Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi

Arafah, PKS Piyungan Taubat. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, haji mabrur adalah mereka yang berhaji yang ditandai sikap cinta serta solidaritas yang tinggi terhadap sesama, saling menghargai dan toleransi terhadap perbedaan.

"Hal itu sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu kita ke depankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia," kata Menag Lukman dalam sambutan selaku Amirul Hajj Indonesia pada pelaksanaan wukuf haji di Arafah, Minggu.

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Mabrur Ditandai Sikap Solidaritas Tinggi dan Toleransi

Menurut Lukman, manusia ditakdirkan hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk, baik dari segi etnis, suku, bahasa dan budaya maupun paham keagamaan.? Terhadap sesama manusia, kata dia, perlu ditumbuhkan solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), terhadap sesama Muslim kembangkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah) dan terhadap sesama bangsa rajut persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

"Pengejawantahan dari ketiga nilai ini merupakan bentuk kemabruran sosial yang perlu dipelopori oleh para haji di Tanah Air nanti," kata dia.

Dengan spirit persaudaraan, kata Lukman, umat manusia agar merajut kebersamaan, mengembangkan kerja sama dalam membangun kehidupan bersama yang maju dan berkeadaban.? Lukman mengatakan, di era digital sekarang, haji memiliki makna lebih mendalam yaitu sebuah jalan kembali dari keterasingan diri ketika terlena berkutat dengan teknologi komunikasi informasi.

PKS Piyungan Taubat

Haji, lanjut dia, ibarat install ulang terhadap segala program yang memengaruhi gerak tubuh dan perjalanan hidup. Waktu berhaji adalah masa perbaikan diri agar kembali berfungsi sesuai tujuan hidup setiap insani, yaitu beribadah dengan segala bentuknya sepenuh hati.? "Wukuf dapat bermakna hibernasi (proses mengistirahatkan diri) untuk mengoptimalkan kembali fungsi rohani dan ragawi," kata dia.

Menurut dia, kesediaan menahan kepenatan dalam melaksanakan rukun Islam kelima ini adalah wujud penegasan diri sebagai hamba yang hanya berserah kepada Sang Maha Kuasa. Kesabaran, berpanas-panas di Arafah adalah energi yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang ke dalam satu ikatan.

PKS Piyungan Taubat

"Sebesar apapun perbedaan di antara kita, apapun latar belakang kita, dari manapun asal kita, sejatinya semua ingin berkomunikasi dengan pesan yang sama kepada Allah SWT, yakni diakui sebagai seorang Muslim, seorang yang berserah diri kepada ajaran Allah SWT demi mewujudkan keselamatan dan kedamaian," kata dia. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh, Nahdlatul Ulama PKS Piyungan Taubat

Kamis, 15 Februari 2018

Pesantren Paling Lantang Jaga Keutuhan NKRI

Jombang, PKS Piyungan Taubat. Kekuatan pondok pesantren yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain adalah adanya keseimbangan antara ilmu dengan amaliah. Artinya ada keseimbangan mental spiritual dan fisik dari peserta didiknya.

Demikian disampaikan, Pengasuh Pesantren Denanyar KH Abdussalam Sokhib pada Diskusi dan Bedah Buku ‘Pesantren ? Akar Pendidikan Islam Nusantara’ yang ditulis A Helmy Faishal Zaini, di panggung utama Stand Ekspo Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Ahad (2/8).

Pesantren Paling Lantang Jaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Paling Lantang Jaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Paling Lantang Jaga Keutuhan NKRI

Dikatakan Abdussalam, dengan adanya keseimbangan antara ilmu dan amaliah tersebut, sesuai dengan literatur yang ada di kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren. Kitab tersebut menjelaskan adanya syariah, tarekat dan hakikat.

PKS Piyungan Taubat

Harus diakui, kata Abdussalam, tantangan pesantren saat ini dan ke depan sangat berat. Akhir-akhir ini marak gerakan radikalisme. "Selama ini pesantren yang paling lantang menjaga keutuhan NKRI. Pesantren sudah teruji bagaimana tetap menjaga keutuhan NKRI. Sehingga pesantren menjadi musuh dari gerakan radikalisme itu sendiri," kata Abdussalam.

Pesantren selama ini memang tidak bergeming pada siapapun. Meski ditekan dari berbagai pihak, pesantren tetap eksis dan mandiri. Tidak mengherankan pesantren menolak berbagai bantuan yang diberikan pemerintah karena dinilai mengikat dan mengintervensi.

PKS Piyungan Taubat

"Pasca reformasi banyak pesantren yang dibantu oleh pemerintah karena mulai paham bagaimana eksistensi pesantren. Tapi masalahnya, justru pesantren sendiri tidak siap karena memang tidak pernah dibantu," katanya.

Tidak heran, lanjutnya, ketika ada ratusan pesantren yang akan menerima bantuan dari pemerintah tidak bisa membuat atau menyiapkan proposal. Bahkan stempel pun mereka tidak punya.

Diskusi dan bedah buku ini selain menampilkan Abdussalam, juga penulisnya Helmy Faishal Zaini yang juga Ketua Fraksi PKB DPR RI, intelektual muda NU Syafiq Hasyim, PhD dan Direktur Pembinaan SMK Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mustaghfirin Amin. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh, Makam, Nusantara PKS Piyungan Taubat

Minggu, 11 Februari 2018

Ini Gerakan Sosial Ansor dan Fatayat di Way Kanan

Way Kanan, PKS Piyungan Taubat - Lantunan Shalawat Nariyah mengalun pelan di Masjid Nurul Falah, Dusun V, Kampung Bandar Dalam, Negeri Agung, Way Kanan. Ketua Fatayat Negeri Agung Endang Setia Ningsih memandu sejumlah warga yang menunggu giliran penyembuhan atas penyakit mereka dengan ATS Metode oleh aktivis Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto.

"Saya mengalami masalah datang bulan. Sebulan bisa tiga kali. Alhamdulillah sekarang ada perubahan signifikan," ujar warga Bandar Dalam Ira Musliha, di Blambang Umpu, Jumat (17/3).

Ini Gerakan Sosial Ansor dan Fatayat di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Gerakan Sosial Ansor dan Fatayat di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Gerakan Sosial Ansor dan Fatayat di Way Kanan

Penyembuhan oleh praktisi Hypnosis dan Neo Neuro-Lingusitic Programing yang juga Ketua GP Ansor Way Kanan tersebut, menurut Ira, tidak sakit dan hanya dalam waktu singkat.

"Tangan saya dipandu menepuk pelan bagian sekitar perut saat mengikuti penyembuhan, malam sampai pagi halangan keluar deras. Siangnya halangan mulai berhenti. Dan hingga sekarang sudah tidak ada kendala," ujar Ira lagi.

PKS Piyungan Taubat

Bekerja sama dengan GP Ansor Negeri Agung, dua badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) itu berkolaborasi menggelar bakti sosial bersih masjid dan penyembuhan alternatif, Kamis 16 Maret 2017, pukul 08.00-15.00 WIB.

PKS Piyungan Taubat

"Harakah (gerakan) tersebut untuk menunjukkan bahwa Ansor dan Fatayat adalah organisasi yang berbuat dan memberi manfaat bagi masyarakat," ujar Ketua Ansor Negeri Agung, Ahmad Nursalim didampingi Wakil Ketua Beta Suryadi.

Selain itu, kata Nursalim, upaya ini merupakan bentuk mensyiarkan tradisi NU seperti membaca Sholawat Nariyah, jenis shalawat paling banyak diamalkan olah umat muslim dan diyakini memiliki banyak manfaat atau faedah bagi yang membacanya, seperti dimudahkan rizkinya, dimudahkan urusannya dan dijauhkan dari penyakit dan bahaya.

"Semula dada sesak, pilek, tumit sakit, dan sering sakit kepala. Alhamdulillah ada perubahan signifikan hingga kini setelah kemarin disentuh-sentuh sebentar dan tanpa rasa sakit," ujar pengajar Pendidikan Agama Islam SMP N1 Negeri Agung Muhammad Yudan.

Warga Bandar Dalam lain Boirah mengeluhkan tangan kanannya tidak bisa menggenggam lebih dari satu tahun. Tapi setelah disentuh-sentuh tidak sampai sepuluh menit, ada perubahan dan tangan kirinya sudah bisa untuk menggenggam.

Sejumlah masyarakat yang mengikuti penyembuhan tersebut mengapresiasi positif sehubungan sakit gigi, asam urat, migrain, hingga salah urat bisa sembuh dalam tempo singkat. Dampaknya, masyarakat yang hadir meminta kegiatan tersebut diadakan rutin.

"Tidak menjadi persoalan untuk menggelar bakti sosial bulanan. Insya Allah bulan depan kami siap mengadakan kembali di masjid lain. Tapi kami? berharap masyarakat nantinya juga bisa terlibat dalam pembersihan masjid. Sehingga bisa berjamaah mencari amal," kata Beta menambahkan. (Malikaisa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh, Berita, Pemurnian Aqidah PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 06 Januari 2018

Jemaah Haji Soloraya Tiba di Tanah Air

Solo, PKS Piyungan Taubat. Pekan ini, jemaah haji dari Soloraya mulai tiba di tanah air. Dimulai dari Dua Kloter jemaah haji dari Sukoharjo, Kamis (14/11) lalu, tiba di Bandara Adi Soemarmo Solo. Kedatangan para jemaah ini akan berlangsung beberapa tahap, sampai tanggal 19 November nanti.

Jemaah Haji Soloraya Tiba di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Jemaah Haji Soloraya Tiba di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Jemaah Haji Soloraya Tiba di Tanah Air

“Untuk kedatangan hari Kamis jemaah haji asal Sukoharjo ada dua kloter yaitu kloter 50 bersama dengan jemaah asal Grobogan,” terang Petugas Bagian Pengolahan Data Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Solo, Roqi Setyawan.

Sehari setelahnya, sebanyak 238 jemaah haji asal Klaten yang tergabung dalam kloter 61, juga tiba dengan selamat di Kota Berseri. Koordinator pemulangan haji Klaten, Sunarto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan untuk acara menyambut kedatangan jemaah haji.

PKS Piyungan Taubat

Sunarto menambahkan, untuk menyambut para jamaah haji, panitia setempat telah membagi menjadi dua sektor, yakni barat dan timur. Pembagian sektor itu dimaksudkan untuk memudahkan keluarga yang ingin menjemput saudara atau kerabatnya yang pulang haji. “Oleh sebab itu, penjemput bisa menunggu di lokasi yang sudah ditentukan,” katanya.

PKS Piyungan Taubat

Kepulangan para jamaah haji dari wilayah Soloraya ini dijadwalkan akan terus berlangsung, sampai hari Selasa (19/11) nanti. Selain Sukoharjo dan Klaten, nantinya juga akan menyusul para jamaah haji dari Solo, Karanganyar, Sragen, Boyolali dan Wonogiri. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Selasa, 02 Januari 2018

Kick Off Liga Santri Nusantara NTB 1 Berlangsung 18 Agustus

Lombok Barat, PKS Piyungan Taubat

Sekretaris Jendral PBNU H Helmy Faishal Zaini dijadwalkan akan membuka kick off Liga Santri Nusantara (LSN) Region NTB 1 yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga di Lapangan Dirgantara TNI AU Rembiga Kota Mataram, NTB, pada 18 Agustus mendatang.

Kick Off Liga Santri Nusantara NTB 1 Berlangsung 18 Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Kick Off Liga Santri Nusantara NTB 1 Berlangsung 18 Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Kick Off Liga Santri Nusantara NTB 1 Berlangsung 18 Agustus

Hal ini disampaikan Mohammad Jayadi, Koordinator Region NTB 1 pada saat memberikan arahan kepada pelatih klub pesantren. Sejumlah panitia nasional, lanjut Jayadi, juga akan hadir bersama rombongan Sekjen PBNU untuk menyaksikan kicf off LSN Region NTB1.

Sportivitas antarpemain, manajer klub dan atau pelatih diharapkan mengedapankan kejujuran. "Kejujuran ini penting untuk menjaga nama baik pesantren masing-masing, menjaga nama baik panitia Region NTB1, dan menjaga nama baik bersama," harap Jayadi.

PKS Piyungan Taubat

Mengenai data identitas dan usia pemain juga menjadi perhatian khusus pihaknya agar? tidak terjadi diskualifikasi di kemudian hari. "Percuma menang kalau kemudian data palsu dan usia tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Nanti akan didiskualifikasi saat itu juga,"? tegasnya

PKS Piyungan Taubat

Berdasarkan hasil undian, Pondok Pesantren Darussalam Lombok Barat versus Pondok Pesantren Mahimulmunir Lombok Tengah akan tampil sebagai pemain pembuka pada acara kick off mendatang. (Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pahlawan, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 30 Desember 2017

Wakil Bupati: Madrasah Diniyah Benteng Atasi Dekadensi Moral

Tegal, PKS Piyungan Taubat - Wakil Bupati Tegal Umi Azizah menyebut madrasah diniyah sebagai benteng untuk mengatasi dekadensi moral yang semakin hari semakin menghawatirkan. Karena madrasah diniyah merupakan lembaga yang masih bisa dipercaya mendidik moral anak bangsa.

Hal itu dikatakan Umi Azizah saat melakukan monitoring pelaksanaan ujian akhir bersama Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Kabupaten Tegal di MDTA Islamiyah Desa Kabunan Kecamatan Dukuhwaru, Selasa (18/4) kemarin.

Wakil Bupati: Madrasah Diniyah Benteng Atasi Dekadensi Moral (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Bupati: Madrasah Diniyah Benteng Atasi Dekadensi Moral (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Bupati: Madrasah Diniyah Benteng Atasi Dekadensi Moral

Selain MDT Islamiyah Kabunan, Wakil Bupati juga berkenan untuk mengunjungi MDT At-Taqwa Desa Slawi Kulon Kecamatan Slawi. Monitoring didampingi tim dari Kementerian Agama Kabupaten Tegal Haryono dan FKDT Kabupaten Tegal.

PKS Piyungan Taubat

"Karena itu pendidikan di madrasah diniyah harus bisa berjalan secara optimal. Selain pemberian pelajaran secara teori, murid madrasah juga harus diberi contoh akhlak yang baik," ujar Umi.

PKS Piyungan Taubat

Menurut Umi Azizah yang juga Ketua Muslimat NU Tegal, perkembangan teknologi memaksa anak-anak kecil umur usia SD sudah terbiasa memegang telepon genggam dengan fasilitas internet.

"Di samping kekhawatiran tidak bisa mengontrol akses internet, dikhawatirkan juga anak-anak menjadi sulit berkomunikasi dengan teman dan lingkungan sekitarnya," ungkap Umi.

Wakil Bupati juga mengingatkan bahwa program 18-21 harus dikawal guna memberi kesempatan anak-anak untuk belajar dan berinteraksi dengan orang tua.

"Mulai Pukul 18.00 s.d. 21.00 Wib, orang tua diharapkan mempunyai waktu untuk mendampingi anak-anak belajar dan bercengkerama dengan anggota keluarga," harap Umi.

Kepala Seksi PD Pontren Kemenag Tegal H Mujahidin Nurburhan melalui stafnya Haryono mengatakan, peserta ujian akhir madrasah diniyah takmiliyah berjumlah 12.000 peserta.

"Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding jumlah peserta ujian sekolah dasar yang mencapai kurang lebih 45.000 peserta," katanya.

Hal ini, lanjutnya, mengindikasikan bahwa masih banyak anak usia sekolah dasar yang tidak mengikuti pendidikan di madrasah diniyah. Padahal program Pemkab Tegal yang mewajibkan ijasah madrasah diniyah sebagai syarat masuk ke SLTP akan segera diberlakukan.

"Program ini akan berlaku efektif mulai tahun 2020. Untuk itu, perlu kerja keras agar program ini benar-benar bisa berjalan pada tahun 2020," pungkasnya. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat RMI NU, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Jumat, 29 Desember 2017

Habib Luthfy: Malas Tulis Profil, Banyak Kiai Lokal Berjasa Terlupakan

Pekalongan, PKS Piyungan Taubat - Banyak teladan para ulama, kiai, dan tokoh masyarakat Pekalongan yang semasa hidupnya memiliki andil besar terhadap bangsa yang tidak tertulis sehingga generasi sekarang kematian obor. Mereka kehilangan jejak sejarah yang sangat penting bagi kehidupan bangsa yang disebabkan oleh sedikitnya literatur sebagai referensi atau memang karena malas untuk menulis.

Keprihatinan itu disampaikan Rais Am Idaroh Aliah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya dalam acara khotmatul kubro ke-2 yang diselenggarakan oleh Jamaah Muqoddam dan Munajat (Jamumu) NU Ranting Landungsari Kota Pekalongan, Senin (10/10).

Habib Luthfy: Malas Tulis Profil, Banyak Kiai Lokal Berjasa Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy: Malas Tulis Profil, Banyak Kiai Lokal Berjasa Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy: Malas Tulis Profil, Banyak Kiai Lokal Berjasa Terlupakan

Kegagapan masyarakat masa kini yang tidak kenal lagi dengan tokoh-tokoh yang berjasa bagi masyarakat sendiri menjadikan masyarakat tidak lagi kenal dan tahu akan jasa-jasa besarnya yang diakibatkan oleh minimnya penulis dan sumber literatur yang ada.

"Kita ini punya banyak tokoh, masyarakat Landungsari ini punya banyak tokoh yang luar biasa. Tetapi, sangat sedikit tulisan mengenai tokoh-tokoh itu, sangat sedikit yang mau menuliskannya," ujarnya.

PKS Piyungan Taubat

Habib Luthfy mengimbau agar generasi sekarang tidak ‘kepaten obor’. Ia menganjurkan penggalakan penulisan tentang tokoh-tokoh lokal. Sebab menurutnya, tanpa sumber tertulis maka sejarah hanya akan menjadi cerita omong kosong.

Habib Luthfy memperkirakan, saat ini ada 25 orang hafizhul Quran yang dimakamkan di makam Landungsari. Tetapi sangat sedikit yang diketahui siapa saja para huffadz itu karena hampir tidak ditemukan profil para huffadz yang pernah jaya di masanya.

PKS Piyungan Taubat

Jamumu adalah kelompok gerakan membaca Al-Quran serta munajat di Ranting NU Landungsari Kota Pekalongan. Gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menyemarakkan syiar Al-Quran di tengah masyarakat dengan tujuan agar tradisi membaca Al-Quran mampu kembali dihidupkan hingga tiap tiap keluarga.

Selain kegiatan khataman, Jamumu juga melakukan penggalangan dana sosial yang dialokasikan bagi seluruh anggota masyarakat yang terkena musibah. Penggalangan dana ini sekaligus menjadi bagian upaya dakwah sosial dalam rangka mempererat tali silaturrahim antarwarga. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Kamis, 28 Desember 2017

Sewindu Kepergian Gus Dur dan Pemilu 2019

Oleh: Zaimuddin Ahya

Tak terasa sudah sewindu Gus Dur meninggalkan kita. Bertepatan dengan sewindu wafatnya Gus Dur, satu tahun lagi kita akan memasuki tahun politik: Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Dan bagi beberapa daerah beberapa bulan lagi akan memilih pemimpin daerahnya. Lalu apa hubungannya, sewindu kepergian Gus Dur, pemilihan kepala daerah dan Pemilu 2019?



Memilih pemimpin, baik skala lokal, regional ataupun nasional, adalah hajat bangsa yang bertujuan mengupayakan kesejahteraan bersama dengan memilih wakil rakyat terbaik. Namun, pada prosesnya tak jarang terjadi percikan-percikan yang kadang memunculkan gesekan di masyarakat. Gesekan-gesekan tersebut sebenarnya tak masalah,  selagi terjadi pada tingkat yang wajar dan sehat. Dalam arti tidak berlanjut dan mendorong kepada perpecahan.

Sewindu Kepergian Gus Dur dan Pemilu 2019 (Sumber Gambar : Nu Online)
Sewindu Kepergian Gus Dur dan Pemilu 2019 (Sumber Gambar : Nu Online)

Sewindu Kepergian Gus Dur dan Pemilu 2019

 

Kalau kita melihat perkembangan terakhir seperti yang terjadi pada pemilihan kepala daerah belum lama ini,  tampaknya gesekan yang terjadi sudah di luar batas kewajaran,  dan—dugaan penulis, semoga tidak benar—berpotensi menuju kepada perpecahan. Misalnya sampai ada masyarakat yang memasang spanduk di depan masjid bertuliskan Tidak akan menyalati (Shalat Jenazah) pemilih calon tertentu.



PKS Piyungan Taubat

Penulis dan beberapa teman pernah mendiskusikan hal di atas, dan khawatir jika gesekan-gesekan semacam itu merembet dan terjadi daerah lain saat menunaikan hajat bersama: memilih pemimpin. Apalagi jika hal itu terjadi pada Pemilu tahun 2019 yang meilbatkan seluruh warga Negara Indonesia.

Kekhawatiran ini beralasan, mengingat sekarangg kita sedang memasuki era informasi, bahkan lagi pada tahap ke genit-genit-nya. Begitu banyak perdebatan yang terjadi di media sosial, yang justru berujung kepada saling menghina satu sama lain, adalah salah satu contonhya. 

Belajar dari Gus Dur

Supaya hal-hal di atas tidak terjadi atau merembet ke daerah lain, tentu para politisi harus berperan aktif dalam menjaga kesatuan bangsa, menghindarkan perang saudara, karena gesekan-gesekan di atas sedikit banyak terjadi lantaran pilihan politik yang berbeda. 

PKS Piyungan Taubat

Di sinilah relevan kita kembali melihat bagaimana sepak terjang Gus Dur dalam perpolitikan Indonesia. Gus Dur adalah salah satu contoh tokoh yang merelakan jabatannya demi menghindarkan perang saudara. Sikap Gus Dur yang lebih menghindarkan perang saudara daripada mempertahankan jabatan, tampak jelas pada saat Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden.

Sebenarnya bisa saja Gus Dur mempertahankan jabatan itu. Para simpatisan Gus Dur yang miliitan sudah siap membela Gus Dur. Namun, Gus Dur memilih mundur, karena tak ingin bangsa saling perang antarsesama saudara,  apalagi dengan alasan membela dirinya. Ada kata-kata Gus Dur yang populer dalam konteks ini, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”





Sikap seperti itulah yang patut dilanjutkan oleh para politisi generasi sekarang, atau istilahnya politisi zaman now. Jangan sampai niat baik untuk memimpin Indonesia, justru tak mengindahkan atau tak peduli dengan gesekan-gesekan yang terjadi di masyarakat. Atau dalam bahasa kasarnya,  jangan sampai keinginan untuk memangku sebuah jabatan, membuat seseorang meghalalkan segala cara, termasuk menimbulkan perpecahan di tingkat bawah. 

Popularitas Palsu

Menyambut satu tahun sebelum masuk tahun politik,  atau mungkin beberapa bulan bagi daerah atau provinsi yang akan memilih pemimpin, banyak terlihat para politisi yang popularitasnya berangsur naik. Apakah naiknya popularitas karena diupayakan oleh para politisi itu sendiri,  atau alami dari penilaian masyarakat,  tak jadi soal. 

Upaya meningkatkan popularitas bagi para calon pemimpin masa depan, bukanlah hal yang buruk. Bagaimanapun masyarakat akan memilih tokoh-tokoh yang dikenalnya. Namun, jika popularitas yang melambung tinggi tak diikuti dengan aksi nyata, atau jika popularitas hanya berhenti pada popularitas itu sendiri, dan tidak dijadikan sebagai kendaraan menyuarakan hak-hak rakyat, maka ini namanya pseudo populer, atau popularitas palsu. 

Terkait popularitas palsu ini,  lagi-lagi relevan kita melihat apa yang telah dilakukan Gus Dur di masa silam. Gus Dur pada akhir tahun 1998, melakukan upaya pencegahan bangsa dari perpecahan. Waktu itu, setelah reformasi, banyak terjadi kekacauan di berbagai daerah, lantaran banyak pengikut Pak Harto (panggilan akrab mantan Presiden Soeharto),  tak puas dengan perlakuan berbagai pihak kepada Pak Harto. 

Gus Dur menilai jika hal tersebut tidak disikapi secara hati-hati, berpotensi menggiring bagsa ini kepada perpecahan dan perang saudara. Gus Dur menemui Mantan Presiden Soeharto, Wiranto, dan BJ Habibi (waktu itu menjabat sebagai Presiden, menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri). Menurut Gus Dur, kekacauan yang terjadi akan reda jika tiga tokoh ini bersepakat menyudahi. 

Langkah Gus Dur ini dinilai tidak populer. Namun, Gus Dur menjawab, ia tak peduli dengan popularitas. Dia tidak tega melihat bangsa ini hancur. (Majalah Tempo edisi 28 Desember 1998) 

Memenuhi Panggilan Kejujuran 

Langkah Gus Dur yang tidak tinggal diam saat melihat bangsanya terancam perang saudara, dan bahkan berani mengambil langkah yang tak populer ini,  patut untuk direnungkan kita bersama generasi sekarang, khususnya para politisi yang sebentar lagi akan berikhtiar memimpin bangsa ini.

Langkah Gus Dur mengingatkan penulis kepada kata-kata seorang penulis, Day Milovich tentang panggilan kejujuran . Menurutnya, biarpun seseorang jujur dan tidak pernah tersangkut tindak pidana atau perdata, belum tentu punya panggilan kejujuran. Baginya, jika seseorang diam saat ada situasi kacau, maka orang tersebut tidak menerima panggijan kejujuran, dan tidak termasuk orang jujur. 

Jika kita mengaku sebagai penerus Gus Dur, jujur saja tidaklah cukup. Kita harus memenuhi penggilan kejujuran yang telah dicontohkan oleh Gus Dur. Bukan malah memanfaatkan kekacauan untuk kepentingan atau merealisasikan ambisi pribadi. Memenuhi panggilan kejujuran ini sepertinya tidak gampang. Kata Gus Dur di berbagai akhir tulisannya, Banyak hal yang mudah dalam konsep, tapi sulit dalam praktik.

*

(Penulis adalah pegiat di Islami Institut Yogyakarta dan Peneliti di Idea Institut Semarang) 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Rabu, 27 Desember 2017

Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab

Pacitan, PKS Piyungan Taubat? . Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan menggelar “Khataman Kubro” setelah pengajian Ramdahan selama 27 hari. Senin malam (13/7), para santri dengan penuh khidmat mengikuti khataman yang digelar di halaman ndalem Nyai Hj, Qibtiyah Habib.

Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab

KH Muad Harits, salah satu pengasuh mengatakan, pada bulan suci Ramadhan tahun ini Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan menggelar dan membacakan 73 kitab kuning kepada para santri, di antaranya fan hadits, fiqih, ilmu alat, dan ilmu hikmah.

“Khataman kubro alhamdulillah tahun ini bisa menghatamkan 61 kitab dari 73 kitab yang dibaca. semoga bermanfaat dan berkah untuk yang membaca dan mustami nya dan mendapat berkah Ramadhan amien,” tuturnya

PKS Piyungan Taubat

Ia mengaku sangat mengapresiasi semangat para santri dalam mengaji karena mereka harus mengikuti rangkaian pengajian yang cukup padat di bulan Ramadhan ini.

Ia berharap seluruh santri yang mengikuti pengajian Ramadhan mendapatkan berkah dan semoga dapat menjumpai bulan suci Ramadhan pada tahun depan.

PKS Piyungan Taubat

Selama mengikuti pengajian ramadhan, para santri mendapatkan ? banyak ilmu dari keterangan keterangan yang dibacakan oleh para qori’ (pembaca kitab). Sementara penjelasan lengkap tentang kitab tersebut hanya terdapat saat mengikuti pengajian biasa.

“Kajian-kajian Islam yang paling murni insya Allah hanya ada di pesantren. Lalu untuk media ? Google dan medsos masih perlu ekstra hati-hati untuk kita kaji,” tambahnya.

Dalam acara khataman kubro yang digelar sehabis jamaah terawih ini diisi dengan pembacaan kalimah toyyibah tahlil dan tausyiah yang disampaikan pengasuh. Beberapa pengasuh tampak hadir di antaranya KH Fuad Habib Dimyathi, KH.Luqman Harits Dimyathi, KH Muhammad Habib dan KH Achid Turmudzi. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Minggu, 24 Desember 2017

Samadiyah, Wujud Kesalehan Anak

Samadiyah berasal dari sifat Tuhan, yakni ash-Shomad, tempat bergantung. Secara istilah, Samadiyah digunakan masyarakat Aceh untuk menyebut tradisi doa bersama yang dikirimkan kepada orang yang telah meninggal dunia.?

Disebut Samadiyah karena dalam doa tersebut selalu ditonjolkan pembacaan surat al-Ikhlas, di mana surat itu menyebut Allahush Shomad, ayat kedua. Di Jawa dan tempat lain, Samadiyah sepadan dengan istilah Tahlilan. Isi Samadiyah relatif sama dengan di tempat lain, hanya saja pembacaan surat al-Ikhlas diperbanyak, biasanya 33 atau 100 kali.

Samadiyah, Wujud Kesalehan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Samadiyah, Wujud Kesalehan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Samadiyah, Wujud Kesalehan Anak

Setelah upacara pemakaman jenazah, masyarakat Aceh ada doa pasca kematian sejak hari pertama hingga hari ketujuh. Di Aceh, tradisi berdoa untuk orang meninggal disebut Khanduri Matee (kenduri orang meninggal). Semua ritual itu diselenggarakan oleh ahli waris yang di tinggalkan. Juga dibantu oleh masyarakat gampong setempat. Berikut ini beberapa ritual kenduri pasca kematian yang dikenal dalam adat masyarakat Aceh.

Samadiyah malam pertama orang meninggal biasanya dilakukan di Meunasah (Mesjid, Mushalla, Surau). Para sanak keluarga ataupun tetangga datang dengan sendirinya, Samadiyah dilakukan setelah shalat Magrib berjamaah.?

PKS Piyungan Taubat

Lalu ada Samadiyah malam ketiga disebut Khanduri Malam Lhee (Kenduri Malam Tiga), dimana saudara yang masih hidup dating ke rumah duka untuk mendoakan yang meninggal dunia. Para tamu yang datang membawa oleh-oleh ala kadarnya, semampunya. Sebelum berdoa, para tamu disuguhi makan malam bersama.

Seunujoeh adalah sebutan untuk Samadiyah hari ketujuh. Seuneujoh merupakan puncak daripada upacara kematian setelah jenazaha dikuburkan. Pada Samadiyah Seunujoeh lebih ramai dari samadiyah sebelumnya, orang lebih banyak berdatangan. Kerabat dan tetangga datang ke rumah duka membawa beras, gula, kopi, kue dan lain-lain.?

PKS Piyungan Taubat

Ada juga yang membawa sedekah uang yang dimasukkan dalam amplop, ketika pamit pulang si tamu menyalami tuan rumah Seuneujoh itu. Kenduri Seuneujoh juga dilaksanakan untuk menunggu para pelayat dari jauh atau dekat yang belum bisa hadir ke rumah duka pada hari pertama dan seterusnya.?

Pada pagi harinya, masyarakat gampong di pimpin oleh Imam Gampong menjadi pemimpin Samadiyah. Adapun doa-doa yang dibacakan pada pelaksanaan Samadiyah adalah: Syahadat, Selawat Nabi, Tahlilan, surat-surat Pendek al-Akhlas, an-Naas, al-Falak, dan talkin.

Setelah itu ada Malam Lheeploh (malam ketiga puluh), Khanduri Peutploh(Malam keempat puluh, Khanduri Ppeutplohpeut atau malam keempat puluh empat, Khanduri Tujohploh atau ke tujuhpuluh, Khanduri sikureungplohatau hari kesembilan puluh, Khanduri reuthoh atau hari keseratus.

Samadiyah juga dilakukan saat pernikahan, pindahan rumah, khitanan.Pada acara khitanan, samadiyah juga dibaca, selain al-Barjanzi. Samadiyah adalah salah satu perwujudan kesalehan, yakni anak mendoakan orang tua dan para leluhurnya. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Sunnah, Halaqoh, Santri PKS Piyungan Taubat

Kamis, 21 Desember 2017

GP Ansor Jatilawang Agendakan Ambulan Gratis

Banyumas, PKS Piyungan Taubat - Setelah dinobatkan sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Jatilawang Kabupaten Banyumas, Rofik Kamilun bertekad memiliki ambulan gratis sebagai bentuk kepedulian Ansor kepada warga. Menurutnya, ketersediaan ambulan sangat urgen guna menyelesaikan persoalan derajat kesehatan masyarakat.

Demikian disampaikan Rofik usai Konferensi Anak Cabang (Konferancab) yang digelar di desa Tinggarjaya, Sabtu (3/9) kemarin.

GP Ansor Jatilawang Agendakan Ambulan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatilawang Agendakan Ambulan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatilawang Agendakan Ambulan Gratis

“Ketersediaan ambulan gratis bagi warga, menjadi program unggulan kami,” ujar Rofik saat dihubungi PKS Piyungan Taubat lewat sambungan seluler, Ahad (4/9).

Selain menyediakan ambulan gratis, dia juga memprogramkan rutinan Rijalul Ansor, Ansor Peduli Khitanan, dan Ansor tanggap sosial lainnya. Ia juga akan melakukan penataan kelembagaan di 11 ranting Ansor agar makin kokoh dalam pertumbuhannya.

PKS Piyungan Taubat

Mantan Sekretaris PAC Ansor Jatilawang ini, memprogramkan seluruh kegiatan PAC yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kedepan, Ansor di Kecamatan Jatilawang harus mampu berjiwa pelopor, menampilkan keteladanan, selalu hadir ditengah masyarakat, serta memiliki semangat kepelayanan.

PKS Piyungan Taubat

“Sebagaimana sifat dasar Ansor yakni sebagai penolong, kami berupaya untuk mewujudkan Ansor peduli,” tekadnya.

Konferancab dihadiri 30 orang utusan dari 11 Pimpinan Ranting Ansor se-Kecamatan Jatilawang. Saat sidang Pleno penentuan Kepengurusan PAC yang dipimpin Ketua PC Ansor Banyumas Akhmad Thontowi secara aklamasi memilih Rofik Kamilun untuk periode 2016-2018. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Nippon (Jepang), pesantren menjadi basis kuat perlawanan rakyat Indonesia terhadap ketidakperikemanusiaan kolonial. Hal itu dibuktikan ketika pesantren dan para kiai senantiasa menjadi bidikan para penjajah untuk ditundukkan dengan segala cara, baik dengan mengajak kerja sama maupun memenjarakan para kiai.

Langkah memenjarakan kiai dengan tuduhan mengajak masyarakat melakukan pemberontakan terhadap penjajah Jepang terjadi pada tahun 1943, dua tahun sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di antara kiai yang digelandang Tentara Nippon yaitu Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947).

Awalnya Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) itu dipenjarakan di Jombang, lalu dipindah ke Mojokerto. Selama masa itu, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut mengalami penyiksaan teramat berat dan pedih dari para serdadu Nippon. Namun, keteguhan dan kekuatan spiritualnya mengalahkan rasa sakit dan pedih ketika jari-jemarinya remuk dipukuli tentara Jepang.

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Dipenjaranya Kiai Hasyim Asy’ari memantik perlawanan dari ribuan santrinya. Mereka ramai-ramai menggeruduk penjara Jepang di Jombang sehingga mereka terpaksa harus memindahkan ayah Kiai Abdul Wahid Hasyim itu ke Mojokerto. Langkah tersebut sekaligus disadari oleh Jepang bahwa langkah mengurung Kiai Hasyim merupakan kesalahan besar sehingga langkah diplomasi perlu dilakukan.

Langkah diplomasi ini memang sekuat tenaga dilakukan oleh Jepang, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, dan Kiai Wahid Hasyim. Tujuan utama Kiai Wahid agar bisa membebaskan ayahnya atas tuduhan mengada-ada para tentara Jepang yang memicu perlawanan para santri dan rakyat Indonesia ketika itu. Hal ini menjadi kekhawatiran Jepang sendiri akan munculnya perlawanan yang lebih besar bangsa Indonesia terhadap kolonialismenya.

PKS Piyungan Taubat

Ya, Jepang memperoleh informasi yang salah ketika menuduh Kiai Hasyim Asy’ari memobilisasi rakyat untuk melakukan pemberontakan di daerah Cukir, sekitar Jombang. Akhirnya kesepakatan diperoleh, Jepang mau membebaskan Kiai Hasyim Asy’ari dengan syarat ia mau diangkat sebagai Shumubucho, Kepala Jawatan Agama yang dulunya dijabat oleh seorang Jepang Kolonel Horie.

Di sinilah politik kompensasi dilakukan oleh Jepang untuk menarik perhatian rakyat Indonesia karena Kiai Hasyim mempunyai pengaruh yang sangat luas. Lantas, apakah kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menerima dan setuju kemauan penjajah Jepang itu? “Setuju, meski ada tapinya,” ujar Kiai Wahid Hasyim ketika ditanya Kiai Saifuddin Zuhri terkait kondisi ayahnya. (Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013)

PKS Piyungan Taubat

Bagi Kiai Hasyim Asy’ari seperti yang diterangkan oleh Kiai Wahid Hasyim, menerima tawaran Kolonial Jepang lebih bijaksana daripada menolaknya. Alasannya sederhana, jika menolak bisa dianggap oleh Jepang sebagai sikap yang tidak mau kerja sama. Jangan dilupakan, Hadlratussyekh baru saja mengalami penderitaan selama lima bulan di penjara. Akan tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada Kiai Wahid karena kondisi sepuh Kiai Hasyim yang tidak memungkinkan mondar-mandir Tebuireng-Jakarta, selain alasan harus mengasuh dan memangku pesantren.

Nampak bahwa Kiai Hasyim Asy’ari sedang memberi keteladanan kepada para pejuang muda bahwa arti perbuatan bijaksana itu bukanlah untuk menjatuhkan pilihan terhadap yang benar dan yang salah serta terhadap yang baik atau buruk, tetapi menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau yang sama-sama buruk, namun diharuskan memilih salah satunya berhubung dengan situasi yang mengharuskan untuk memilih.

Jika menolak, Kiai Hasyim Asy’ari bisa juga dianggap sebagai sikap menentang. Alhasil, menurut Kiai Wahid Hasyim (Berangkat dari Pesantren, 2013), Hadlratussyekh menempuh teori ‘setengah isi’ daripada teori ‘setengah kosong’. Orang ’arif akan mengatakan botol yang isinya tidak penuh dengan ‘setengah isi’, bukan ‘setengah kosong’. Meskipun natijah (kesimpulan)-nya sama, orang akan menerimanya dengan sikap berbeda. Istilah ‘setengah isi’ lebih memperlihatkan toleransi ketimbang ‘setengah kosong’ yang dapat diartikan sebagai sikap intoleransi, kaku. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Senin, 11 Desember 2017

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi 

Banyuwangi, PKS Piyungan Taubat. Santri Design Community (SDC) Kabupaten Banyuwangi menggelar pelatihan design grafis untuk santri dan kader-kader IPNU IPPNU setempat. Pelatihan bertajuk "Madrasah Design Chapter Banyuwangi" dilaksanakan di Aula Kantor PCNU Banyuwangi. Minggu (11/6) pagi.

Ketua Santri Design Community, Dodik Nur Cahyo mengatakan bahwa SDC merupakan komunitas yang digagas oleh para santri pesantren yang tersebar di berbagai daerah. Selain untuk melatih santri-santri dan kader-kader NU asal Banyuwangi, gelaran ini juga digunakan untuk pembentukan SDC Kabupaten Banyuwangi.

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi

" Kita yakin dari komunitas SDC ini, akan lahir santri-santri yang menjadi inisiator designer yang kreatif dan handal," jelas Dodik.

Dodik menambahkan, terjun ke dalam dunia design memiliki dua tujuan. Pertama adalah sebagai media dakwah dan yang kedua adalah untuk media pembelajaran bagi kader muda NU yang lebih banyak dari santri dan kader IPNU-IPPNU. 

PKS Piyungan Taubat

"Tak jarang beberapa hikmah di dapat, saat kita memiliki keahlian design dan jaringan dengan pihak luar, salah satunya akan mendatangkan tambahan rezeki.  Dan ini sebagai motivasi kita untuk terus berkarya dan berkarya," jelas pemuda asal Ponorogo.

Kegiatan bertajuk ‘Madrasah Design’ lanjut Dodik, selain untuk melatih santri-santri dan kader-kader muda NU asal Banyuwangi, juga untuk pembentukan SDC Kabupaten Banyuwangi. 

Dalam kelas ‘Madrasah Design’ini, beberapa materi penting akan diberikan diantarana mulai pembuatan logo sampai brosur, CorelDraw dan Adobe Photoshop. design grafis. “Kelas design ini kami berikan batasan peserta. Karena antusias peserta cukup banyak,” ujar ketua Panitia M. Khoirul Abda.

PKS Piyungan Taubat

Sofyan Sauri salah satu santri yang menjadi peserta pelatihan menuturkan, madrasah desin bagi santri ini diharapkan bisa memberikan ilmu baru terutama untuk kepentingan dakwah di media social agar bisa mewarnai dakwah yang sejuk dan ramah. 

"Karena menurut saya dakwah bukan hanya melalui ceramah dan tulisan sebagaimana sering kita temukan. Dewasa ini kita juga membutuhkan sarana dakwah berupa desaign grafis meme-meme yang menyejukkan. Bukan meme-meme ujaran kebencian dan kekerasan yang sering berkeliaran di media sosial, sebagaimana sarana dakwah mereka di luar kalangan nahdliyin," tutur Sofyan. (M. Sholeh Kurniawan / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Humor Islam, Berita, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 09 Desember 2017

Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT

Kudus, PKS Piyungan Taubat. Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus dapat akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) pada Senin (13/5) lalu. BANPT mengadakan visiting ke kampus yang terletak di Jl. Lambao Karangsambung Bae Kudus, Jawa Tengah tersebut.

Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT

BANPT yang menugaskan dua orang asesor itu melakukan penilaian langsung mulai fisik bangunan atau sarana prasarana, sumber daya manusia (SDM) dan kurikulum yang diajarkan.

Pembantu Direktur II Saiful  Anas menginformasikan, Tim Asesor sangat apresiatif akan potensi Akbid Muslimat NU Kudus. Lembaga berusia 4-5 tahun sudah mampu memiliki sarana prasarana pembelajaran yang lengkap.

PKS Piyungan Taubat

“Kurikulum fiqh terapan yang dikembangkan dalam pengajaran kebidanan mendapat penilaian (apresiatif) tersendiri dari Tim Asesor. Sedangkan SDM Akbid seperti tenaga dosen diminta untuk ditingkatkan,” tutur Anas kepada PKS Piyungan Taubat di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Kamis (16/5).

PKS Piyungan Taubat

Anas menyatakan secara fisik bangunan termasuk sarprasnya sudah diakui oleh tim Asesor, sedangkan penilaian terkait kualitas SDM-nya masih harus menunggu pleno BNPT, “Memang persoalan SDM telah menjadi perhatian utama Akbid akan terus berusaha ditingkatkan kualitasnya.”kataya.

Dalam pengembangan ke depan, tandas dia, sumber daya manusia (dosen) Akbid Muslimat NU Kudus akan diarahkan penjurusannya pada Magister Kebidanan. Upaya ini menghadapi  akreditasi tahun 2014 yang salah satu instrumennya adalah SDM sesuai dengan kompetensi ilmu kebidanan.

Meskipun begitu, dosen S-2 non-kebidanan tidak perlu berkecil hati karena tetap akan diposisikan mengampu program studi. Namun pengampu khusus Prodi Kebidanan, kita arahkan yang Magister Kebidanan.

Mengenai hasil peniliaian, imbuh Anas, pihak Yayasan hanya berharap mendapat nilai maksimal yang memuaskan.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor     : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh, Anti Hoax, Sunnah PKS Piyungan Taubat

Jumat, 08 Desember 2017

Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah

Lampung, PKS Piyungan Taubat?

Peringatan Hari Santri Nasional ( HSN) berlangsung di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Ketua Hipsi Lampung H Karim, di Bandar Lampung, Jumat (21/10) malam menjelaskan, Danrem 043/Garuda Hitam Kolonel Kav Supriyatna turut hadir membaca sholawat nariyah di Pesantren Darusaadah, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah.

Selain Danrem, Katib Suriyah PBNU KH Mujib Quryubi, Ketua PWNU Lampung KH Soleh Bajuri, jajaran pengurus MUI dan Hipsi juga turut menghadiri pembacaan 1 miliar sholawat nariyah bersama para santri di Lampung Tengah.

Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah

"Alhamdulillah. Di Kampung Gunung Tiga, Kecamatan Pugung, Tanggamus juga sangat meriah. Warga juga turut hadir, lalu dari kepolisian sektor Pugung pun turut serta dalam pembacaan solawat nariyah. Total sekitar 750 orang," ujar aktivis Gusdurian Lampung dan Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren (YPIPP) Nurul Falah Tanggamus, WD Fatchurrochman Syam.

Di Bandar Lampung, salah satu tempat pembacaan sholawat nariyah adalah sekretariat Hipsi Lampung, Jalan ZA Pagaralam Nomor 95, Gedung Meneng, samping museum Lampung.

Di Kabupaten Pringsewu, pelaksanaan pembacaan sholawat nariyah berlangsung di Pesantren Miftahul Huda, Ambarawa. Usai membaca, para santri diajak bakar-bakar ikan sembari menyaksikan pemutaran film Sang Kiai.

PKS Piyungan Taubat

Adapun di Way Kanan, salah satu tempat membaca shalawat yang mempunyai sejumlah fadilah seperti menghilangkan segala macam kesusahan, memudahkan pekerjaan, menerangkan hati, memperbaiki budi pekerti, menghindarkan malapetaka dan perbuatan buruk itu berlangsung di Pesantren Roudhotul Mutaqin asuhan KH Rofiul? Bashori, Kecamatan Bumi Agung. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat RMI NU, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Kamis, 07 Desember 2017

NU Karawang Siap Makmurkan Masjid

Karawang, PKS Piyungan Taubat. Ketua PCNU Kabupaten Karawang, H Akhmad Marjuki menyambut baik program revitalisasi masjid NU yang dikemas pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) bertema “Wujudkan masjid sebagi pusat pemberdayaan umat".

Ia berharap dengan Rapimda tersebut masjid-masjid yang dikelola warga NU Karawang akan hidup dengan kegiatan-kegiatan sosial yang memberdayakan jamaah.

NU Karawang Siap Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Karawang Siap Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Karawang Siap Makmurkan Masjid

“Dampak dari urbanisasi dan industrialisasi Karawang sanagat terasa,” katanya di hadapan sekitar 250 imam, khotib, dan ta’mir masjid NU di gedung Rachmaini, Karawang, pada Sabtu (6/4).

PKS Piyungan Taubat

Ke depan, mudah-mudahan tidak ada lagi hal-hal yang tak diharapkan, seperti lepasnya masjid NU ke "tangan-tangan" kelompok lain. “Kalau masalah keropak (tempat uang masjid) atau sandal, bagi saya itu masih bisa ditolerir, tapi kalau tradisi, tidak bisa ditolerir!” katanya.

Ia menambahkan, fenomen tersebut sudah berlangsung dua tiga tahun terakhir. Sebenarnya, itu kesalahan kita, karena tidak memakmurkan masjid. Karena itu, NU Karawang harus siap memakmurkan masjid!

PKS Piyungan Taubat

Cara mereka menguasai masjid sangat bagus; dimulai dengan aktif azan, mengepel masjid, tapi rupanya lama-kelamaan mengubah kebiasaan masjid tersebut. Tak ada cara lain bagi warga NU, selain mengaktifkan masjid-masjid.

Rapimda tersebut dibuka Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Masudi dengan pembacaan Al-Fatihah. Ia berpesan kepada para peserta supaya jangan pergi sebelum acara paripurna. “Pembukaan ini hanyalah takbirotul ihram. Jangan selesai sebelum salam,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh, Ubudiyah PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 02 Desember 2017

GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari

Jakarta Barat, PKS Piyungan Taubat - Menjelang Idul Adha, GP Ansor Jakarta Barat menggelar Pelatihan Juru Sembelih Hewan Halal (Juleha) di Masjid Raya Hasyim Asy’ari Daan Mogot, Jakara Barat, Ahad (20/8). Pelatihan ini diadakan sebagai bentuk GP Ansor terhadap hari raya Idul Adha

“Sebagai Banom NU, Ansor ingin mensosialisasikan tata cara penyembelihan qurban yang sesuai syariat Islam dan higienis secara medis,” kata Ketua GP Ansor Jakarta Barat Alfanny.

GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari

Instruktur pelatihan ini adalah Drh Elliata dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian Jakarta Barat, KH Yusuf Ismail dari Rijalul Ansor Jakarta Barat, dan Lukman dari Aqiqah Bilik Kambing/Aspaqin.

PKS Piyungan Taubat

Pada pelatihan ini peserta mendapatkan teori penyembelihan qurban di kelas. Peserta juga diajak untuk melakukan praktik langsung penyembelihan hewan qurban.

PKS Piyungan Taubat

Ketua Panitia Nahraji Zen mengatakan, panitia menyediakan dua ekor domba untuk simulasi praktik di lapangan.

Alhamdulillah, panitia mendapatkan dukungan dari Aqiqah Bilik Kambing yang dipimpin Sahabat Reza Noval sehingga bisa menyembelih dua ekor domba. Tujuannya adalah peserta dapat melihat langsung penyembelihan sesuai syariat Islam,” kata Zen yang juga mantan Ketua IPNU Jakarta Barat.

Selain mengadakan pelatihan ini, GP Ansor Jakarta Barat bekerja sama dengan Aqiqah Bilik Kambing juga membuka kandang hewan qurban di dekat Masjid KH Hasyim Asy’ari Daan Mogot yang menyediakan hewan qurban layak dengan harga grosir. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Internasional, Halaqoh, Aswaja PKS Piyungan Taubat

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan

Kendal, PKS Piyungan Taubat. Ketika Nabi Muhammad pertama kali menginjakkan kaki di kota Mekkah, Ka’bah sudah ada di sana, bahkan ritual mengitari ka’bah atau thowaf pun juga dilakukan oleh masyarakat jahiliyyah dulu, tetapi mereka mengitari ka’bah untuk menyembah patung-patung yang dipajang di sekitarnya.?

Demikian disampaikan KH M. Yusuf Chudhori atau akrab disapa Gus Yusuf ketika menyampaikan pengajian dalam rangka Haflah Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Istiqomah, Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Selasa (25/10) pagi.

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan

Lalu Nabi melakukan pendekatan kebudayaan ketika mendakwahkan Islam di sana, Nabi tidak menghancurkan ka’bah, akan tetapi mengubah orientasi peribadatannya, yang semula tertuju pada patung, lalu diubah memusatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.?

Thowaf pun kemudian dilaksanakan dengan membaca talbiyah. Itu merupakan salah satu wujud bahwa Islam datang bukan untuk menghancurkan kebudayaan, tetapi justru menata dan membangun kebudayaan.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok API Tegalrejo Magelang tersebut menghimbau para hadirin agar memilih pesantren yang jelas aqidah kiainya.

PKS Piyungan Taubat

“Orang tua harus berhati-hati memasukkan anaknya ke pesantren yang mana, paling tidak harus jelas kiainya siapa, akidahnya, kesehariannya. Kalau bisa lagi, cari yang cetho (jelas) NU nya, itu pasti aman dari paham radikal dan terorisme,” paparnya,?

Gus Yusuf mengatakan bahwa melihat akidah pimpinan pondok pesantren adalah hal yang penting, paling tidak kriteria ke-NU-an tertanam di sana sebagai bentuk pesantren yang tidak hanya mempelajari agama tapi juga mengajarkan rasa nasionalisme.?

Sebab, tuturnya, NU memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bersama dengan komponen bangsa yang lain. Sehingga Indonesia ini di mata orang NU adalah warisan para ulama yang harus dijaga.

Ketika menyinggung tentang kewajiban menuntut ilmu agama kepada seseorang, beliau juga mewanti-wanti para hadirin untuk tidak mudah terkecoh dengan jubah dan sorban yang dipakai seseorang.

PKS Piyungan Taubat

“Kanjeng Nabi dulu memang jubahan, sorbanan, tapi tunggu dulu, musuh-musuh Nabi juga pakai jubah dan sorban. Abu Jahal Abu Lahab dulu juga pakai sorban dan jubah. Maka kita lihat akhlaknya dulu, kesehariannya. Nabi adalah sosok yang murah senyum, tutur bahasanya menyejukkan, tidak pernah menakut-nakuti orang,” tuturnya.

Di hadapan ratusan hadirin yang berkumpul di halaman pondok pesantren pimpinan KH Aly Sodiqun tersebut, Gus Yusuf memberi pujian kepada para orang tua yang memondokkan anaknya di pesantren.?

Menurutnya, di jaman seperti saat ini, bisa diibaratkan dengan kondisi umat Nabi Nuh yang terkena banjir bandang, bedanya hanya terletak pada bentuknya. Kalau umat nabi Nuh dihadapkan banjir air, maka umat saat ini dibanjiri kemaksiatan.

“Maka perahu Nabi Nuh saat ini adalah pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah yang ada di pelosok negeri, perahu inilah yang akan menyelamatkan generasi muda kita dari banjir kemaksiatan yang merajalela,” pungkasnya. (Amar Alfikar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Halaqoh, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, PKS Piyungan Taubat. Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. PKS Piyungan Taubat berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

PKS Piyungan Taubat

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

PKS Piyungan Taubat

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

100 HARI SLAMET GUNDONO

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, NU Online

Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. NU Online berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

?

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

?

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

?

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

?

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

?

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

?

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

?

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

?

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

?

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

?

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

100 HARI SLAMET GUNDONO

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, PKS Piyungan Taubat

Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. PKS Piyungan Taubat berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

100 HARI SLAMET GUNDONO

Nasirun Bayar Utang Lewat Wayang Burung

Solo, PKS Piyungan Taubat

Selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, digelar pameran untuk memperingati 100 hari meninggalnya seniman Slamet Gundono. PKS Piyungan Taubat berkesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut di hari terakhir pementasan, Rabu (30/4).

Di dalam ruangan pameran yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruangan pertama, terpampang sejumlah foto Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan. Ruangan lain menampilkan wayang burung karya perupa Nasirun. Pameran wayang burung ini merupakan satu keinginan Gundono yang belum terwujud, hingga ia meninggal.

“Awal mula dibuatnya proyek ini adalah ketika Gundono mendatangi saya dan mengungkapkan keinginannya untuk pentas wayang burung. Akan tetapi karena almarhum tak pernah menjelaskan secara detail bentuk wayang serta cerita yang akan dimainkan, akhirnya hanya menebak-nebak semua bentuk wayang yang diinginkannya, “ jelas Nasirun.

Demi keinginan terakhir sang kawan itulah, Nasirun menyempatkan diri untuk menyelesaikan semua wayang burung tersebut. Ia menyelesaikan semua wayang ini tanpa memikirkan apa-apa selain hutang kepada Gundono.

“Sekarang saya bisa lega karena hutang saya sudah terbayar dengan diadakannya pameran ini,” pungkas Nasirun.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang burung oleh dalang Sri Waluyo.Wayang ini mengambil cerita fabel tentang kisah elang dan garuda.

Dikisahkan elang bermimpi tentang garuda yang datang dan menghancurkan bangsa elang. Takut jika mimpinya menjadi kenyataan, sang raja elang pergi menuju gunung sarang garuda. Pertarungan tak bisa dihindari. Akan tetapi berkat kelihaiannya, sang raja elang berhasil membunuh sepasang garuda yang tinggal disana.

Akan tetapi, tanpa diketahui sang raja elang, sepasang garuda itu meninggalkan telurnya di dalam gua. Akhirnya telur itu menetas dan pergi untuk membalas dendam. Namun, garuda tetap kalah. Ketika raja elang akan memakan garuda, datanglah Kyai Lurah Semar yang memberikan solusi atas permasalahan elang dan garuda.

“Sebenarnya saya sempat bingung saat melihat tokoh wayang elang karya Nasirun. Saya ingin membuat adegan pertarungan, tapi semua wayang Nasirun tidak ada tokoh ksatria, karena semuanya penjahat. Namun setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan ide untuk memakai tokoh garuda Jatayu sebagai lawan si elang, “ ujar Sri Waluyo

Pemilihan Garuda itu bukan tanpa makna khusus. Menurut Waluyo, garuda dianalogikan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan elang adalah lambang negara asing. Selama ini garuda hanya dikasih makan enak dan dimanja oleh elang, sama seperti keadaan bangsa Indonesia yang dimanja oleh kapitalis asing.

“Nah, itulah pesan yang secara tidak langsung kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mulai bangun dan mandiri,” paparnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Senin, 27 November 2017

GP Ansor Sumenep Bedah Buku "Pesantren: Nalar dan Tradisi"

Sumenep, PKS Piyungan Taubat - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur, membedah buku bertemakan pesantren, Sabtu (2/4). Bertempat di aula PKPRI Sumenep, acara tersebut berlangsung 3 jam mulai dari pukul 14.00-17.00 WIB.

Buku yang dibedah berjudul Pesantren; Nalar dan Tradisi karya tokoh muda NU Jawa Timur, Gus Baddrut Tamam. Tampak hadir Ketua PCNU Sumemep KH Pandji Taufiq, Ketua PC GP Ansor M Muhri Zaen, penulis buku, 23 pengurus PC Ansor, dan 65 pengurus dari 22 PAC Ansor se Kabupaten Sumenep. Serta, beberapa pengasuh pesantren di Sumenep.

GP Ansor Sumenep Bedah Buku Pesantren: Nalar dan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumenep Bedah Buku Pesantren: Nalar dan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumenep Bedah Buku "Pesantren: Nalar dan Tradisi"

Akademisi NU Sumenep Dr Rahbini, tampil sebagai pembanding. Rahbini mengaku senang dan bangga punya kader NU seperti Gus Baddrut karena dia tergolong santri yang aktivis. "Di tengah kesibukannya, masih sempat menelurkan pikiran cerdasnya untuk kemudian diterbitkan dalam bentuk buku," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Baddrut berbicara tentang nilai-nilai pesantren harusnya terus kita sandang di mana pun dan jadi apa pun kita. "Oleh sebab itu, kita mesti selalu beretika, santun, dan bersahaja.Santri juga harus siap menghadapi berbagai problem sosial kemasyarakatan," tegas pria yang kini menjabat Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jawa Timur.

PKS Piyungan Taubat

Dalam sambutannya, Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen menegaskan, bedah buku ini adalah rangkaian dalam memeriahkan harlah GP Ansor ke-82. Pihaknya berharap dengan membedah buku kepesaantrenan, peserta bisa mengikuti para pejuang yang sekaligus pengasuh/ pendiri pesantren yang mempunyai jasa besar terhadap bangsa ini.

"Pesantren lah yang berperan besar dan bersemangat luar biasa dalam hal ikut andil dalam memerdekakan serta mendidik umat dalam segala aspek kehidupan," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

PKS Piyungan Taubat

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock