Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren

Cirebon, PKS Piyungan Taubat. Berpulangnya seniman sekaligus dalang, Ki Slamet Gundono meninggalkan segenap kesan dan kenangan yang mendalam di hati para sahabatnya, termasuk para santri pesantren di Cirebon. ?

Hubungan dalang suket itu dengan beberapa pesantren Cirebon terbilang akrab, begitu tutur Baequni Mohammad Haririe, penggiat Komunitas Seniman Santri (KSS) Cirebon kepada PKS Piyungan Taubat.

Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren

Baequni mengisahkan,? peran almarhum? sangat kuat dalam menjembatani dialog antara seni tradisi dan pesantren. Hal itu, Baequni menambahkan, terjadi saat Ki Slamet Gundono berkenan untuk mementaskan wayang suketnya dalam Musyawarah Besar (Mubes) NU di Pesantren Babakan Cirebon pada tahun 2004.

PKS Piyungan Taubat

“Andai waktu itu Ki Slamet Gundono tak jadi tampil, kesenian tradisi akan terabaikan dari habitatnya, yakni pesantren,” ungkapnya.

PKS Piyungan Taubat

Pria yang kerap disapa Kang Ubay ini pun menjelaskan, hubungan seni tradisi dan pesantren memang cukup renggang dan terkesan dingin pada saat-saat itu. Namun keberadaan Ki Slamet Gundono yang berlatar belakang pesantren sekaligus sebagai seniman mampu mencairkan hubungan kedua hal tersebut.

Kesan yang cukup mendalam juga dikenang oleh Mahrus El-Mawa, salah satu peneliti di IAIN Syekh Nurjati Cirebon sekaligus filolog di Pusat Studi Budaya dan Manuskrip ISIF Cirebon. Menurutnya, Ki Slamet Gundono merupakan kreator wayang rakyat yang sangat memiliki keserupaan dengan nilai-nilai pesantren.

“Apa yang disampaikan Ki Slamet tidak ada bedanya dengan da’i NU, hanya media dakwahnya saja yang berbeda,” ujar Mahrus.

Kedekatan Ki Slamet Gundono dengan tradisi pesantren di Cirebon mengundang rasa kehilangan yang mendalam. Muzayyin Haris, mantan Ketua PC PMII Kabupaten Cirebon merasakan belum ada yang mumpuni ihwal kehangatan Ki Slamet di mata para santri Cirebon.

“Selamat jalan Ki Slamet, kami yang di Cirebon tentu merasa sangat kehilangan dan berduka Kami selalu mengenang pesanmu, bahwa berpikir dalam segala hal, mesti bijaksana,” pungkas Zayin.

Seperti yang diiberitakan sebelumnya, Slamet Gundono dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Islam (RSI) Yarsis Solo, Ahad pagi (5/1). Slamet Gundono merupakan seorang dalang asal Tegal, Jawa Tengah, yang bermukim di Solo. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaSantri, Budaya, Kajian Sunnah PKS Piyungan Taubat

Minggu, 11 Februari 2018

Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU

Banyumas,PKS Piyungan Taubat. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas bersama Satkoryon Banser mengawal sepenuhnya program Diklatama I DKAC CBP KPP PAC IPNU IPPNU Cilongok yang dilaksanakan di Desa Karang Tengah Sabtu sampai Senin, (15-17/10).

Ketua PAC GP Ansor Cilongok Mustangin Diklatama CBP KPP ini sangat positif untuk kaderisasi IPNU IPPNU dan Ansor ke depan. GP Ansor dan Banser punya kepentingan dengan kaderisasi ini sebab IPNU IPPNU merupakan gerbang awal menuju GP Ansor dan Banser.

Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU

“Kalau kaderisasi sudah dilakukan sejak dini maka itu menjadi modal besar untuk kami di kepengurusan,” katanya melalui siaran pers Selasa (18/10).

PKS Piyungan Taubat

Pengawalan GP Ansor, tak sebatas pada pengamanan, tapi juga pada pemberian berbagai materi. “Keterlibatan kami juga sebagai bentuk sinergi antarbadan otonom NU karena secara historis, bisa diibaratkan IPNU-IPPNU adalah adik-adik kami dan kelak merekalah yang akan meneruskan perjuangan kami di Ansor-Banser. Jadi sudah sepantasnya kami ikut mensukseskan kegiatan ini,” ujar Mustangin.

Komandan Rayon Banser Cilongok Ischakul Chasan mengatakan, Banser terlibat dari awal pembukaan sampai penutupan Diklatama tersebut.

PKS Piyungan Taubat

Menurut dia, Banser perlu mengawal kegiatan tersebut terutama pada sesi di lapangan yaitu menyusuri hutan perbukitan Curug Cipendok. “Setidaknya dengan keahlian anggota kami bisa mengantisipsi dan beraksi cepat atas hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Ia berharap keikutsertaan Banser pada kegiatan ini bisa menjadi daya tarik peserta agar kelak dewasa bisa melanjutkan jenjang pengkaderannya di GP Ansor dan Banser.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaSantri PKS Piyungan Taubat

Senin, 29 Januari 2018

Menjadi Santri

Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa yang membuatku pernah menjadi santri. Terima kasih kepada temanku, si Unung, yang mengiming-imingiku menjadi santri. Terima kasih juga kepada ibu bapakku yang menyebabkan aku menjadi santri. Tidak lama aku menjadi santri, cuma dua tahun.

Perlu aku bersyukur sebab sekarang merasakan beruntungnya menjadi santri. Aku bersyukur dalam sejarah hidupku pernah mengalami kehidupan pesantren. Terasa banyak gunanya. Dan tentu saja punya kisah yang tak dimiliki anak-anak kota yang tak mengenal pesantren.

Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Santri

Kuakui, sebelumnya sering malu kalau orang lain mengetahuiku pernah jadi santri. Kadang sering mangkir pernah jadi santri. Tapi belakangan malah bangga. Aku bangga sebab punya pengalaman hidup yang lebih dari anak-anak kota pada umumnya.

PKS Piyungan Taubat

Dari pesantren memang tak sebarapa banyak bertambah ilmuku. Soalnya aku nyantri cuma dua tahun. Sementara santri lain bisa sampai belasan tahun.

Waktu Belanda dikalahkan Jepang, sekolah-sekolah tutup. Anak-anak menganggur. Si Unung, teman sebangku di sekolah, ikut kakaknya nyantri di pesantren P. Ketika pulang, ia menceritakannya dengan menarik. Katanya, mengaji di pesantren lebih cepat ketimbang ngaji di Ajengan Enoh, di Kampung. (Aku dan si Unung mengaji di Ajengan Enoh).

PKS Piyungan Taubat

Lalu timbul keinginanku menjadi santri. Semakin bertambah setelah mendengar ceramah Ajengan Ma’mun ketika Rajaban.*

“Sekarang kebanyakan manusia memburu harta dunia seolah-olah akan hidup selamanya. Padahal maut tak diketahui kapan datangnya, bisa besok, bisa nanti, tak ada yang tahu. Saudara-saudara, ilmu itu cahaya, al-ilmu nurun. Orang tak berilmu ibarat di dunia gelap tak tahu jalan yang harus ditempuh. Itulah sebabnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap mukmin. Tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin...” begitu kata Ajengan Ma’mun.

Niatku semakin bulat untuk ke pesantren. Ibuku tak kurang sepuluh kali mengucapkan alhamdulillah ketika aku mengatakannya. Ia kemudian bercerita ke hampir setiap orang kampung. Lalu para orang tua ingin juga memiliki anak sepertiku, menjadi santri.

Aku lupa tanggal persisnya mulai menjadi santri. Tapi tak akan lupa harinya, Rabu. Sebab itu perhitungan kakekku. Menurut dia, mencari ilmu harus dimulai hari Rabu. Aku lupa alasannya, tapi katanya Rabu hari terbaik mulai tholabul ilmi.

Tidak seperti Yogaswara dalam Mantri Jero**, ia berangkat ke pesantren sendirian. Keberangkatanku seperti calon haji yang akan pergi ke Makkah. Seperti Purnama Alam*** pergi ke Pesantren Gurangsarak. Berduyun-duyun pengantar. Kedua pamanku mengapit di kiri kananku, ibu, bapak, dan kakek. Beriringan Mang Ihin dan si Uha, tukang kebun dan anaknya. Keduanya memikul perbekalanku dan oleh-oleh buat ajengan.

Ajengan menyambut hormat kedatangan rombonganku. Apalagi kepada kakek, ia sangat hormat sekali. Sebab kakekkulah yang dulu menikahkannya.

Aku menjadi santri istimewa di pesanten itu. Sampai ditawari, mau tinggal di rumah ajengan atau mau di kobong****. Aku memilih di kobong supaya banyak teman. Kalau di rumah ajengan, takut ketahuan aku tak pintar. Di kobong, aku diberi tempat yang enak. Tak jauh dari jendela. Tempat tidur di atas ranjang. Kopor disimpan di atas.

Malam pertama di pesantren aku merasa takut. Mungkin karena belum ada yang kenal. Dan ternyata susah kenal dengan mereka.

Santri yang tidur di bawah ranjangku sepertinya sedang sakit. Dia berselimut terus. Ketika orang lain ke masjid, dia masih saja berselimut. Selepas Isya kuberi paha ayam dan nasi timbel. Betapa gembira menerimanya.

Santri yang tidur di sebalah kiriku, dari tampangnya saja tampak songong. Di hadapanku, ia membaca Safinah keras-keras. Tambah menyebalkan ketika ia bertanya dengan bahasa Arab, “Man ismuka?”

Sespertinya dia menyangka aku tak mengerti sama sekali bahasa Arab. Padahal yang seperti itu aku pernah belajar kepada Ajengan Suganda. Aku menjawab pertanyaan dengan menyebutkan namaku, ia tidak songong lagi.

“Kamu pernah ngaji ya?” tanya teman yang tiduran di bawahku, sementara giginya menggerus tulang.

“Belum,” kataku.

Nah, dengan merekalah aku pertama kali kenal. Pertama si Atok, yang tidur di bawahku. Kedua si Aceng, yang songong, di sampingku, yang bertanya dengan bahasa Arab.

Ketika mulai ngaji, aku diperkanalkan ajengan. Para santri, ini Den Anu, putranya juragan Anu, putunya juragan Hatib, di B.

Mulai saat itulah aku hidup di pesantren.? ? ?

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografi Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam mengkritik. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.. * peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

** novel karya Memed Sastrahadiprawira

* ** wawacan karya sastrawan R. Suriedireja

**** kamar-kamar di pesantren Sunda, gutekan di Jawa

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, AlaSantri PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 13 Januari 2018

Belajar Sejarah Lewat “Study Tour”

Subang, PKS Piyungan Taubat. Puluhan pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Huda Pungangan, Subang, Jawa Barat, mengikuti study tour yang diselenggarakan madrasah setempat ke beberapa lokasi di Jakarta, Sabtu (28/2).

Belajar Sejarah Lewat “Study Tour” (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Sejarah Lewat “Study Tour” (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Sejarah Lewat “Study Tour”

"Kami harap anak-anak dapat menikmati study tour ini sehingga mulai pekan besok mereka bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan fresh," ungkap Dedi Setiawan, salah satu guru yang ditunjuk sebagai koordinator kegiatan.

Dedi yang juga Wakil Sekretaris LTN PCNU Subang itu menambahkan, lokasi tujuan study tour ini adalah Museum Fatahillah, Monumen Nasional (Monas), dan Masjid Istiqlal.

PKS Piyungan Taubat

"Mereka kita minta untuk menulis seputar sejarah dan kondisinya pada masa kini, tujuannya sekaligus agar anak-anak gemar dan punya keterampilan menulis," imbuhnya

PKS Piyungan Taubat

Sementara itu, Muhammad Heryadi, Kepala MTs Al-Huda Pungangan menyampaikan keinginannya untuk mengubah paradigma anak-anak, karena selama ini ada anggapan bahwa tempat belajar terbatas hanya di kelas saja.

"Kita ingin menyampaikan kepada anak-anak bahwa belajar itu bukan hanya di kelas saja, semua tempat adalah sekolah, tempat belajar yang bisa kita petik ilmunya jadi tidak dibatasi ruang dan waktu," pungkas Ketua IPNU Subang periode 2000-2004 itu. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat PonPes, AlaSantri, Ulama PKS Piyungan Taubat

Rabu, 10 Januari 2018

Pemerintah Kerdilkan Pendidikan Pesantren

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Budayawan Mohammad Sobary berpendapat bahwa kebijakan pemerintah terhadap pesantren selama ini malah mengerdilkan keberadaan pesantren. Mereka diminta mengikuti model pendidikan dan mengabdi pada sistem pendidikan nasional.

Demikian diungkapkannya dalam orasi kebudayaan pada peluncuran Majalah Mata Air yang diterbitkan oleh Komunitas Mata Air yang diasuh oleh Gus Mus di Jakarta Kamis malam.</font>

“Pendidikan pesantren yang berlangsung selama 24 jam selain mengajarkan tata cara beribadah juga mengajarkan kerendahan hati. Sekarang ini banyak orang pintar, tapi kita susah mencari orang yang berakhlak,” tandasnya.

Pemerintah Kerdilkan Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Kerdilkan Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Kerdilkan Pendidikan Pesantren

Menurutnya pengaturan terhadap pendidikan pesantren dalam dalam aspek tertentu memang dibenarkan, namun hal ini telah mematikan pendidikan gaya pesantren. Pengerdilan terhadap pesantren ini sudah berlangsung selama 50 tahun terakhir. Akibat sistem pendidikan yang tidak berakar dari tradisi bangsa sendiri dan mengarah pada pendidikan yang berorientasi teknis dan praktis, akhirnya terjadi kedangkalan pendidikan.

“Setiap orang sebenarnya sudah cerdas, guru hanya mengantarkan saja dan “diputihkan” dipesantren yang memberi kemuliaan,” imbuhnya.

Mantan Pemimpin Umum Antara ini juga mengingatkan agar tidak terlalu fanatis dalam memandang kebenaran. Fanatisme membuat pikiran menjadi picik karena hanya mengakui kebenaran kelompok yang pastinya tak sempurna, bukan kebenaran sejati.

PKS Piyungan Taubat

Direktur Partnership ini berpendapat meskipun saat ini umat Islam merupakan mayoritas di dunia, namun menjadi terbelakang karena masalah pendidikan dan kebudayaan. Dalam hal ini pendidikan yang dikembangkan oleh umat Islam haruslah menyentuh ranah kemanusiaan.

“Dunia ini kekurangan orang yang adil. Ilmu dan teknologi yang dikembangkan tak berbicara pada keadilan. Lalu siapa yang bisa bicara tentang keadilan?” tanyanya. Dalam hal ini tradisi-tradisi lokal, tembang, sampai dengan puisi lebih banyak berbicara masalah keadilan.

Selanjutnya Kang Sobary juga meminta agar kebudayaan Islam yang dibangun lebih berorientasi pada dunia riil yang tak terlalu ideologis. “Jika terlalu ideologis, nantinya aspek politik lebih menonjol sehingga lupa pada keharusan social seperti mengatasi masalah kemiskinan,” tandasnya. (mkf)



PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Khutbah, AlaSantri PKS Piyungan Taubat

Minggu, 07 Januari 2018

Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP

Jombang, PKS Piyungan Taubat. Romahurmuzy, putra pendiri IPNU, KH Tholhah Mansyur  siap menggantikan, Surya Darma Ali (SDA), Ketua DPP PPP pada Muktamar yang rencananya bakal digelar bulan Oktober 2014 mendatang. Cicit pendiri NU, KH Wahab Chasbullah ini sekarang  adalah Sekretaris Jendral Partai berlambang Kabah.

Rommy, demikian ia disapa, mengatakan pihaknya siap dicalonkan jika peserta Muktamar menghendaki dirinya untuk memimpin PPP ke depan.  "Kita mengalir saja, kita serahkan ke Muktamirin, jika mereka menghendaki, ya amanah harus diterima," ujarnya ditemui usai mengahadiri haul ke-43 KH Wahab Hasbullah, Sabtu (6/9) kemarin.

Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP

Darah politik cucu mantan Menteri Agama RI, KH Wahib Wahab, ini mengalir sejak kecil, sehingga saat bergabung dengan PPP dan lolos menjadi anggota DPR RI, Rommy di percaya menjadi sekretaris Fraksi PPP dan juga Ketua Komisi IV.

PKS Piyungan Taubat

Menurut Romy, dunia politik adalah dunia permainan, namun jika sudah terjun dalam politik maka harus serius dan tidak boleh main main. "Kalau ikut bermain (politik) maka harus serius, seperti telah dicontohkan KH Wahab Chasbullah. Beliau adalah guru politik dan seorang negarawan," ujarnya saat memberikan sambutan mewakili keluarga.

Dukungan Rommy untuk maju sebagai ketua PPP ini dilontarkan salah satu ketua PBNU, Syaifullah Yusuf, yang ikut hadir dalam peringatan Haul KH Wahab Chasbullah. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengatakan bahwa Rommy sangat pantas menggantikan SDA untuk memimpin PPP.

PKS Piyungan Taubat

"Kemarin Muktamar PKB kembali dipegang Muhaimin Iskandar, jika PPP dalam Muktamar nanti dijabat Gus Rommy sudah pas. Kalau ada persoalan tinggal memanggil keduanya dan bisa diselesaikan di makam Mbah Wahab," ujar mantan Ketua Umum PP GP Ansor yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur ini menuturkan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaSantri, Aswaja, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Minggu, 31 Desember 2017

Tanpa Pamrih, Banser Setia Menjaga NKRI

Pacitan, PKS Piyungan Taubat. Ketua PCNU Pacitan KH Mahmud menyampaikan bahwa menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna atau Banser merupakan salah satu bentuk pengabdian yang mulia kepada Nahdlatul Ulama (NU) dan kepada negara Indonesia. ?

"Walaupun saudara tidak dibayar oleh negara. Namun yang kita harapkan adalah berkah, yang kita harapkan adalah kebaikan dari Allah SWT," tutur Kiai Mahmud saat membuka Pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) Banser yang diadakan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Arjosari, Pacitan, Jumat (3/3).

Tanpa Pamrih, Banser Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Pamrih, Banser Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Pamrih, Banser Setia Menjaga NKRI

Mengikuti Diklatsar, lanjut Kiai Mahmud, merupakan sebuah bentuk rasa keimanan. Karena dalam Diklatsar ini, peserta akan dilatih tentang bagaimana cara mencintai negara, bagaimana menjadi pelayan ulama, dan bagaimana menegakkan dan mempertahankan berdirinya NKRI.

"Tanpa kita warga NU khususnya, rasanya sulit menjaga negara ini menjadi negara yang ayem tenteram dan gemah ripah loh jinawi seperti pada saat ini," tuturnya di hadapan 73 peserta Diklatsar.

PKS Piyungan Taubat

Ditegaskan oleh Kiai Mahmud, bahwa dalam sepanjang kesejarahahanya, NU tidak pernah sekalipun menjadi pemberontak terhadap negaranya. Justeru NU menjadi yang terdepan dalam menjaga keutuhan dan keberagaman bangsa Indonesia.

Kiai Mahmud mengucapkan selamat dan sukses untuk para peserta Diklatsar Banser. Ia berpesan agar kedepannya para anggota Banser NU diharapkan dapat menjadi pengawal ulama dan turut serta menjaga keutuhan NKRI.

PKS Piyungan Taubat

Iapun mendoakan agar kelak para anggota Banser menjadi orang yang bermartabat "Semoga Allah selalu meridhoi perjalanan kita sekalian," tutupnya.

Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang diadakan oleh Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Arjosari digelar di lapangan Desa Jetis Kidul, Kecamatan Arjosari, Pacitan. Diklatsar akan berlangsung hingga Ahad (5/3).

Peserta Diklatsar akan menerima beberapa materi seperti, Ke-NUan dan Ke-Aswajaan, Materi Kebangsaan dan PBB, lalu lintas, Kedaruratan bencana, dasar-dasar bela diri, dan Ilmu kanuragan.

Tampak hadir dalam acara pembukaan Diklatsar, jajaran pengurus PC GP Ansor Pacitan, ketua MWCNU Arjosari H Busro Hawatif, Ketua PAC GP Ansor Arjosari H Hamka Hakim, Kapolsek Arjosari dan tamu undangan lainnya.

Wakil Bupati Pacitan H Yudi Sumbogo yang hadir pada kesempatan itu, didaulat menyematkan tanda peserta, kepada dua orang peserta yang berasal dari Arjosari. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaNu, AlaSantri, Pahlawan PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock