Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting

Wonosobo, PKS Piyungan Taubat. Rapat Pleno PBNU di Kompleks Pondok Pesantren Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq), Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu-Ahad (7-8/9) akan membahas sejumlah persoalan internal NU dan beberapa rekomendasi terkait isu-isu penting nasional dan internasional.

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting

Para peserta rapat Pleno PBNU berjumlah sekitar 130 orang yang terdiri dari pengurus PBNU dari jajaran syuriyah, tanfidziyah, mustasyar dan a’wan, serta ketua-ketua lembaga, lajnah dan badan otonom di tingkat pusat.

Para peserta rapat dibagi ke dalam empat komisi, yakni organisasi, program, penataan aset dan rekomendasi. Masing-masing komisi beranggotakan unsur syuriyah, tanfidziyah, mustasyar dan a’wan, serta ketua-ketua lembaga, lajnah dan badan otonom.

PKS Piyungan Taubat

Usai pembukaan Sabtu (7/9) besok, para peserta rapat akan mendengarkan laporan perkembangan NU pasca-Munas Cirebon 2012 oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Rapat kemudian dilanjutkan dengan sidang-sidang komisi.

Pada komisi program akan dievaluasi sejumlah program PBNU pasca Munas Cirebon yang dilaksanakan oleh lembaga, lajnah, serta beberapa program badan otonom.

PKS Piyungan Taubat

Untuk Komisi Organisasi, menurut Ketua Panitia Rapat Pleno PBNU H Arvin Hakim Thoha, akan dibahas konsep Ahlul Halli wal Aqdi, atau model pemilihan baru Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk disahkan dalam Muktamar mendatang.

“Sudah disiapkan draftnya nanti insyaallah akan dibahas. Pengennya nanti di Muktamar 2015, kita tidak lagi memakai model pemilihan langsung,” katanya.

Selain itu, lanjut Arvin, akan dibahas seputar kedudukan cabang dan wilayah. Sementara ini, kepengurusan cabang dan wilayah NU masih mengikuti administrasi kepemerintahan.

“Yang sekarang ada, berapa pun jumlah warga di PWNU maupun PCNU dan sepadat apapun programnya tetap saja suaranya sama di Muktamar,” katanya.

Pada komisi rekomendasi, Rapat Pleno antara lain akan membahas sikap NU terkait pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2014. “Untuk Capres nanti NU tidak akan menitipkan aspirasinya pada satu parpol saja. Tapi nanti ini kan dibahas dalam komisi,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto:Dok. PKS Piyungan Taubat: Dari kiri Ketua PBNU H Arvin Hakim Thoha, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Hikmah, Tokoh, Sejarah PKS Piyungan Taubat

Senin, 05 Februari 2018

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz merupakan jam’iyyah atau organisasi yang didirikan KH Wahid Hasyim pada tanggal 12 Rabul Awwal 1371 H bertepatan 15 Januari 1951 M, di rumah H Asmuni, Sawah Besar, Jakarta. 

Tujuan organisasi ini adalah terpeliharanya kesucian dan keagungan Al-Qur’an. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an, terpeliharanya persatuan qurra wal-huffazh ahlussunah wal-jamaa’ah. 

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran

Organisasi ini pernah melakasanakan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) antar-Pondok Pesantren seluruh Indonesia. Kemudian kegiatan ini diambil-alih Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Nasional sejak tahun 1968 sampai sekarang. Di sisi lain, saat itu pula, JQH bisa dikatakan “mati suri”.

PKS Piyungan Taubat

Lalu, pada tahun 1992, saat KH Abdurahman Wahid menjadi ketua umum PBNU, JQH kembali diaktifkan. Pada tahun 1999, JQH mengadakan MTQ antar-Pondok Pesantren di Garut, Jawa Barat.  

Belum lama ini, JQH NU menggelar MTQ IV Nasional dan MTQ I Internasional, di samping Musyarah Nasional IV. Pada Munas tersebut, Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad kembali dipilih menjadi Rais Majelis Ilmi JQH NU secara aklamasi. Sementara Ketua PP JQHNU KH Muhaimin Zen. Keduanya telah dilantik Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pertengahan Ramdhan tahun ini.

PKS Piyungan Taubat

Dengan demikian, perkumpulan para qori-qoriah, hafidz-hafidzah, para pecinta Al-Quran, yang bernaung di bawah Nahdaltul Ulama ini, akan segera mengabdi di masyarakat. Untuk mengenal gerak dan arah pengabdian organisasi ini, Abdullah Alawi dari PKS Piyungan Taubat, berhasil mewawancarai Rais Majelis Ilmi Dr KH Ahsin Sakho Muhammad. 

Bagaimana gerak dan pengabdian JQHNU ke depan?. Penataan organisasi terlebih dahulu. Kemudian program-programnya itu lebih dirasakan masyarakat luas dan yang kita harapkan adalah unit-unit JQH yang ada di setiap daerah, mulai dari provinsi sampai kabupaten, bahkan sampai kecamatan, semuanya itu bergerak melalui alur program-program yang ada pada masing-masing itu. ada program-program umum yang harus dilaksanakan, ada program khusus yang juga harus dilaksanakan, bisa dilaksanakan oleh masing-masing.

Selain itu, mendorong adanya insan-insan dari JQH itu bisa menelorkan hal-hal yang baru, metode-metode baru dalam cara menghafalkan Al-Quran, metode baru dalam mempelajari qiroah, tilawah, sosialisasi Al-Quran kepada masyarakat. Jadi, istilahnya insan akademis bisa masuk ke dalam program-program itu sehingga bisa diminati oleh masyarakat. 

JQH bergerak melalui pesantren-pesantren Al-Quran di lingkungan NU. Mereka yang mengajar di TK-TK Al-Quran itu kan sebenarnya berguru kepada kyai-kyai yang punya institusi tahfizd Al-Quran karena itu soko gurunya. Kyai-kyai yang memegang pesantren tahfidzul Quran, itu sebenarnya yang memegang barometer cara pembacaan yang benar.

Kendala yang paling sering dialami dalam gerak atau program JQH?. Yang peling besar kendala selama ini adalah dana, karena bagaiamana pun juga pada zaman sekarang ini, dana ibaratanya roda. Roda itu bisa berjalan dengan bensin. Hanya itu saja. Tapi, Alhamdulillah melalui ide-ide yang kita cetuskan bisa meyakinkan beberapa orang yang bisa mendukung berjalannya roda itu. 

Awal Juli tahun ini, JQHNU menggelar MTQ Nasional dan Internasional. Sebenarnya buat apa repot-repot menyelenggarakannya? 

Pertama adalah bahwa kita ingin mensyiarkan Al-Quran dan masyarakat akan tertarik apabila mendengarakan pembacaan Al-Quran dengan lagu-lagu. Jadi, lagu kan ada seninya. Dan masyarakat itu kan senang terhadap seni. Kalau ada peserta bagus, dihormati oleh orang, diberi hadiah, ini diharapkan masyarakat itu bisa ikut terdorong untuk menjadikan anak-anak mereka itu bisa mengaji, begitu. 

Apa yang ingin dicapai dengan menyelenggarkaan MTQ Internasional?. Pertama adalah silaturahim antar-para kaum muslimin secara keseluruhan. Kemudian antarnegara, antara Indonesia dengan negara-negara lain. Ketiga mempererat persahabatan antara para praktisi ke-Quranan antarnegara. Dan kita tahu bahwa Indonesia itu sering dipanggil kemana-mana, masak kita nggak pernah menghormati mereka. Kita dihormati dimana-mana di hampir 20 negara. Mulai Mesir, Iran, yang dahulu di Saudi Arabia sampai ke Maroko di Yordania. Banyaklah.

Itu karena kualitas ahl-ahli Al-Quran kita? 

Iya, karena mendengar bahawa Indonesia adalah sebuah negara yang mempunyai budaya MTQ yang sedemikian mapan. Dan kalau kita lihat, MTQ di Indonesia merupakan MTQ yang paling terbanyak cabangnya di dunia. Di Saudi cuma lima saja, di Iran cuma tiga saja, di Sudan cuma dua saja, di beberapa tempat nggak sampai 10 cabang. 

Di Indonesia, tilawah saja ada tilawah untuk tunanetra, anak-anak, remaja, dewasa, qiroat syab’ah, cerdas cermat Al-Quran, MHQ, Syarhil Quran, khotul Quran, kaligrafi itu sudah empat cabang, belum lagi tafisr bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Banyak sekali. Kita harus bangga sekali, dan pemerintah memberikan keleluasaan bagi para pecinta Al-Quran untuk mengembangkannya. 

Dengan prestasi seperti itu, kita mengingat jasa KH Wahid Hasyim yang pertama kali mengusulkan terbentuknya JQH NU karena melalui lembaga inilah yang pertama kali mengadakan MTQ antarpesantren. Bagaimana menurut Kyai?

Luar biasa. KH Wahid Hasyim itu orang yang paripurna. Orang yang hafal Al-Quran, negarawan, demokrat, orang yang jenius, orang yang memikirkan persoalan ke-Quranan. Beliau negarawan, tapi peduli terhadap satu dunia, dunia yang belum terpikirkan oleh orang-orang. Pak Wahid Hasyim itu ingin memberikan wadah kepada para ahli-ahli Al-Quran di lingkungan jam’iyyah Nahdlatul Ulama, yaitu berupa Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz. Pengaruhnya sangat besar sekali bagi perkembangan Indonesia. 

Karena apa? Kita sudah diazani, wadah. Silakan kembangkan wadahnya. Selain itu, Abu Bakar Aceh juga salah seorang yang besar jasanya. Saaya ingat beliau menulis tentang masjid-masjid, sejarah masjid-masjid di Aceh, di Nusantara,  yang menceritakan anak-anak masa lalu. Dimana anak-anak Aceh dahulu, ketika kecil, menghormati Al-Quran. 

Landasan-landasan pertama bagi generasi berikutnya. Nah, menurut saya, mereka itu telah menyumbangkan apa yang mereka bisa sumbangkan. Makanya sekarang kita juga harus menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi masyarakat sekarang ini.

Apa yang kira-kira dipikirkan Wahid Hasyim saat membentuk JQH waktu itu? 

Ya kita melihat ya bahwa di dalam lingkungan Nahdlatul Ulama itu kan ada dua jenis ulama. Ada ulama yang berkecimpung dalam kitab-kitab kuning; nahwu, sorof, fiqih, tasawuf. Kemudian, ada ulama-ulama yang menggeluti dalam bidang Al-Quran, menghafalkan Al-Quran. Kalau mereka yang ahli hadits, terbiasa dengan bahsul matsail. Sementara yang ahli Al-Quran ini mau dikemanain ini? Maka, saya melihat KH Wahid Hasyim itu, punya pemikiran yang luar biasa untuk memberikan wadah untuk satu kelompok lagi dalam lingkungan NU, yaitu kelompok, orang-orang mendalami dalam bidang tahfizul Al-Quranul Karim.

Lalu, perhatian pemerintah kepada para ahli Al-Quran bagaimana? 

Masih kurang. Masih belum optimal. Pertama, mereka yang sudah hafal Al-Quran yang ingin memasuki perguruan tinggi itu mestinya diperlakukan dengan berbeda. Kalau perlu dikasih beasiswa. Mestinya begitu. Atau mereka yang telah hafal Al-Quran itu mengabdi di masyarakat, mestinya mereka itu ditempatkan di masjid-masjid besar, di masjid raya, menjadi imam besar di situ. Kemudian mengajarkan Al-Quran kepada orang-orang di sekitar itu. 

Pemerintah juga belum mendirikan institusi pendidikan yang berbasis Al-Quran apakah mulai dari Tsanawiyahnya, Aliyahnya hingga perguruan tinggi. Jangankan untuk membikinkan begitu, program-program pembelajaran Al-Quran misalnya di Tsanawiyah negeri, Aliyah negeri, itu belum ada yang mengharuskan anak-anaknya itu menghafalkan Juz ‘Ama mislanya, menghafal Ya Siin, nggak ada. Malah yang berkembang itu di pesantren. 

Jadi, mereka yang ahl tahfizd yang ikut MTQ itu berasal dari pesantren-pesantren di lingkungan NU. 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Cerita, Tokoh PKS Piyungan Taubat

Rabu, 31 Januari 2018

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar

Way Kanan, PKS Piyungan Taubat

Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Way Kanan Lampung Sosialisasikan bahaya seks bebas di SMK 1 Pakuan Ratu, Sabtu (5/3) lalu.

Upaya sosialisasi bahaya perilaku menyimpang khususnya pergaulan bebas yang mengarah ke sex bebas melalui pendidikan ini, digagas Fatayat NU Kabupaten Way Kanan dengan mengusung program kegiatan bertajuk ‘Fatayat Goes To School’ dengan penyuluhan yang menyenangkan bagi siswa menengah atas di Kabupaten Way Kanan.

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar

"Kegiatan ini sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap pergaulan anak-anak yang saat ini cenderung bergaul terlampau bebas, sehingga banyak anak-anak mengalami dampak buruk baik psikologi maupun perkembangan anak tersebut,” ujar Rosmalia Resma Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Way Kanan di Blambangan Umpu, Senin (7/3).

Bahkan, lanjutnya, pelajar rentan mengalami kekerasan, khususnya terhadap anak perempuan. Ini jelas berakibat fatal bagi generasi yang akan datang, bahkan agama pun jelas melarang pergaulan yang kebablasan.

PC Fatayat Way Kanan yang merupakan organisasi perempuan muda NU merasa ikut memberikan kepedulian melalui pendidikan sosial terhadap pelajar dengan memberikan penyuluhan yang menyenangkan pada sekolah-sekolah di tingkat SMA atau sederajat.

PKS Piyungan Taubat

?

PKS Piyungan Taubat

"Ini bentuk kepedulian sosial Fatayat dan merupakan program kerja pengurusan kami dengan Fatayat Goes To School akan memberikan dampak yang baik dan selalu waspada akan prilaku yang menyimpang,” demikian Rosmalia Resma. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh PKS Piyungan Taubat

Senin, 29 Januari 2018

Menjadi Santri

Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa yang membuatku pernah menjadi santri. Terima kasih kepada temanku, si Unung, yang mengiming-imingiku menjadi santri. Terima kasih juga kepada ibu bapakku yang menyebabkan aku menjadi santri. Tidak lama aku menjadi santri, cuma dua tahun.

Perlu aku bersyukur sebab sekarang merasakan beruntungnya menjadi santri. Aku bersyukur dalam sejarah hidupku pernah mengalami kehidupan pesantren. Terasa banyak gunanya. Dan tentu saja punya kisah yang tak dimiliki anak-anak kota yang tak mengenal pesantren.

Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Santri

Kuakui, sebelumnya sering malu kalau orang lain mengetahuiku pernah jadi santri. Kadang sering mangkir pernah jadi santri. Tapi belakangan malah bangga. Aku bangga sebab punya pengalaman hidup yang lebih dari anak-anak kota pada umumnya.

PKS Piyungan Taubat

Dari pesantren memang tak sebarapa banyak bertambah ilmuku. Soalnya aku nyantri cuma dua tahun. Sementara santri lain bisa sampai belasan tahun.

Waktu Belanda dikalahkan Jepang, sekolah-sekolah tutup. Anak-anak menganggur. Si Unung, teman sebangku di sekolah, ikut kakaknya nyantri di pesantren P. Ketika pulang, ia menceritakannya dengan menarik. Katanya, mengaji di pesantren lebih cepat ketimbang ngaji di Ajengan Enoh, di Kampung. (Aku dan si Unung mengaji di Ajengan Enoh).

PKS Piyungan Taubat

Lalu timbul keinginanku menjadi santri. Semakin bertambah setelah mendengar ceramah Ajengan Ma’mun ketika Rajaban.*

“Sekarang kebanyakan manusia memburu harta dunia seolah-olah akan hidup selamanya. Padahal maut tak diketahui kapan datangnya, bisa besok, bisa nanti, tak ada yang tahu. Saudara-saudara, ilmu itu cahaya, al-ilmu nurun. Orang tak berilmu ibarat di dunia gelap tak tahu jalan yang harus ditempuh. Itulah sebabnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap mukmin. Tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin...” begitu kata Ajengan Ma’mun.

Niatku semakin bulat untuk ke pesantren. Ibuku tak kurang sepuluh kali mengucapkan alhamdulillah ketika aku mengatakannya. Ia kemudian bercerita ke hampir setiap orang kampung. Lalu para orang tua ingin juga memiliki anak sepertiku, menjadi santri.

Aku lupa tanggal persisnya mulai menjadi santri. Tapi tak akan lupa harinya, Rabu. Sebab itu perhitungan kakekku. Menurut dia, mencari ilmu harus dimulai hari Rabu. Aku lupa alasannya, tapi katanya Rabu hari terbaik mulai tholabul ilmi.

Tidak seperti Yogaswara dalam Mantri Jero**, ia berangkat ke pesantren sendirian. Keberangkatanku seperti calon haji yang akan pergi ke Makkah. Seperti Purnama Alam*** pergi ke Pesantren Gurangsarak. Berduyun-duyun pengantar. Kedua pamanku mengapit di kiri kananku, ibu, bapak, dan kakek. Beriringan Mang Ihin dan si Uha, tukang kebun dan anaknya. Keduanya memikul perbekalanku dan oleh-oleh buat ajengan.

Ajengan menyambut hormat kedatangan rombonganku. Apalagi kepada kakek, ia sangat hormat sekali. Sebab kakekkulah yang dulu menikahkannya.

Aku menjadi santri istimewa di pesanten itu. Sampai ditawari, mau tinggal di rumah ajengan atau mau di kobong****. Aku memilih di kobong supaya banyak teman. Kalau di rumah ajengan, takut ketahuan aku tak pintar. Di kobong, aku diberi tempat yang enak. Tak jauh dari jendela. Tempat tidur di atas ranjang. Kopor disimpan di atas.

Malam pertama di pesantren aku merasa takut. Mungkin karena belum ada yang kenal. Dan ternyata susah kenal dengan mereka.

Santri yang tidur di bawah ranjangku sepertinya sedang sakit. Dia berselimut terus. Ketika orang lain ke masjid, dia masih saja berselimut. Selepas Isya kuberi paha ayam dan nasi timbel. Betapa gembira menerimanya.

Santri yang tidur di sebalah kiriku, dari tampangnya saja tampak songong. Di hadapanku, ia membaca Safinah keras-keras. Tambah menyebalkan ketika ia bertanya dengan bahasa Arab, “Man ismuka?”

Sespertinya dia menyangka aku tak mengerti sama sekali bahasa Arab. Padahal yang seperti itu aku pernah belajar kepada Ajengan Suganda. Aku menjawab pertanyaan dengan menyebutkan namaku, ia tidak songong lagi.

“Kamu pernah ngaji ya?” tanya teman yang tiduran di bawahku, sementara giginya menggerus tulang.

“Belum,” kataku.

Nah, dengan merekalah aku pertama kali kenal. Pertama si Atok, yang tidur di bawahku. Kedua si Aceng, yang songong, di sampingku, yang bertanya dengan bahasa Arab.

Ketika mulai ngaji, aku diperkanalkan ajengan. Para santri, ini Den Anu, putranya juragan Anu, putunya juragan Hatib, di B.

Mulai saat itulah aku hidup di pesantren.? ? ?

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografi Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam mengkritik. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.. * peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

** novel karya Memed Sastrahadiprawira

* ** wawacan karya sastrawan R. Suriedireja

**** kamar-kamar di pesantren Sunda, gutekan di Jawa

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, AlaSantri PKS Piyungan Taubat

Jumat, 26 Januari 2018

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan saat ini toleransi yang ada di dunia sedang menghadapi cobaan. Karena itu, NU terus berjuang untuk menumbuhkan toleransi baik antar agama maupun diantara aliran dalam satu agama.



Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Hal ini disampaikannya ketika memberikan sambutan pada puncak acara Global Peace Festival yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Ahad (17/10).

“Toleransi harus ditumbuhkan antara muslim dengan non muslim maupun antara muslim dengan muslim lainnya,” katanya.

PKS Piyungan Taubat

Ia mengisahkan KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur merupakan salah satu dari tim sembilan yang merumuskan pembentukan negara ini. Mereka sepakat untuk membentuk negara bangsa yang tidak didasarkan atas agama, meskipun umat Islam mayoritas di Indonesia.

PKS Piyungan Taubat

Sementara itu Menakertrans Muhaimin Iskandar menyatakan pemerintah sangat mendukung kampanye perdamaian, baik antara sesama manusia maupun perdamaian antar negara.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan rakyat Indonesia sepakat membentuk sebuah negara karena ingin hidup dalam damai, lepas dari penjajahan bangsa lain.

“Para pendiri negara ini, sebagaimana tercermin dalam UUD 1945 sepakat ikut melaksanakanketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi,” katanya.

Karena itu, UUD memberi jaminan kepada warga negara untuk melaksanakan keyakinannya, serta memiliki berbagai macam hak lainnya yang dilindungi UU. “Tak ada tempat yang tak toleran dalam konstitusi kita,” tegasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Pendidikan, Makam PKS Piyungan Taubat

Senin, 08 Januari 2018

Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya?

Pringsewu, PKS Piyungan Taubat - Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah mengingatkan manusia untuk tidak berbuat zalim kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Terlebih lagi, Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT juga dilarang menzalimi sang khalik, yaitu Allah SWT.

Hal ini dijelaskan Pengasuh Pondok Pesantren Mathlaul Huda Ambarawa Pringsewu Kiai Mubalighin Adnan atau yang biasa dipanggil Gus Balighin, saat memaparkan materi pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (1/10).

Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya?

Gus Balighin mengajak masyarakat untuk banyak bermuhasabah apakah sebagai makhluk kita sudah melaksanakan semua perintah-Nya atau malah kehidupan kita banyak diisi dengan melanggar perintah-Nya.

PKS Piyungan Taubat

"Ketika kita tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, maka pada hakikatnya kita telah berbuat zalim kepada sang khalik, Allah SWT," tegas Gus Balighin seraya menjelaskan bahwa makna zalim secara luas adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Lebih lanjut Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu ini mengatakan bahwa kekuasaan dan kemuliaan Allah SWT tidak terbatas. Pada hakikatnya Allah SWT tidak akan berkurang kekuasaan dan kemuliaan-Nya seandainyapun seluruh manusia didunia tidak taat dan tidak beribadah kepada Nya.

PKS Piyungan Taubat

Menurutnya, jika ada orang yang merasa paling membela Allah, membela agama Allah dan membela Al-Quran maka sebenarnya ia akan tidak mampu. "Allah yang pencipta kita, Allah yang menurunkan agama dan Al-Quran dan Allah yang akan menjaganya," tegasnya seraya mengutip ayat Firman Allah dalam Quran Surat Al Hijr ayat 9 yang menegaskan tentang hal tersebut.

Ia teringat perkataan KH. Abdurrahman Wahid yang menegaskan bahwa manusia tidak punya kekuatan untuk membela Allah dan agama Allah. "Allah maha kuasa atas segalanya. Kita tidak punya kekuatan. Apa kekuatan kita dan apa yang mau dibela?" tanyanya.

Yang terpenting menurutnya adalah bagaimana sebagai makhluk, manusia dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan apa larangan-Nya serta menjadi jiwa yang baik dengan tidak menzalimi diri sendiri, orang lain dan Allah SWT.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula," pungkasnya mengutip ayat 9 dan 10 Surat Az-Zalzalah. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Aswaja, Berita PKS Piyungan Taubat

Kamis, 21 Desember 2017

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Nippon (Jepang), pesantren menjadi basis kuat perlawanan rakyat Indonesia terhadap ketidakperikemanusiaan kolonial. Hal itu dibuktikan ketika pesantren dan para kiai senantiasa menjadi bidikan para penjajah untuk ditundukkan dengan segala cara, baik dengan mengajak kerja sama maupun memenjarakan para kiai.

Langkah memenjarakan kiai dengan tuduhan mengajak masyarakat melakukan pemberontakan terhadap penjajah Jepang terjadi pada tahun 1943, dua tahun sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di antara kiai yang digelandang Tentara Nippon yaitu Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947).

Awalnya Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) itu dipenjarakan di Jombang, lalu dipindah ke Mojokerto. Selama masa itu, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut mengalami penyiksaan teramat berat dan pedih dari para serdadu Nippon. Namun, keteguhan dan kekuatan spiritualnya mengalahkan rasa sakit dan pedih ketika jari-jemarinya remuk dipukuli tentara Jepang.

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Dipenjaranya Kiai Hasyim Asy’ari memantik perlawanan dari ribuan santrinya. Mereka ramai-ramai menggeruduk penjara Jepang di Jombang sehingga mereka terpaksa harus memindahkan ayah Kiai Abdul Wahid Hasyim itu ke Mojokerto. Langkah tersebut sekaligus disadari oleh Jepang bahwa langkah mengurung Kiai Hasyim merupakan kesalahan besar sehingga langkah diplomasi perlu dilakukan.

Langkah diplomasi ini memang sekuat tenaga dilakukan oleh Jepang, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, dan Kiai Wahid Hasyim. Tujuan utama Kiai Wahid agar bisa membebaskan ayahnya atas tuduhan mengada-ada para tentara Jepang yang memicu perlawanan para santri dan rakyat Indonesia ketika itu. Hal ini menjadi kekhawatiran Jepang sendiri akan munculnya perlawanan yang lebih besar bangsa Indonesia terhadap kolonialismenya.

PKS Piyungan Taubat

Ya, Jepang memperoleh informasi yang salah ketika menuduh Kiai Hasyim Asy’ari memobilisasi rakyat untuk melakukan pemberontakan di daerah Cukir, sekitar Jombang. Akhirnya kesepakatan diperoleh, Jepang mau membebaskan Kiai Hasyim Asy’ari dengan syarat ia mau diangkat sebagai Shumubucho, Kepala Jawatan Agama yang dulunya dijabat oleh seorang Jepang Kolonel Horie.

Di sinilah politik kompensasi dilakukan oleh Jepang untuk menarik perhatian rakyat Indonesia karena Kiai Hasyim mempunyai pengaruh yang sangat luas. Lantas, apakah kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menerima dan setuju kemauan penjajah Jepang itu? “Setuju, meski ada tapinya,” ujar Kiai Wahid Hasyim ketika ditanya Kiai Saifuddin Zuhri terkait kondisi ayahnya. (Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013)

PKS Piyungan Taubat

Bagi Kiai Hasyim Asy’ari seperti yang diterangkan oleh Kiai Wahid Hasyim, menerima tawaran Kolonial Jepang lebih bijaksana daripada menolaknya. Alasannya sederhana, jika menolak bisa dianggap oleh Jepang sebagai sikap yang tidak mau kerja sama. Jangan dilupakan, Hadlratussyekh baru saja mengalami penderitaan selama lima bulan di penjara. Akan tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada Kiai Wahid karena kondisi sepuh Kiai Hasyim yang tidak memungkinkan mondar-mandir Tebuireng-Jakarta, selain alasan harus mengasuh dan memangku pesantren.

Nampak bahwa Kiai Hasyim Asy’ari sedang memberi keteladanan kepada para pejuang muda bahwa arti perbuatan bijaksana itu bukanlah untuk menjatuhkan pilihan terhadap yang benar dan yang salah serta terhadap yang baik atau buruk, tetapi menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau yang sama-sama buruk, namun diharuskan memilih salah satunya berhubung dengan situasi yang mengharuskan untuk memilih.

Jika menolak, Kiai Hasyim Asy’ari bisa juga dianggap sebagai sikap menentang. Alhasil, menurut Kiai Wahid Hasyim (Berangkat dari Pesantren, 2013), Hadlratussyekh menempuh teori ‘setengah isi’ daripada teori ‘setengah kosong’. Orang ’arif akan mengatakan botol yang isinya tidak penuh dengan ‘setengah isi’, bukan ‘setengah kosong’. Meskipun natijah (kesimpulan)-nya sama, orang akan menerimanya dengan sikap berbeda. Istilah ‘setengah isi’ lebih memperlihatkan toleransi ketimbang ‘setengah kosong’ yang dapat diartikan sebagai sikap intoleransi, kaku. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock