Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme

Jember, PKS Piyungan Taubat. Hj Erma Fatmawati mendorong Fatayat NU Jember untuk terus melakukan penguatan paham Aswaja NU di masyarakat. Dengan cinta tanah air, kader Fatayat NU Jember memperkecil pintu masuk paham-paham radikal dan kejahatan korupsi.

Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme

“Sejak zaman Belanda, NU telah menunjukkan sikap nasionalismenya yang tinggi, dan sampai kapanpun harus tetap dipertahankan,” kata Hj Erma di hadapan 45 peserta Latihan Kader Dasar Fatayat NU di aula PCNU Jember, Sabtu (20/9).

Ia juga mengajak anggota Fatayat NU untuk menjadi pioner dalam menjaga nasionalisme dengan memperluas wawasan kebangsaan dan menghayati nilai-nilai Islam.

PKS Piyungan Taubat

Di dalam Islam sudah jelas, mencintai  tanah air adalah sebagian dari iman. "Fatayat adalah bagian dari NU. Mari bekerja dengan benar, laporkan kejahatan korupsi, itu sudah termasuk menjaga nasionalisme," ungkapnya.

PKS Piyungan Taubat

Ketua Fatayat NU Jember Rahmah Saidah menegaskan pentingnya kader NU untuk  memperluas wawasan, terutama terkait dengan NU dan kebangsaan.

"Yang juga penting kita sikapi adalah pasar bebas Asia tahun depan. Kita berharap anggota muslimat juga tahu dan paham soal itu," ujar Rahmah. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal, Santri PKS Piyungan Taubat

Minggu, 11 Februari 2018

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Diakui atau tidak, pondok pesantren telah sejak lama mengajarkan serta membudayakan minat baca dan belajar. Tak hanya itu. Tradisi menulis pun seakan telah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia itu.

Tak berlebihan jika Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar sistem pendidikan dan tradisi membaca serta menulis di pesantren patut dijadikan contoh. Karena, menurutnya, seminar-seminar bertema pengembangan minat membaca kerap diadakan, namun belum banyak menghasilkan minat belajar bagi para siswa.

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

"Kalau mau belajar soal bagaimana mengharuskan membaca, nggak perlu ke luar negeri, pergi saja ke pesantren," ujar Wapres Kalla saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Budaya Minat Baca dan Pembinaan Perpustakaan Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (12/7).

Di pesantren, tutur Wapres Kalla, para santri, tiap hari wajib membaca kitab-kitab kuning dengan penuh khusyuk, tentang materi-materi keagamaan ataupun sastra. Hal itulah yang merupakan dasar bagi pengembangan minat baca di pesantren.

"Bahkan sambil terkantuk-kantuk, santri tetap baca. Mereka nurut (patuh) pada ustad, ustad nurut pada kiai, kiai nurut pada kiai khos-nya. Pak Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, red) harus jadi kiai khos-nya," ujar Wapres Kalla disambut tawa peserta seminar, termasuk Mendiknas Bambang Sudibyo.

PKS Piyungan Taubat

Ia mengungkapkan, sebaiknya Mendiknas membuat aturan mengenai keharusan untuk membaca. Para siswa diwajibkan untuk membaca dan mengetahui pelajaran-pelajaran yang harus dia ketahui dari buku, bukan sekadar menumbuhkan minat membaca.

"Kalau minat saja, kalau anaknya tidak mau, bagaimana. Yang penting itu harus membaca, karena dari keharusan akan menjadi kebiasaan," tandasnya.

Karena itu, Wapres berharap, seminar yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional itu tidak hanya membicarakan pentingnya membaca, tapi bagaimana membuat aturan soal keharusan membaca. (rif/dtc)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaNu, Tegal PKS Piyungan Taubat

Kamis, 18 Januari 2018

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Banyuwangi sebagai salah satu basis masyarakat santri di Tapal Kuda (pesisir timur pulau Jawa) menyimpan berbagai kisah heroik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Dan sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kekuasaan, Banyuwangi menyimpan kharismanya sendiri. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesaktian para kyainya. Salah satu di antara kyai-kyai sakti tersebut adalah KH Saleh Lateng, salah seorang pendekar sakti keturunan raja-raja Palembang Sumatera.

Sejarah Keluarga. Pada kisaran perempat perteama abad ke-19, Kerajaan Palembang Darussalam telah kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Sultan Najamuddin dibuang oleh Belanda ke Banda Aceh dan pemerintahan palembang dikendalikan oleh seorang Residen Belanda. Banyak para bangsawan menyingkir keluar daerah, salah satunya adalah Kiagus Abdurrakhman, kakek Kyai Saleh Lateng. Kiagus Abdurrakhman ini kemudian menetap di Sumenep dan menikah dengan seorang perempuan setempat bernama Najihah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Namun hanya seorang yang kemudian meneruskan silsilah keturuanan, yakni Kiagus Abdul Hadi –ayahanda Kyai Saleh, yang kemudian pindah dan menetap di Banyuwangi.

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Terlahir di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278 H. bertepatan dengan 07 Maret 1862 M. dengan nama Kiagus Muhammad Saleh. Ibunya berasal dari Panderejo Banyuwangi bernama Aisyah. Nama Kyai Saleh ini yang terkenal selama hidup hingga sepeninggalnya. Meski setelah berhaji, namanya berganti menjadi H Muhammad Syamsuddin, namun dalam keseharian Beliau selalu menuliskan namanya dengan Saleh saja. Dengan demikian ia tetap dikenal oleh masyarakat sebagai Kyai Saleh saja.

PKS Piyungan Taubat

Banyuwangi pada masa kecil Kiagus Muhammad Saleh berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, baik dari sisi material maupun secara spiritual. Rakyat miskin akibat penjajahan dan suasana pertengkaran antar kelompok masyarakat menjadikan suasana semakin menakutkan. Gank-gank yang terbukti tidak berdaya melawan kekuatan asing, saling terlibat permusuhan dan pertikaian untuk menaikkan gengsi pribadi dan golongan. Belum lagi hasutan politik adu domba Belanda yang menjadikan kondisi ini terus berlarut-larut.

Kendati terlahir di tengah kemerosotan moral masyarakat, namun masa kecil Kiagus Muhammad Saleh dilalui dengan cara-cara sangat islami. Sedari kecil Muhammad Saleh belajar mengaji kepada ibu dan bapaknya, serta lingkungan keluarganya. Pada usia remaja Saleh mulai belajar mengaji ke luar daerah. Pada usia 15 tahun, Saleh mondok di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian, ia meneruskan pelajarannya ke Bangkalan Madura, kepada Kyai Kholil. Di Bangkalan ini, Saleh menjadi khodim (pelayan) Kyai Kholil. Termasuk bersedia menemani anak Kyai kholil, Hasan mencari uang, untuk keperluan berangkat Haji.

PKS Piyungan Taubat

Selama di bangkalan ini pula Saleh belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu-ilmu kesaktian yang kelak akan digunakan secara langsung untuk memperbaiki masyarakatnya. Selain di Bangkalan, Saleh juga meneruskan pencarian ilmunya hingga ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana, Bali.?

Selepas menuntut ilmu di Bali, Saleh bertekad meneruskan pelajarannya ke Tanah Suci. Saleh menghabiskan masa belajarnya di Mekkah selama enam tahun sebelum diminta pulang oleh gurunya, Kyai Kholil Bangkalan. Kala itu, selain belajar, Saleh juga telah mengembangkan ilmunya kepada para pelajar lainnya di sana. Saleh telah membuka pengajian di Mekkah dengan menggunakan empat bahasa. Namun Saleh meminta waktu satu tahun lagi untuk Belajar di sana. Permintaan ini pun diijinkan oleh gurunya tersebut.

Setahun kemudian, kira-kira tahun 1900 M. sekitar umur 38 tahun, Kiagus Saleh kembali ke kampung halamannya di Banyuwangi. Kiagus Saleh kemudian menetap di kampung Lateng Banyuwangi, dan selanjutnya terkenal sebagai Kyai Saleh Lateng. Kyai Saleh secara resmi mendapatkan ijin mengajar di langgarnya di Lateng dari Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro pada 4 Maret 1909 M. Dari sinilah Beliau mulai mengabdikan dirinya untuk perbaikan kualitas masyarakat Banyuwangi. Sedikit-demi sedikit, wilayah dakwahnya semakin meluas hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi.

Dalam pengajaran kepada murid-muridnya, Kyai Saleh Lateng sangat menjunjung sikap tegas terhadap penjajahan. Ia sering berpesan kepada santri-santrinya untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kyai Saleh juga mengajarkan kesaktian-kesaktian yang dipelajarinya sejak mondok di Bangkalan. Dengan demikian, murid-murid Kyai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang taat beribadah. Melainkan juga para jagoan dan bromocorah-bromocorah setempat yang ingin menambah kesaktian. Sehingga banyak sekali algojo dan tanjak seblang di seluruh wilayah Banyuwangi yang menjadi santrinya.

Dari sinilah kemudian Kyai Saleh lateng muncul sebagai tokoh pemersatu masyarakat Blambangan. Kelompok-kelompok yang tadinya bertikai, mulai disatukan dengan alasan sesama murid dari lateng dilarang saling bermusuhan. Lambat laun para jagoan lokal dan para penyamun jalanan mulai menghentikan operasinya, karena mematuhi perintah Kyai Saleh Lateng. Semboyan “satu guru jangan saling mengganggu” rupanya mampu meredam perpecahan di antara masyarakat Banyuwangi kala itu. Sebagai sesama murid Kyai Saleh Lateng, mereka mulai menghentikan pertikaian dan permusuhan.

Kepada masyarakatnya, Kyai Saleh sangat mengayomi dan membuka konsultasi seluas-luasnya. Mengedepankan saling silaturrahim dan mendamaikan mereka yang sedang terlibat pertengkaran. Dengan demikian berangsur-angsur terbangunlah persatuan dan kesatuan Banyuwangi.

Kehidupan Keorganisasian. Sebagai salah satu tokoh kunci persatuan masyarakat Banyuwangi, Kyai Saleh memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), terutama di Wilayah Blambangan. Demi menyambung perjuangan keagamaan dan perjuangan kemerdekaan pada taraf yang lebih luas, Kyai Saleh bergabung dengan para ulama dari daerah lain. Baik melalui jaringan pertemanan sewaktu masih menjadi santri di Surabaya dan Madura maupun jalinan persaudaraan dengan teman-temannya selama menuntut Ilmu di Tanah Suci.

Dalam berorganisasi, Kyai Saleh Lateng bergabung dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1913 Beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di Kawedanan Glenmere Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H. bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. bersama dengan tokoh-tokoh ulama Nusantara lainnya, Kyai Saleh Lateng juga merupakan salah seorang yang naik di atas panggung (podium) untuk turut memberikan kontribusi dan dukungan pada pertemuan Komite Hijaz.

Pada hari yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Nahdlatul Ulama ini, Kyai Saleh Lateng ditunjuk oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama.?

Sikap Anti Penjajahan. Dalam mendidik para santri dan masyarakatnya untuk menentang penjajahan, Kyai Saleh Lateng bersikap keras. Beliau memilih sikap konfrontatif hingga melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah penjajahan. Kyai Saleh melarang keluarga dan para santrinya untuk memakai celana, melepas Kopyah dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Belanda. Kyai Saleh juga mengutus beberapa anaknya ke medan perang gerilya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kyai Saleh aktif mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Indonesia melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dan surat kabar. Hal ini dilakukan untuk mengecek keberadaan santri-santrinya yang sedang dikirim ke garis depan pertempuran dan medan gerilya. Kyai Saleh menyokong perjuangan bersenjata melalui dukungan dana dan doa kepada santri-santrinya yang akan dikirim ke medan laga.

Karena tindakan-tindakannya membantu perjuangan kemerdekaan, Kyai Saleh juga sempat menghadapi kejaran Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng ke Pakistaji. Di sinilah, Beliau bertemu dengan salah seorang anggota pasukan yang pernah dipimpinnya. Anggota pasukan ini juga sedang di kejar-kejar oleh intel Belanda. Kyai Saleh pun kemudian menolongnya. Anggota inilah yang kemudian menceritakan bahwa sebenarnya, Kyai Saleh Lateng terlibat secara langsung di garis depan ketika memimpin sepasukan laskar rakyat dalam penyerbuan terbuka (saat berkumandangnya Resolusi Jihad) ke Surabaya.

Kyai Saleh lateng juga termasuk orang yang sangat tegas dalam menolak kompromi dengan pemerintah penjajah. Pernah pada masa-masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia, Kyai Saleh ditawari oleh bantuan oleh Belanda untuk pembangunan pesantrennya. Bahkan konon, Van Der Plass sendiri yang datang menemui Beliau. Namun bantuan ini ditolak mentah-mentah oleh Kyai Saleh.?

Kyai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal awal kementrian Republik Indonesia. Menurut cerita, suatu ketika, Menteri Agama Republik Indonesia pertama KHA Wahid Hasyim mencari kitab yang akan digunakan sebagai pedoman pembentukan organ kementrian. Konon menteri agama mencarinya ke seluruh pondok pesantren kenalannya, namun belum juga menemukannya.

Maka KHA Wahid Hasyim kemudian mengutus seorang kurir untuk menanyakannya kepada Kyai Saleh Lateng yang pada waktu itu masih berada di tempat persembunyian di Pakisaji Kabat. Kurir tersebut meminta dengan membeli atau mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kyai Saleh Lateng pun kemudian memberikan kitab bernama Mu’jamul Buldan tersebut dengan bersedia menerima separo harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan Kyai Saleh Lateng dalam pembangunan organ Departemen Agama Republik Indonesia.?

Kehidupan Bermasyarakat. Sebagai seorang ulama yang telah dididik dalam norma-norma agama yang kuat, baik di lingkungan keluarga maupun di pesantren, Kyai Saleh selalu mengamalkan prinsip-prinsip pergaulan islami dalam bermasyarakat. Beliau memiliki sikap yang tegas dan berani dalam menyatakan kebenaran dan keadilan. Bahkan meski sering hal tersebut dianggap merugikan.

Sifat budi baik lainnya adalah, Kyai Saleh tidak memilih-milih dalam pergaulan kemasyarakatan. Beliau banyak memiliki santri dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat santri yang taat maupun dari kelompok keluarga para bromocorah. Termasuk pula, Kyai Saleh tidak membeda-bedakan tingkat ekonomi para muridnya. Kyai Saleh tidak membedakan antara santri anak orang kaya, pejabat dan rakyat miskin kebanyakan.

Sebagaimana umumnya para ulama, Kyai Saleh sangat gemar membaca al-Qur’an ketika sedang sendirian dan sedang tidak mengajar santri. Kyai Saleh juga senantiasa mentradisikan pengadaan peringatan-peringatan hari besar Islam. Termasuk peringatan Haul gurunya, Kyai Kholil Bangkalan.



Kebiasaan-kebiasaan amar ma’ruf nahi mungkar dan disertai dengan keteladanan dalam mentradisikan kebajikan serta tolong-menolong antar sesama senantiasa melekat dalam diri Beliau, hingga akhir hayatnya.

Kyai Saleh Lateng berpulang ke Rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 29 Dzulqo’dah 1371 H. bertepatan dengan 20 Agusrus 1952 dalam usia 93 tahun. Atas Izin bupati Banyuwangi, Usman, maka jenazahnya disemayamkan pada jarak kurang lebih sepuluh meter di sebelah selatan langgar, tempat Beliau biasa memberikan pengajian kepada santri-santrinya.

Dan untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka pada tahun 1956 DPRD Kabupaten Banyuwangi menyepakati adanya seruas jalan dengan nama Jalan Kyai Saleh Lateng. Meski jasad Kyai Saleh Lateng telah tertimbun di tanah, namun jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh masyarakat, dan perjuangannya akan senantiasa dilanjutkan oleh santri-santri penerusnya. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan melimpahkan rahmat untuk kemuliaan ruhnya. Amin Wallahu Alam bisshowab. (Disadur dari buku Biografi Kyai Saleh, karya H. Abd, Manan Syah). Syaifullah AminDari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 13 Januari 2018

Wapres Resmikan Kantor PWNU Jatim

Surabaya, PKS Piyungan Taubat

Wakil Presiden Jusuf Kalla dipastikan akan meresmikan gedung baru Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, di Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya pada 1 September mendatang.



Wapres Resmikan Kantor PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres Resmikan Kantor PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres Resmikan Kantor PWNU Jatim

Hal tersebut dikatakan Sekretaris PWNU Jatim Masyhudi Muchtar usai rapat khusus gabungan Syuriah dengan Tanfidziyah PWNU Jatim di Surabaya, Rabu (15/8) kemarin. Rapat tersebut juga membahas persiapan Konferwil NU Jatim di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Probolinggo, 2-4 Nopember mendatang.

“Karena saat ini warga NU yang menempati posisi paling tinggi di pemerintahan kan Pak Jusuf Kalla. Tapi, ini tidak ada kaitannya dengan (Pemilu) 2009, jauh dari itu,” ujar Masyhudi.

PKS Piyungan Taubat

Kantor PWNU Jatim dengan 3 lantai itu ditempati seluruh lembaga, badan otonom, unit-unit usaha, ruang pertemuan, musala, perpustakaan, ruang rapat dan ruang pertemuan besar. Letaknya hanya dipisah jalan dengan Masjid Al-Akbar Surabaya.

PKS Piyungan Taubat

PWNU, menurut Masyhudi, akan menyambut maksimal prosesi peresmian yang akan ditandai dengan penandatanganan prasasti tersebut. Selain mengundang seluruh Pengurus Cabang NU se-Jatim, PWNU juga akan mengundang para bupati/walikota dan seluruh jajaran Pem Provinsi Jatim serta para tokoh partai politik.

“Soal acara tambahan, belum dipastikan bentuknya, yang jelas sayang kalau momen penting itu dilewatkan begitu saja. Tentunya nanti akan ada acara yang bisa semakin merekatkan hubungan sesama warga NU yang ada di mana-mana,” imbuh alumnus Ponpes Tebuireng itu.

Ia menambahkan, usai meresmikan kantor baru tersebut, Wapres Kalla bersama pimpinan PWNU Jatim akan menuju Pesantren Tebuireng, Jombang. (sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal, Syariah, News PKS Piyungan Taubat

Jumat, 12 Januari 2018

16 Tentara Israel Tewas Bunuh Diri Selama 2017

Jerusalem, PKS Piyungan Taubat. Enam belas dari 55 tentara Israel yang meninggal tahun 2017 melakukan bunuh diri. Data ini terungkap dari laporan Channel 12 berdasarkan statistik tentara, Selasa (2/1), seperti dikutip kantor berita Anadolu.

16 Tentara Israel Tewas Bunuh Diri Selama 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
16 Tentara Israel Tewas Bunuh Diri Selama 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

16 Tentara Israel Tewas Bunuh Diri Selama 2017

Dua belas lainnya meninggal dalam kecelakaan mobil, sembilan oleh tembakan persahabatan, sementara yang lainnya meninggal karena penyakit, serangan oleh militan Palestina dan kecelakaan di pangkalan sendiri.

Pada tahun 2016, 41 tentara tewas, termasuk 15 orang yang bunuh diri. Tentara mengklaim bunuh diri menurun 50 persen dibandingkan dengan awal tahun 2000an.

Namun, jumlah keseluruhan kerugian meningkat lebih dari 30 persen karena 41 tentara tewas pada 2016. Pada 2015, 36 tentara tewas.

PKS Piyungan Taubat

Channel 12 dan Anadolu tidak merincin alasan para tentara ini bunuh diri, apakah karena faktor psikologis, untuk tujuan militer, atau lainnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Fragmen, Tegal PKS Piyungan Taubat

Senin, 01 Januari 2018

STAINU Jakarta Bantu Koordinasi Terbentuknya PCINU Thailand Selatan

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Di sela kunjungan ke STAINU Jakarta, Rabu (29/4) rombongan muslim Thailand Selatan, yakni Pattani, Yala, dan Naratiwat yang dipimpin oleh Dr H Alee Mateh, Lc, MA (Ahli Jawatan Majlis Agama Islam) juga berkunjung ke PBNU dalam rangka silaturrahim dan diskusi tentang perkembangan Islam di Thailand.

STAINU Jakarta Bantu Koordinasi Terbentuknya PCINU Thailand Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Bantu Koordinasi Terbentuknya PCINU Thailand Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Bantu Koordinasi Terbentuknya PCINU Thailand Selatan

Dalam kunjungan ini, STAINU Jakarta juga berupaya membantu dalam mengkoordinasikan tentang rencana membentuk Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand Selatan. Keterangan ini disampaikan dalam rilis yang diterima PKS Piyungan Taubat, Kamis (30/4).

Dalam kesempatan itu, rombongan diterima oleh Sekjend PBNU, Dr H Marshudi Syuhud. Dalam sambutannya, Marsudi menyambut baik kerjasama pendidikan antara lembaga perguruan tinggi NU dengan muslim di Thailand Selatan, salah satunya dengan STAINU Jakarta.?

PKS Piyungan Taubat

“Sesungguhnya tantangan ideologi Islam transnasional yang cenderung radikal serta dalam rangka menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin adalah tantangan umat Islam di dunia. Tentu kami menyambut baik untuk membentuk PCINU Thailand Selatan,” tegasnya.

PKS Piyungan Taubat

Hadir dalam penyambutan dan diskusi terbatas tersebut; Sulthon Fathoni, M.Si (wakil Sekjend PBNU/Sekretaris BP3T NU), Andi Najmi, MH (Ketua Lembaga Bantuan Hukum NU), Imam Bukhori, MPd (Puka I), A Nurul Huda, MPd (Puka III), Aris Adi Leksono, MPd (Puka IV) STAINU Jakarta.?

Kegiatan kunjungan ini diakhiri dengan pemutaran film peran NU dalam Khidmah Kebangsaan dan Keumatan di ruang Media Center PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal PKS Piyungan Taubat

Jumat, 22 Desember 2017

Suhu Politik Memanas, Kapolri: Peran Ulama Mendinginkan

Banten, PKS Piyungan Taubat. Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menilai halaqah ulama yang kerap digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) punya peran penting dalam mendinginkan situasi politik nasional yang kian dinamis.

"Halaqah ulama menjadi penting untuk ikut mendinginkan situasi politik yang terjadi," ujarnya dihadapan peserta Silaturahim dan Dialog Kebangsaan Ulama, Pengasuh Pondok Pesantren, Syuriah PCNU se-Banten, di Pesantren An-Nawawi, Tanara, Serang, Rabu (8/2).

Suhu Politik Memanas, Kapolri: Peran Ulama Mendinginkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Suhu Politik Memanas, Kapolri: Peran Ulama Mendinginkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Suhu Politik Memanas, Kapolri: Peran Ulama Mendinginkan

Di era demokrasi yang terbuka ini, kata Kapolri, dapat memberikan dampak positif tetapi juga dampak negatif. Dampak positifnya adalah terjadinya mekanisme check and balance di dalam sistem pemerintahan. Sedangkan dampak negatifnya adalah kebebasan yang begitu terbuka, sehingga menjadi ancaman keamanan Negara.

NU lanjut Kapolri, memiliki wajah tersendiri. NU dalam perjalanannya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, namun tidak meninggalkan local wisdom (kearifan lokal). NU menurutnya, mampu mengambil peran memberikan pengaruh secara internasional terkait Islam Nusantara, yang oleh pandangan Kapolri sebagai Islam yang ramah, penuh toleransi, damai.

"NU menampilkan wajah Islam yang pengembangannya dengan kata-kata (word) – cara-cara yang santun, bukan dengan pedang (sword)- perang, layaknya perkembangan Islam di kawasan Timur Tengah," tegasnya.

PKS Piyungan Taubat

Ia berharap ke depan NU semakin solid dengan Polri. Bila perlu, kata Kapolri, dibuatkan MoU (Memorandum of Understanding) antara Polri dan NU agar kerjasamanya semakin strategis.

Dalam tataran operasionalisasi, dirinya telah menginstruksikan kepada seluruh tingkatan di jajaran Polri untuk memperkuat peran NU, termasuk Muhammadiyah. Jadi, tegas Kapolri, kegiatan silaturahmi/halaqah di setiap daerah harus didukung. (Tan Malika/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Sejarah, Nahdlatul, Tegal PKS Piyungan Taubat

Minggu, 17 Desember 2017

GP Ansor Kota Tasik Kutuk Keras Aksi Bom Kampung Melayu

Tasikmalaya, PKS Piyungan Taubat - GP Ansor Kota Tasikmalaya mengecam aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta, kemarin malam. Melalui konperensi pers yang dilakukan di Makodim 0612 Tasikmalaya, pengurus harian GP Ansor Kota Tasikmalaya menyampaikan sikapnya terkait aksi teror yang kerap berulang terjadi di Indonesia.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya Ricky Assegaf didampingi Wakil Ketua Opik Taufikul Haq, Wakil Ketua PW Ansor Jabar Asep Rizal dan jajaran Banser menegaskan bahwa aksi tersebut telah mencoreng Islam karena seolah melegalisasi bunuh diri. Padahal Islam tidak mengajarkan dakwah dengan kekerasaan apalagi sampai menghilangkan nyawa dirinya dan orang lain.

GP Ansor Kota Tasik Kutuk Keras Aksi Bom Kampung Melayu (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Tasik Kutuk Keras Aksi Bom Kampung Melayu (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Tasik Kutuk Keras Aksi Bom Kampung Melayu

"Itu cara sesat. Dan tidak dibenarkan oleh Islam apapun dalihnya," kata Ricky, Kamis (25/5) malam.

PKS Piyungan Taubat

Untuk itu, Ricky mengutuk keras segala tindakan aksi teror karena bukan hanya Islam, agama lain pun tidak ada yang mengizinkan aksi bunuh diri dan membunuh orang lain.

Opick Taufikul Haq menjelaskan kenapa GP Ansor memilih tempat konperensi pers di Markas Kodim. Hal ini sebagai penegasan bahwa Ansor, Banser dan TNI senantiasa bersama-sama mempertahankan NKRI karena tujuan aksi teror sudah jelas ingin memecah belah bangsa dengan maksud merubah tatanan ideologi bangsa pula.

"Maka kami mendukung penuh upaya TNI dan Polri mengusut tuntas kasus ini dan jangan sampai terjadi kembali di tanah air karena tujuan mereka ingin mengacau keamanan negara," ujarnya.

PKS Piyungan Taubat

Ia mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas terkait penanganan terorisme ini karena terorisme bermula dari gerakan radikalisme yang diakui menjamur di Tasikmalaya.

"Bibit terorisme itu radikalisme. Cirinya mereka kerap menyerang Muslim yang berbeda pandangan yang sampai mengafirkan sesama Muslim," tuturnya. (Nurjani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Nasional, Tegal PKS Piyungan Taubat

Jumat, 15 Desember 2017

PMII UINSA Gelar Istigotsah Kubro Doakan Muktamar NU Berjalan Lancar

Surabaya, PKS Piyungan Taubat. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah Komisariat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar istighotsah kubro dan dzikir bersama. Acara ini bertujuan mendoakan agar Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU)? di Jombang berjalan lancar hingga akhir.

PMII UINSA Gelar Istigotsah Kubro Doakan Muktamar NU Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UINSA Gelar Istigotsah Kubro Doakan Muktamar NU Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UINSA Gelar Istigotsah Kubro Doakan Muktamar NU Berjalan Lancar

Ketua PMII Rayon Dakwah UINSA Hoiron Kasir mengatakan, PMII dan NU tidak dapat dipungkiri memiliki keterkaitan secara historis, ideologis, nilai, asas, dan tujuan organisasi. Untuk itu, situasi kondusif dan suksesnya muktamar NU juga menjadi harapan besar keluarga besar PMII seluruh Indonesia.

“PMII dan NU memang sangat dekat relasinya meskipun tidak berkaitan secara struktural. Kami senantiasa berdoa kepada Allah agar para kiai dan muktamirin diberi petunjuk hingga menghasilkan keputusan bernilai maslahat bagi seluruh umat sekaligus menunjuk Ketua Umum PBNU baru yang amanah,” katanya usai acara istigotsah di Masjid Ulul Albab UINSA, Selasa (4/8) malam.

PKS Piyungan Taubat

Muktamar NU, menurutnya, tidak hanya membahas terkait mekanisme pemilihan pemimpin. Lebih dari itu, sejumlah hal yang tidak kalah penting untuk dikaji adalah soal penyelenggaraan pilkada yang murah dan berkualitas, sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat, memperpendek masa tunggu calon jamaah haji dan pengelolaan keuangan haji, perlindungan TKI dan pencatatan nikah bagi mereka yang beragama Islam, perbaikan pengelolaan BPJS ketanagakerjaan dan kesehatan.

PKS Piyungan Taubat

“Masyarakat Indonesia kini menunggu keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan muktamar NU. Apalagi persoalan bangsa sudah sangat kompleks dan perlu diselesaikan secara bersama-sama,” tandasnya.

Pada acara istigotsah yang dimulai pukul 19.30 WIB itu, sekitar 200 jamaah terdiri dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat terlihat sangat khusyuk dan khidmat berdzikir dipandu oleh KH Suis Qoim Abdullah. Beberapa jamaah bahkan tak kuat menahan haru hingga meneteskan air mata. (Lukman Hakim El Baqeer/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Anti Hoax, Tegal PKS Piyungan Taubat

Kamis, 14 Desember 2017

Pelajar NU Peringati Harlah ke-60

Jakarta,PKS Piyungan Taubat. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggelar peringatan hari lahir (Harlah) ke-60 di aula Perpusatakaan Nasional, Jakarta pada Senin malam (24/2). Kegiatan yang digelar pimpinan pusat pelajar NU tersebut bertema “60 Tahun Berkhidmah untuk Indonesia”.

Kegiatan yang diikuti Pimpinan Wilayah IPNU itu diisi pidato Ketua Umum PP IPNU Khaerul Anam, stadium general Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia Letjeend Sjafrie Sjamsoeddin dan taushiyah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pelajar NU Peringati Harlah ke-60 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Peringati Harlah ke-60 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Peringati Harlah ke-60

Sebagai bentuk penghargaaan kepada para pengabdi organisasi, PP IPNU memberikan plakat kepada mantan-mantan Ketua Umum IPNU dari periode awal sampa periode terakhir.

PKS Piyungan Taubat

“Bagaimanapun juga, 60 persen hidupnya (mantan-mantan Ketua Umum IPNU) dihabiskan di organisasi. Harus kita apresiasi atas pengabdiaannya,” kata Ketua Umum PP IPNU Khaerul Anam.

Rangkain Harlah

PKS Piyungan Taubat

Menurut Anam, beberapa rangkaian kegiatan peringatan harlah telah dilakukan mulai dari pra-Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan mengadakan capacity building pemuda dan pelajar Indonesia di Salatiga dan Bogor.

Kemudian pra-Rakernas kedua dialaksanakan di Permata Hotel, Bogor, pada 13-15 Desember 2013.  pra-Rakernas Corp Brigde Pembangunan (CBP) PP IPNU di Grobogan, Jawa Tengah, pada 27-29 Desember 2013.

Kemudian laga futsal bertema Rembuk Persaudaraan Pelajar Indonesia yaitu PP IPNU, PP Pelajar Islam Indonesia (PII), dan PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), di Jakarta, 23 Januari 2014. Selanjutnya turnamen bulutangkis pelajar se-Jabodetabek kerjasama PP IPNU dengan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Istora Senayan, Jakarta, 21-23 2014.

Kemudian puncak peringatan hari lahir IPNU ke-60 digelar di aula Perpusnas, Jakarta, 24 Februari 2014. Setelah itu dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang akan berlangsung di Jakarta mulai tanggal 24 sampai 27 Februari. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kiai, Doa, Tegal PKS Piyungan Taubat

Kamis, 07 Desember 2017

Jihad Pagi Bahas Manisnya Ibadah

Pringsewu, PKS Piyungan Taubat. Sebagai salah satu cara Allah memberikan rahmat-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya adalah dengan memberikan tugas atau kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap makhluq-Nya. Dengan kewajiban-kewajiban yang diberikan ini banyak makhluq seperti manusia merasa berat untuk melakukannya.

Jihad Pagi Bahas Manisnya Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Pagi Bahas Manisnya Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Pagi Bahas Manisnya Ibadah

Padahal jika kewajiban itu dilakukan orang yang beriman dan diberi rahmat-Nya, maka kewajiban itu tidak akan menjadi beban berat. Sebaliknya, kewajiban yang dilakukannya akan berubah menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa.

Demikian penjelasan KH Sujadi Saddad ketika menjadi pemateri tafsir Al-Quran pada Kegiatan Jihad Pagi (Ngaji Ahad Pagi) yang rutin dilaksanakan di Gedung NU, Ahad (8/11). Dalam Jihad Pagi yang dimulai tepat pada pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 07.00 WIB ini, ia menjelaskan tafsir lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

PKS Piyungan Taubat

Lebih lanjut Abah Sujadi menjelaskan bahwa dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Allah SWT menyimpan sesuatu yang belum kita ketahui. "Kewajiban-kewajiban kita selaku makhluq-Nya seperti beribadah tidak berarti memberatkan dan mempersulit kita. Allah akan mempermudah kepada semua yang telah diciptakan-Nya," tegasnya.

PKS Piyungan Taubat

Abah Sujadi mencontohkan hal ini dengan bentuk pendidikan orang tua kepada anak-anaknya. "Cara orang tua mendidik anaknya terkadang terkesan membebani anak. Dengan bentuk aturan yang ketat, orang tua tidak bosan-bosan mengingatkan bahkan terkadang memarahinya dan memberi hukuman kepada anaknya," katanya.

Namun di balik semua itu, ada hal yang terkadang jarang diketahui oleh anak-anaknya. "Membuat peraturan, mengingatkan, memarahi dan pemberian hukuman merupakan wujud kasih sayang orang tua kepada putra-putrinya," lanjut Mustasyar PCNU Pringsewu ini.

Di akhir Jihad Pagi itu, Abah Sujadi memberikan ijazah berupa dzikir agar hati tenang dan jiwa lapang dalam mengarungi kehidupan di dunia. "Baca ayat Al-Quran surat Al-Fajri ayat 27 dan 28 sebanyak 101 kali. Yang 100 dibaca biasa dan yang 101 dibaca sambil menyilangkan kedua tangan di dada," jelasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Sejarah, Tegal PKS Piyungan Taubat

Rabu, 06 Desember 2017

Tak Ada yang Mendidik Nabi Muhammad Selain Allah

Abdullah mengikat janji setia dengan Aminah sebagai suami dan istri. Usai akad nikah, satu minggu lamanya mereka tinggal di rumah orang tua Aminah. Lalu mereka pindah ke rumah yang disediakan Abdul Muthalib. Rumah yang lumayan luas, sembilan kali dua belas meter persegi. Tak lama berada di rumah itu. Mungkin hanya seminggu.

Karena keadaan yang memaksa, Abdullah harus berangkat ke Syam untuk kepentingan bisnis keluarga besar. Perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Ribuan kilometer jarak antara Mekkah dan Syam ditempuh dengan kendaran unta.

Dalam perjalanan pulang menuju Mekah, Abdullah meninggal dunia ketika sang istri (Aminah) sedang mengandung janin yang baru berumur dua bulan. Beberapa bulan kemudian, Aminah melahirkan. Bayi laki-laki itu diberi nama Muhammad.

Tak Ada yang Mendidik Nabi Muhammad Selain Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada yang Mendidik Nabi Muhammad Selain Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada yang Mendidik Nabi Muhammad Selain Allah

Namun, Aminah tak ditakdirkan mengasuh sang anak hingga dewasa. Sebagaimana sang suami, Aminah juga meninggal dunia dalam perjalanan pulang bersama Muhammad dari Madinah ke Mekkah. Hanya ditemani seorang budak bernama Barakah, Muhammad kecil pulang ke Mekah.

Muhammad kecil menjadi yatim piatu. Ia tak pernah menyaksikan ketampanan wajah ayahnya dan hanya sebentar diasuh ibundanya, Aminah. Selanjutnya ia diasuh kakeknya hingga sang kakek meninggal dunia, ketika Muhammad berumur 8 tahun.

Ia kemudian diasuh pamannya (Abu Thalib), hingga Muhammad menikah dengan Khadijah. Ketika Nabi SAW banyak mengalami intimidasi dari orang-orang musyrik Mekkah, sang paman dan sang istri meninggal dunia.

PKS Piyungan Taubat

Ketika ditanya soal perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah pengasuhan ini, Nabi Muhammad menjawab, “begitulah cara Allah mendidikku”, sehingga tak ada satu orang pun yang sangat berpengaruh dalam hidupku termasuk orang tuaku sendiri”. Ketergantungan Nabi SAW memang hanya pada Allah, bukan pada selain-Nya.

Abdullah dan Aminah datang ke dunia hanya sebagai sebab bagi lahirnya sang manusia sempurna, Nabi Muhammad SAW. Tak ada yang mendidik Nabi SAW selain Allah SWT. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ali Muhammad.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal PKS Piyungan Taubat

Selasa, 05 Desember 2017

Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat

Cianjur, PKS Piyungan Taubat - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengadakan pendidikan istinbathul ahkam (proses pengambilan keputusan dalam hukum Islam) di Pondok Pesantren Ar-Riyadh, Kabupaten Cianjur. Selama dua hari, Sabtu-Ahad (11-12/3), pengurus harian LBM PBNU menjelaskan teknik-teknik musyawarah, teknik menghadapi masalah, dan juga cara membuat rekomendasi ala NU.

Tampak hadir sebagai narasumber Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, Sekretaris LBM PBNU KH Sarmidi Husna, dan Wakil Ketua LBM PBNU KH Mahbub Ma’afi.

Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat

Peserta pendidikan istinbathul ahkam berjumlah sebanyak 150 orang. Peserta terdiri atas pengurus harian PCNU Bogor, PCNU Depok, PCNU Cianjur, PCNU Sukabumi, dan utusan pesantren di Priyangan Barat. Peserta terdiri atas kalangan pria dan wanita.

Menurut Sekretaris LBM PBNU Kiai Sarmidi, pendidikan ini berangkat dari keterbatasan SDM bahtsul masail yang ada sekarang ini. Sementara pesantren-pesantren yang memproduksi santri dengan kompetensi berbahtsul masail juga mulai berkurang.

PKS Piyungan Taubat

“Sangat urgen untuk melakukan pelatihan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail di PCNU ataupun pesantren-pesantren yang kegiatan bahtsul masailnya kurang maksimal,” kata Kiai Sarmidi kepada PKS Piyungan Taubat di Cianjur, Sabtu (11/3) pagi.

Pendidikan seperti ini, kata Kiai Sarmidi, merupakan upaya regenerasi dan kaderisasi pelaksanaan bahtsul masail guna menjaga eksistensi bahtsul masail. Kita juga mengakhiri pendidikan ini dengan praktik istinbathul ahkam yang mengangkat kasus kekinian.

PKS Piyungan Taubat

“Pendidikan ini merupakan program utama LBM PBNU. LBM PBNU akan terus berkeliling daerah untuk menggelar pendidikan istinbathul ahkam ini,” katanya.

Kiai Sarmidi kemudian mengutip pernyataan Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudz tiga periode sejak Muktamar NU 1999 bahwa bahtsul masail adalah sebuah tradisi yang harus terus-menerus dijaga eksistensi dan kesinambungannya dari waktu ke waktu, bukan saja karena ia adalah salah satu batu asah intelektual NU, tetapi juga karena ia memegang fungsi dan peran penting sebagai media yang menciptakan, menjaga, dan memelihara kesinambungan hubungan antara wahyu yang absolut dengan realitas kehidupan yang kompleks dan riil. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal, Nasional PKS Piyungan Taubat

Senin, 27 November 2017

PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD

Majalengka, PKS Piyungan Taubat. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Majalengka mengadakan pelatihan kader dasar (PKD) tingkat Kabupaten Majalengka dengan tema membentuk kesadaran kader yang berkeadaban, beradab, dan menyejarah yang berlangsung dari Jumat-Senin, (16-19/9) bertempat di aula PCNU Majalengka.

PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD

Ketua panitia Wanding Ahmad Nurdin kegiatan ini untuk menggalang kembali para kader PMII pemula. dari tiap kader PMII diharuskan untuk mensinergikan program dari gerakan membaca ke analisis.

“Sebenarnya kegiatan mahasiswa yaitu membaca dan melihat (analisis, red) karena mahasiswa bagian struktur yang tertinggi dalam pengetahuan. Selain itu, kegiatan ini untuk melahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah,” ujar guru Penjas itu.

Lanjut Wanding, selain itu, mahasiswa merupakan struktur tertinggi dalam bagian ilmu pengetahuan begitu juga PMII salah satu pergerakan maka inilah minatur lahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah,” kata Alumi PMII ini

“Selain itu, gerakan mahasiswa dan segala merupakan struktur tertinggi dalam bagian ilmu pengetahuan begitu juga PMII salah satu pergerakan maka inilah minatur lahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah,” kata laki-laki berkacamata ini. (Tata Irawan/Fathoni)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Amalan, Tegal PKS Piyungan Taubat

Minggu, 26 November 2017

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN

Wonosobo, PKS Piyungan Taubat. Study Club Generasi Unggulan (STUC General) Kabupaten Wonosobo mecoba membantu kader-kader NU yang potensial di Kabupaten Wonosobo supaya bisa lolos masuk perguruan tinggi negeri (PTN). 

Untuk kepentingan itu, Kelompok Bimbingan Belajar tersebut tengah mempersiapkan kegiatan Pasantren Kilat Sukses Masuk PTN 2013 atau Karantina Intensive Sukses SBMPTN (KISS) di Asrama Pesantren Al Mansur Kauman, Kabupaten Wonosobo, Jum’at (10/5).

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN

Ketua Penyelengara KISS Stuc General Kabupaten Wonosobo Ubaidillah Faqih mengatakan bimbingan ini bertujuan untuk mendampingi pelajar atau kader-kader NU di Wonosobo yang pintar sehingga mampu masuk atau menembus pada perguruan tinggi negeri (PTN).

PKS Piyungan Taubat

“Secara akademik, pelajar yang lolos seleksi akan diberi kiat-kiat mengerjakan tes masuk dengan didampingi tutor yang mumpuni. Selain itu, kami juga bekali dengan pelatihan-pelatihan,” tambahnya.

Dijelaskan, kegiatan KISS ini juga membangun mental pelajar seraya memberikan wawasan ke-NU-an maupun Aswaja. Sehingga ketika diterima di PTN tidak mengalami kebingungan termasuk mengikuti organisasi ekstra kampus yang berbasis Nahdlatul Ulama. 

PKS Piyungan Taubat

“Selain mendorong masuk PTN melalui program beasiswa Bidik Misi yang diprogramkan Mendikbud, pendampingannya dilakukan sampai pada Ospek hingga masuk di PTN nanti,” terang  Faqih.

Ia menjelaskan program kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2011 dengan nama pesantren kilat (Sanlat). Untuk sekarang berubah nama menjadi Karantina Intensive Sukses SBMPTN (KISS).  

“Pada tahun 2013 ini pesertanya meningkat menjadi 20 yang tersebar di seluruh Kabupten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung,” jelasnya. 

Terkait peserta KISS, Faqih menerangkan sebagai pra syaratnya adalah pelajar atau kader-kader NU yang potensial. Sedang jumlah peserta targetnya menerima dua kelas atau maksimal 30 siswa. 

“Kita akan menyeleksi secara ketat, pelajar atau kader NU yang  pintar menjadi prioritas utama program ini,” imbuhnya. 

 

Redaktur  : Mukafi Niam

Kontriutor: Fathl Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal, Internasional PKS Piyungan Taubat

Kamis, 16 November 2017

Kemeriahan Berlangsung Jelang Konfercab Ke-14 PCINU Sudan

Khartoum, PKS Piyungan Taubat. Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Khartoum Sudan akan mengadakan Konferensi Cabang (Konfercab) ke-14, Sabtu (18/4) ini, di aula Muktamar Jamiyah al-Quran al-Karim. Namun, suasana kemeriahan sudah terlihat sejak sepekan sebelum forum musyawarah tertinggi tingkat cabang ini.

Jumat (10/4) waktu setempat, pengajian rutin dwi-mingguan "Al Hijrah" terselenggara di Aula H Agus Salim KBRI Khartoum Sudan dan dihadiri jamaah NU Sudan yang terdiri dari berbagai kalangan seperti mahasiswa dan tenaga kerja Indonesia (TKI).

Kemeriahan Berlangsung Jelang Konfercab Ke-14 PCINU Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemeriahan Berlangsung Jelang Konfercab Ke-14 PCINU Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemeriahan Berlangsung Jelang Konfercab Ke-14 PCINU Sudan

Pengajian "Al Hijrah" merupakan salah satu agenda unggulan Lembaga Dakwah PCINU Sudan, yang menjadi sarana bagi pengurus NU setempat untuk mendekati dan melakukan gerakan sosial terhadap warganya di Sudan.

PKS Piyungan Taubat

Sebelumnya, pelatihan IT (informasi dan teknologi) lebih dulu digelar Sabtu (11/4) dengan peserta mayoritas mahasiswa. Kegiatan ini dihelat Lajnah Talif wa Nasyr (LTN) PCINU Sudan dan menjadi program terakhir LTN-PCINU Sudan periode kepengurusan ini. Pada pelatihan yang diadakan di Hall PCINU Sudan ini, pemateri, Radhi Harisca, mengulas tips dan trik kreatif menggunakan Microsoft Word.

Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) pun sukses menyelenggarakan "Gema Sholawat dan Pengajian Akbar bersama Dr. Alfatih Ali Hasanain". Al-Fatih adalah salah satu mustasyar PCINU Sudan yang kini menjabat sebagai salah satu penasihat presiden Omar al-Bashir. Acara berlangsung semarak di kediaman Dr. Alfatih Ali Hasanan dan diikuti sebagian besar warga NU di Sudan.

PKS Piyungan Taubat

Al-Fatih menyambut baik acara ini, bahkan berharap ia sesering mungkin ia mendengarkan shalawat tersebut. "Bisa tidak kita bikin acara shalawatan dengan rebana ini setiap hari di rumahku?" katanya yang disambut haru para pengurus PCINU Sudan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Humor Islam, Fragmen, Tegal PKS Piyungan Taubat

Kamis, 26 Oktober 2017

Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang?

Jakarta, PKS Piyungan Taubat



Ketua Badan Pelaksana Perguruan Tinggi Nahdaltul Ulama (BPPTNU) KH Mujib Qulyubi ? mempertanyakan adakah korelasi antara tingkah laku dan cara berpikir seseorang ketika dewasa dengan pendidikan yang didapatnya saat usia dini?

Pertanyaan itu disampaikannya saat membuka Seminar Nasional “Prospek dan Tantangan Guru PAUD pada Era Global” yang digelar Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) di Auditorium PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (29/4).

Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang?

“Sekali lagi saya ingin tanyakan, adakah korelasi maksimal anak-anak yang mengikuti pendidikan dini dengan ketika sudah dewasa? Kalau ada, maka tantangan kita saat ini adalah menanamkan rasa cinta agama sekaligus cinta tanah air dan bangsa kepada anak-anak usia dini,” urai Kiai Mujib.

Kiai Mujid menyebut realitas saat ini menyatakan di lima negara di Timur Tengah yaitu Siria, Afganistan, Irak, Somalia, dan Yaman belum juga kunjung damai, padahal di sana banyak kiai, ulama, dan PAUD.

“Pihak-pihak yang ada, hari ini bersama-sama tetapi di kesempatan lain bisa saling bermusuhan. Pimpinan dan orang-orang dewasa di sana menanamkan kepada jamaah agar mencintai agama lebih besar daripada kepada bangsa,” papar kiai yang juga Khatib Syuriah PBNU.

PKS Piyungan Taubat

Kiai Mujib menegaskan pada titik itulah PAUD di Indonesia harus mendesain sedemikian rupa pola dan sistem pengajaran agar peserta didik memiliki kecintaan kepada negara, selain kepada agama, seperti yang dikembangkan di Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

“Banyak yang mencirikan bahwa orang Islam yang melakukan istighotsah, membaca doa qunut saat salat subuh, tawasul, atau tahlilan adalah pengikut NU. ? Itu betul, tetapi tak sempurna bila tidak masuk ke kepribadian NU. Anak didik yang sesuai dengan NU diajarkan dua pilar, ada harakah (gerakan), ada fikrah (pemikiran),” lanjutnya.?

Kaitannya dengan PAUD ke depan, Kiai Mujib menyebut harakah NU meliputi berbagai dinamika seperti ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.?

PKS Piyungan Taubat

“Sementara fikrah ideologi akidah anak didik kita bekali militansi akidah yang betul menurut aswaja,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kiai, Doa, Tegal PKS Piyungan Taubat

Rabu, 18 Oktober 2017

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Keputusan untuk berkiprah dalam organisasi tanpa melalaikan kewajiban sebagai Ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Namun, hal itulah yang dilakukan Nyai Solichah Saifuddin Zuhri. Mertua KH Salahuddin Wahid ini berprinsip aktif dalam sebuah organisasi tak harus meninggalkan peran utama dalam keluarga.

Karena itu pula, dia selalu mengajak anak-anaknya dalam kegiatan organisasi yang dia lakukan. Seperti saat kampanye Pemilu 1955, saat itu Nyai Solichah diberi tanggung jawab sebagai Juru Kampanye (Jurkam) NU (ketika masih menjadi partai politik) keluar daerah. Bertepatan kala itu dia punya momongan yang masih kecil, yakni seorang putri berusia 10 tahun bernama Farida dan adiknya yang masih bayi bernama Baihaqi.

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Meski berada di panggung kampanye, Nyai Solichah tetap membawa kedua anaknya menghadiri undangan rapat kampanye. Alhasil, Nyai Solichah berpidato sementara si kecil Baihaqi digendong sang kakak tanpa bantuan baby sitter. Hal itu sebagai bukti kemandirian sosok Nyai Solichah Saifuddin Zuhri.

Memang, selama hidupnya Nyai Solichah berpandangan bahwa kaum perempuan harus bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Selain itu, seorang perempuan harus menguatkan kehidupan keluarganya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berkarir atau pun berorganisasi. Karena tanggung jawab sebagai Ibu Rumah Tangga menjadi tanggung jawab utama. Karena prinsip-prinsip yang dia pegang itu lah tak ayal dia tetap membawa Sang Anak kala beraktivitas dalam organisasi.

PKS Piyungan Taubat

Keterlibatan Nyai Sholihab dalam Muslimat NU dimulai dari bawah ketika menjadi Ketua Muslimat NU wilayah Jawa Tengah tahun 1950-1955. Baru sekitar 1956-1989, dia dipercaya sebagai salah satu ketua di PP Muslimat NU. Bahkan hingga Nyai Solichah wafat 6 Maret 1990, beliau masih berstatus sebagai pengurus PP Muslimat NU.

Kiprahnya dalam Muslimat NU tampak di bidang kesehatan. Dia pernah menjabat sebagai Direktris Rumah Bersalin Muslimat NU di Hang Tuah, Jakarta Selatan. Rumah bersalin itu dibangun di atas tanah wakaf suaminya KH Saifuddin Zuhri. Meski menjadi bagian dari Direktris, dia tetap menjalankan hobinya dalam hal menjahit dan berkebun.

PKS Piyungan Taubat

Dari perkawinannya dengan KH Saifuddin Zuhri, Nyai Solichah dikaruniai 10 anak yakni Fahmi D Saifudin, Farida Salahuddin Wahid, Annisa S Hadi, Aisyah Wisnu, Andang Fatati, Ahmad Baehaqi Saifudin, Yulia Nur Soraya, Annie Lutfia, Adib Daruqutni, dan Lukman Hakim Saifudin yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI. (Mahbib)

Diolah dari buku "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal, Syariah PKS Piyungan Taubat

Minggu, 08 Oktober 2017

Cara Kai Umar Mangkuyudan Tanggapi Bayi yang Rewel

Suatu ketika ada salah satu cucu Kiai Umar bin Abdul Mannan asal Mangkuyudan, Solo, yang sangat rewel. Bahkan, setiap hari orang tuanya harus begadang hingga dini hari karena ulah sang bayi yang selalu menangis tersedu. Penyebabnya pun tak diketahui dengan jelas dan berbagai cara yang telah dilakukan orang tua dalam rangka menenangkan sang buah hati, juga tak menuai hasil sama sekali.

Merasa tak tahan terhadap sikap sang anak, orang tua tersebut berinisiatif untuk sowan kepada Kiai Umar agar disuwuk, didoakan supaya sang bayi mendapat ketenangan. Ia kemudian matur kepada kiai, "Mbah niki pripun,putra kula kok rewel sanget (Mbah ini bagaimana, kok anak saya rewel sekali)?”

Cara Kai Umar Mangkuyudan Tanggapi Bayi yang Rewel (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Kai Umar Mangkuyudan Tanggapi Bayi yang Rewel (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Kai Umar Mangkuyudan Tanggapi Bayi yang Rewel

Mendengar aduan orang tua sang bayi, Kiai Umar malah tersenyum dan menimang-nimang bayi tersebut. Kemudian ia berkata, "Iki ora nangis iki, bayi iki lagi nderes, lagi ngaji. Ayo sing banter ngajine, ayo sing kenteng nderese! (Bayi ini (hakikatnya) tidak sedang menangis, bayi ini sedang mendaras Al-Qur’an. Ayo yang keras ngajinya, ayo yang kuat tadarusnya!),” kata Kiai Umar seraya mengelus-elus sang bayi.

Mendengar hal tersebut, kedua orang tua tersebut hanya bisa mengamini saja. Berharap apa yang dikatakan kiai pengasuh Pesantren Al Muayad Mangkuyudan Solo ini menjadi doa yang terkabul di kemudian harinya.

PKS Piyungan Taubat

Dan ternyata benar. Seiring berjalannya waktu. Sang bayi tumbuh menjadi pribadi yang cinta akan Al-Qur’an. Hal itu terbukti dengan berhasilnya ia mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz, di usianya yang masih belasan tahun.

PKS Piyungan Taubat

Dari kisah tersebut dapat diambil hikmah bahwa dalam menanggapi kenakalan buah hati—atau segala sesuatu yang timbul darinya yang tak mengenakkan hati—sebaikanya ditanggapi dengan kata-kata yang positif. Jangan malah mengelurkan kata-kata kotor atau mengumpat sang anak, yang bisa jadi itu malah menjadi doa buruk yang terkabulkan. Naudzubillah. (Ulin Nuha Karim)

Kisah ini pernah dituturkan Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan, KH Muhammad Shofi Al Mubarok yang juga salah satu cucu KH Umar bin Abdul Mannan Solo.



Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tegal PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 07 Oktober 2017

PCINU Maroko Terima Kunjungan Biro Kerjasama PBNU

Tanger, PKS Piyungan Taubat. Setelah lapor diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Maroko, Achmad Sudrajat Wakil Biro Kerjasama Timur Tengah dan Pengembangan SDM bertolak menuju Tanger untuk mengunjungi mahasiswa delegasi NU yang sedang merampungkan studinya di Institut Imam Nafie-Tanger.

PCINU Maroko Terima Kunjungan Biro Kerjasama PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Terima Kunjungan Biro Kerjasama PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Terima Kunjungan Biro Kerjasama PBNU

Dalam kunjungannya, Ajat berencana mengusahakan beasiswa tambahan bagi kader-kader NU untuk melanjutkan studi di Maroko. “Situasi dan kondisi di sini sangat menunjang untuk menuntut ilmu,” ujarnya.

Sekjen Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko, Rifqi Maula mengatakan, berbagai program KBRI di bawah kepemimpinan Tosari Widjaya memang berusaha mengangkat kembali jembatan peradaban yang dulunya menghubungkan kedua negara. ? Jadi, ? lanjut Rifqi, meski mahasiswa di Maroko terbilang masih sedikit namun kedatangannya sangat disambut.?

PKS Piyungan Taubat

Kunjungan yang bersifat kekeluargaan itu memang merupakan agenda Biro Kerjasama Timur Tengah dan Pengembangan SDM untuk menyambangi para kader NU baik yang sedang menempuh studi regular maupun kelas Internasional STAINU.

PKS Piyungan Taubat

Berlangsung selama lebih dari satu jam obrolan diisi dengan pemaparan berbagai program PBNU dan PCINU Maroko, untuk pengurus pusat ? yang terkait dengan pengembangan SDM semisal target 1000 Doktor yang ingin dicapai Ketua Umum PBNU Kh Said Aqil Siroj hingga pengadaaan Nahdlatul Ulama Development Scholarships semacam ADS (Australian Development Scholarships)-nya NU.

“Untuk program kami tahun ini adalah muktamar internasional antara Ulama Indonesia dan Maroko,” papar Muannif Ridwan mewakili PCINU Maroko. “Acara ini memang selaras dengan tema besar program KBRI yang ingin mengembalikan hubungan antara kedua negara yang sempat terputus,” tambahnya.

meski hanya beberapa hari di Maroko, Ajat berencana memaksimalkan kunjungannya, setelah di Tanger ia dijadwalkan menuju Kinetra untuk menemui Direktur Univ. Ibnu Thufail.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Fragmen, Tegal PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock