Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj atau yang akrab disapa Kang Said menyayangkan kasus kekerasan berupa pembangkaran rumah ibadah umat Kristen di Aceh Singkil. Dia menegaskan, semestinya hal tersebut tidak selayaknya terjadi.

“Kasus intoleransi, apalagi terkait kekerasan fisik tidak selayaknya terjadi di Indonesia yang merupakan bangsa santun, ramah, berdab, dan berbudaya,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara pembukaan Nahdlatul Ulama Cultural and Business (NUCB) Expo 2015 yang digelar oleh LTMNU, Rabu (14/10) di Gedung Smesco UKM, Jl Gatot Subroto Jakarta.

Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Sebut Kekerasan di Aceh Singkil Tak Perlu Terjadi

Jauh sebelum Islam datang di wilayah Nusantara, kata Kang Said, bangsa Indonesia sudah mempunyai budaya yang beragam dan peradaban yang bisa dikatakan cukup maju. Seluruh keyakinan agama menyatu hingga memberi spirit nilai terhadap budaya di negeri ini.

PKS Piyungan Taubat

“Islam yang disebarkan ke Nusantara oleh para Wali Songo tidak dengan kekerasan, melainkan disebarkan secara damai dengan tetap mempertahankan identitas kultural Nusantara,” jelas Kiai asal Kempek Palimanan, Cirebon, Jawa Barat ini.

Sebab itu, lanjutnya, Islam di Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri sehingga disebut Islam Nusantara. Yaitu Islam yang membawa Rahmat di tengah keberagaman, terbuka (inklusif), dan tidak anti-budaya, ramah, toleran, moderat, serta tetap berada di jalur kebenaran syariat.

PKS Piyungan Taubat

“Sehingga melalui budaya, Islam menjadi kuat dan tradisi pun terpelihara dengan baik sebagai identitas Indonesia. Dan yang pasti, Islam Nusantara menolak budaya negatif sebagaimana yang terlarang dalam agama,” tegas Pengajar Tasawuf di Program Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Hadir dalam pembukaan expo ini, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani, Menristek Dikti, H Muhammad Nasir, Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang, Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, Ketua LTMNU, KH Mansyur Syaerozi, Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen, perwakilan dari Kedutaan Negara sahabat, ulama dari Mesir, Tunisia, Maroko, Turki, dan para pengelola masjid dari berbagai daerah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Kamis, 01 Februari 2018

Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini

H. Helmy Faishal Zaini, mantan menteri PDT dipercaya menjadi sekretaris jenderal PBNU periode 2015-2020. Dengan pengalamannya dalam berbagai bidang dan jaringannya yang luas, ia diharapkan mampu turut menjalankan bisi, misi, dan program yang menjadi amanat NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang mengayomi puluhan juta pengikutnya. Bagaimana ia melihat NU ke depan, berikut wawancara dengan Mukafi Niam di ruang kerjanya di lt3 gedung PBNU, Jum’at (28/8).

Sebagai orang yang diberi amanah untuk menjalankan peran sekjen PBNU, bagaimana Mas Helmy melihat NU ke depan?.
Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini

Ada tiga hal yang menurut saya menjadi PR besar yang akan terus relevan dengan perkembangan dunia yang dinamis. Pertama adalah langkah yang disebut deradikalisasi. Ini meliputi tiga level, yaitu level fikrah, kedua, haraqah, ketiga amaliahnya. Upaya deradikalisasi harus dimulai dari perspektif pikirannya atau pada manhaj-nya. Kalau haraqah harus ada aksi kegiatannya sedangkan pada tataran amaliah dengan menjaga tradisi yang sudah ada. Ini pekerjaan yang menjadi fokus kita. Banyak orang berpikir dan berharap terhadap NU tentang ini. 

Selanjutnya apa? . Pekerjaan rumah kedua adalah mengambil anak muda. Ini kan generasi indie, ada anak band, Superman is Dead dan lainnya yang menurut saya punya grass root yang kuat. Mereka harus tahu bagaimana itu NU dan mereka jumlahnya besar. Jadi sangat penting bagaimana kita membuat pola transformasi yang bisa masuk ke lapis anak muda tersebut. Mereka juga harus jadi NU, paling tidak punya kesadaran tentang NU. 

PKS Piyungan Taubat

Yang ketiga apa Mas?. Pekerjaan ketiga adalah karena ini organisasi ulama, maka harus punya perencanaan yang matang dalam konteks memproduksi para ulama pewaris nabi. Ulama yang ideal adalah yang mewarisi sifat-sifat kenabian. Dalam konteks leadership-nya, amanah, fathanah, siddiq, dan tabligh. 

PKS Piyungan Taubat

Dulu kita punya pola pengembangan kader keulamaan. Ini kan dalam tanda petik meng-upgrade atau mensosialisasikan ide-ide besar NU itu apa, agar mereka satu pemahaman dan satu visi. Ini tugasnya syuriyah yang dijalankan oleh tanfidziyah. 

Mengenai rekomendasi dan program hasil muktamar bagaimana?. Adapun pekerjaan yang bersifat rekomendasi dan program muktamar, kita akan konsen pada tiga hal. Pendidikan dengan fokus pada pendidikan menengah dan tinggi. Kedua bidang kesehatan dengan memberikan fasilitasi ruang pelayanan kesehatan pada warga NU, dan ketiga pada pengembangan ekonomi kerakyatan. 

Apa langkah dalam pengembangan ekonomi kerakyatan?. Ekonomi kerakyatan ini kita definisikan dalam dua basis. Pertama adalah basis produksi yang berasal dari sektor voluntary, yang bersifat partisipasif, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Bagaimana hal ini dikelola secara baik sehingga menghasilkan sesuatu untuk pengembangan pendidikan, keagamaan, kemudian layanan sosial. Ke depan bisa untuk mengembangkan rumah sakit, beasiswa, dll. Ini harus dikelola secara baik.

Model kedua, yang sifatnya reguler, dengan mengembangkan investasi berbasis komunitas unggulan yang dimiliki pesantren. Ini misalnya yang dilakukan oleh pesantrennya Al Ittifaq di Ciwidey Bandung. Kemudian yang dilakukan oleh Kiai Nawawi Sidogiri dengan pengembangan BMT Sidogiri. Pola ini yang harus dikembangkan di pesantren-pesantren lain sebagai pusat produksi dan pertumbuhan ekonomi. Ini kalimatnya kan sederhana tetapi rumit dalam pelaksanaannya. Bisa menjalankan ini saja sudah luar biasa. 

Anda mulai terlibat di NU sejak IPNU, pola pengkaderan dulu kan berbeda dengan sekarang seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup?. Saya mulai berorganisasi dari di IPNU tingkat PAC dan PC Cirebon, sempat juga menjadi anggota PMII, juga di Ansor. 

Untuk strategi dakwah, yang bersifat akidah tak bisa kompromi, tetapi soal cara bisa berkompromi. Ini yang dilakukan oleh Walisongo. Kalau dulu tantangannya ketika mendakwahkan Islam Aswaja adalah berhadapan dengan adat budaya lokal yang sudah mengakar, dan mereka berhasil. Sekarang tantangannya adalah masyarakat baru yang modern. Kalau menggunakan teknologi lama sudah tidak bisa. Sekarang dakwah harus lewat Twitter, FB, Instagram dan media sosial lainnya. Sudah harus pakai periskop. Kesadaran beberapa kiai, ulama, dan muballigh yang masuk ke sosmed itu luar biasa. Di NU ada Gus Mus, ada Gus Ali, ada Yusuf Mansur, ada Anwar Zahid. Kalau kita lihat follower-nya, mereka adalah orang yang tidak terjamah pesantren. Ini yang saya maksud sebagai penjaring. 

Di lingkungan anak muda yang aktif di ranah sosial media ada Ahmad Sahal, ada Syafiq Hasyim, ada Syafiq Allielha, ada Ulil Abshar, meskipun menjadi kontroversi. Kita harus melihat mereka sebagai potensi anak muda yang bisa masuk ke dunia baru itu, yang oleh beberapa yang lain tidak masuk. Jadi ini sifatnya berbagi tugas saja, karena ada fakta bahwa jumlah warga yang masih tradisional di pedesaan masih sangat banyak. Pola lama harus tetap dikembangkan. 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Pendidikan PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 27 Januari 2018

Kisah Pengajian dan Wayang

Tahun 1970-an, di Cianjur ada seorang ajengan masyhur, karena kedalaman ilmunya. Ia dikenal dengan dengan julukan Mama Ajengan Ciharashas, atau Ajengan KH Muhammad Syuja’i.?

Mama Ajengan Ciharashas (yang pernah berguru pada Mama Ajengan KH Syatibi Gentur, Cianjur, guru ulama-ulama di Jawa Barat), memiliki ribuan santri dari bebagai pelosok Nusantara. Selain mengajar, ia sering memberi ceramah umum di pengajian semisal muludan, rajaban, hingga pesta pernikahan atau sunatan di pelosok-pelosok kampung.?

Pada suatu ketika, ia mendapat undangan ceramah di wilayah Cianjur. Tak dinyana, panggung tempat ia berceramah berhadapan dengan panggung pementasan wayang golek. Dua acara berbarengan ini hanya terhalang jalan raya.?

Kisah Pengajian dan Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pengajian dan Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pengajian dan Wayang

Meski demikian, Mama Ajengan Ciharashas tetap menjalankan tugasnya berceramah. Begitu pula dalang wayang golek. Keduanya berjalan sebagaiamana mestinya. Hadirin dari berbagai tempat datang untuk tujuan masing-masing, sebagian berniat menyimak ceramah, sebagian menonton wayang golek. Tak ada gegeran karena perbedaan.

PKS Piyungan Taubat

Namun, ketika Mama Ajengan Ciharashas berceramah, penonton wayang golek berbondong-bondong pindah dan menyimak pengajiannya. Padahal ia tak mengimbaunya. Apalagi mengharamkan wayang golek. Ia mengaji sebagaimana ia mengajar santrinya.

Salah seorang panayagan (pengiring musik wayang golek) yakni tukang rebab, kepincut pengajian Mama Ajengan Ciharashas. Ia bernama Sulaiman, biasa dipanggil Eman. Ayahnya seoorang kades di salah satu desa Cianjur. Kades pecinta seni yang mengarahkan anak-anaknya pada kesenian.

PKS Piyungan Taubat

Ketika ceramah Mama Ajengan selesai, Eman mendatanginya. Ia lalu menceritakan niatnya menjadi santri.

Menurut Ajengan Hasybi Hizbullah, pengasuh pesantren Asyroful Huda, Sukaraja, Sukabumi, Eman adalah teman semasa ia menjadi santri Ciharashas. Hasybi bersaksi, tukang rebab tersebut sangat rajin mengaji dan muthola’ah. Saking rajinnya, ia sering meninggalkan makan.?

“Santri-santri sering menanak nasi untuk dia. Tapi ketika diajak makan, ia selalu bilang ‘nanti saja.’ Kemudian disisain. Tapi tak dimakan pula. Sampai jadi oncom (berjamur) nasi itu,” papar Hasybi.

Eman kemudian menjadi santri kesayangan Mama Ajengan. Ia dinikahkan dengan salah seorang adiknya.? Selanjutnya ia diangkat menjadi pengajar pesantren tersebut. Santri-santri memanggilnya mama ajengan anom (kiai muda).

Karena Mama Ajengan Ciharashas tidak memiliki putra dan putri, ia menjadi pelanjut kepemimpinan pesantren.

“Mama Ajengan Anom terkenal dengan shalatnya yang khusuk. Kalau shalat itu, satu rakaat bisa 5 menit. Jadi kalau shalat isya bisa 20 menit. Kalau shalat Subuh bisa lebih lama lagi,” jelas Hasybi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Internasional PKS Piyungan Taubat

Minggu, 24 Desember 2017

Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid

Seringkali kita mendengar pengajian dan ta’lim baik di masjid perkantoran, masjid komplek, maupun di mushalla-mushalla yang membahana, menyerukan Islam dengan lantang tanpa basa-basi. Pengajaran-pengajaran itu membahas berbagai ajaran Islam. Mulai dari fiqih, tauhid, hadits hingga tafsir.

Sebenarnya hal ini harus diapresiasi oleh kaum muslim, karena dapat dikatakan sebagai kemajuan dakwah Islam. Begitu hebatnya para da’i itu hingga mampu menjadikan para jama’ah betah mengikuti pengajian, baik dengan humor maupun dengan retorika yang mengagumkan.

Sayangnya, seringkali kelihaian retorika dan gaya penampilan tidak diimbangi oleh pemahaman. Ini dikarenakan keterbatasan penguasaan para da’i terhadap materi berbahasa Arab. Kebanyakan dari mereka mengambil pemahaman dari buku-buku terjemahan. Oleh karena itu menjadi agak janggal ketika para da’i dan ustadz itu dengan fasih menyampaikan berbagai materi, tetapi terkesan kurang percaya diri ketika mengutip ayat-ayat al-qur’an dan hadits. Imbasnya, telinga jama’ah malahan terbiasa mendengarkan potongan terjemah dari ayat al-Qur’an atau terjemahan sebuah hadits bukan lantunan ayat al-Qur’an. Padahal pahala yang ada dalam al-Qur’an itu ketika dibaca (al-mutaabad ditilawatihi), bukan ditulis apalagi diterjemahkan.

Tidak hanya itu, yang lebih aneh lagi adalah ketika materi pengajian itu ternyata adalah tafsir al-Qur’an. Bagaimana pantas seseorang mengajarkan tafsir al-Qur’an padahal ia tidak mampu membaca al-Qur’an dengan tartil sesuai aturan ilmu tajwid? Walaupun pada zaman sekarang ini banyak materi tafsir al-Qur’an yang tersebar dalam versi terjemahan. Hal ini mengingatkan kita pada sejarah lama kaum oreintalis yang mempelajari kandungan dan isi al-Qur’an tanpa membaca teksnya, mereka mempelajari al-Qur’an dengan tujuan menghinakan Islam. Naudzubillah min dzalik.

Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Tafsir Tanpa Mengerti Tajwid

Maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah bolehkah membaca al-Qur’an tanpa tajwid? dan bagaimana hukumnya mengajarkan tafsir al-Qur’an tanpa berbekal ilmu tajwid?

Sebelum membicarakan tentang hukum membaca al-Qur’an tanpa tajwid, terlebih dahulu perlu dijabarkan apakah tajwid itu? Pada dasarnya isitilah attajwid yang dikenal sebagai ilmu membaca al-Qur’an adalah:

PKS Piyungan Taubat

إعطاء كل حرف حقه ومستحقه

Artinya Memberikan hak dan mustahaq tiap-tiap huruf (dalam al-Qur’an).  Yang dimaksud hak-hak huruf adalah sifatnya yang dzatiyah yang lazim baginya. Seperti Jahr, Syiddah dan istila. Sedangkan mustahaknya adalah sifat-sifat yang timbul dari dzat tersebut, seperti tafkhim dan tarqiq.

Adapun hukum membaca al-Qur’an dengan tajwid adalah fardhu ain. Dengan kata lain siapapun yang membaca al-Qur’an maka wajib baginya membaca sesuai aturan tajwid. Baik laki-laki maupun perempuan, baik ustadz, ahli tafsir, ahli hadits, ilmuwan maupun fisikawan, selama dia muslim maka membaca al-Qur’an harus dengan tajwid.

PKS Piyungan Taubat

Sebagaimana difirmankan Allah swt

   ÙˆØ±ØªÙ„ القرأن ØªØ±ØªÙŠÙ„ا. dan bacalah al-Qur’an dengan tartil. Dalam tafsir baidhowy diterangkan bahwa yang dimaksud tartil adalah:

أى جوده تجويدا

Tajwidkanlah bacaan (al-Qur’an)mu dengan tajwid yang benar 

Begitu juga yang diterangkan dalam Al-Mandzumatul Jazariyyah:

والأخذ بالتجويد حتم لازم * من لم يجود القرأن أثم

لأنه به الإلــــــه أنـــــزلا  * وهكذا منه إلينا وصلا

Menggunakan tajwid adalag wajib/lazim. Dan barang siapa tidak mentajwidkan al-Qur’an adalah berdosa. Karena dengan tajwidlah Allah turunkan dia (al-Qur’an) dan begitulah hingga ampai ke kita.

Pendapat ini senada dengan ancaman sebuah hadits yang berbunyi:

رب قارئ للقرأن والقرأن يلعنه

Terkadang kejadian orang membaca al-Qur’an dan al-Qur’an itu malah melaknatnya

Demikianlah dosa seorang pembaca al-Qur’an tanpa mempedulikan tajwidnya. Lantas bagimana dengan seseorang yang membahas tafsir tetapi tidak mengerti tajwid? boleh-boleh saja selama dia membahas tafsir tanpa membaca al-Qur’an, tetapi mana mungkin membahas tafsir al-Qur’an tanpa membacanya. Andaikan ada, itu sungguh tidak sopan.

(Redaktur: Ulil Hadrawy). Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Jumat, 22 Desember 2017

Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji

Demak, PKS Piyungan Taubat. H Fatkhul Muin membukukan kisah uniknya dalam menunaikan Ibadah Haji tahun 2012 silam. Buku berjudul Kisah Unik Seputar Ibadah Haji diterbitkan deepublish.com bulan Agustus ini.

Buku setebal 150 halaman tersebut berisi banyak hal diantaranya serunya thawaf dan sai, shalat di Hijir Ismail, nikmat dan segarnya zam-zam. Muin juga berbagi cerita ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah, shalat di masjid Jin, naik Jabal Rahmah sampai mengunjungi pasar Ja’fariyah.

Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Terbit Buku Pengalaman Unik Seputar Haji

Di bagian lain ia juga mengisahkan wukuf di Arafah, mabit di

Muzdalifah dan di perkemahan Mina.

PKS Piyungan Taubat

Buku tersebut juga memuat tips-tips bermanfaat seputar haji. Diantaranya persiapan mental, fisik dan materi. Ditambah jadwal pemberangkatan haji juga pengetahuan haji berkenaan rukun, wajib dan kesunahan haji.

PKS Piyungan Taubat

Saat dikonfirmasi PKS Piyungan Taubat, Fatkhul Muin, penulis buku menyatakan ditulisnya buku tersebut karena dirinya baru menunaikan haji kali pertama. “Banyak hal yang terekam selama 40 hari meninggalkan tanah air,” katanya.

Rekaman aktivitas tersebut mulai memasuki embarkasi, naik pesawat, turun di Bandara Jeddah, memasuki maktab sampai dengan pelaksanaan ibadah haji.

Dari itu, lelaki yang tinggal desa Kedung Mutih kecamatan Wedung kabupaten Demak tersebut tidak ingin melupakan cerita dan kejadian unik itu. Alhasil buku diterbitkan.

Ia berharap buku perdananya bisa dijadikan referensi bagi siapa saja yang akan menunaikan haji dan umroh.

Disamping itu, pegiat jurnalisme warga tersebut mengharapkan pembaca tergerak hatinya atau mendapatkan panggilan Nabi Ibrahim agar segera menunaikan haji. Sehingga dalam menunaikan rukun kelima bisa dilaksanakan dengan tenang, aman dan nyaman. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Minggu, 17 Desember 2017

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang

Kerawang, PKS Piyungan Taubat. Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Karawang selalu mempunyai cara yang unik dalam methode dakwahnya. Ahad, 26 Februari 2012 bertempat di Masjid Raya Al-Amien Perumnas Bumi Telukjambe Karawang jajaran PC Fatayat NU Karawang menyelenggarakan Festival Barzanji.

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang

Acara yang bertemakan “Membumikan Shalawat sebagai wujud cinta kepada Rasulullah SAW dengan Mentradisikan Al-Barzanji” diikuti oleh 12 Tim yang berasal dari berbagai kecamatan di seantero wilayah Kabupaten Karawang.

Perhelatan Festival Al-Barzanji ini dimulai tepat pukul 09.00 dan berakhir pukul 14.00 WIB dengan diselingi jeda istirahat untuk Shalat Dhuhur dan makan siang.

PKS Piyungan Taubat

“Kita adalah generasi penghubung antara para pendahulu dengan generasi anak-anak kita, untuk itu maka kami berusaha mentradisikan Al-Barzanji ini sebagai wujud rasa cinta kita kepada Kanjeng Nabi SAW, menjaga amanah dari generasi pendahulu dan siap mewariskannya kepada generasi penerus kita” ujar Ustadzah Hj Yani Suryani Mustari selaku Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Bekasi.

Masing-masing tim begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Masing-masing tim berusaha menunjukkan kemampuannya sebagai yang terbaik.Acara ditutup dengan pemberian penghargaan secara simbolik kepada Tim dari PC Muslimat NU Karawang.

PKS Piyungan Taubat

”Semua tim perform dengan sangat baik, dalam festival ini tidak ada juaranya, semuanya kami berikan penghargaan sebagai apresiasi terhadap partisipasinya, semua tim adalah Sang Pemenang” sahut Ustadzah Hj. Yani Suryani Mustari. Methode dakwah yang indah. Shalawat begitu membumi dan merasuk dalam relung-relung hati kami.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Arief Widhiharto

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai PKS Piyungan Taubat

Rabu, 13 Desember 2017

Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia

Jakarta, PKS Piyungan Taubat

Kerja sama antara Yayasan Puan Amal Hayati dan Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia (Perduki) yang menggelar pasar murah (bazar) merupakan cerminan konkret dari kondisi keberagamaan di Indonesia yang penuh toleransi dan penuh rasa simpati terhadap satu sama lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Yenny Wahid kepada PKS Piyungan Taubat di sela-sela bazar yang digelar di halaman kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jalan Warung Sila No 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (5/7) sore.

Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kerja Sama Antaragama, Yenny Wahid: Inilah Kekuatan Indonesia

“Saya melihat ada keinginan untuk saling membantu antarsesama penganut agama. Inilah kekuatan Indonesia. Ini harus terus kita perjuangkan agar tidak pernah hilang dari bumi Nusantara,” ujar Wakil Sekretaris PP Muslimat NU ini.

Acara tersebut, lanjut Yenny, merupakan bentuk kerja sama antara Yayasan Puan Amal Hayati yang dipimpin Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid bekerja sama dengan PERDUKI. “Bukan Perdukunan Indonesia lho yaa,” candanya sembari tertawa riang.

Yenny menambahkan, setiap bulan Ramadhan masyarakat memiliki banyak kebutuhan yang sangat tinggi. Sementara harga barang seperti sembako (sembilan bahan pokok) cenderung naik. Lalu, ada keinginan untuk membantu masyarakat agar mereka bisa membeli barang-barang dengan harga murah.

Saat ditanya tentang diskon harga yang sangat murah, Yenny menjawab lebih dari separo harga. “Lebih, Mas. Saya nggak tau berapa persennya, cuma yang jelas murah sekali memang. Mestinya perpaket yang harganya 50 ribu, di sini dijual 20 ribu. Bahkan ada yang cuma 10 ribu,” ujarnya.

PKS Piyungan Taubat

Menurut putri kedua Gus Dur ini, bazar memang dijadikan wahana berbagi kepada masyarakat. “Ini memang hanya untuk masyarakat sekitar sini. Jadi, ini upaya untuk berbagi aja,” tandas pemilik nama lengkap Zannuba Arifah Chafsoh ini.

Yenny Wahid sangat terharu lantaran ada pihak di kalangan nonmuslim yang sangat peduli dengan masyarakat Ciganjur yang masuk kategori kaum lemah. “Kami berterima kasih karena dari umat agama lain punya kepedulian kepada kaum mustadh’afin,” ujarnya.

Yenny berharap, bazar ini terus diadakan tidak hanya di satu tempat. Namun juga di tempat lainnya. “Terus bergulir. Bukan cuma di Ciganjur. Tapi juga di banyak tempat. Semoga bisa kita lakukan itu,” harapnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Kyai PKS Piyungan Taubat

3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo

Purworejo, PKS Piyungan Taubat. Pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Purworejo menggelar pasar rakyat yang menyediakan 3.000 paket sembako. Acara yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad (6-7/4) di lapangan Cangkreplor, dibuka oleh Sekda Purworejo Drs H Tri Handoyo MM dengan ditandai pemukulan bedug.

3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)
3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)

3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo

Ketua panitia pasar rakyat H Achmad Chusaini SpdI dalam laporannya menjelaskan, pasar rakyat yang digelar oleh PBNU dan PCNU ini, sebagai solusi dalam memenuhi kebutuhan sembilan bahan pokok, sekaligus sebagai sarana ukhuwah dalam hubungan dengan masyarakat sekitar.

Selain itu, acara ini bisa dijadikan sebagai motivasi dalam mewujudkan kepedulian sesama, dalam bentuk kemasan acara yang sangat menghibur serta mengedukasi khususnya masyarakat sekitar.

PKS Piyungan Taubat

Lebih lanjut Achmad menjelaskan, pasar rakyat ini menawarkan banyak konsep acara pada pelaksanaannya. Diantaranya adalah menjual sembako murah, pentas kesenian, music, workshop, bazar dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Adapun satu paket sembako yang disediakan berisi ? minyak dan beras masing masing 1 kilogram.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan kesenian tradisional bernuansa Islami dari Kecamatan Kaligesing dan Purworejo. Selain itu juga workshop dengan tema wirausaha NU yang diikuti sekitar 150 peserta, berlangsung di aula Kecamatan Purworejo.

PKS Piyungan Taubat

“Dengan adanya gelaran pasar rakyat ini, masyarakat semakin mengerti bahwa umat Islam juga peduli terhadap kehidupan sosial ekonomi yang banyak menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat dikalangan bawah khususnya di daerah pedesaan,” ungkapnya.

Sekda Drs H Tri Handoyo MM mengungkapkan, pasar rakyat ini merupakan media yang cukup efektif untuk memperkenalkan produk-produk unggulan mitra binaan yang merupakan usaha kecil menengah (UKM) sebagai karya anak bangsa, agar dapat meningkatkan potensi usahanya.?

Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan wawasan yang lebih luas bagi UKM untuk melakukan penjajagan situasi dan kondisi pasar, sekaligus sebagai sarana pertemuan antara UKM dengan konsumen maupun dengan pengusaha yang lebih besar atau investor.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Internasional, Cerita, Kyai PKS Piyungan Taubat

Jumat, 08 Desember 2017

Motivasi Anggota, Muslimat NU Probolinggo Bina Pengurus Ranting

Probolinggo, PKS Piyungan Taubat - Sebagai upaya memberikan motivasi kepada seluruh anggota, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo rutin memberikan pembinaan kepada para pengurus ranting secara bergantian.

Pembinaan dilaksanakan di pengurus Pimpinan Ranting Muslimat NU Desa Wonorejo Kecamatan Wonomerto, Rabu (15/3). Pembinaan ini dipimpin langsung oleh Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati. Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang anggota Muslimat NU se-Desa Wonorejo Kecamatan Wonomerto. ?

Motivasi Anggota, Muslimat NU Probolinggo Bina Pengurus Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Motivasi Anggota, Muslimat NU Probolinggo Bina Pengurus Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Motivasi Anggota, Muslimat NU Probolinggo Bina Pengurus Ranting

Dalam kegiatan ini Hj Nurhayati menyampaikan ucapan terima kasih karena kegiatan yang sudah ada ini harus didukung sepenuhnya oleh anggota Muslimat Ranting dengan harapan dari kegiatan ini memotivasi anggota untuk lebih giat dan semangat.

“Melalui kegiatan ini kita dapat menyampaikan informasi kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi serta sektor yang lainnya. Sehingga anggota bisa mengetahui semua program Muslimat NU,” katanya.

PKS Piyungan Taubat

Dengan demikian jelas Hj Nurhayati, paling tidak perubahan tingkat kesadaran ini harus digerakkan oleh semua elemen masyarakat mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran yang semakin tinggi.

“Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada anggota yang sangat semangat mengikuti kegiatan ini. Jarak rumah anggota dari rumah yang lainnya sangat berjauhan akan tetapi tetap semangat. Luar biasa patut untuk kita acung jempol dengan akses jalan kurang memadai. Mudah-mudahan ini menambah semangat dalam berorganisasi,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Warta, Kyai, Nahdlatul PKS Piyungan Taubat

Kamis, 07 Desember 2017

HPN DKI Berupaya Perkuat Basis Pengusaha Nahdliyin di Ibu Kota

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Ibu Kota Jakarta merupakan pusat bisnis dan perkantoran. Mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya serta para pegawai yang telah memasuki masa pensiun terkadang bingung ingin mengaktualisasikan jiwa bisnis mereka.?

HPN DKI Berupaya Perkuat Basis Pengusaha Nahdliyin di Ibu Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
HPN DKI Berupaya Perkuat Basis Pengusaha Nahdliyin di Ibu Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

HPN DKI Berupaya Perkuat Basis Pengusaha Nahdliyin di Ibu Kota

Hal ini menjadi perhatian Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Himpunan Pengusaha Nadliyin (HPN) DKI Jakarta untuk menarik mereka bergabung di organisasi para saudagar NU ini.

“Kami akan meyakinkan kepada mereka bahwa para pengusaha memerlukan tali kuat berupa organisasi. Tujuan kami tidak lain memberikan semaksimal mungkin tenaga dan pikiran kita untuk memberdayakan warga NU,” ujar Ketua DPW HPN DKI Jakarta, Bambang Adi S ketika berkunjung ke Kantor Redaksi PKS Piyungan Taubat, Rabu (9/11) usai rapat konsolidasi HPN Pusat.

Dari sisi memperkuat basis pengusaha Nahdliyin, lanjut Bambang, HPN akan kesulitan jika hanya menjaring orang-orang yang sudah jelas aktif di NU. Karena menurutnya, tidak banyak warga NU yang terjun ke dunia bisnis meskipun jumlah Nahdliyin yang menjadi pengusaha juga tidak sedikit.

Sebab itu, imbuhnya, pihaknya akan menggandeng mereka dari sisi nasab atau keturunan. “Banyak dari mereka yang dulu ternyata keluarganya aktif di NU, namun mereka justru kurang tahu NU dikarenakan berbagai hal atau mungkin selama ini karena NU kurang merangkul mereka,” kata Bambang.

PKS Piyungan Taubat

Perjuangan ini menurutnya tidak mudah, tetapi juga tidak sulit karena HPN mempunyai misi mulia untuk mewujudkan pemberdayaan umat lewat aktivitas bisnis dan usaha di berbagai bidang sesuai potensi warga NU.

Bambang menegaskan, jika para pengusaha yang tergabung dalam HPN ini hanya bertujuan mencari keuntungan, dia memastikan bahwa orang tersebut akan gugur dengan sendirinya.?

“Karena di HPN ini, semua anggota mempunyai misi memberdayakan umat dengan berbagai keahlian dan akses yang dimiliki. HPN berupaya maksimal untuk menyediakan tenaga, pikiran, edukasi bisnis, pengembangan dan marketing produk, serta modal untuk warga NU,” tutur Bambang yang didampingi oleh Sekretaris Umum HPN DKI Jakarta Iswandi F. Tanjung. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Kyai, Pertandingan, Internasional PKS Piyungan Taubat

Rabu, 06 Desember 2017

Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Salah seorang inisiator Liga Santri Nusantara (LSN) H. Abdul Muhaimin Iskandar mengungkapakan latar belakang muncul gagasan Liga Santri Nusantara (LSN).

Menurutnya, karena saat ramai sepakbola, tapi sulit mencari bibit-bibit pemain, dalam pertandingan sering kalah, maraknya kerusuhan, dan sumber rekrutmen yang terbatas.

Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara

“Maka ada gagasan santri itu punya pola pikir, Insyaallah gak berantem,” kata Muhaimin saat pidato acara Launching Liga Santri Nusantara (LSN) di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (27/7).

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa sumber daya manusia yang ada di pesantren itu sangat melimpa. Melihat itu, menurutnya, sangat mudah apabila dilakukan suatu kompetisi yang melibatkan para santri, pelajar yang ada di pesantren yang punya tradisi kuat dan kokoh dalam hal olahraga, kemandirian, ? dan potensi sportivitas.

PKS Piyungan Taubat

“Istilahnya tidak akan macem-macem, sak nakal-nakalnya santri itu gak kebengeten lah,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin ini.

Terlepas dari itu, lanjutnya, pesantren punya spirit kejujuran, keberanian, dan soprtifitas. Sehingga menjadi potensi untuk majunya olahraga nasional dan lahirnya bibit-bibit potensial pesepakbola dari pesantren.

Turut Hadir pada acara launching ini; Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil siroj, Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi, ketua PBNU H Marsyudi Syuhud, Ketua PBNU H Robikin Emhas, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Jadwal Kajian, Pertandingan, Kyai PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 18 November 2017

Jalan Aspal Bulan Lima

Oleh Abdullah Zuma

Orang-orang Pojok terharu ketika drum-drum berisi aspal datang ke kampung mereka. Sebentar lagi jalan desa akan hitam seperti di kota, cita-cita bertahun-tahun hampir terlaksana. Mereka masih ingat merelakan sebagian tanahnya untuk pelebaran jalan. Pohon kelapa, nangka, rambutan yang sedang berbuah dirobohkan. Menurut Pak Kades waktu itu, jalan kampung Pojok akan diaspal pada bulan lima tahun itu juga.

Bulan lima tiba, pengaspalan ternyata omong kosong belaka. Masyarakat bertanya, tapi tak ada jawaban pasti. Pak Kades jarang di kantor desa, di rumah pun isterinya selalu menggeleng kepala. Jika diantara mereka ada yang berani menagih janji, akan mendapat janji lain. Mereka hanya bisa bersabar, menunggu sambil membajak sawah, menyiangi kebun, membabat huma, dan tetap membayar pajak karena Pak Kadus tak pernah absen menagih meski kakinya dijangkit reumatik. Mungkin bulan lima tahun depan. Mereka terus memelihara harapan.

Jalan Aspal Bulan Lima (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Aspal Bulan Lima (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Aspal Bulan Lima

Bulan lima datang lagi. Mungkin aspal akan datang. Hari demi hari mereka lalui dengan harap-harap cemas. Ketika bulan itu lewat, masyarakat Pojok kembali bertanya kepada Pak Kades. Mereka mendapat jawaban berbelit-belit, panjang lebar, tak sepenuhnya dimengerti. Mereka pun pulang dengan menggondol jawaban yang justru berisi tanya, “ada apa dengan Pak Kades?”

PKS Piyungan Taubat

Masyarakat Pojok kembali mencangkul sawah, menyabit rumput, menggembala kerbau, menyiangi kebun, membabat huma. Tentu saja sambil menunggu aspal dengan sabar. Mereka yakin orang sabar disayang Tuhan. Dan tentu saja tetap membayar pajak karena Pak Kadus tak pernah absen menunaikannya meski kakinya belum sembuh dari reumatik.

Bulan lima datang lagi. Lalu pergi tanpa pamit. Tanpa membawa aspal. Tanpa stoom. Mungkin tahun besok. Mungkin tahun lusa. Mungkin tahun depannya lagi. Ketika pemerintahan desa berganti, mereka berharap banyak kejelasan bulan lima. Tapi ketika ditanyakan, mereka hanya mendapatkan jawaban mengecewakan, “itu urusan pemerintah yang lalu, kami tidak tahu-menahu.” Kades baru rupanya tak berbeda dengan Kades sebelumnya. Cuma lain orang saja.

PKS Piyungan Taubat

Sesepuh kampung Pojok yang mengetahui asal-muasal aspal bulan lima satu per satu tutup usia. Biasanya sebelum mengembuskan napas terakhir, berwasiat pada anak-cucunya, “bulan lima jalan kampung kita akan diaspal.”

Orang-orang yang mendengar, bertanya hampir berbarengan, “bulan lima tahun kapan?” Orang tua itu tak memberi jawaban karena keburu meregang nyawa. Ia pergi selamanya tanpa melihat aspal.

Masyarakat kampung Pojok tetap yakin jalan mereka akan diaspal bulan lima cuma entah tahun kapan. Tapi tak mungkin dilupakan. Mereka merawat bulan lima sambil merawat padi, menyiangi kebun, membabat huma, menggembal kerbau. Mereka mengaitkan bulan lima pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Misalnya, gagal panen tahun itu terjadi dua bulan sebelum bulan lima. Di tahun lain, mereka mengingat gerhana matahari sebulan setelah bulan lima. Atau rumah tetangganya terbakar di akhir bulan lima.

Di percakapan-percakapan remeh di warung kopi, taruhan anak-anak waktu main gundu dan layang-layang, rencana pernikahan pasangan baru, muncul setelah, sebelum, awal, akhir bulan lima. Para orang tua selalu membisikan pada telinga bayi yang baru lahir, jalan akan diaspal bulan lima.

***

Kini drum-drum aspal itu mulai dipanaskan. Stoom merayap seperti ulat meratakan batu kerikil. Para pekerja begitu sibuk. Tanpa komando, ibu-ibu dengan suka rela membawa ceret dan gelas buat mereka. Anak-anak memperhatikan dari kejauhan. Seluruh masyarakat menunda pergi ke sawah dan kebun. Mereka hampir tak percaya akan pandangan sendiri. Jalan kampung Pojok akan hitam dan rata seperti di kota.

Tapi persoalannya pengaspalan bukan pada bulan lima, melainkan dua belas. Masyarakat hampir saja tak mempedulikan pengaspalan bulan lima. Dalam pikiran mereka, yang penting sekarang jalan diaspal, tak peduli bulan apapun. Tapi para orang tua yang ingat betul wasiat orang tuanya yang sudah mati, bertanya-tanya, ini tidak sesuai dengan janji leluhur.

“Aku bermimpi almarhum orang tuaku datang. Dia bilang, jika pengaspalan terjadi bukan di bulan lima, jalan tidak akan bertahan lama. Selain itu, akan datang sesuatu yang belum pernah terjadi,” kata seorang warga ketika ngobrol bersama teman-temannya di pos ronda.

“Apa maksudnya mimpi itu?”

“Aku sendiri tidak paham.”

“Akan datang sesuatu itu apa?”

“Bisa jadi ada suatu hal yang tidak kita inginkan. Tapi aku tak tahu pasti.”

“Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Pengaspalan jelas tak sesuai dengan apa yang dikabarkan orang tua kita.”

“Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.”

Mereka kemudian sepakat menyuruh salah seorang untuk menanyakannya pada para pekerja esok hari.

“Kenapa pengaspalan jalan bukan bulan lima?”

“Kami tidak tahu-menahu soal itu. Kami hanya pekerja. Cuma menjalankan tugas. Coba tanya pada mandor kami,” jawab pekerja itu sambil menunjuk kepada orang bertopi, berkacamata, dan bersepatu hitam.

Meski ragu, orang itu mendekati Mandor.

“Pak, kalau boleh saya tahu, kenapa pengaspalan jalan ini bukan bulan lima?”

“Memangnya kenapa?” orang itu balik bertanya.

“Setahu kami, pengaspalan jalan dilakukan bulan lima. Begitulah orang tua kami menceritakan.”

Mandor itu tertegun sebentar, kemudian tersenyum, “kalau soal itu kami tidak tahu-menahu. Kami hanya menjalankan tugas atasan kami. Pada bulan satu nanti akan ada Pilkada. Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.”

Kemudian Mandor itu membisikkan sesuatu. Meski tak mengerti sepenuhnya, orang itu mengangguk-angguk. Tapi dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa pengaspalan jalan dihubung-hubungkan dengan Pilkada, Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati yang tak dikenalnya. Bukankah pengaspalan pasti terjadi karena sudah janji leluhur, tanpa ada Pilkada sekali pun. Dia bingung bagaimana bercerita kepada teman-temannya.

Pada hari berikutnya, Mandor membagikan kalender kepada seluruh warga kampung Pojok sambil membisikkan sesuatu. Mereka masih tidak paham, kenapa pengaspalan dihubungkan dengan kalender? Ini tak ada ceritanya di wasiat leluhur mereka.

***

Pengaspalan jalan kampung Pojok selesai. Para pekerja pulang bersama stoom yang dilepas haru seluruh kampung. Kendaraan roda dua dan roda empat lewat di jalan itu. Tapi bukan milik orang kampung Pojok, melainkan milik kampung tetangga. Mereka hanya penonton di pinggir jalan.

Orang-orang kampung Pojok lantas berpikir, buat apa aspal kalau toh mereka masih jalan kaki. Sebagian orang memaksakan diri membeli kendaraan roda dua. Anak-anak mereka merengek minta sepeda. Orang tua terpaksa menjual kambing. Anak-anak muda mengasah golok setajam-tajamnya, lalu mengancam orang tuanya agar dibelikan motor. Hatinya panas karena kekasihnya dibonceng pemuda kampung sebelah. Orang tua terpaksa menjual kerbau atau sawah. Ada juga yang menggadaikan kebun atau rumah.

Tak pernah diduga sebelumnya, maling pun berkeliaran di kampung Pojok. Dengan mudah mereka mencungkil palang pintu dapur atau merobek bilik dengan golok. Kemudian kabur lewat jalan aspal. Jika maling itu tertangakap, dibakar hidup-hidup. Hal yang tidak pernah terjadi dalam catatan ingatan mereka. Para orang tua menggeleng-gelengkan kepala. Mereka semakin yakin pengaspalan tidak sesuai dengan yang diceritakan almarhum orang tuanya, bukan bulan lima.

Setahun kemudian, jalan kampung Pojok rusak berat. Hujan deras melubangi banyak titiknya. Lubang-lubang genangan hampir seperti kolam ikan. Kerikil-kerikil yang copot membuat pengendara yang melaluinya sakit pantat. Orang-orang kampung Pojok tak paham? kenapa aspal yang dijanjikan leluhur tak bertahan lama. Di wasiat tak ada keterangan itu. Mereka kemudian ingat kalender yang dibagikan Mandor aspal. Pada Pilkada, mereka memilih gambar itu.

Ciputat 25 Desember 2007

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Ahlussunnah PKS Piyungan Taubat

Jumat, 17 November 2017

Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol

Brebes, PKS Piyungan Taubat. Sejak diresmikannya Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) tahun 2015 lalu kemudian dilanjutkan pembangunan tol Kanci-Pejagan, praktis para pengais rezeki di sepanjang jalan pantura (pantai utara) merasakan imbas sepi dari usahanya. Baik, dari para pedagang lapak di pinggir jalan, pedagang asongan, jasa toilet umum, bahkan POM bensin.

Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol

Nasib tragis ini semakin panjang seiring dengan pembangunan tol Pejagan-Brebes dan Brebes-Pemalang hingga Semarang yang berimbas kepada sepinya para pedagang oleh-oleh khas Brebes, telor asin dan bawang merah.

PKS Piyungan Taubat mencoba menelusuri jalan pantura Brebes untuk menangkap imbas fenomena jalan tol yang semakin panjang sejak dari Jakarta ini. Kondisi sepi tersebut terlihat di beberapa titik, baik di kedua sisi sepanjang jalan pantura, POM Bensin, rest area, dan toilet umum di beberapa tempat.

Para pengais rezeki di tempat-tempat tersebut mengakui beberapa hari menjelang Idul Fitri suasana ramai masih ada, tetapi tidak seramai ketika belum ada pembangunan tol. Itu juga ramai karena para pemudik yang menggunakan sepeda motor.

“Sekarang itungannya jalan tol dari Jakarta sudah sampai Semarang, gimana nggak sepi,” ujar Wirso dengan logat khas Brebes, pria penjaga toilet umum kepada PKS Piyungan Taubat, Senin (26/6).

PKS Piyungan Taubat

Wirso mengungkapkan, pendapatannya turun drastis jika dibandingkan ketika para pemudik, baik yang menggunakan mobil dan sepeda motor masih melewati Pantura. Toliet umum yang ia buka tidak pernah sepi dari pagi hingga sore.

?

PKS Piyungan Taubat

Kini ia mengakui bisa dihitung jari orang yang memakai jasa toilet umum, terutama setelah Lebaran. Meskipun pemudik pasca lebaran yang menggunakan mobil terlihat ramai dari keluar pintu tol Pejagan menuju Purwokerto dan Semarang.

Hal serupa dirasakan pria yang tidak mau disebut namanya, petugas POM Bensin di kawasan pantura Kecamatan Tanjung, Brebes. Pria tersebut mengatakan, pasca lebaran sehari atau H+1, jarang mobil yang mengisi BBM, kebanyakan sepeda motor.?

Bahkan ia mengakui kondisi Brebes cukup sepi sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya sejak ada tol Pejagan dan tol Gringsing menuju Pemalang serta Semarang.

“Dampaknya juga ke para pedagang telor asin dan bawang merah. Mereka banyak yang tutup lapak dan pindah ke Tegal karena para pemudik kebanyakan keluar tol dari sana,” ungkapnya.

Kondisi ini juga terjadi di Jawa Barat sejak jalan tol Cipali difungsikan. Para pedagang musiman yang ramai-ramai membuka warung teduh di sepanjang jalan pantura merasakan trurun drastisnya pendapatan mereka.

Bahkan di awal-awal pengoperasian tol Cipali, mereka nekad membuka lapak dagangannya tepat di depan setiap pintu keluar tol. Petugas saat itu menoleransi karena tol masih pada tahap uji coba alias gratis.?

Namun sekarang, para pengais rezeki itu harus kembali membuka lapak di pantura, di mana para pemudik yang menggunakan mobil pribadi lebih banyak yang memanfaatkan jalan tol ketimbang melewati jalan legenda para pemudik tersebut. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Daerah, News, Kyai PKS Piyungan Taubat

Selasa, 07 November 2017

Forum Pengasuh Pondok Pesantren Beri Rekomendasi untuk Muktamar

Situbondo, PKS Piyungan Taubat. Forum Pengasuh Pondok Pesantren dan tokoh NU mengingatkan agar muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang, Agustus 2015 menjadi momentum untuk menjaga organisasi itu dari pengaruh paham lain yang tidak sejalan.

Forum Pengasuh Pondok Pesantren Beri Rekomendasi untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Pengasuh Pondok Pesantren Beri Rekomendasi untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Pengasuh Pondok Pesantren Beri Rekomendasi untuk Muktamar

"Muktamar yang merupakan lembaga permusyawaratan tertinggi di dalam organisasi NU harus bersikap tegas dan kritis terhadap paham-paham yang mempengaruhi NU yang pada akhirnya akan mengubah haluan sejati NU," kata KH Misbahus Salam yang membacakan rekomendasi Forum Pengasuh Pondok Pesantren dan Tokoh NU Jawa, Madura, Bali dan NTB di Situbono, Jawa Timur, Jumat.

Sekretaris Pengurus Cabang NU Jember ini menjelaskan bahwa para pengasuh pondok pesantren dan tokoh NU se Jawa, Madura, Bali dan NTB berkumpul di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Kamis (21/5) untuk mengikuti sarasehan.

PKS Piyungan Taubat

Dari sarasehan bertema "Meneguhkan Qanun Asasi sebagai Prinsip Jamiyah Nahdlatul Ulama" yang menghadirkan pembicara Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi, Katib PBNU KH Afifuddin Muhajir dan KH Hasan Basri itu kemudian melahirkan sejumlah rekomendasi.

Sebelumnya Hasyim Muzadi juga menengarai bahwa kini ada upaya untuk mengubah NU dari dalam dengan tujuan akhir adalah melemahkan, bahkan menghancurkan organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari tersebut. Padahal, kalau NU mundur, diyakini negara juga akan mundur.

PKS Piyungan Taubat

"Tanpa NU, NKRI (negara kesatuan Republik Indonesia) tidak ada jaminan. Bahkan kalau NU hancur, NKRI juga akan hancur. Yang made in Indonesia kan cuma NU dengan Muhammadiyah," ucapnya.

Sementara Misbahus Salam melanjutkan bahwa forum dan sarasehan ulama itu juga mengeluarkan rekomendasi lain, yakni anggaran dasar dan rumah tangga NU harus tetap merujuk kepada Qanun Asasi, terutama sistem bermazhab, baik dalam bidang akidah, fikih, dan tasawwuf.

"NU lahir dari para ulama pesantren, maka lembaga syuriyah yang merupakan reprensentasi dari ulama harus dikembalikan kepada visi awal pendirian NU, dan secara organisasi harus lebih kuat daripada tanfidziyah," tuturnya.

Dia mengatakan, rekomendasi itu juga mengingatkan bahwa NU harus selektif dalam menempatkan kader-kadernya di kepengurusan karena ada indikasi yang mengarah pada dugaan bahwa beberapa orang yang telah terpilih terbukti berafiliasi kepada kelompok-kelompok yang tidak sejalan dengan Qanun Asasi NU.

"NU dan pesantren dengan manhaj tasamuh (toleran) serta tawassuth (moderat) telah terbukti dapat mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman dan penuh toleransi. Oleh karena itu, muktamar NU bertanggung jawab untuk mempertahankan manhaj (jalan) ini dan menolak intervensi baik dari paham ekstrim kanan maupun kiri dan intervensi partai politik manapun," ujarnya.

Selain itu, forum juga meminta warga NU berkomitmen untuk mempertahankan eksistensi ahlussunnah wal jamaah di tempat berkhidmat masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang tertuang dalam Qanun Asasi. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Fragmen, Kyai PKS Piyungan Taubat

Rabu, 18 Oktober 2017

Unik, Mayoritas Siswa di Madrasah Ini Non-Muslim

Jakarta, PKS Piyungan Taubat

Di hampir seluruh wilayah NKRI, siswa madrasah hampir dipastikan beragama Islam. Hanya beberapa wilayah yang mayoritas non-muslim ada sejumlah sekolah atau madrasah saja yang bersiswakan agama lain. Salah satu madrasah tersebut adalah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al-Amin.

Bagi MI ini, keberadaan siswa non-muslim menjadi sejarah panjang pendidikan di daerah tersebut. MIS Al-Amin bermula dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Gereja Kristen Protestan Angkola (PKBM GKPA) Tangga Batu yang berdiri sejak 1991 di Dusun Tangga Batu, Desa Siuhom, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Unik, Mayoritas Siswa di Madrasah Ini Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Unik, Mayoritas Siswa di Madrasah Ini Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Unik, Mayoritas Siswa di Madrasah Ini Non-Muslim

“Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan akses pendidikan, para tokoh ? masyarakat seperti Makmur Tumanggor (74) memprakarsai berdirinya madrasah ini,” kata Imran Siregar dalam seminar hasil penelitian ‘Pengembangan Madrasah di Daerah Khusus’ yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.

Imran Siregar, peneliti senior Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag RI, dalam paparannya menyatakan pada Tahun Ajaran 1995/1996 PKBM GKPA dikembangkan menjadi MIS Al-Amin. “Seluruh aset PKBM GKPA menjadi modal awal sarana beroperasinya MIS dengan bangunan darurat di atas tanah wakaf seorang muslim bernama Mansur Barasa,” paparnya.

PKS Piyungan Taubat

Menurut dia, proses evolusi PKBM GKPA ke MIS Al-Amin Tangga Batu menjadi fakta tak terbantahkan melemahnya sekat-sekat sosial masyarakat ketika dihadapkan dengan keterisoliran, ketertinggalan dan kesulitan masyarakat mengakses pendidikan. Ini merupakan bukti konkrit bahwa mereka diikat rasa kebersamaan untuk melakukan perubahan.

Dalam catatan Imran, 66 anak kini menjadi siswa MI Al-Amin. 54 orang (81.81 persen) beragama Kristen dan Katolik serta 12 orang (18.18 persen) beragama Islam yang tersebar di enam kelas. Jumlah guru sebanyak empat orang yaitu 3 orang S1 dan satu orang D.III, 3 wanita dan 1 pria seluruhnya beragama Islam.

PKS Piyungan Taubat

Soal kurikulum, menurut dia tentu ada perbedaan dengan materi MI lainnya. Hal yang membedakan adalah, khusus siswa nonmuslim hanya diberikan materi Akidah Akhlak dan SKI. Untuk lebih menyiapkan peserta didik menghadapi UN, seluruh siswa kelas VI nonmuslim dititipkan di SD Negeri Adian Nauli. Sementara bagi siswa muslim dititipkan di MIN Panobasan.

Hal tersebut, kata Imran, dilakukan karena ruang belajar madrasah ini jauh dari kata ideal. Aktivitas belajar mengajar dilakukan di tiga ruang saja. Dua ruang belajar darurat dan satu ruang belajar permanen. “Itupun bantuan rehab total dari Kemenag tahun 2009 silam,” ungkapnya.

Terpencil

Menurut Imran Siregar, secara geografis letak MI Al-Amin terpencil sekali sehingga sulit dijangkau. Belum adanya akses jalan yang layak, lalu terpencil lantaran jauh dari dusun-dusun lainnya, kemudian terisolir karena berada di daerah perbukitan dan lembah membuat penderitaan para siswa kian menjadi-jadi.

“Lebih kurang 13 km dari desa Siuhom, 16 km dari kota kecamatan dan 42 km dari kota kabupaten. Jumlah penduduknya 428 jiwa ? mayoritas non muslim, yaitu Kristen 251 jiwa (58.64 persen), dan Katolik 84 jiwa (19.62 persen) dan Islam 93 jiwa (21.72 persen),” kata dia.

Dusun ini, lanjut Imran, bermula dari kehadiran pendatang dari suku Dairi, Nias, dan batak Toba di Angkola Barat pada tahun 1980-an. Mereka membuka hutan alam yang belum terjamah masyarakat Angkola dengan menanam salak dan karet. Pekerjaan sehari-hari penduduk adalah petani salak dan karet dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp300.000.- perminggu.

“Itu pun tergantung hasil panen dan harga pasar salak dan karet. Nah, untuk menambah penghasilan masyarakat juga beternak sejumlah binatang yang dijadikan santapan sehari-hari. Misalnya babi, kambing, ayam dan itik. Mereka juga memelihara kuda,” ujarnya.

Kondisi umum kehidupan keagamaan masyarakat di daerah ini cukup dinamis. Hal tersebut ditandai adanya empat rumah ibadah, yakni Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), Gereja Katolik, Gereja Saksi Yehowa, serta Mesjid Tangga Batu.?

Sementara itu, kehidupan sosial masyarakat dusun yang terpencil berdampak tak langsung pada sikap sosial masyarakatnya, mulai menikahkan anak di bawah umur, hingga praktek ritual gaib, bahkan ada istilah parrasun.

“Jika terjadi pernikahan beda agama, si wanita yang mengikuti agama calon suaminya. Pola hubungan pernikahan seperti ini sudah menjadi kesepakatan tak tertulis masyarakat tentang pola pernikahan lintas agama,” ujar Imran.

Pria bersuku Batak ini berharap, MIS Al-Amin ini patut diberdayakan pemerintah pusat maupun daerah. “Jika memungkinkan dapat didirikan MTs, seperti harapan para tokoh agama dalam FGD, agar anak kami tidak kos di kota setelah lulus MI,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Berita, Olahraga PKS Piyungan Taubat

Senin, 25 September 2017

Berjuang dan Mendidik Hingga Akhir Hayat

Pendidik dan pejuang, itulah mungkin gelar yang pas disematkan kepada Kiai Shodiq. Nyaris sepanjang hidupnya diisi dengan aktifitas pendidikan. Namun sebagai warga yang cinta tanah air, ia tak rela Indonesia dijajah. Iapun bergerilya memimpin pasukan rakyat dengan nama samaran Pak Jampir. 

Berjuang dan Mendidik Hingga Akhir Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Berjuang dan Mendidik Hingga Akhir Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Berjuang dan Mendidik Hingga Akhir Hayat

KH Shodiq Mahmud, SH., nama lengkapnya. Ia lahir ketika kalender menunjuk pada angka 3 Maret 1925 di Ponpes Sabilut Thoyyibah, Bugur Lor, Pasuruan dari pasangan KH. Mahmud Shiddiq dan Nyai Hj. Jauharoh Makmunah. Ayah Kiai Shodiq adalah saudara lain ibu dari KH Ahmad Shidiq, tokoh nasional NU.

Beberapa tahun kemudian, Shodiq kecil pindah ke Jember karena ikut ayahnya sebagai penghulu agama. Di Jember ia belajar di pesantren Talangsari asuhan KH Mahfudz Shiddiq. Saat umur sekitar 10 tahun, Shodiq dikirim ke Pesantren Tebuireng yang diasuh KH Hasyim Asy’ari.

PKS Piyungan Taubat

Setelah cukup lama di pesantren tersebut, Kiai Shodiq pulang ke Jember. Namun situasi Indonesia yang masih dalam cengkeraman Belanda saat itu, membuat Shodiq muda sulit beraktifitas. Jiwa juang Shodiq terpanggil untuk mengusir penjajah dengan memimpin pasukan rakyat. Ia menyamar dengan nama Pak Jampir. Wilayah gerilyanya meliputi Mangli, Rambipuji, Ajung, Curahmalang dan sekitarnya. Kerabat sekaligus kawan seperjuangan Kiai Shodiq adalah KH Abdullah Shiddiq, memakai nama samaran Pak Jibun.

Kendati situasi serba sulit, namun Kiai Shodiq tak mengabaikan hasratnya untuk menikah. Ia pun menyunting Elok Mu’awanah (1948).

PKS Piyungan Taubat

Rupanya Pak Jampir sudah menjadi target operasi Belanda, dan keberadaannya terus diendus. Belum genap setahun setelah menikah, ia ditangkap serdadu Belanda, dan ditahan di Lapas Kalisosok, Surabaya. 

Medio 1949, Kiai Shodiq bebas. Pengapnya penjara tak membuat semangat juang Kiai Shodiq mengendur. Ia kemudian memimpin Gerkaan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Sedangkan istrinya, Elok Mu’awanah juga aktif di GPII putri.

Tahun 1955, Kiai Shodiq diangkat menjadi anggota Pusrah Rawatan Rohani Angkatan Darat (imam tentara), bertugas di Kodim Jember. Pada saat yang hampir bersamaan Universitas Tawang Alun (kini Universitas Jember) didirikan. Sambil bertugas di Kodim, Kiai Shodiq menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember, dan lulus tahun 1964.

Pada tahun itu juga, NU Jember menggelar konferensi, yang salah satu rekomendasinya adalah mendirikan perguruan tinggi, dengan nama Institut Agama Islam Djember (IAID). Setahun kemudian, IAID resmi berdiri, dan  Kiai Shodiq ditunjuk sebagai dekannya. IAID kemudian dinegerikan menjadi Fak. Tarbiyah, dan sekian tahun kemudian diresmikan menjadi IAIN Sunan Ampel oleh Menteri Agama RI, Prof. KH. Saifuddin Zuhri.

Jiwa kependidikan Kiai Shodiq terus menggelora. Di sela-sela tugasnya sebagai dekan, ia bersama KH. Muchit Muzadi dan beberapa kiai lain  mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (kini MAN 1 Jember). Saat itu kepala sekolahnya diserahkan kepada KH. Muchit Muzadi.  

Ketokohan Kiai Shodiq terus meroket. Ketika NU Jember menggelar konferensi (1971), Kiai Shodiq terpilih sebagai ketua. Sedangkan kursi Rais Syuriah diraih KH. Dhofir Salam. Kendati sibuk di NU, tidak berarti ia abai di bidang pendidikan. Tahun 1984, Kiai Shodiq ikut mendirikan Universitas Islam Jember (UIJ), dan mengajar di Fak. Hukum dan Tarbiyah UIJ hingga tahun 1996.

Kiai Shodiq akhirnya pensiun dari PNS. Pensiun sebagai abdi negara, bukan berarti pensiun sebagai abdi umat. Salah satu bentuk pengabdiannya adalah mendirikan pesantren mahasiswa “al-Jauhar” di Jl. Nias III/5 Jember, tanggal 15 September 1991. Kiai Shodiq juga masih meluangkan waktu mengajar di Universitas Islam Malang (UNISMA) dan menjadi anggota senat.

Bagaimanapun kegigihan Kiai Shodiq dalam mengabdikan dirinya kepada umat, namun ia tidak bisa melawan takdir. Usia yang menua, membuatnya harus istirahat dari beragam aktifitas, sebelum ajal menjemputnya 4 April 1998. Ayah 6 anak itu dikubur di pemakaman umum Cukil Gebang, bersebelahan dengan istirinya yang meninggal lebih dulu. Selamat jalan wahai jiwa yang tenang.

Aryudi A. Razak

Kontributor PKS Piyungan Taubat Jember 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Fragmen, Ulama, Kyai PKS Piyungan Taubat

Selasa, 29 Agustus 2017

Pesona Kiai Jalal

Nama Kiai Jalal, beberapa tahun ini tengah menjadi buah bibir masyarakat Kota Purwokerto dan sekitarnya. Pasalnya, selain menguasai ilmu fiqh, ia juga dipercaya memiliki ilmu hikmah yang tidak dimiliki oleh sembarangan kiai. 

Akhirnya, pesantrennya pun kini menjadi begitu ramai. Semua berbondong-bondong untuk menimba ilmu dengannya. Tidak hanya berasal dari Jawa, tapi banyak juga santrinya yang berasal dari luar seperti Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat. Bahkan, ada beberapa santri dari Malaysia dan Brunei Darussalam yang juga ikut nyantri di pesantren Kiai Jalal, yakni pesantren Darul Hikmah.

Pesona Kiai Jalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesona Kiai Jalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesona Kiai Jalal

Dahulunya pesantren ini sangatlah sepi. Jumlah santrinya pun tak pernah lebih dari 30 orang. Apalagi setelah meninggalnya Kiai Abdul Rohim—ayah dari Kiai Jalal—hampir semua santri meninggalkan pesantren ini. Mereka memilih untuk pindah ke pesantren yang lain, karena di pesantren Darul Hikmah tak ada lagi yang mengajar mereka. 

PKS Piyungan Taubat

Namun, setelah kepulangan Kiai Jalal dari Mekkah, suasana pesantren menjadi sangat berbeda. Sepertinya Kiai Jalal menjadi matahari yang siap menyuguhkan energi baru melalui cahaya keilmuannya. Jumlah santrinya pun berubah drastis, jumlahnya kurang lebih mencapai 5000 santri. Semuanya rela berdesak-desakan di pesantren demi mengharap barokah ilmu dari Kiai Jalal.

PKS Piyungan Taubat

Tapi karena jumlah santrinya yang terlalu banyak, akibatnya tak semua santri bisa mengaji langsung kepada Kiai Jalal. Hanya santri yang sudah lama dan minimal duduk di kelas Alfiyah yang bisa mengais ilmu langsung darinya. Hal ini pula yang menyebabkan santri-santri tak pernah melewatkan ngaji selapanan setiap Ahad Kliwon. Setiap hari itu, Kiai Jalal mengajar Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Meski hanya 35 hari sekali, paling tidak bisa sedikit mengobati rasa rindu mereka untuk bisa mengikuti pengajian langsung dengan sosok yang mereka kagumi itu. 

Namun sayangnya pengajian itu tidak diperuntukkan bagi para santri Darul Hikmah saja, melainkan untuk seluruh warga yang ingin mengaji dengan Kiai Jalal. Alhasil, ketika hari Ahad Kliwon masjid pun selalu dipenuhi ribuan jama’ahnya yang datang dari seluruh penjuru kota di Jawa Tengah. Kebanyakan dari mereka adalah para kiai kampung yang sangat menaruh segan kepada Kiai Jalal. Ustadz Fahruddin salah satunya. Ia rela datang jauh-jauh dari Batang hanya untuk mengaji kepada Kiai Jalal. Katanya untuk ngalap berkah dengan ahli ilmu.

Bahkan menurutnya, Kiai Jalal adalah orang yang sangat alim. Walau usianya belum genap setengah abad, tapi pesonannya telah memikat seluruh masyarakat di Purwokerto khususnya, dan Jawa Tengah pada umumnya. Tak hanya kiai-kiai kampung, banyak juga pejabat-pejabat daerah yang secara khusus sowan untuk meminta nasehat kepada Kiai Jalal. Dan ia pun dengan senang hati menerima seluruh tamunya yang datang ke ndalemnya. Mulai dari rakyat biasa hingga pejabat, mulai dari yang miskin hingga konglemerat. Semuanya dianggap sama oleh Kiai Jalal. 

Tapi jika mereka ingin sowan dengan Kiai Jalal, mereka harus memilih antara Rabu, Jum’at atau Ahad, karena selebihnya ia berada di luar kota untuk mengisi pengajian. Seperti di Pekalongan, Temanggung, Wonosobo, Semarang, Magelang dan Kaliwungu.

****

Pagi ini, Kiai Jalal tak ada jadwal pergi ke luar kota. Setelah jama’ah subuh ia pun ke ndalem untukbersiap-siap menerima para tamu yang sudah rela menginap semalaman  di pesantrennya. Sementara para santri beraktivitas seperti biasanya, mengaji Al-Qur’an dengan para ustadznya hingga matahari nampak sempurna keluar dari peraduannya. Namun, tak seperti biasanya, pagi itu, suasana di Pesantren Darul Hikmah sangat ramai, semua santri tertuju pada sebuah kamar yang terletak di ujung lantai satu. Kamar itu merupakan kamar yang dihuni oleh Gus Huda, putra Kiai Abdul Wahid Bangkalan. 

Para santri pun berlarian menuju kamar itu, tak terkecuali para pengurus yang kamarnya berada di lantai tiga. Pun dengan para santri yang berada di masjid yang tak mau ketinggalan. Mereka ikut berlarian meski sebenarnya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu.

“Ada apa Kang?” Tanya Lukman kepada Kang Aziz, lurah pesantren Darul Hikmah.

“Katanya ada maling.” Jawabnya dengan tegas.

“Owalah, gebugi wae Kang!” ucapannya dengan keras sembari mempercepat langkah kakinya.

Sesampainya di depan kamar yang dituju, Kang Aziz pun kaget bukan kepalang, karena semua santri sudah berkumpul di sana. Wajah mereka tampak begitu garang. Sepertinya sudah siap memuntahkan seluruh amarahnya. Kang Aziz yang penasaran mencoba menerobos barisan santri yang sangat rapat. Ia pun mencoba menenangkan para santri dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu. Ia tak mau, para santri terkena isu yang belum jelas kebenarannya.

“Mohon teman-teman semua tenang. Kita pastikan dulu apa yang terjadi, mohon jangan main hakim sendiri.” Ucap Kang Aziz dengan tegas.

“Sudah jelas Kang, ada santri yang jadi maling. Sampeyan sebagai lurah jangan berusaha membela maling, Kang. Kita gunduli saja kang di depan semua santri. Bagaimana teman-teman, setuju!” jawab salah seorang santri berusaha memprovokasi.

“Setuju!” ucap semua santri secara serempak.

Kang Aziz pun akhirnya tak bisa berbuat banyak. Para santri memaksa masuk ke kamar dan menyeret si maling yang kini masih berada di dalam kamar.  Dan benar saja, mereka pun menyeret seorang santri keluar dari kamarnya Gus Huda, sembari meneriaki maling kepadanya. Bahkan mereka pun berkali-kali menjatuhkan pukulan ke wajahnya. Alhasil ia pun babak belur dan darah pun keluar dari mulutnya. 

Melihat itu, para santri bukannya berhenti. Ia terus menyeret santri itu menuju ndalem Kiai Jalal. Kang Aziz pun tak bisa berbuat apa-apa, karena melihat emosi para santri sudah tak mungkin lagi dikendalikan. Ia pasrah dan ikut membawanya menuju ndalem. Para santri berharap agar si maling dapat hukuman seberat-beratnya dari Kiai Jalal.  

Sesampainya di ndalem, Kiai Jalal sangat kaget karena disuguhi salah seorang santrinya yang sudah babak belur di hajar oleh teman-temannya sendiri. Begitu pula dengan para tamunya yang tak percaya melihat hal itu. Mereka menilai santri itu telah menodai kewibawaan Kiai Jalal. Namun, Kiai Jalal tak gegabah untuk memberikan hukuman kepadanya, meski para santri mendesak agar ia menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya.

“Maaf Kiai, santri ini telah mencuri. Kami atas nama santri meminta agar Kiai memberikan hukuman yang seberat-beratnya. Ia telah menodai pesantren Darul Hikmah Kiai,” ucap salah seorang santri.

“Tenang. Semuanya tenang. Izinkan kiai tanya kepada yang bersangkutan. Kita tidak boleh main hakim sendiri. Kita harus dengarkan dulu apa pengakuannya, siapa saksinya, mana buktinya. Begitu yang diajarkan oleh Islam,” jawab Kiai Jalal dengan penuh wibawa. Semua santri pun terdiam. 

Setelah suasana tenang, Kiai Jalal pun duduk di sampingnya dan bertanya dengan penuh wibawa. Meski salah seorang santrinya mencuri, ia tak menunjukkan wajah murka, bahkan sebaliknya. Tetap santun kepada siapapun.

“Cah bagus, namamu siapa?” tanya Kiai Jalal.

“Nama saya Hakim, Kiai,” jawabnya dengan lirih.

“Namamu bagus sekali. Terus apa yang kamu ambil?”

“Kitab, Kiai,” jawabnya sambil menunjuk kitab Mukhtaru Al Ahadits yang diambilnya.

“Apa kamu tidak uang untuk membeli kitab ini. Atau karena kamu sangat suka dengan kitab ini sehingga kamu mengambilnya?”

“Bukan, Kiai.”

“Lalu?”

“Saya mencuri kitab ini demi satu tujuan, Kiai.”

“Apa tujuanmu mencuri?” tanya Kiai Jalal penasaran

“Saya ini sudah mondok selama 3 tahun disini Kiai. Tapi belum pernah sekali pun saya bersamalaman dan mencium tangan kiai. Jadi saya lakukan ini semata-mata agar saya bisa bertemu dengan kiai, bisa bersalaman, dan mencium tangan kiai. Itu saja kiai. Tak ada yang lain,” jawabnya dengan polos.

Mendengar jawabannya, Kiai Jalal pun tersenyum lebar. Ia pun akhirnya mengerti alasan santrinya mencuri. Ia tak habis pikir, santrinya nekat melakukan hal itu demi keinginannya untuk bersalaman dan mencium tangannya. 

Para santri yang awalnya garang pun akhirnya terdiam ketika mendengar jawabannya. Pun dengan Kiai Jalal yang akhirnya meminta kepada para santrinya untuk kembali ke pesantren. Hanya Hakim dan Kang Aziz yang tetap berada di ndalemnya. Hakim pun tak mau membuang kesempatan itu, ia langsung bersalaman dan mencium tangan Sang Kiai sembari tersenyum. 

Sementara Kiai Jalal masih tak percaya dengan kejadian yang dilakukan oleh santrinya sendiri. “Tak bisa dinalar kelakuan satu santri ini,” ucap Kiai Jalal sambil tersenyum. Kemudian ia pun mempersilahkan Hakim dan Kang Aziz untuk kembali ke kamarnya masing-masing. 

 

 

SLAMET TUHAIRIE NG adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada konsentrasi Agama dan Sains (Kajian Komunikasi). Penulis juga merupakan Wakil Sekjend Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Periode 2012-2015. Beberapa karya penulis yang pernah dipublikasikan antara lain; Anggaran yang masih wajar (Kompas, 2010), Selebrasi Tanpa Refleksi (Kompas, 2010), Bukan Ilmu Laduni (Cerpen, PKS Piyungan Taubat 2012), Wanita Senja (Cerpen, PKS Piyungan Taubat, 2013), Jadzab Gus Nasr (Cerpen, PKS Piyungan Taubat 2013), Putra Mahkota Kiai Fatwa (Cerpen, Harian Satelit Post, 2013), dan lain-lain. Selain itu, penulis juga merupakan peraih Juara II Musabaqoh Menulis Makalah Ilmiah Al Qur’an tingkat perguruan tinggi se-Jawa Tengah tahun 2011 yang diadakan oleh LPTQ Provinsi Jawa Tengah, dengan judul makalah; “Upaya Pengentasan Kemiskinan Melalui Pengembangan Kewirausahaan Berbasis Pertanian Aqua Hidroponik.”

 

Ilustrasi: lukisan karya Nasirun. Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat IMNU, Santri, Kyai PKS Piyungan Taubat

Kamis, 17 Agustus 2017

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Meskipun kongres I Pagar Nusa tinggal 8 hari lagi, sampai saat ini bursa kandidat yang akan memimpin Pagar Nusa sebagai badan otonom NU belum muncul.

“Sejauh ini belum ada wilayah atau cabang yang menyuarakan aspirasinya mendukung calon tertentu,” tutur Ketua Panitia Kongres. H. Fuad Anwar, Selasa.

Mekanisme pencalonan sampai saat ini juga belum ditentukan, berapa suara minimal yang harus dipenuhi untuk bisa mencalonkan diri.

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi

“Masih terdapat perdebatan bagaimana mekanisme pemilihan ketua umum, melalui one man one vote, sistem ahlul halli wal aqdi atau sistem presidium, ini masih akan dibahas dalam tatib,” tutur Sekretaris Panitia Mujtahidur Ridho.

Edo, panggilan akrab Mujtahirur Ridho menjelaskan ada usulan dari pengurus PBNU yang menginginkan sistem ahlul halli wal aqdi untuk kongres pertama ini.

Dalam acara pra kongres yang akhirnya forumnya dirubah menjadi kongres, namun tidak diakui oleh PBNU yang diselenggarakan pada 25 September 2005 di Ponpes Ciganjur, terpilih H. Suharbillah.

PKS Piyungan Taubat

Kala itu, terdapat 5 kandidat yang bersaing dalam kongres. Dari 72 suara wilayah dan cabang, sebanyak 53 memilih Suharbillah diikuti KH Sayuthi Ghozali 13 suara, Kuncoro 3 suara, Abdul Latif 2 suara dan Abdul Halim 1 suara. Abstain 1 suara dan 1 suara lagi memilih Gus Maksum, pendiri Pagar Nusa yang saat ini sudah meninggal dunia. (mkf)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren, Kyai PKS Piyungan Taubat

Rabu, 16 Agustus 2017

GP Ansor NTT Berharap Natal Berlangsung Damai

Kupang, PKS Piyungan Taubat. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadakan rapat persiapan “Damai Natal” di wilayah NTT menjelang perayaan umat Kristiani di Kota Kupang dan sejumlah Kabupaten di NTT. GP Ansor berharap suasana tentram dan harmonis tetap berlangsung di provinsi berpenduduk mayoritas Kristen tersebut.

GP Ansor NTT Berharap Natal Berlangsung Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Berharap Natal Berlangsung Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Berharap Natal Berlangsung Damai

Rapat yang beerlangsung  di Kantor Pengurus Wilayah NU (PWNU) NTT di Jalan Ainiba Kompleks Masjid PerumNas, Kota Kupang, Ahad (14/12) dan dihadiri sejumlah pengurus harian GP Ansor NTT.

Ketua PW GP Ansor NTT Abdul Muis mengatakan, pelaksanaan Damai Natal 2014 diharapkan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Niat kita menjadi gerda terdepan umat muslim (dalam menciptakan kerukunan) di NTT, maka perlu dipersiapkan berbagai hal dalam pelaksanaan nanti,” jelasnya.

PKS Piyungan Taubat

Menurut Muis, Pimpinan Cabang GP Ansor di seluruh Kabupaten di NTT akan segera rapat panitia Damai Natal di internal kepengurusan masing-masing dan siap menyukseskan acara tersebut.

Ketua  Panitia Damai Natal PW GP Ansor NTT,  Defi Gudban, mengatakan persiapan kali ini akan lebih baik dari tahun-tahun seebelumnya. "Kita lakukan persiapan semaksimal mungkin demi pelaksanaan bisa terwujud sesuai harapan kedamian di NTT,” ujarnya.

PKS Piyungan Taubat

“Pelaksanaan Damai Natal itu tetap kita lakukan pada lokasi-lokasi sentral di Kota Kupang. Oleh karena itu persiapan ini akan melibatkan beberapa remaja masjid,  OKP (organisasi kepemudaan) Muslim seperti PMII, IPNU, dan beberapa Banom NU yang akan terlibat, serta kader Banser NTT,” tutur Defi. Tentang jumlah personil anggota DPRD Kota Kupang ini mengatakan hal itu akan disepakati pada rapat panitia beberapa hari lagi. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kyai, Ulama PKS Piyungan Taubat

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas

Mempawah, PKS Piyungan Taubat

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat M. Zeet Hamdy Assovie menyampaikan, salah seorang ulama dunia Syekh Chatib Sambas adalah guru dari para ulama Nusantara dan pendiri NU. Sambas adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas

“Karenanya sudah menjadi keharusan bahwa NU harus besar di bumi Kalimantan Barat ini,” kata M. Zeet Hamdy Assovie dalam pembukaan Pendidikan Kader Penggerak NU Angkatan VI di Bakau Besar Sungai Pinyuh Mempawah, Jum’at (26/2).

Ia menyebutkan, KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan banyak kiai besar lainnya adalah murid dari Syekh Chatib Sambas ketika sama-sama bermukim di Makkah.

PKS Piyungan Taubat

Melalui proses kaderisasi yang terencana, ia berharap NU di Kalimantan Barat akan semakin aktif di wilayah ini.

PKS Piyungan Taubat

Pendidikan Kader Penggerak atau PKPNU diselenggarakan selama tiga hari, 26-28 Februari yang diikuti sebanyak 35 peserta pilihan dari seluruh cabang di lingkungan PWNU Kalimantan Barat. PKPNU kali ini mengambil tema “Kaderisasi Dalam Rangka Memperkokoh Kemandirian Ekonomi”.

Kegiatan dilaksanakan di di Laboratorium Pertanian yang diinisiasi oleh Ketua PWNU Kalimantan Barat sendiri.

“Di tempat ini telah kami siapkan semacam laboratorium pertanian agar bisa menjadi tempat pembelajaran bagi para kader untuk menjadi pengusaha. Ada kebun buah, ternak sapi perah, produksi pupuk dan lain-lain. Silahkan para kader berlatih di sini,” tambahnya.

Di tengah acara Pendidikan Kader Penggerak NU, Sabtu malam dilaksanakan Haul Syekh Yusuf Almansyur, kakek dari Zeet Hamdy yang juga adalah Ketua PWNU pertama di Kalimantan Barat.

Acara PKPNU PWNU Kalimantan Barat ini mengundang beberapa instruktur Nasional PKPNU, antara lain Abdul Munim DZ, Enceng Shobirin Nadj, Adnan Anwar, Amir Ma’ruf dan Bambang Yasmadi. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pendidikan, Kyai, Anti Hoax PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock