk Kiai Idham. Antara lain, Ketua PBNU KH Slamet Effendi Yusuf, Mantan Wakil Presiden Hamzah Haz, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, dan Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Presiden SBY juga berencana bertakziyah ke rumah duka.

Jenazah akan dimakamkan secara umum pada Senin pukul 09.00 WIB besok. Pada pukul 10.00 WIB, jenazah akan diberangkatkan ke Darul Qur’an Cisarua dan dimakamkan selepas shalat dzuhur yang didahului upacara kenegaraan. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Khutbah PKS Piyungan Taubat

Senin, 29 Januari 2018

Santri Juara III OASIS Ini Suka Pelajaran Sejarah. Kenapa?

Brebes, PKS Piyungan Taubat. Membaca sejarah perjuangan bangsa Indonesia menjadi penyemangat bagi siswa SMP Bustanul Ulum (BU NU) Jatirokeh Songgom, Kabupaten Brebes Sulistiono Ardianto. Menurut Siswa kelas 9 C ini memandang, di dalam pelajaran sejarah ada nilai-nilai yang bisa dipetiknya sebagai langkah terbaik menapaki kehidupan sebagai seorang santri.?

"Sejarah menambah semangat karena di dalamnya ada pergolakan dan nilai-nilai juang merebut dan mempertahankan ibu pertiwi," kata pemenang ke-3 Olympiade Al-Quran dan Sains (OASIS) bidang IPS tingkat Jawa Tengah, awal 2016 lalu, saat ditemui PKS Piyungan Taubat di ruang Kepala Sekolah, Selasa (8/11)

Santri Juara III OASIS Ini Suka Pelajaran Sejarah. Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Juara III OASIS Ini Suka Pelajaran Sejarah. Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Juara III OASIS Ini Suka Pelajaran Sejarah. Kenapa?

Ketika membaca sejarah, santri Al Falah Asalafi Desa Jatirokeh ini merasa terbawa ke suasana dahulu kala yang penuh heroik.?

Tio, demikian panggilan akrabnya, tidak bisa membayangkan bagaimana para pejuang bangsa melepaskan diri dari cengkeraman penjajah. Ketika sudah merdeka pun, para pejuang bangsa harus mengorbankan kembali harta dan nyawa demi mempertahankan NKRI.?

Anak kelahiran Brebes 1 Juli 2001 mengaku belum bisa mengejawantahkan nilai nilai kejuangan sebagaimana yang diperbuat para pejuang untuk bangsa dan Negara. Namun dirinya berharap yang dikerjakan saat ini antara lain dengan kerja keras belajar yang nyaris 24 jam di pondok pesantren menjadi nilai ibadah. “Kepada orang tua saja, saya belum bisa berbuat yang terbaik, apalagi untuk bangsa dan negara,” kata anak dari pasangan Duman dan Seneah.

Tio, yang berasal dari desa Kradenan Kecamatan Kersana ini berangkat mondok sejak tiga tahun yang lalu tepatnya ketika menginjak usia SMP. Di dalam pondok, merasa betah karena mendapatkan teman yang banyak dalam bilik bisa saling asah asih dan asuh. “Keakraban dan kekeluargaan di dalam pondok terpatri hingga ke hati, kita satu keluarga,” ungkapnya.?

PKS Piyungan Taubat

Di pondok, kata Tio yang demen banget sama nasi goreng ini karena ? banyak temen juga banyak belajar, bukan banyak main. Di pondok, kalau libur, paling main sepak bola. ? Pelajaran di sekolah dan pondok, juga saling melengkapi. “Awalnya, saya takut masuk pondok tapi setelah diperjuangkan, ternyata makin asyik dan bisa mandiri,” kata Tio.

PKS Piyungan Taubat

Kepala SMP Bustanul Ulum HM Abud Abdad Jangki Daosat SH mengaku bangga dengan prestasi yang telah ditorehkan. Menurut Gus Abud, demikian sapaan akrabnya Tio telah menunjukan nilai nilai kepahlawanan. Sebagai siswa, dia telah mengharumkan nama sekolah sekaligus pondok pesantren lewat OASIS.?

Anak-anak pesantren, menurut saya telah menjadi pejuang bagi dirinya dan keluarganya juga agama. Karena Mereka telah meninggalkan keluarga demi mencari ridlo Allah, memenuhi kewajibannya menuntut ilmu. “Anak-anak santri, dalam pandangan saya adalah pejuang dan pahlawan yang tengah meneruskan ilmu dari para alim dan ulama,” pungkas Gus Abud yang juga anak Mutasyar PC NU Brebes KH Mas Mansyur Tarsudi. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Khutbah, Jadwal Kajian, Daerah PKS Piyungan Taubat

Selasa, 23 Januari 2018

Inilah Lima Peringatan dari Alam Kubur

Pringsewu, PKS Piyungan Taubat



Dalam hadits yang tertulis pada Kitab Daqoiqul Akhbar Rasulullah menjelaskan bahwa alam kubur memberikan peringatan kepada makhluk di dunia khususnya manusia tentang apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapinya.

Kehidupan seputar alam kubur tersebut dibahas oleh Ketua MWCNU Kecamatan Adiluwih Pringsewu H Basirun Nasir saat menjadi pemateri Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Ahad (24/4).

Inilah Lima Peringatan dari Alam Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Lima Peringatan dari Alam Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Lima Peringatan dari Alam Kubur

"Ada lima peringatan yang diberikan oleh alam kubur kepada manusia dan harus dipersiapkan agar dalam alam kubur kita mendapat ketenangan," katanya.

Yang pertama alam kubur mengingatkan bahwa kita manusia akan sendiri selama di dalam kubur. "Yang bisa menemani dan menghibur kesendirian tersebut adalah bacaan Al-Quran yang telah kita baca selama hidup di dunia," jelasnya.?

Selain bacaan Quran yang dilakukan sendiri, bacaan dan doa dari orang yang ditujukan kepada si mayit juga akan dapat menerangi semasa di alam kubur, katanya menambahkan.

PKS Piyungan Taubat

Yang kedua lanjutnya, alam kubur merupakan rumah yang sangat gelap dan yang dapat meneranginya adalah shalat malam. "Shalat malam di sini bukan hanya tahajud saja namun shalat shalat seperti tarawih dan witir juga merupakan shalat malam," terangnya

PKS Piyungan Taubat

Yang ketiga, alam kubur merupakan rumah tanah tanpa alas dan yang dapat menjadi alas para ahli kubur adalah amal shaleh selama di dunia.

Yang keempat, alam kubur merupakan tempat penuh dengan siksa yang diibaratkan dengan kalajengking.?

"Untuk menghindari siksa kubur Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk banyak banyak membaca lafadz Basmalah khususnya di setiap kegiatan yang akan kita lakukan," katanya.

Dan yang terakhir, alam kubur merupakan tempat di mana Malaikat Munkar dan Nakir menanyakan ketauhidan. "Agar kita dapat menjawab pertanyaan para malaikat, perbanyaklah membaca tahlil berupa Lailaaha illallah," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Habib, Fragmen, Khutbah PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock