Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Dorong Sidoarjo Bersih, PMII Deklarasikan Antikorupsi

Sidoarjo, PKS Piyungan Taubat - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo menyatakan anti korupsi sebagai bagian dari gerakan antisipasi dan pencegahan terhadap kejahatan korupsi di Sidoarjo. Sebelumnya mereka menggelar halaqah bertajuk Pemantapan Integritas Menuju Sidoarjo Bebas dari Korupsi digelar di gedung LP Maarif Sidoarjo, Kamis (27/10).

Ketua panitia Haris Aliq mengajak organisasi masyarakat (ormas) dan masyarakat Sidoarjo untuk mencegah dan mengawal kasus korupsi bila terbukti ada yang terlibat dalam kasus tersebut.

Dorong Sidoarjo Bersih, PMII Deklarasikan Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dorong Sidoarjo Bersih, PMII Deklarasikan Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dorong Sidoarjo Bersih, PMII Deklarasikan Antikorupsi

"Mari bersama-sama konsisten mencegah kasus korupsi di Sidoarjo dan mengawal tindak pidana karena hal ini bentuk cinta kita kepada Sidoarjo," kata Haris.

Sementara itu Ketua PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda mengatakan, deklarasi antikorupsi ini merupakan upaya PMII mencegah agar pejabat di Sidoarjo tidak ada yang terlibat korupsi.

PKS Piyungan Taubat

Menurutnya, sosialisasi tentang bahaya praktek korupsi sangat penting guna meningkatkan intensitas pengawasan baik dari sisi internal maupun eksternal, serta memperbaiki mental dan moral pejabat tinggi negara.

Mahmuda berharap kepada penegak hukum yang berada di Sidoarjo khususnya terus mengawasi dan mengawal para pejabat yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi.

PKS Piyungan Taubat

"Mencegah terjadinya praktik korupsi diperlukan peran aktif dari semua elemen baik dari media, masyarakat, maupun ormas kepemudaan. Karena mencegah korupsi tidak hanya diserahkan kepada penegak hukum, institusi pemerintah maupun legislatif, namun semua pihak harus ikut andil," jelasnya.

Hadir pada acara itu, Fatayat, IPNU IPPNU, PMII se-Sidoarjo, Karang Taruna, Pemuda Pancasila dan narasumber dari Polresta Sidoarjo serta Kejaksaan Negeri Sidoarjo. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Sholawat, Nahdlatul, Kajian Sunnah PKS Piyungan Taubat

Minggu, 11 Februari 2018

Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi

Bandung, PKS Piyungan Taubat 

Lembaga Dakwah PBNU bersilaturahim kepada pesantren tua di kabupaten dan kota Bandung Jumat lalu (8/9). Pesantren pertama yang dikunjungi adalah Baitul Arqom, Lemburawi, Kecamatan Pacet. Pesantren tersebut didirikan KH Muhammad Fakih (Mama Fakih) bin KH Muhammmad Salim sekitar tahun 1922. 

Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi

Rombongan diterima salah seorang pengasuh pesantren tersebut, KH Athoillah. Setelah rehat dan berbincang, kemudian berziarah ke kompleks pemakaman keluarga pesantren. Di kompleks pemakaman, Kiai Athoilah mengatakan, nasab leluhurnya masih bersambung dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Mama Faqih merupakan keturunan ke-17 dari wali Cirebon tersebut. 

Saat ini Baitul Arqom memiliki sekitar 1.500 santri. Mayoritas berasal dari kabupaten-kabupaten di Jawa Barat. Namun, hampir dari setiap provinsi, dari Aceh hingga Papua, ada yang mondok di pesantren itu. Jika ditambahkan dengan mahasiswa dan mahasiswi di STAI pesantren, bisa mencapai 2.500 orang. 

Menurut Kiai Athoillah, salah satu faktor adanya santri dari berbagai wilayah adalah karena jejaring para kiai pendahulu yang merupakan dai keliling ke daerah-daerah. KH Ali Imron dan KH Yusuf Salim adalah dai populer yang tak henti-hentinya menyebarkan ajaran Islam. 

KH Yusuf Salim sering berdakwah hingga ke luar Jawa. Selepas berdakwah itulah, ada orang tua yang menitipkan anaknya di Baitul Arqom.

PKS Piyungan Taubat





PKS Piyungan Taubat

Terispirasi dari Sahabat Nabi

Sebagaimana umumnya pesantren tua, kiai pendiri hampir tidak menamakan pesantren secara khusus. Pesantren hanya dikenal dengan nama kampungnya. Di Jawa Barat misalnya dikenal Pesantren Gentur (sebuh tempat di Cianjur) Gunung Puyuh (di Sukabumi).

Di Jawa juga seperti itu, pesantren Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari  lebih dikenal nama kampung tempat pesantren itu berdiri, Tebuireng. Baitul Arqom, masa kepemimpinan Mama Faqih hanya dikenal sebagai Pesantren Lemburawi. 

Pada tahun 1964, Mama Faqih wafat meninggalkan sembilan keturunan, buah pernikahannya dengan Hj. Maryamah. Putra-putrinya adalah Hj. Anisah Mabruroh, H. Rd Sofwan, Hj.Nyimas Qona’ah, KH Ali Imron, KH Taufiq Abdul Hakim, Hj. Neng Kholishoh Kamilah, Neng Endah Zainab, KH Yusuf Salim Faqih, KH Madani Sulaiman. Kepemimpinan Pesantren Lemburawi dillanjutkan menantu Mama Faqih, KH Ubaidillah. 

Pada tahun 1970, Pesantren Lemburawi berubah nama menjadi Baitul Arqom Al-Islami. Menurut KH Athoillah, nama itu terinspirasi dari nama sahabat Nabi Muhammad SAW, Arqom bin Arqom. Sahabat Arqom tergolong beriman pada masa awal Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah Islam. 

Pada masa sulit dengan dakwah sembunyi-sembunyi itu, Arqom merelakan rumahnya menjadi, untuk istilah sekarang semacam basecamp untuk berdakwah Nabi Muhammmad dengan sahabat-sahabat. Baitul Arqom sama dengan rumahnya Arqom dengan fungsi pusat dakwah. 

KH Ubaidillah wafat 11 Februari 1986. Karena ia tidak memiliki keturunan, kepemimpinan pesantren dilanjutkan putra keempat Mama Faqih, KH Ali Imron. Pada masa dia, pesantren dikelola bersama saudara dan keponakanya, KH Taufiq Abdul Hakim, KH Yusuf Salim, Kiyai Madani Sulaiman, KH Sulaeman Ma’ruf,  KH Abdul Khobir Hasan, KH Fuad Musthofa Hanan, dan para asatidz lainya.

KH Ali Imron adalah menantu KH Ruhiat, tokoh NU Tasikmalaya, pendiri Pondok Pesantren Cipasung. Dengan demikian, KH Ali Imron merupakan adik ipar dari KH Ilyas Ruhiat, Rais ‘Aam PBNU (1994-1999) masa Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. 

KH Ali Imron wafat pada Juni 2005. Kepemimpinan Baitul Arqom dilanjutkan KH Yusuf Salim yang wafat pada Juli 2009. Kini, Pesantren Baitul Arqom, pesantren pusat dakwah itu, dilanjutkan kiai-kiai muda dari keturunan Mama Faqih. Salah seorang di antaranya KH Athoillah. (Abdullah Alawi)       

  

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul, Khutbah PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 10 Februari 2018

Inilah Cara Mengetahui Kesahihan Hadits

Hadits sahih ialah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang berkualitas dan tidak lemah hafalannya, di dalam sanad dan matannya tidak ada syadz dan illat.

Mahmud Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits menjelaskan hadits sahih adalah sebagai berikut:

Inilah Cara Mengetahui Kesahihan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Cara Mengetahui Kesahihan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Cara Mengetahui Kesahihan Hadits

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PKS Piyungan Taubat

Artinya, “Setiap hadits yang rangkaian sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit dari awal sampai akhir sanad, tidak terdapat di dalamnya syadz dan ‘illah.”

PKS Piyungan Taubat

Dilihat dari definisi di atas, terdapat lima kriteria hadits sahih yang harus diperhatikan. Demikian pula ketika ingin mengetahui apakah hadits yang kita baca atau dengar sahih atau tidak, lima kriteria tersebut menjadi panduan utama. Kalau kelima kriteria itu ada dalam sebuah hadits, maka haditsnya sahih. Kalau tidak ada salah satunya berati hadits dhaif.

Sebagaimana dijelaskan Mahmud At-Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits, kelima kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

Ketersambungan Sanad

Ketersambungan sanad (ittishâlul sanad) berati masing-masing perawi bertemu antara satu sama lain. Salah satu cara yang digunakan untuk membuktikan masing-masing rawi bertemu ialah dengan cara melihat sejarah kehidupan masing-masing perawi, mulai dari biografi guru dan muridnya, tahun lahir dan tahun wafat, sampai rekaman perjalanannya.

Perawi Adil (Kredibilitas)

Setelah mengetahui ketersambungan sanad, langkah berikutnya adalah meneliti satu per satu biografi perawi dan melihat bagaimana komentar ulama hadits terhadap pribadi mereka. Perlu diketahui, adil (‘adalah) yang dimaksud di sini berkaitan dengan muruah atau nama baik.

Perawi yang semasa hidupnya pernah melakukan perbuatan yang melanggar moral dan merusak muruah, hadits yang diriwayatkannya tidak bisa diterima dan kualitasnya rendah.

Hafalan Perawi Kuat

Selain mengetahui muruah perawi, kualitas hafalannya juga perlu diperhatikan. Kalau hafalannya kuat, kemungkinan besar haditsnya sahih. Tapi kalau tidak kuat, ada kemungkinan hadits tersebut hasan, bahkan dhaif.

Tidak Ada Syadz

Syadz berati perawi tsiqah bertentangan dengan rawi lain yang lebih tsiqah darinya. Misalkan, ada dua hadits yang saling bertentangan maknanya. Untuk mencari mana kualitas hadits yang paling kuat, kualitas masing-masing perawi perlu diuji, meskipun secara umum sama-sama tsiqah. Dalam hal ini, perawi yang paling tsiqah dan kuat hafalannya lebih diprioritaskan.

Dengan demikian, untuk memastikan kesahihan hadits, perlu dikonfirmasi dengan riwayat lain, apakah tidak bertentangan dengan hadits lain atau tidak.

Tidak Ada ‘Illah

Illah yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dapat merusak kesahihan hadits, namun tidak terlalu kelihatan. Maksudnya, ada hadits yang dilihat sekilas terkesan sahih dan tidak ditemukan cacatnya. Namun setelah diteliti lebih dalam, ternyata di situ ada sesuatu yang membuat kualitas hadits menjadi lemah. Hal ini dalam musthalah hadits diistilahkan dengan ‘illah.

Itulah lima kriteria yang perlu diperhatikan pada saat menguji apakah sebuah hadits sahih atau tidak. Kalau hilang salah satu dari lima kriteria tersebut, kualitas hadits bisa jatuh pada kedhaifan.

Misalnya hadits riwayat Al-Bukhari tentang Rasulullah membaca Surat At-Thur saat magrib. Al-Bukhari meriwayatkan hadits sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Abdullah bin Yusuf meriwayatkan dari Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jubair , dari Muhammad bin Jubair bin Math’am, dari bapaknya (Jubair bin Math’am) yang berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah membaca Surat At-Thur saat magrib,’” (HR Al-Bukhari).

Riwayat di atas dihukumi sahih oleh para ulama hadits karena memenuhi kriteria hadits sahih. Dilihat dari ketersambungan sanad, masing-masing perawi terbukti bertemu antara satu sama lain; dilihat dari kualitas perawi semuanya dhabit dan ‘adil; serta tidak terdapat syadz dan illat dalam sanad hadits. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul, Sholawat PKS Piyungan Taubat

Rabu, 07 Februari 2018

PBNU Bentuk Tim Khusus Terkait Reforma Agraria

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 yang diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat telah menghasilkan berbagai rekomendasi. 

PBNU Bentuk Tim Khusus Terkait Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Bentuk Tim Khusus Terkait Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Bentuk Tim Khusus Terkait Reforma Agraria

Ketua Panitia Munas Konbes NU 2017 H Robikin Emhas saat ditemui PKS Piyungan Taubat di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (15/1) mengatakan bahwa PBNU tengah menindaklanjuti hasil Munas Konbes NU 2017 tersebut. 

Menurut Robikin, ada beberapa hal yang sedang dipersiapkan, seperti sosialisasi baik ke internal NU dan badan otonomnya secara struktural, serta sosialisasi ke eksternal seperti eksekutif, legislatif dan para pemangku kebijakan lainnya. 

Sementara untuk mewujudkan rekomendasi hasil Munas Konbes NU 2017, khususnya terkait reforma agraria, Robikin mengatakan PBNU tengah menyusun tim khusus.

PKS Piyungan Taubat

"Karena berkaitan langsung dengan kebutuhan warga," katanya. 

PKS Piyungan Taubat

Adapun susunan sementara tim khusus terdiri atas Ketua KH Mochammad Maksum Machfoedz, Wakil Ketua H Robikin Emhas, dan Sekretaris Masduki Baedowi. 

Menurut Robikin, selain internal PBNU, tim khusus juga akan melibatkan pihak-pihak lain yang mempunyai perhatian terhadap persoalan reforma agraria seperti Institut Pertanian Bogor (IPB). 

"Mereka (IPB) juga akan kita libatkan," katanya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Ahlussunnah, Kajian Sunnah, Nahdlatul PKS Piyungan Taubat

Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak?

Oleh Syafiq Hasyim

Banyak kalangan santri, termasuk saya sendiri, yang tidak tahu menahu atau belum tahu tentang bagaimana sejarah sebuah kitab itu menjadi bentuk buku, terutama proses menjadikan manuskrip (ma?t) ke dalam bentuk kitab yang tercetak, sebagaimana yang kita nikmati setiap hari di pesantren kita.

Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Manuskrip Jadi Kitab Cetak?

Seingat saya, di pesantren-pesantren NU memang diwasiatkan tentang pentingnya menjaga sanad guru (rangkain) ketika mengaji sebuah kitab, tapi sayangnya tidak diajarkan bagaimana sesungguhnya sebuah kitab itu sampai ke percetakan dan lalu bisa kita baca pada forum santri.

Mengetahui sejarah pembukuan kitab itu penting sekali, sebab berbeda dengan Al-Qur’an yang kita hafalkan, kitab-kitab ini ditransmisikan kepada para murid lebih banyak lewat tradisi tulisan.

PKS Piyungan Taubat

Zaman dulu,ketika masih ngaji di pesantren, saya juga hanya memikirkan dan menikmati kitab-kitab yang sudah“jadi” mulai dari terbitan Menara Kudus sampai Dar al-Fikr.? Pada masa itu, terasa lega sekali jika sudah mampu membeli kitab, apalagi kitab-kitab yang biasa menjadi pegangan kitab NU.

Kitab besar pertama yang saya beli dari hasil honorarium mengajar di Madrasah Diniyyah Awwaliyah adalah I?y?’?Ul?m al-D?n, versi yang 4 jilid. Ketika itu saya berada di kelas 3 Madrasah Tsanawiyyah. Setiap sore, pada waktu lepas, sebelum ngaji, kitab ini saya tengok dan sedikit-sedikit diberikan makna gandul atasnya. Kertas kuning dan cetakan huruf Arab yang indah yang mengadopsi temuan Johannes Gottenberg, seorang inventor teknologi mesin cetak dari Jerman, senantiasa menarik minat saya untuk membuka kitab-kitab tersebut.

PKS Piyungan Taubat

Sampai suatu hari saya mendapatkan rezeki nomplok dimana seorang tetangga yang bekerja di Saudi Arabia membelikan kitab Fathul Bari 13 jilid sebagai hadiah untuk saya. Saya menerimanya dengan senang hati dan tersanjung. Baru pertama kali dalam hidup saya mempunyai kitab cetakan luar negeri. Keterpesonaan pada kulit muka kitab yang solid, sangat beda dengan versi cetakan Menara Kudus, serta kertas putihnya yang sangat indah itu tidak ada habisnya.

Bagi saya, melihat Fathul Bari masa itu, tidak ada kata lain kecuali mengaguminya. Tapi tetap saja kekaguman saya berhenti hanya sampai pada batas keindahan cover, kertas dan sudah barang tentu isinya.

Dan terasa aneh, ketika itu, saya tidak menaruh minat untuk tahu sama sekali tentang bagaimana sejarah kitab mewujud menjadi buku yang indah seperti ini. Bahkan saya tidak tertarik sama sekali membaca catatan editornya(mu?aqqiq) yang biasa dicantumkan di halaman depan. Sama sekali saya tidak memikirkan peran muhaqqiq-nya (editor) dalam mewujudkan manuskrip Fathul Bari atau kitab-kitab besar lainnya ke dalam bentuk edisi kitab tercetak (printededition). Padahal dalam setiap kitab terutama yang dicetak belakangan, proses editing dari manuskrip menjadi printed edition biasanya didedahkan. Misalnya, sang editor akan menyatakan jika edisi kitab ini didasarkan pada manuskrip yang tersimpan di perpustakaan mana, soal variant readingnya dlsb.

Terus terang, hal yang demikian tidak menjadi perhatian ketika ngaji sebuah kitab, minimal saya tidak mengalaminya.Untuk pengarang kitab-kitab tersebut pastilah terlintas di benak saya, karena sebelumnya sudah mendengar soal mereka dari para kyai di pondok, tapi editor saya tidak pernah mendengar. Mata saya mulai terbuka ketika mendapatkan kesempatan melihat secara langsung manuskrip-manuskrip kitab-kitab besar yang tersimpan dengan rapi di banyak perpustakaan besar di dunia dari mulai Timur Tengah, Asia Tengah, Amerika, sampai Eropa.

Setelah melihat manuskrip-manuskrip itu, saya mulai menyadari soal dunia penulisan kitab pada masa dimana Johannes Gutternberg belum menemukan mesin cetaknya. Menurut sejarah, Johannes Gutternberg baru menemukan mesin cetak sekitar tahun 1439 M dan ini berarti proses kepengarangan sudah melampaui zaman puncak keesaman Islam. Artinya, di dunia Islam, sudah banyak jutaan buku atau kitab yang beredar. Rezim al-Makmun saja mulai proyek penerjemahan buku-buku berbahasaYunani pada sekitar abad 8 M. Belum kitab-kitab yang ditulis oleh para penulis Muslim sendiri, dari rentang abad 7-14 M.

***

Mengetahui sejarah dan proses pengalihan versi manuskrip ke dalam versi cetak ini cukup penting bagi kita pertama untuk mendapatkan kesadaran betapa sulitnya menghadirkan versi cetak sebuah kitab. Pada masa pra-mesin cetak, semua kitab ditulis dengan tangan, lalu dikumpulkan dan dijilid. Seorang mu?allif (author) bisa menuliskan buah pikirnya dengan cara menyalinnya sendiri, namun tidak jarang yang meminta tangan murid atau sahabatnya untuk menyalinkannya.

Kitab-kitab yang berjilid-jilid itu tidak hanya membutuhkan pikiran, tenaga dan waktu, namun juga uang yang besar untuk mewujudkannya. Pada masa di mana kertas seperti yang kita lihat sekarang belum ditemukan, orang menulis di atas kertas yang terbuat dari olahan kulit domba atau hewan sejenis, di mana satu jilid kitab bisa menghabiskan ratusan kulit domba.Mushaf Qur’an San’a yang tersimpan di Perpustakaan National Berlin misalnya, konon bisa menghabiskan 300 domba lebih.

Sekali lagi, ini artinya untuk menulis sebuah kitab butuh orang kaya yang mampu menfasilitasi penulisan dan penggandaannnya. Di sinilah, saya jadi mengerti kenapa sebuah kitab sering berkaitan dengan permintaan seorang raja atau penguasa karena merekalah yang memiliki uang untuk membiayai penulisan sebuah kitab itu. Sebuah fragmen hubungan pengarang penguasa yang butuh dipahami lain dari hanya sekadar relasi kuasa dari yang kuat terhadap yang lemah.

Selain itu, mengetahui sejarah dan proses manuskrip juga berguna untuk menengarai tuduhan-tuduhan soal tahrif (pendistorsian redaksi asli) oleh kelompok tertentu atas sebuah kitab. Sebelum jatuh pada kesimpulan adanya ta?r?f, kita sebaiknya membaca dulu muqaddimah yang diberikan oleh editornya dulu. Seorang editor yang baik adalah yang menjelaskan tentang metodologi ta?q?qnya, termasuk menjelaskan asal usul manuskrip yang dia kerjakan. Perlu diketahui bahwa sebuah kitab bisa memiliki lebih dari satu salinan manuskrip. Penyalin ini pun sendiri terkadang hidup pada zaman yang berbeda dengan pengarang atau penyalin-penyalin lainnya. Atau sebuah kitab bisa saja ditulis oleh pengarangnya hanya satu saja, lalu dari yang satu ini ditulis lagi oleh murid dan sahabat-sahabatnya. Dari proses menulis inilah bisa saja terjadi kekurangan atau hal-hal yang ketelingsep dan ini hal yang manusiawi saja. Ibn Taymiyyah misalnya, karena tulisannya tangan jelek sekali dan sulit dibaca oleh orang lain, maka beliau meminta orang lain untuk menuliskan ulang tulisannya (copy).

Kita mungkin bisa jatuh pada kesimpulan tentang terjadi ta?r?f pada sebuah printed edition, jika sumber manuskrip yang digunakannya sama persis dan kita menemukan perbedaannnya di sana. Itu pun itu harus melihat kredibilitas editornya dulu. Hal ini perlu kita ketahui agar jika benar terjadi distorsi, maka apakah distorsi tersebut itu disebabkan oleh cara metodologi muhaqqiq dalam membaca dan mengedit manuskripnya berbeda atau disebabkan oleh kepentingan ideologis tertentu dari sang mu?aqqiq. Sudah barang tentu,? untuk mengetahuinya secara pasti butuh studi yang mendalam. Judgment atau prejudice tidak akan membantu kita banyak kecuali memproduksi kecurigaan-kecurigaan baru. Kecurigaan sangat penting dalam tradisi pengembangan ilmu pengetahuan, namun jika kecurigaan bukan perwujudan kebencian yang ideologis. (Waall?hu ‘alamu bi al-?aw?b).

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, meraih Dr. Phil dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, FreieUniversität, Berlin)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nahdlatul, Khutbah, RMI NU PKS Piyungan Taubat

Selasa, 23 Januari 2018

Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini

Ponorogo, PKS Piyungan Taubat

Berselang dua hari setelah diantik, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Ponorogo mendapat kehormatan untuk mengikuti apel siaga bencana. Apel bertajuk “Apel Gelar Pasukan Satgas Bencana Alam Tahun 2017” ini digelar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo didukung Kodim dan Polres setempat.

Apel dipimpin Wakil Bupati H. Sudjarno, Rabu (26/7) di lapangan Tengger Desa Slahung Kecamatan Slahung. Kali ini LPBINU Ponorogo mendelegasikan satu kompi relawan dipimpin langsung Ketuanya Ahmad Subeki beserta jajara pengurus harian.

Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini

Kepada awak media, Sudjarno mengungkapkan keinginan kuat Pemkab Ponorogo beserta seluruh aparat dan komponen masyarakat untuk mengantisipasi bencana alam sejak dini.

PKS Piyungan Taubat

“Saat ini di Ponorogo mulai terjadi bencana alam, utamanya kebakaran hutan. Bahkan, semua musim di sini ada ancaman bencana. Kita sudah koordinasi dengan pemerintah pusat. Yang terpenting, kita harus selalu selalu siaga, maka hari ini kita gelar apel ini. Kita sadari, SDM kita masih kurang, untuk itu seluruh komponen masyarakat akan kita ajak berperan serta,” katanya usai memimpin apel.

PKS Piyungan Taubat

Perlu diketahui, PCNU Ponorogo resmi melantik LPBINU dalam forum pembukaan rapat kerja, Sabtu (22/7), di Hotel Sukowati Sarangan Magetan. PCNU menunjuk Ahmad Subeki atau yang akrab dipanggil Kalibek sebagai ketua untuk masa khidmat 2017-2019. Mantan Kasatkorcab Banser Ponorogo yang masih aktif di Satkorwil dan Satkornas Banser ini didampingi mantan Sekretaris PW IPNU Jawa Timur Novi Trihartanto sebagai sekretaris.

Selain terdapat wakil Sekretaris, bendahara dan para wakilnya, jajaran pengurus harian juga terdiri dari 6 orang direktur yang membawahi bidang dan relawan. Tak kurang dari 100 orang yang berasal dari para aktivis GP Ansor, Banser, Pagar Nusa, LAZISNU, IPNU, dan IPPNU dilibatkan sebagai pengurus bidang dan relawan.

Ke depan Ahmad Subeki mengungkapkan komitmennya untuk membawa LPBINU menjadi lembaga yang profesional dan akan selalu membangun sinergi dengan lembaga-lembaga lain dan Banom NU.

“Kami tegaskan, LPBINU ini adalah bapaknya penanganan bencana oleh PCNU, adapun lembaga-lembaga di bawah Banom lain adalah anak-cucunya. Untuk itu kita harus membangun sinergi agar tampil profesional,” kata Kalibek berkelakar, disambut gelak tawa para relawan LPBINU.

Berbekal Renstra dan Renop yang disusun saat raker, Ahad (23/7), untuk tahap awal LPBINU akan membenahi administrasi kelembagaan dan mengadakan audiensi dengan para pemangku kepentingan. (Idham/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Ubudiyah, Meme Islam, Nahdlatul PKS Piyungan Taubat

Jumat, 12 Januari 2018

Kiai Betawi Ini Siap Maju di Muktamar Ke-33 NU

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Jadwal perhelatan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, masih lebih dari lima bulan lagi. Namun sejumlah nama sudah menyatakan siap maju dalam bursa pencalonan ketua umum pada forum tertinggi di NU tersebut.

Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta KH Zuhri Yaqub mengaku memiliki harapan untuk kemajuan Nahdlatul Ulama, baik di sektor ekonomi maupun penguatan kaderisasi umat. Ketika ditanya kesiapannya maju atau tidak pada Muktamar NU pada Agustus mendatang, sembari tersenyum ia menjawab, "Iya, saya mau maju, akan tetapi saya lebih mementingkan pengabdian saya kepada NU dan umat."

Kiai Betawi Ini Siap Maju di Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Betawi Ini Siap Maju di Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Betawi Ini Siap Maju di Muktamar Ke-33 NU

Menurut kiai kelahiran Tanah Betawi ini, yang terpenting saat ini adalah mengabdi kepada NU sebagaimana yang telah diperjuangkan para pendiri dan pejuang NU, juga memikirkan bagaimana agar warga NU bias lebih sejahtera.

PKS Piyungan Taubat

"Mengabdi untuk NU itu lebih penting bagi saya ketimbang maju pada Muktamar 2015. Untuk mengabdi, kita sudah diberikan contoh oleh pendiri dan pejuang NU, sekarang harus lebih memikirkan bagaimana warga NU lebih sejahtera," jelas Zuhri, di kediamannya di Jalan Duri Kosambi, Jakarta Barat, Selasa (17/2).

PKS Piyungan Taubat

Selain Zuhri, nama lain sudah lebih dahulu menyampaikan ke media terkait kesediaannya maju di Muktamar ke-33 NU, di antaranya Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Muktamar ke-33 NU yang bakal digelar di Jombang, 1-5 Agustus 2015, ini akan menjadi sejarah baru perhalatan akbar tersebut terselenggara di kabupaten kelahiran para pendiri NU. Dalam forum itu, para muktamirin diwacanakan akan menerapkan sistem Ahlul Halli wal Aqdi atau semacam tim formatur dalam proses penetapan pemimpin. (Junaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Berita, Nahdlatul, News PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock