Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting

Wonosobo, PKS Piyungan Taubat. Rapat Pleno PBNU di Kompleks Pondok Pesantren Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq), Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu-Ahad (7-8/9) akan membahas sejumlah persoalan internal NU dan beberapa rekomendasi terkait isu-isu penting nasional dan internasional.

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting

Para peserta rapat Pleno PBNU berjumlah sekitar 130 orang yang terdiri dari pengurus PBNU dari jajaran syuriyah, tanfidziyah, mustasyar dan a’wan, serta ketua-ketua lembaga, lajnah dan badan otonom di tingkat pusat.

Para peserta rapat dibagi ke dalam empat komisi, yakni organisasi, program, penataan aset dan rekomendasi. Masing-masing komisi beranggotakan unsur syuriyah, tanfidziyah, mustasyar dan a’wan, serta ketua-ketua lembaga, lajnah dan badan otonom.

PKS Piyungan Taubat

Usai pembukaan Sabtu (7/9) besok, para peserta rapat akan mendengarkan laporan perkembangan NU pasca-Munas Cirebon 2012 oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Rapat kemudian dilanjutkan dengan sidang-sidang komisi.

Pada komisi program akan dievaluasi sejumlah program PBNU pasca Munas Cirebon yang dilaksanakan oleh lembaga, lajnah, serta beberapa program badan otonom.

PKS Piyungan Taubat

Untuk Komisi Organisasi, menurut Ketua Panitia Rapat Pleno PBNU H Arvin Hakim Thoha, akan dibahas konsep Ahlul Halli wal Aqdi, atau model pemilihan baru Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk disahkan dalam Muktamar mendatang.

“Sudah disiapkan draftnya nanti insyaallah akan dibahas. Pengennya nanti di Muktamar 2015, kita tidak lagi memakai model pemilihan langsung,” katanya.

Selain itu, lanjut Arvin, akan dibahas seputar kedudukan cabang dan wilayah. Sementara ini, kepengurusan cabang dan wilayah NU masih mengikuti administrasi kepemerintahan.

“Yang sekarang ada, berapa pun jumlah warga di PWNU maupun PCNU dan sepadat apapun programnya tetap saja suaranya sama di Muktamar,” katanya.

Pada komisi rekomendasi, Rapat Pleno antara lain akan membahas sikap NU terkait pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2014. “Untuk Capres nanti NU tidak akan menitipkan aspirasinya pada satu parpol saja. Tapi nanti ini kan dibahas dalam komisi,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto:Dok. PKS Piyungan Taubat: Dari kiri Ketua PBNU H Arvin Hakim Thoha, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Hikmah, Tokoh, Sejarah PKS Piyungan Taubat

Senin, 05 Februari 2018

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz merupakan jam’iyyah atau organisasi yang didirikan KH Wahid Hasyim pada tanggal 12 Rabul Awwal 1371 H bertepatan 15 Januari 1951 M, di rumah H Asmuni, Sawah Besar, Jakarta. 

Tujuan organisasi ini adalah terpeliharanya kesucian dan keagungan Al-Qur’an. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an, terpeliharanya persatuan qurra wal-huffazh ahlussunah wal-jamaa’ah. 

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz, Berjuang Syi’arkan Al-Quran

Organisasi ini pernah melakasanakan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) antar-Pondok Pesantren seluruh Indonesia. Kemudian kegiatan ini diambil-alih Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Nasional sejak tahun 1968 sampai sekarang. Di sisi lain, saat itu pula, JQH bisa dikatakan “mati suri”.

PKS Piyungan Taubat

Lalu, pada tahun 1992, saat KH Abdurahman Wahid menjadi ketua umum PBNU, JQH kembali diaktifkan. Pada tahun 1999, JQH mengadakan MTQ antar-Pondok Pesantren di Garut, Jawa Barat.  

Belum lama ini, JQH NU menggelar MTQ IV Nasional dan MTQ I Internasional, di samping Musyarah Nasional IV. Pada Munas tersebut, Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad kembali dipilih menjadi Rais Majelis Ilmi JQH NU secara aklamasi. Sementara Ketua PP JQHNU KH Muhaimin Zen. Keduanya telah dilantik Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pertengahan Ramdhan tahun ini.

PKS Piyungan Taubat

Dengan demikian, perkumpulan para qori-qoriah, hafidz-hafidzah, para pecinta Al-Quran, yang bernaung di bawah Nahdaltul Ulama ini, akan segera mengabdi di masyarakat. Untuk mengenal gerak dan arah pengabdian organisasi ini, Abdullah Alawi dari PKS Piyungan Taubat, berhasil mewawancarai Rais Majelis Ilmi Dr KH Ahsin Sakho Muhammad. 

Bagaimana gerak dan pengabdian JQHNU ke depan?. Penataan organisasi terlebih dahulu. Kemudian program-programnya itu lebih dirasakan masyarakat luas dan yang kita harapkan adalah unit-unit JQH yang ada di setiap daerah, mulai dari provinsi sampai kabupaten, bahkan sampai kecamatan, semuanya itu bergerak melalui alur program-program yang ada pada masing-masing itu. ada program-program umum yang harus dilaksanakan, ada program khusus yang juga harus dilaksanakan, bisa dilaksanakan oleh masing-masing.

Selain itu, mendorong adanya insan-insan dari JQH itu bisa menelorkan hal-hal yang baru, metode-metode baru dalam cara menghafalkan Al-Quran, metode baru dalam mempelajari qiroah, tilawah, sosialisasi Al-Quran kepada masyarakat. Jadi, istilahnya insan akademis bisa masuk ke dalam program-program itu sehingga bisa diminati oleh masyarakat. 

JQH bergerak melalui pesantren-pesantren Al-Quran di lingkungan NU. Mereka yang mengajar di TK-TK Al-Quran itu kan sebenarnya berguru kepada kyai-kyai yang punya institusi tahfizd Al-Quran karena itu soko gurunya. Kyai-kyai yang memegang pesantren tahfidzul Quran, itu sebenarnya yang memegang barometer cara pembacaan yang benar.

Kendala yang paling sering dialami dalam gerak atau program JQH?. Yang peling besar kendala selama ini adalah dana, karena bagaiamana pun juga pada zaman sekarang ini, dana ibaratanya roda. Roda itu bisa berjalan dengan bensin. Hanya itu saja. Tapi, Alhamdulillah melalui ide-ide yang kita cetuskan bisa meyakinkan beberapa orang yang bisa mendukung berjalannya roda itu. 

Awal Juli tahun ini, JQHNU menggelar MTQ Nasional dan Internasional. Sebenarnya buat apa repot-repot menyelenggarakannya? 

Pertama adalah bahwa kita ingin mensyiarkan Al-Quran dan masyarakat akan tertarik apabila mendengarakan pembacaan Al-Quran dengan lagu-lagu. Jadi, lagu kan ada seninya. Dan masyarakat itu kan senang terhadap seni. Kalau ada peserta bagus, dihormati oleh orang, diberi hadiah, ini diharapkan masyarakat itu bisa ikut terdorong untuk menjadikan anak-anak mereka itu bisa mengaji, begitu. 

Apa yang ingin dicapai dengan menyelenggarkaan MTQ Internasional?. Pertama adalah silaturahim antar-para kaum muslimin secara keseluruhan. Kemudian antarnegara, antara Indonesia dengan negara-negara lain. Ketiga mempererat persahabatan antara para praktisi ke-Quranan antarnegara. Dan kita tahu bahwa Indonesia itu sering dipanggil kemana-mana, masak kita nggak pernah menghormati mereka. Kita dihormati dimana-mana di hampir 20 negara. Mulai Mesir, Iran, yang dahulu di Saudi Arabia sampai ke Maroko di Yordania. Banyaklah.

Itu karena kualitas ahl-ahli Al-Quran kita? 

Iya, karena mendengar bahawa Indonesia adalah sebuah negara yang mempunyai budaya MTQ yang sedemikian mapan. Dan kalau kita lihat, MTQ di Indonesia merupakan MTQ yang paling terbanyak cabangnya di dunia. Di Saudi cuma lima saja, di Iran cuma tiga saja, di Sudan cuma dua saja, di beberapa tempat nggak sampai 10 cabang. 

Di Indonesia, tilawah saja ada tilawah untuk tunanetra, anak-anak, remaja, dewasa, qiroat syab’ah, cerdas cermat Al-Quran, MHQ, Syarhil Quran, khotul Quran, kaligrafi itu sudah empat cabang, belum lagi tafisr bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Banyak sekali. Kita harus bangga sekali, dan pemerintah memberikan keleluasaan bagi para pecinta Al-Quran untuk mengembangkannya. 

Dengan prestasi seperti itu, kita mengingat jasa KH Wahid Hasyim yang pertama kali mengusulkan terbentuknya JQH NU karena melalui lembaga inilah yang pertama kali mengadakan MTQ antarpesantren. Bagaimana menurut Kyai?

Luar biasa. KH Wahid Hasyim itu orang yang paripurna. Orang yang hafal Al-Quran, negarawan, demokrat, orang yang jenius, orang yang memikirkan persoalan ke-Quranan. Beliau negarawan, tapi peduli terhadap satu dunia, dunia yang belum terpikirkan oleh orang-orang. Pak Wahid Hasyim itu ingin memberikan wadah kepada para ahli-ahli Al-Quran di lingkungan jam’iyyah Nahdlatul Ulama, yaitu berupa Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz. Pengaruhnya sangat besar sekali bagi perkembangan Indonesia. 

Karena apa? Kita sudah diazani, wadah. Silakan kembangkan wadahnya. Selain itu, Abu Bakar Aceh juga salah seorang yang besar jasanya. Saaya ingat beliau menulis tentang masjid-masjid, sejarah masjid-masjid di Aceh, di Nusantara,  yang menceritakan anak-anak masa lalu. Dimana anak-anak Aceh dahulu, ketika kecil, menghormati Al-Quran. 

Landasan-landasan pertama bagi generasi berikutnya. Nah, menurut saya, mereka itu telah menyumbangkan apa yang mereka bisa sumbangkan. Makanya sekarang kita juga harus menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi masyarakat sekarang ini.

Apa yang kira-kira dipikirkan Wahid Hasyim saat membentuk JQH waktu itu? 

Ya kita melihat ya bahwa di dalam lingkungan Nahdlatul Ulama itu kan ada dua jenis ulama. Ada ulama yang berkecimpung dalam kitab-kitab kuning; nahwu, sorof, fiqih, tasawuf. Kemudian, ada ulama-ulama yang menggeluti dalam bidang Al-Quran, menghafalkan Al-Quran. Kalau mereka yang ahli hadits, terbiasa dengan bahsul matsail. Sementara yang ahli Al-Quran ini mau dikemanain ini? Maka, saya melihat KH Wahid Hasyim itu, punya pemikiran yang luar biasa untuk memberikan wadah untuk satu kelompok lagi dalam lingkungan NU, yaitu kelompok, orang-orang mendalami dalam bidang tahfizul Al-Quranul Karim.

Lalu, perhatian pemerintah kepada para ahli Al-Quran bagaimana? 

Masih kurang. Masih belum optimal. Pertama, mereka yang sudah hafal Al-Quran yang ingin memasuki perguruan tinggi itu mestinya diperlakukan dengan berbeda. Kalau perlu dikasih beasiswa. Mestinya begitu. Atau mereka yang telah hafal Al-Quran itu mengabdi di masyarakat, mestinya mereka itu ditempatkan di masjid-masjid besar, di masjid raya, menjadi imam besar di situ. Kemudian mengajarkan Al-Quran kepada orang-orang di sekitar itu. 

Pemerintah juga belum mendirikan institusi pendidikan yang berbasis Al-Quran apakah mulai dari Tsanawiyahnya, Aliyahnya hingga perguruan tinggi. Jangankan untuk membikinkan begitu, program-program pembelajaran Al-Quran misalnya di Tsanawiyah negeri, Aliyah negeri, itu belum ada yang mengharuskan anak-anaknya itu menghafalkan Juz ‘Ama mislanya, menghafal Ya Siin, nggak ada. Malah yang berkembang itu di pesantren. 

Jadi, mereka yang ahl tahfizd yang ikut MTQ itu berasal dari pesantren-pesantren di lingkungan NU. 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Cerita, Tokoh PKS Piyungan Taubat

Rabu, 31 Januari 2018

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar

Way Kanan, PKS Piyungan Taubat

Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Way Kanan Lampung Sosialisasikan bahaya seks bebas di SMK 1 Pakuan Ratu, Sabtu (5/3) lalu.

Upaya sosialisasi bahaya perilaku menyimpang khususnya pergaulan bebas yang mengarah ke sex bebas melalui pendidikan ini, digagas Fatayat NU Kabupaten Way Kanan dengan mengusung program kegiatan bertajuk ‘Fatayat Goes To School’ dengan penyuluhan yang menyenangkan bagi siswa menengah atas di Kabupaten Way Kanan.

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar

"Kegiatan ini sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap pergaulan anak-anak yang saat ini cenderung bergaul terlampau bebas, sehingga banyak anak-anak mengalami dampak buruk baik psikologi maupun perkembangan anak tersebut,” ujar Rosmalia Resma Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Way Kanan di Blambangan Umpu, Senin (7/3).

Bahkan, lanjutnya, pelajar rentan mengalami kekerasan, khususnya terhadap anak perempuan. Ini jelas berakibat fatal bagi generasi yang akan datang, bahkan agama pun jelas melarang pergaulan yang kebablasan.

PC Fatayat Way Kanan yang merupakan organisasi perempuan muda NU merasa ikut memberikan kepedulian melalui pendidikan sosial terhadap pelajar dengan memberikan penyuluhan yang menyenangkan pada sekolah-sekolah di tingkat SMA atau sederajat.

PKS Piyungan Taubat

?

PKS Piyungan Taubat

"Ini bentuk kepedulian sosial Fatayat dan merupakan program kerja pengurusan kami dengan Fatayat Goes To School akan memberikan dampak yang baik dan selalu waspada akan prilaku yang menyimpang,” demikian Rosmalia Resma. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh PKS Piyungan Taubat

Senin, 29 Januari 2018

Menjadi Santri

Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa yang membuatku pernah menjadi santri. Terima kasih kepada temanku, si Unung, yang mengiming-imingiku menjadi santri. Terima kasih juga kepada ibu bapakku yang menyebabkan aku menjadi santri. Tidak lama aku menjadi santri, cuma dua tahun.

Perlu aku bersyukur sebab sekarang merasakan beruntungnya menjadi santri. Aku bersyukur dalam sejarah hidupku pernah mengalami kehidupan pesantren. Terasa banyak gunanya. Dan tentu saja punya kisah yang tak dimiliki anak-anak kota yang tak mengenal pesantren.

Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Santri

Kuakui, sebelumnya sering malu kalau orang lain mengetahuiku pernah jadi santri. Kadang sering mangkir pernah jadi santri. Tapi belakangan malah bangga. Aku bangga sebab punya pengalaman hidup yang lebih dari anak-anak kota pada umumnya.

PKS Piyungan Taubat

Dari pesantren memang tak sebarapa banyak bertambah ilmuku. Soalnya aku nyantri cuma dua tahun. Sementara santri lain bisa sampai belasan tahun.

Waktu Belanda dikalahkan Jepang, sekolah-sekolah tutup. Anak-anak menganggur. Si Unung, teman sebangku di sekolah, ikut kakaknya nyantri di pesantren P. Ketika pulang, ia menceritakannya dengan menarik. Katanya, mengaji di pesantren lebih cepat ketimbang ngaji di Ajengan Enoh, di Kampung. (Aku dan si Unung mengaji di Ajengan Enoh).

PKS Piyungan Taubat

Lalu timbul keinginanku menjadi santri. Semakin bertambah setelah mendengar ceramah Ajengan Ma’mun ketika Rajaban.*

“Sekarang kebanyakan manusia memburu harta dunia seolah-olah akan hidup selamanya. Padahal maut tak diketahui kapan datangnya, bisa besok, bisa nanti, tak ada yang tahu. Saudara-saudara, ilmu itu cahaya, al-ilmu nurun. Orang tak berilmu ibarat di dunia gelap tak tahu jalan yang harus ditempuh. Itulah sebabnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap mukmin. Tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin...” begitu kata Ajengan Ma’mun.

Niatku semakin bulat untuk ke pesantren. Ibuku tak kurang sepuluh kali mengucapkan alhamdulillah ketika aku mengatakannya. Ia kemudian bercerita ke hampir setiap orang kampung. Lalu para orang tua ingin juga memiliki anak sepertiku, menjadi santri.

Aku lupa tanggal persisnya mulai menjadi santri. Tapi tak akan lupa harinya, Rabu. Sebab itu perhitungan kakekku. Menurut dia, mencari ilmu harus dimulai hari Rabu. Aku lupa alasannya, tapi katanya Rabu hari terbaik mulai tholabul ilmi.

Tidak seperti Yogaswara dalam Mantri Jero**, ia berangkat ke pesantren sendirian. Keberangkatanku seperti calon haji yang akan pergi ke Makkah. Seperti Purnama Alam*** pergi ke Pesantren Gurangsarak. Berduyun-duyun pengantar. Kedua pamanku mengapit di kiri kananku, ibu, bapak, dan kakek. Beriringan Mang Ihin dan si Uha, tukang kebun dan anaknya. Keduanya memikul perbekalanku dan oleh-oleh buat ajengan.

Ajengan menyambut hormat kedatangan rombonganku. Apalagi kepada kakek, ia sangat hormat sekali. Sebab kakekkulah yang dulu menikahkannya.

Aku menjadi santri istimewa di pesanten itu. Sampai ditawari, mau tinggal di rumah ajengan atau mau di kobong****. Aku memilih di kobong supaya banyak teman. Kalau di rumah ajengan, takut ketahuan aku tak pintar. Di kobong, aku diberi tempat yang enak. Tak jauh dari jendela. Tempat tidur di atas ranjang. Kopor disimpan di atas.

Malam pertama di pesantren aku merasa takut. Mungkin karena belum ada yang kenal. Dan ternyata susah kenal dengan mereka.

Santri yang tidur di bawah ranjangku sepertinya sedang sakit. Dia berselimut terus. Ketika orang lain ke masjid, dia masih saja berselimut. Selepas Isya kuberi paha ayam dan nasi timbel. Betapa gembira menerimanya.

Santri yang tidur di sebalah kiriku, dari tampangnya saja tampak songong. Di hadapanku, ia membaca Safinah keras-keras. Tambah menyebalkan ketika ia bertanya dengan bahasa Arab, “Man ismuka?”

Sespertinya dia menyangka aku tak mengerti sama sekali bahasa Arab. Padahal yang seperti itu aku pernah belajar kepada Ajengan Suganda. Aku menjawab pertanyaan dengan menyebutkan namaku, ia tidak songong lagi.

“Kamu pernah ngaji ya?” tanya teman yang tiduran di bawahku, sementara giginya menggerus tulang.

“Belum,” kataku.

Nah, dengan merekalah aku pertama kali kenal. Pertama si Atok, yang tidur di bawahku. Kedua si Aceng, yang songong, di sampingku, yang bertanya dengan bahasa Arab.

Ketika mulai ngaji, aku diperkanalkan ajengan. Para santri, ini Den Anu, putranya juragan Anu, putunya juragan Hatib, di B.

Mulai saat itulah aku hidup di pesantren.? ? ?

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografi Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam mengkritik. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.. * peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

** novel karya Memed Sastrahadiprawira

* ** wawacan karya sastrawan R. Suriedireja

**** kamar-kamar di pesantren Sunda, gutekan di Jawa

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, AlaSantri PKS Piyungan Taubat

Jumat, 26 Januari 2018

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan saat ini toleransi yang ada di dunia sedang menghadapi cobaan. Karena itu, NU terus berjuang untuk menumbuhkan toleransi baik antar agama maupun diantara aliran dalam satu agama.



Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Hal ini disampaikannya ketika memberikan sambutan pada puncak acara Global Peace Festival yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Ahad (17/10).

“Toleransi harus ditumbuhkan antara muslim dengan non muslim maupun antara muslim dengan muslim lainnya,” katanya.

PKS Piyungan Taubat

Ia mengisahkan KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur merupakan salah satu dari tim sembilan yang merumuskan pembentukan negara ini. Mereka sepakat untuk membentuk negara bangsa yang tidak didasarkan atas agama, meskipun umat Islam mayoritas di Indonesia.

PKS Piyungan Taubat

Sementara itu Menakertrans Muhaimin Iskandar menyatakan pemerintah sangat mendukung kampanye perdamaian, baik antara sesama manusia maupun perdamaian antar negara.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan rakyat Indonesia sepakat membentuk sebuah negara karena ingin hidup dalam damai, lepas dari penjajahan bangsa lain.

“Para pendiri negara ini, sebagaimana tercermin dalam UUD 1945 sepakat ikut melaksanakanketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi,” katanya.

Karena itu, UUD memberi jaminan kepada warga negara untuk melaksanakan keyakinannya, serta memiliki berbagai macam hak lainnya yang dilindungi UU. “Tak ada tempat yang tak toleran dalam konstitusi kita,” tegasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Pendidikan, Makam PKS Piyungan Taubat

Senin, 08 Januari 2018

Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya?

Pringsewu, PKS Piyungan Taubat - Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah mengingatkan manusia untuk tidak berbuat zalim kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Terlebih lagi, Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT juga dilarang menzalimi sang khalik, yaitu Allah SWT.

Hal ini dijelaskan Pengasuh Pondok Pesantren Mathlaul Huda Ambarawa Pringsewu Kiai Mubalighin Adnan atau yang biasa dipanggil Gus Balighin, saat memaparkan materi pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (1/10).

Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Daya Manusia untuk Membela Allah dan Agama-Nya?

Gus Balighin mengajak masyarakat untuk banyak bermuhasabah apakah sebagai makhluk kita sudah melaksanakan semua perintah-Nya atau malah kehidupan kita banyak diisi dengan melanggar perintah-Nya.

PKS Piyungan Taubat

"Ketika kita tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, maka pada hakikatnya kita telah berbuat zalim kepada sang khalik, Allah SWT," tegas Gus Balighin seraya menjelaskan bahwa makna zalim secara luas adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Lebih lanjut Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu ini mengatakan bahwa kekuasaan dan kemuliaan Allah SWT tidak terbatas. Pada hakikatnya Allah SWT tidak akan berkurang kekuasaan dan kemuliaan-Nya seandainyapun seluruh manusia didunia tidak taat dan tidak beribadah kepada Nya.

PKS Piyungan Taubat

Menurutnya, jika ada orang yang merasa paling membela Allah, membela agama Allah dan membela Al-Quran maka sebenarnya ia akan tidak mampu. "Allah yang pencipta kita, Allah yang menurunkan agama dan Al-Quran dan Allah yang akan menjaganya," tegasnya seraya mengutip ayat Firman Allah dalam Quran Surat Al Hijr ayat 9 yang menegaskan tentang hal tersebut.

Ia teringat perkataan KH. Abdurrahman Wahid yang menegaskan bahwa manusia tidak punya kekuatan untuk membela Allah dan agama Allah. "Allah maha kuasa atas segalanya. Kita tidak punya kekuatan. Apa kekuatan kita dan apa yang mau dibela?" tanyanya.

Yang terpenting menurutnya adalah bagaimana sebagai makhluk, manusia dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan apa larangan-Nya serta menjadi jiwa yang baik dengan tidak menzalimi diri sendiri, orang lain dan Allah SWT.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula," pungkasnya mengutip ayat 9 dan 10 Surat Az-Zalzalah. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Aswaja, Berita PKS Piyungan Taubat

Kamis, 21 Desember 2017

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Nippon (Jepang), pesantren menjadi basis kuat perlawanan rakyat Indonesia terhadap ketidakperikemanusiaan kolonial. Hal itu dibuktikan ketika pesantren dan para kiai senantiasa menjadi bidikan para penjajah untuk ditundukkan dengan segala cara, baik dengan mengajak kerja sama maupun memenjarakan para kiai.

Langkah memenjarakan kiai dengan tuduhan mengajak masyarakat melakukan pemberontakan terhadap penjajah Jepang terjadi pada tahun 1943, dua tahun sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di antara kiai yang digelandang Tentara Nippon yaitu Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947).

Awalnya Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) itu dipenjarakan di Jombang, lalu dipindah ke Mojokerto. Selama masa itu, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut mengalami penyiksaan teramat berat dan pedih dari para serdadu Nippon. Namun, keteguhan dan kekuatan spiritualnya mengalahkan rasa sakit dan pedih ketika jari-jemarinya remuk dipukuli tentara Jepang.

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Teori ‘Setengah Isi’ dan ‘Setengah Kosong’ Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Dipenjaranya Kiai Hasyim Asy’ari memantik perlawanan dari ribuan santrinya. Mereka ramai-ramai menggeruduk penjara Jepang di Jombang sehingga mereka terpaksa harus memindahkan ayah Kiai Abdul Wahid Hasyim itu ke Mojokerto. Langkah tersebut sekaligus disadari oleh Jepang bahwa langkah mengurung Kiai Hasyim merupakan kesalahan besar sehingga langkah diplomasi perlu dilakukan.

Langkah diplomasi ini memang sekuat tenaga dilakukan oleh Jepang, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, dan Kiai Wahid Hasyim. Tujuan utama Kiai Wahid agar bisa membebaskan ayahnya atas tuduhan mengada-ada para tentara Jepang yang memicu perlawanan para santri dan rakyat Indonesia ketika itu. Hal ini menjadi kekhawatiran Jepang sendiri akan munculnya perlawanan yang lebih besar bangsa Indonesia terhadap kolonialismenya.

PKS Piyungan Taubat

Ya, Jepang memperoleh informasi yang salah ketika menuduh Kiai Hasyim Asy’ari memobilisasi rakyat untuk melakukan pemberontakan di daerah Cukir, sekitar Jombang. Akhirnya kesepakatan diperoleh, Jepang mau membebaskan Kiai Hasyim Asy’ari dengan syarat ia mau diangkat sebagai Shumubucho, Kepala Jawatan Agama yang dulunya dijabat oleh seorang Jepang Kolonel Horie.

Di sinilah politik kompensasi dilakukan oleh Jepang untuk menarik perhatian rakyat Indonesia karena Kiai Hasyim mempunyai pengaruh yang sangat luas. Lantas, apakah kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menerima dan setuju kemauan penjajah Jepang itu? “Setuju, meski ada tapinya,” ujar Kiai Wahid Hasyim ketika ditanya Kiai Saifuddin Zuhri terkait kondisi ayahnya. (Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013)

PKS Piyungan Taubat

Bagi Kiai Hasyim Asy’ari seperti yang diterangkan oleh Kiai Wahid Hasyim, menerima tawaran Kolonial Jepang lebih bijaksana daripada menolaknya. Alasannya sederhana, jika menolak bisa dianggap oleh Jepang sebagai sikap yang tidak mau kerja sama. Jangan dilupakan, Hadlratussyekh baru saja mengalami penderitaan selama lima bulan di penjara. Akan tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada Kiai Wahid karena kondisi sepuh Kiai Hasyim yang tidak memungkinkan mondar-mandir Tebuireng-Jakarta, selain alasan harus mengasuh dan memangku pesantren.

Nampak bahwa Kiai Hasyim Asy’ari sedang memberi keteladanan kepada para pejuang muda bahwa arti perbuatan bijaksana itu bukanlah untuk menjatuhkan pilihan terhadap yang benar dan yang salah serta terhadap yang baik atau buruk, tetapi menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau yang sama-sama buruk, namun diharuskan memilih salah satunya berhubung dengan situasi yang mengharuskan untuk memilih.

Jika menolak, Kiai Hasyim Asy’ari bisa juga dianggap sebagai sikap menentang. Alhasil, menurut Kiai Wahid Hasyim (Berangkat dari Pesantren, 2013), Hadlratussyekh menempuh teori ‘setengah isi’ daripada teori ‘setengah kosong’. Orang ’arif akan mengatakan botol yang isinya tidak penuh dengan ‘setengah isi’, bukan ‘setengah kosong’. Meskipun natijah (kesimpulan)-nya sama, orang akan menerimanya dengan sikap berbeda. Istilah ‘setengah isi’ lebih memperlihatkan toleransi ketimbang ‘setengah kosong’ yang dapat diartikan sebagai sikap intoleransi, kaku. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Halaqoh PKS Piyungan Taubat

Selasa, 19 Desember 2017

GP Ansor Pegiringan Keliling Desa Bantu Korban Puting Beliung

Pemalang, PKS Piyungan Taubat 

Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Pegiringan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah menggalang dana untuk warga yang tertimpa musibah angin puting beliung. 

GP Ansor Pegiringan Keliling Desa Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pegiringan Keliling Desa Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pegiringan Keliling Desa Bantu Korban Puting Beliung

Angin puting beliung menerjang Desa Bojongnangka dan Desa Tambakrejo, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada Ahad 31 Desember 2017. Akibatnya, sekira 100 rumah di dua desa tersebut rusak. 

Berdasarkan data yang dihimpun dari BPBD Pemalang di RW 05 Desa Bojongnangka terdapat 30 rumah rusak berat dan ringan. Sementara di RW 06 Desa Bojongnangka terdapat 29 rumah yang mengalami rusak berat. Lalu di Desa Tambakrejo terdapat 41 rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana ini.

Sekarang ini masyarakat korban bencana puting beliung membutuhkan bantuan logistik, pakaian, material bangunan, serta bantuan lainnya. 

PKS Piyungan Taubat

GP Ansor mulai bergerak melakukan penggalangan dana pada hari Jumat-Sabtu (5-6/01). Penggalangan dana dilakukan dengan keliling mendatangi rumah-rumah warga.

Ketua ranting GP Ansor Pegiringan Slamet Riyadi mengatakan aksi ini sebagai bentuk kepedulian Ansor dan Banser Pegiringan terhadap korban puting beliung di desa Bojongnangka dan sekitarnya. 

“Hasil pengalangan dana, akan kami salurkan langsung sekaligus kami akan memberangkatkan anggota Banser untuk kegiatan Baksos dilokasi pada Minggu, 7 Januari 2018,” ucap Slamet. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Habib, Kajian Sunnah, Tokoh PKS Piyungan Taubat

Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada

Kisah anak durhaka identik dengan cerita Malin Kundang. Terlepas dari benar atau tidak kisah itu, pastinya cerita Malin Kundang sangat mempengaruhi pikiran anak supaya tidak melawan orang tuanya. Kalau ada anak nakal, biasanya dikatakan, “Kamu mau kayak Malin Kundang?” Sontak si anak diam dan takut.

Namun pada zaman modern ini, kisah Malin Kundang tampaknya tidak sakti lagi. Malah yang terjadi, munculnya Malin Kundang baru yang diperankan oleh aktor yang berbeda-beda. Bahkan kelakuan sebagian anak sekarang, lebih parah dari Malin Kundang. Bila Malin Kundang hanya tidak mengakui orang tuanya di depan kekasihnya, anak sekarang tega membunuh orang tuanya sendiri. Ini tidak terjadi satu-dua kali, tetapi berulang kali.

Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada

Durhaka kepada orang tua termasuk kategori dosa besar. Durhaka dosa besar kedua setelah syirik. Saking murka-Nya, Allah SWT tidak hanya menyiksa anak durhaka di akhirat, tetapi juga di dunia. Dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Abu Bakrah mendengar Rasulullah SAW berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PKS Piyungan Taubat

Artinya, “Allah SWT akan mengakhirkan balasan setiap dosa hingga hari kiamat kelak, kecuali dosa durhaka kepada orang tua. Dia mempercepat balasannya pada waktu masih hidup atau sebelum meninggal,” (HR Al-Baihaqi).

PKS Piyungan Taubat

Makna durhaka di sini lebih umum. Apapun bentuk perbuatan yang menyakiti orang tua dapat dikategorikan sifat durhaka. Taqiyuddin As-Subki, seperti dikutip Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari, mengatakan, “Yang dimaksud durhaka ialah segala tindakan yang menyakiti hati orang tua, baik sedikit maupun banyak”. Karenanya, jagalah hati orang tua dan ikuti nasihatnya. Jangan sampai tindakan yang kita lakukan membuat dia marah dan tersakiti.

Andaikan pernah membuat hati orang tua tersakiti, segeralah minta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT. Akan tetapi persoalannya, bagaimana bila kedua orang tua sudah meninggal. Semisal anak yang membunuh orang tuanya, apakah diterima tobatnya? Apalagi orang tuanya meninggal dalam keadaan marah atau tidak ridha dengan yang dilakukan anaknya.

Al-Nawawi dalam kumpulan fatwanya, Fatawa al-Nawawi, berpendapat:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tuntutan kedua orang tua kepada anak durhaka di akhirat, tidak ada jalan untuk membatalkannya. Tapi sebaiknya, anak durhaka yang sudah tobat dan menyesal, memperbanyak istighfar (minta ampun) dan berdo’a untuk kedua orang tuanya. Kalau mampu, perbanyak sedekah atas nama orang tua, mengormati orang yang dihormati oleh kedua orang tua semasa beliau masih hidup, seperti temannya. Menyambung tali silaturahmi (dengan saudara atau teman orang tua), membayar hutangnya, atau melakukan apapun yang mudah baginya.”

Kesempatan bertobat dibuka lebar bagi siapapun, termasuk anak durhaka. Rasul SAW mengatakan, “Orang yang benar-benar bertobat seperti orang yang tidak berdosa,” (HR Ibnu Majah). Selain meminta ampun atas kedurhakaannya kepada Allah SWT, ia juga dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal. Cara berbuat baik kepada orang meninggal ialah dengan cara melakukan amalan, semisal bayar hutang, sedekah, silaturahmi, dan lain-lain, sembari menghadiahkan pahalanya untuk mereka.

Seseorang dari Bani Salamah pernah menanyakan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bertanya, “Apakah mungkin saya melakukan kebaikan untuk kedua orang tua, sementara mereka sudah meninggal?” Rasulullah SAW menyarankan kepadanya agar memperbanyak istighfar dan do’a untuk mereka, menunaikan janji dan menyambung tali silaturahmi yang belum terpenuhi pada waktu mereka masih hidup, serta menghormati teman-teman mereka, (HR Abu Dawud).

Maka dari itu, selagi orang tua masih hidup, perbanyaklah berbuat baik kepada mereka. Apabila keduanya sudah meninggal, seorang anak masih dimungkinkan berbuat baik kepada mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW. Terlebih lagi bagi orang yang pernah menyakiti hati kedua orang tuanya semasa keduanya hidup. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh PKS Piyungan Taubat

Senin, 18 Desember 2017

Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi

Batam, PKS Piyungan Taubat. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakpesdam NU memberikan penghargaan kepada Pengurus Cabang dan Wilayah Lakpesdam yang telah berhasil menyelenggarakan program kaderisasi. Kaderisasi yang dilakukan Lakpesdam ini meliputi dua hal yakni Program Pendidikan Kader Penggerak Ranting dan Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK).

Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi

Penghargaan telah diberikan pada malam pembukaan Rakernas Lakpesdam di Batam, Selasa (14/4), antara lain langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali, Ketua Pelaksana Program Kaderisasi PBNU H Masyhuri Malik dan Walikota Batam Ahmad Dahlan.

Ada delapan PC dan PW yang mendapatkan penghargaan yakni PC Lakpesdam Jepara diwakili Maya Dina, Tuban diwakili Tasyudi, Kendal diwakili Khafidzin, Tasik diwakili Hasan, Mataram diwakili Baiq Eli Mahmudah dan PW Lakpesdam Kalimantan Selatan diwakili Sudirno, masing-masing untuk untuk Program Pendidikan Kader Penggerak Ranting.

PKS Piyungan Taubat

Sementara untuk program PPWK PP Lakpesdam memberikan penghargaan kepada PC Lakpesdam NU Kudus dan Bogor.

PKS Piyungan Taubat

Sekretaris PP Lakpedam Lilis Nurul Husna mengatakan, Lakpesdam mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan sumber daya manusia NU melalui program kaderisasi. Ada dua program unggulan yakni program Pendidikan Kader Penggerak Ranting dan Program Pengembangan Wawasan Keulamaan. Yang pertama untuk para calon pengurus tanfidziyah terutama di ujung tombang gerakan NU di tingkat paling bawah, sementara yang kedua untuk calon syuriyah atau para calon ulama NU.

Penghargaan yang telah diberikan dimaksudakan sebagai apresisi kepada PC dan PW yang telah berhasil menjalankan dua program unggulan kaderisasi Lakpesdam itu.

“Mereka? menyelenggarakan kaderisasi secara mandiri. Kami hanya memberikan modul, selenjutnya mereka mengembangkan sendiri,” kata Lilis di sela Rakernas , Kamis (16/4).

Menurut Lilis, dua program kaderisasi di Lakpesdam NU itu terintegrasi dengan program Pendidikan Kader Penggerak (PKPNU) yang dilaksanakan oleh PBNU di tingkat pusat dan berlanjut ke tingkat Wilayah dan Cabang.

“Dalam program penggerak ranting dan PPWK ini sebagian instrukturnya juga merupakan instruktur PKPNU atau alumni PKPNU,” katanya.

Sementara itu Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik pada saat pembukaan Rakernas V Lakpesdam di Batam mengatakan, para kader NU yang telah mengikuti kaderisasi baik PKPNU, PKP Ranting maupun PPWK akan dipersiapkan untuk menyongsong masa satu abad NU, 10 tahun mendatang.

“Para kader unggulan NU tidak bisa muncul dengan sendirinya, atau muncul secara tiba-tiba. Harus ada upaya-upaya kaderisasi yang terencana agar nanti pada peringatan satu abad para kader ini sudah siap pemimpin NU,” katanya. (A. Khoirul Anam)

?

Foto: Sekretaris PP Lakpedam Lilis Nurul Husna

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, News, Anti Hoax PKS Piyungan Taubat

Minggu, 17 Desember 2017

Inilah Rekomendasi PMII Poros Maritim kepada Pemerintah

Sejumlah Pengurus Cabang dan Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mendeklarasikan diri sebagai “PMII Poros Maritim” memberikan perhatian lebih kepada kebijakan kemaritiman di Tanah Air.

Mereka adalah PKC PMII Sulawesi Selatan PKC PMII Sulawesi Barat, PKC PMII Maluku Utara, PC PMII Manado, PC PMII Minahasa, PC PMII Bolaang Mongondow, PC PMII Ternate, PC PMII Tidore, PC PMII Makassar Raya, PC PMII Samarinda, PC PMII Kabupaten Gorontalo, PC PMII Kota Gorontalo.

Inilah Rekomendasi PMII Poros Maritim kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Rekomendasi PMII Poros Maritim kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Rekomendasi PMII Poros Maritim kepada Pemerintah

Dalam rilis yang diterima PKS Piyungan Taubat, Jumat (3/10), PMII Poros Maritim memberikan rekomendasi kepada pemerintah berdasarkan hasil kajian dalam forum Seminar dan Lokakarya Kemaritiman Nasional II yang mereka gelar di Tomohon, Sulawesi Utara, 25-28 September 2014.

Berikut butir-butir rekomendasi eksternal tersebut:

PKS Piyungan Taubat

1. Mendesak pemerintah untuk menghentikan pelaksanaan Megaproyek MP3EI karena menjadi alat kapitalisme global mengkapling sumber daya alam dan menghancurkan kedaulatan nasional bangsa Indonesia.

2. Mendesak pemerintah merustrukturisasi ekonomi nasional dengan agenda pokok nasionalisasi perusahaan asing yang melanggar konstitusi dan amanat penderitaan rakyat (Ampera) Indonesia.

PKS Piyungan Taubat

3. Perjelas dan perketat regulasi tentang penguasaan, pengelolaan, dan pemberdayaan sumber-sumber energi di Indonesia dengan kewajiban pokok mengutamakan kepentingan Nasional.

4. Maksimalkan potensi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai sumber pendapatan Nasional.

5. Mendorong Pemerintah mengintegrasikan pengetahuan kemaritiman pada kurikulum pendidikan dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

6. Mendorong Pemerintah merumuskan strategi kebudayaan Indonesia sebagai bangsa maritim.

7. Mendorong pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak konstitusional masyarakat maritim yang termarjinalkan (suku-suku laut, nelayan dan masyarakat pesisir)

8. Mendorong pemerintah mengkaji ulang kebijakan pembangunan yang timpang serta bias daratan menjadi kebijakan dengan titik tekan pada laut, nelayan dan masyarakat pesisir.

9. Pemenuhan jaminan hukum, perlindungan, dan keselamatan bagi nelayan Indonesia.

10. Pembangunan/peningkatan kualitas dan kuantitas SDM, terutama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis maritim.

11. Pembekalan pengetahuan berupa doktrin Ideologis terkait konsepsi hankam dan tugas kerakyatan digaris depan kepada masyarakat pesisir, khususnya masyarakat yang mendiami pulau-pulau terdepan NKRI.

12. Segera rancang sistem Pertahanan-Keamanan NKRI jangka menengah dan jangka panjang yang sesuai dengan kondisi geografis, kebutuhan dan kepentingan Nasional Indonesia.

13. Segera melaksanakan upaya diplomasi berupa perundingan perbatasan dengan negara-negara tetangga lebih khusus terkait batas laut yang hingga saat ini belum memiliki kekuatan hukum tetap.

14. Segera pindahkan Komando Armada Barat (Koarmabar) TNI AL ke Aceh dan Komando Armada Timur (Koarmatim) TNI AL ke Tidore sebagai bentuk perubahan Postur Hankamnas Laut yang disesuaikan dengan kebutuhan strategis nasional, geopolitik kawasan, dan ruang batin sejarah bangsa Indonesia.

15. Pengadaan Alutsista TNI kedepan sebagai bagian integral dari sistem pertahanan keamanan Nasional wajib mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi geografis NKRI.

16.? ? ? Mengembangkan ekonomi kelautan di sektor perikanan, sektor jasa pelabuhan, eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya energi lepas laut, terutama pada kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), kehutanan pesisir, perdagangan, pelayaran dan pariwisata.

17. Memperbaiki rantai pasok sistem logistik serta membangun konektivitas pusat-pusat pertumbuham ekonomi maritim daerah-daerah strategis di Indonesia dengan berpegang teguh pada kepentingan nasional dan sistem ekonomi nasional pro-rakyat.? ?

18. Memaksimalkan Pembangunan daerah-daerah terdepan Indonesia dan membangun sistem tata Ruang Laut yang berkeadilan sosial-ekonomi.

Selain rekomendasi eksternal, PMII Poros Maritim juga berkomitmen untuk menindaklanjuti hasil semiloka dan lokakarya tersebut. Rekomendasi internal yang mereka rumuskan antara lain, menyusun Materi Pengantar Kemaritiman untuk Kaderisasi Formal PMII ditingkat pertama (MAPABA) dan ditingkat lanjutan (PKD), mendirikan Pusat Studi Kemaritiman (Centre of Maritime Studies), dan beberapa kerja penting lainnya. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Olahraga, Hikmah, Tokoh PKS Piyungan Taubat

Kamis, 07 Desember 2017

Kemenag Akui, Tunjangan Guru Non-PNS Masih Kurang

Mamuju, PKS Piyungan Taubat

Jajaran Kementerian Agama (Kemenag) RI, mengakui jika alokasi anggaran untuk membayar tunjangan guru agama non-Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun anggaran 2016 ini masih sangat kurang.

"Kami bersama Komisi VIII DPR terus berjuang untuk bisa membayarkan tunjangan guru non-PNS yang mengalami banyak hambatan. Itu terjadi karena jumlah guru agama non-PNS sangat besar dibandingkan jumlah alokasi anggaran yang tersedia. Hal ini akan kita cari solusinya," kata Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin saat berada di Mamuju, Senin.

Kemenag Akui, Tunjangan Guru Non-PNS Masih Kurang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Akui, Tunjangan Guru Non-PNS Masih Kurang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Akui, Tunjangan Guru Non-PNS Masih Kurang

Lukman mengatakan, sebagian tunjangan guru agama non-PNS telah dibayarkan secara bertahap, walaupun diketahui belum sepenuhnya terbayarkan karena alokasi anggaran yang tidak memadai.

Orang pertama di Kemenag RI ini yang ikut melantik Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) wilayah Sulbar, diharapkan mampu menjadi jembatan jika terjadi keluhan bagi guru-guru agama yang ada di daerah.

"Kita patut bersyukur karena PGMI Sulbar telah dikukuhkan. Kita berharap, teman-teman pengurus mampu akomodatif menampung aspirasi guru-guru agama yang ada di daerah," harap Lukman.

PKS Piyungan Taubat

Ia menyatakan, aspirasi para guru-guru agama di daerah dapat disampaikan langsung ke Kemenag pusat untuk kemudian ditindaklanjuti sesuai prosedur yang ada.

Sehingga Lukman berharap, alokasi anggaran untuk tunjangan guru agama yang belum terelesaikan atau terbayarkan tahun ini, bisa ditunaikan pada tahun berikutnya.?

PKS Piyungan Taubat

"Tunjangan yang belum terbayarkan itu beraneka ragam mulai dari tunjangan profesi, sertifikasi, inpassing yang tidak bisa dibayarkan akibat tidak ada anggaran," jelasnya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaSantri, Tokoh, AlaNu PKS Piyungan Taubat

Selasa, 05 Desember 2017

Pelajar NU Kabunan Gelar Pelatihan Public Speaking

Tegal, PKS Piyungan Taubat - Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Ranting Desa Kabunan mengadakan pelatihan Publik Speaking di Balai Desa Kabunan Kabupaten Tegal, Ahad (24/1). Sebanyak 50 kader dari pengurus ranting dan utusan ranting lainnya mengikuti pelatihan yang mempersiapkan mereka untuk berbicara di depan publik.

"Pelatihan ini diadakan selama sehari penuh," kata Ketua Panitia Eka Fuady.

Pelajar NU Kabunan Gelar Pelatihan Public Speaking (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kabunan Gelar Pelatihan Public Speaking (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kabunan Gelar Pelatihan Public Speaking

Pelatihan ini dibuka oleh Rais Syuriyah NU Kabunan Ustadz Aji Fatah. Ia mengapresiasi pelatihan yang? diinisiasi pelajar NU Kabunan. Kegiatan ini, menurutnya, akan sangat bermanfaat bagi peserta.

Kegiatan ini, lanjut Ustadz Fatah, meningkatkan berbagai keterampilan dan keahlian yang kader muda NU harus miliki saat berbicara di depan umum.

PKS Piyungan Taubat

"Juga meningkatkan pula kualitas komunikasi pelajar dan meningkatkan kemampuan berpikir para kader NU. Kemampuan berpikir terkait dengan kemampuan otak untuk mencari pemecahan dari suatu permasalahan secara cepat dan tepat. Berbicara di depan umum akan merangsang otak untuk memiliki keahlian tersebut," ujarnya. (Fakhrul Izza/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Ulama, Ubudiyah, Tokoh PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 02 Desember 2017

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan

Kendal, PKS Piyungan Taubat. Ketika Nabi Muhammad pertama kali menginjakkan kaki di kota Mekkah, Ka’bah sudah ada di sana, bahkan ritual mengitari ka’bah atau thowaf pun juga dilakukan oleh masyarakat jahiliyyah dulu, tetapi mereka mengitari ka’bah untuk menyembah patung-patung yang dipajang di sekitarnya.?

Demikian disampaikan KH M. Yusuf Chudhori atau akrab disapa Gus Yusuf ketika menyampaikan pengajian dalam rangka Haflah Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Istiqomah, Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Selasa (25/10) pagi.

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan

Lalu Nabi melakukan pendekatan kebudayaan ketika mendakwahkan Islam di sana, Nabi tidak menghancurkan ka’bah, akan tetapi mengubah orientasi peribadatannya, yang semula tertuju pada patung, lalu diubah memusatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.?

Thowaf pun kemudian dilaksanakan dengan membaca talbiyah. Itu merupakan salah satu wujud bahwa Islam datang bukan untuk menghancurkan kebudayaan, tetapi justru menata dan membangun kebudayaan.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok API Tegalrejo Magelang tersebut menghimbau para hadirin agar memilih pesantren yang jelas aqidah kiainya.

PKS Piyungan Taubat

“Orang tua harus berhati-hati memasukkan anaknya ke pesantren yang mana, paling tidak harus jelas kiainya siapa, akidahnya, kesehariannya. Kalau bisa lagi, cari yang cetho (jelas) NU nya, itu pasti aman dari paham radikal dan terorisme,” paparnya,?

Gus Yusuf mengatakan bahwa melihat akidah pimpinan pondok pesantren adalah hal yang penting, paling tidak kriteria ke-NU-an tertanam di sana sebagai bentuk pesantren yang tidak hanya mempelajari agama tapi juga mengajarkan rasa nasionalisme.?

Sebab, tuturnya, NU memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bersama dengan komponen bangsa yang lain. Sehingga Indonesia ini di mata orang NU adalah warisan para ulama yang harus dijaga.

Ketika menyinggung tentang kewajiban menuntut ilmu agama kepada seseorang, beliau juga mewanti-wanti para hadirin untuk tidak mudah terkecoh dengan jubah dan sorban yang dipakai seseorang.

PKS Piyungan Taubat

“Kanjeng Nabi dulu memang jubahan, sorbanan, tapi tunggu dulu, musuh-musuh Nabi juga pakai jubah dan sorban. Abu Jahal Abu Lahab dulu juga pakai sorban dan jubah. Maka kita lihat akhlaknya dulu, kesehariannya. Nabi adalah sosok yang murah senyum, tutur bahasanya menyejukkan, tidak pernah menakut-nakuti orang,” tuturnya.

Di hadapan ratusan hadirin yang berkumpul di halaman pondok pesantren pimpinan KH Aly Sodiqun tersebut, Gus Yusuf memberi pujian kepada para orang tua yang memondokkan anaknya di pesantren.?

Menurutnya, di jaman seperti saat ini, bisa diibaratkan dengan kondisi umat Nabi Nuh yang terkena banjir bandang, bedanya hanya terletak pada bentuknya. Kalau umat nabi Nuh dihadapkan banjir air, maka umat saat ini dibanjiri kemaksiatan.

“Maka perahu Nabi Nuh saat ini adalah pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah yang ada di pelosok negeri, perahu inilah yang akan menyelamatkan generasi muda kita dari banjir kemaksiatan yang merajalela,” pungkasnya. (Amar Alfikar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Halaqoh, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Kamis, 30 November 2017

NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo

Surabaya, PKS Piyungan Taubat

Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menyatakan prihatin terhadap perusakan bangunan bersejarah Rumah Radio Bung Tomo yang ada di kawasan Surabaya tengah, tepatnya di Jalan Mawar Nomor 10 Kota Surabaya beberapa hari lalu.

NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo

"Kami prihatin atas perusakan salah satu situs bersejarah di Kota Surabaya yang terkait langsung dengan peristiwa besar nasional yakni perang 10 November 1945 (Hari Pahlawan) dan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 (Hari Santri)," kata Ketua PCNU Surabaya H A Muhibbin Zuhri, kepada PKS Piyungan Taubat saat dihubungi via WhatsApp.

Pembongkaran rumah radio Bung Tomo dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai sejarah bangsa dan perampasan atas hak warga Surabaya untuk menjaga sejarah dan melestarikan budaya bangsa. PCNU Surabaya juga menilai, pembongkaran rumah radio Bung Tomo tersebut sama halnya tidak menghargai perjuangan Bung Tomo yang juga santri KH Hasyim Asyari (pendiri NU) dan pejuang kemerdekaan lainnya.

PKS Piyungan Taubat

Soal isu terakhir yang dibahas, yakni pelestarian cagar budaya Surabaya, Muhibbin Zuhri mengatakan pihaknya termasuk orang yang berkepentingan langsung. "Kami menempati, mengurus dan mengelola salah satu bangunan cagar budaya kelas A, yakni kantor HBNO (Hoofdbestuur Nahdlatoel Ulama) di Bubutan VI/2," jelas dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

PKS Piyungan Taubat

Menurutnya, tempat itu merupakan situs penanda Hari Santri Nasional, tempat dilahirkannya Resolusi Jihad yang meresonansi ke peristiwa Surabaya Battle (Hari Pahlawan). Bangunan ini terhubung dalam kesatuan peristiwa historis dengan Pahlawan Nasional Bung Tomo dan bangunan rumah radio yang dibongkar tersebut.

"Kami siap bersinergi bersama elemen dan komunitas masyarakat Kota Surabaya yang juga intens memperjuangkan nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa di Surabaya untuk bersama menggugat pembongkaran rumah bersejarah tempat Bung Tomo mengobarkan semangat warga Surabaya pada pertempuran 10 november 1945," pungkas Muhibbin.

Seperti diberitakan sejumlah media, bangunan bersejarah tersebut dibongkar sebuah perusahaan alat kecantikan, PT Jayanata. Setelah rata dengan tanah, di lokasi itu akan berdiri sebuah galeri kecantikan. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaSantri, Tokoh, News PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 18 November 2017

Ratusan Pelajar Grobog Wetan Ikuti Tadabbur Alam IPNU dan IPPNU

Tegal, PKS Piyungan Taubat. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Grobog Wetan mengadakan kegiatan lintas alam dan aksi tanam pohon di Desa Sigedong, Bumijawa, Tegal?

Ratusan Pelajar Grobog Wetan Ikuti Tadabbur Alam IPNU dan IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Pelajar Grobog Wetan Ikuti Tadabbur Alam IPNU dan IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Pelajar Grobog Wetan Ikuti Tadabbur Alam IPNU dan IPPNU

Kegiatan yang diikuti 100 pelajar tersebut, menurut Ketua PR IPNU Grobog Wetan Andy, sebagai tadabburan (renungan) serta menimba ilmu di bumi Nusantara yang penuh dengan keberkahan mengabdi untuk agama dan bangsa.?

"Kegiatan tersebut sebetulnya adalah pintu pengkaderan awal menuju Makesta agar antusiasme pelajar di desa Grobog Wetan lebih memantik semangat mengetahui tentang apa itu IPNU IPPNU," terangnya pada Jumat (20/12).

Dia menambahkan, kegiatan itu juga bertujuan untuk menambahkan cinta terhadap alam Indonesia yang hijau dan selalu bikin sejuk.

PKS Piyungan Taubat

Kegiatan ini diawali dengan ziarah kubur di makam sesepuh desa Grobog Wetan dengan tujuan selalu ingat dan meneladani akan jasa-jasa mereka. Dan yang paling akhir diisi dengan outbond. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

?

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Lomba, Tokoh PKS Piyungan Taubat

Kamis, 16 November 2017

Mbah Wahab Mendidik Santri Tidak Rendah Diri

Jombang, PKS Piyungan Taubat. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya gelar pahlawan nasional untuk KH A Wahab Chasbullah resmi didapatkan. Keberhasilan meraih gelar membanggakan tersebut membawa pesan bahwa para pegiat pesantren harus bisa memberikan kiprah terbaik bagi bangsa.

Mbah Wahab Mendidik Santri Tidak Rendah Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Wahab Mendidik Santri Tidak Rendah Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Wahab Mendidik Santri Tidak Rendah Diri

Penegasan ini disampaikan Nyai Hj Mundjidah Wahab, putri KH Wahab Chasbullah yang juga Wakil Bupati Jombang pada acara tahlilan bersama di area pemakanan keluarga besar Mbah Wahab yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Kamis (6/11) petang.

"Sudah ada dua tokoh ulama pesantren dari Jombang yang meraih gelar pahlawan nasional, yakni hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng dan ayahanda KH A Wahab Chasbullah dari pesantren ini," katanya di hadapan para wartawan dan santri yang memadati area pemakaman.

PKS Piyungan Taubat

"Sebentar lagi juga gelar serupa akan juga diupayakan untuk KH Bisri Syansuri dari Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang," kata mantan Ketua PC Muslimat NU Jombang dua periode ini.

Menurutnya, pengakuan tersebut memberikan penegasan bahwa para kiai pesantren dan pegiat agama juga bisa bisa berikiprah dan memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan negara.? "Ini juga kian menandaskan bahwa para santri bisa berkiprah dan memberikan prestasi terbaik bagi lingkungan dan perjuangan agama serta bangsa," kata Mundjidah.

PKS Piyungan Taubat

Sesuai dengan undangan dari Kementerian Sosial, dari pihak keluarga sebanyak dua orang yang resmi menghadiri penganugerahan Pahlawan Nasional kepada tokoh yang dikenal sangat dekat dengan presiden pertama RI, Ir Soekarno ini. "Resminya yang mewakili keluarga adalah saya dan kakak saya yakni Ibu Nyai Mahfudhoh Ali Ubait," terangnya.

Santri Jangan Rendah Diri

Sebelum kegiatan tahlilan, perempuan yang biasa disapa Bu Mun ini berpesan agar para santri tidak rendah diri. Mbah Wahab adalah bukti dari perlunya dihindari sikap seperti itu. "Justru dengan kelebihan pengetahuan agama yang kalian kuasai serta kemudahan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, maka hal itu tentunya kian memudahkan kalian untuk berkiprah di masyarakat," tandas Wakil Ketua 1 PW Muslimat NU Jawa Timur ini.

"Anggapan bahwa santri hanya bisa jadi modin, harus kalian kesampingkan," tandas Bu Mun. Karena dengan latarbelakang pendidikan baik formal maupun tempaan saat di pesantren, maka para santri bisa menjadi pahlawan bagi zamannya kelak, lanjutnya.

Bu Mun memastikan bahwa dengan keahlian yang dimiliki, para santri juga nantinya dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan negara. "Kalian bisa memilih menjadi dokter, ilmuan bahkan wartawan sekalipun," katanya disambut aplaus santri.

Kegiatan tahlil bersama di pesarean pesantren ini sebagai ungkapan rasa syukur atas telah diraihnya gelar pahlawan nasional dari pemerintah.? Hadir pada acara tersebut adalah KH Hasib Wahab (putra Mbah Wabah), Ema Umiyyatul Chusnah atau Ning Ema, serta? Lailatun Nimah atau Ning Eli (cucu). (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh PKS Piyungan Taubat

Senin, 13 November 2017

Wujudkan Program Santri Kuliah, Pergunu Gandeng Astindo

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Rangkaian kegiatan Rapat Koordinasi Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Banten di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Ahad (15/1) lalu.?

Salah satu agendanya yaitu penandatangaanan nota kesepahaman (MoU) tentang santri wajib kuliah. Program ini, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas SDM pesantren dalam disiplin akaddemik perguruan tinggi.

Wujudkan Program Santri Kuliah, Pergunu Gandeng Astindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Wujudkan Program Santri Kuliah, Pergunu Gandeng Astindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Wujudkan Program Santri Kuliah, Pergunu Gandeng Astindo

Dalam program ini, Pergunu Korwil DKI Jakarta, Lampung, Jawa Barat, dan Banten menggandeng Asosiasi Sekolah Tinggi Islam Se-Indonesia (Astindo). Secara khusus, Astindo memang memiliki program Pemuda Wajib Kuliah dan Santri Wajib Kuliah.?

“Kami jalin kerja sama dengan Astindo yang memiliki program santri wajib kuliah atau pemuda wajib kuliah, dengan skema beasiswa, atau skema kuliah sambil kerja,” ujar Ketua Pergunu DKI Jakarta, Aris Adi Leksono.

Hal ini, lanjutnya, dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi santri untuk mengikuti pendidikan tinggi, sehingga berimbas pada peningkatan kualitas SDM Indonesia.

Secara umum, para pihak sepakat untuk meningkatkan SDM Pesantren dengan memberikan beasiswa, baik tingkat S1, S2, atau S3. Terkhusus kerja sama Astindo ke depan juga akan dipeluas untuk beasiswa S2 dan S3 bagi guru binaan Pesatuan Guru Nahdlatul Ulama.?

PKS Piyungan Taubat

Sebagaiman yang diungkapkan, Ketua Umum Astindo Ilyas Indra Damarjati saat kegiatan pihaknya menyambut baik kerja sama ini, karena mereka ingin semua pemuda Indonesia, didalamnya para santri juga harus merasakan pendidikan tinggi. Sehingga ke depan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.?

“Melalui Pergunu ini, kami akan menyalurkan beasiswa S1 untuk santri, dan akan belanjut untuk guru Pergunu untuk jenjang S2 dan S3,” terang Ilyas yang juga Ketua STAI At-Thowalib Indonesia ini.

Turut serta menandatangani kerjasama ini adalah Ketua Pergunu Lampung, H Jamaluddin Malik, Sekretaris PW Pergunu Jawa Barat, H Saepulloh, Ketua LP Maarif DKI Jakarta, Jafar Amiruddin, sedangkan pihak Astindo diteken langsung oleh Ilyas Indra Damarjati. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Tokoh, PonPes PKS Piyungan Taubat

Senin, 06 November 2017

Yang Tersisa dari Hari Pahlawan

10 November selalu menjadi hari yang harus diperingati oleh bangsa Indonesia, terutama masyarakat Surabaya. Pada tanggal tersebut lah terjadi pertempuran yang begitu dahsyatnya dan memakan banyak korban antara arek-arek Suroboyo dengan tentara sukutu. Dilaporkan bahwa sekitar puluhan bahkan ratusan ribu penduduk Indonesia yang gugur dalam pertempuran tersebut. Pertempuran untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. 

Setiap memasuki bulan November, bangsa ini disibukkan dengan persiapan ritual peringatan hari pahlawan. Banyak cara orang memperingati hari pahlawan tersebut; ada yang mengadakan upacara bendera, mengheningkan cipta selama beberapa menit, mengadakan perlombaan-perlombaan, mendaki gunung untuk mengibarkan sang merah putih, menziarahi tugu pahlawan, menziarahi Taman Makam Pahlawan, memasang ucapan-ucapan selamat hari pahlawan di profile picture media sosial masing-masing, dan lain sebagainya. Semuanya ingin memperingati hari pahlawan, salah satu hari yang paling bersejarah bagi bangsa ini.

Di hari pahlawan, media-media tak luput menampilkan dan mengekspos para mantan pejuang pertempuran Surabaya yang masih hidup dan dalam keadaan serba kekurangan. Dahulu mereka adalah prajurit gagah perkasa dan bertempur dengan segenap jiwa raga untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Namun di usia senjanya, mereka seakan terlupakan dan luput dari perhatian pemerintah, padahal jasa yang mereka kasih ke bangsa ini begitu besarnya. Selain itu, media juga ramai-ramai mengulas perjalanan hidup para pahlawan yang sudah dipanggil sang ilahi.

Keadaan mantan pejuang bangsa ini yang dalam keadaan serba kekurangan tentu membuat kita semua prihatin dan iba. Semua orang yang melihat keadaan mereka pasti akan merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa bangsa ini lupa akan jasa pahlawannya? Bagaimana mungkin kita bisa menjadi bangsa yang hebat kalau kita melupakan sejarah? Bukankah Bung Karno pernah berkata bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah? Mengapa masih banyak mantan pejuang kita yang terabaikan dan terlupakan? Apakah pemerintah lupa akan jasa-jasa mereka? sungguh hal yang ironi dan mengaharukan.

Yang Tersisa dari Hari Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Tersisa dari Hari Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Tersisa dari Hari Pahlawan

Yang tak kalah mengharukan lagi adalah kita sekarang di dunia digital, semuanya serba internet dan aplikasi. Banyak dari kita yang memperingati hari pahlawan dengan mengganti profile picture kita dengan gambar-gambar pahlawan kita. Kita seakan-akan turut serta dalam peringatan hari pahlawan dengan mengunggah gambar-gambar dan kata-kata pahlawan Indonesia di mesia sosial kita masing-masing. Apakah demikian sudah bisa disebut turut serta memperingati hari pahlawan? Dan kita merasa bangga telah memperingati hari pahlawan dengan cara yang demikian. 

Rhenald Kasali pernah menulis sebuah artikel yang berjudul generasi wacana. Di dalam artikel tersebut Rhenald mengemukakan generasi yang hanya berwacana tanpa ikut serta, yang hanya mengkritik tanpa ikut memperbaiki, yang hanya berkoar-koar di media sosialnya tanpa ikut turun tangan langsung. Ia mengatakan bahwa kita sekarang mengalami era generasi wacana, generasi yang hanya menjadi saksi, bukan aksi. Apakah kita termasuk di dalamnya? Entahlah. 

PKS Piyungan Taubat

Generasi wacananya Rhenald Kasali tersebut sangatlah cocok untuk menggambarkan orang-orang yang hanya memperingati hari pahlawan dengan hanya modal wacana. Mereka bangga bukan main kalau sudah mengganti foto profilnya dengan hal-hal yang berbau pahlawan di hari pahlawan, seakan-akan mereka sudah maksimal memperingati hari pahlawan tersebut. Mereka merasa sudah cukup dengan cara demikian tanpa turut meneladani jasa-jasa pahlawan dan meneruskan perjuangannya. Bukankan hal tersebut adalah lip service semata? 

Bangsa Amnesia

PKS Piyungan Taubat

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengalami amnesia akut. Bagaimana tidak? Banyak mantan pejuang kita yang nasibnya terlunta-lunta di hari tuanya. Banyak dari mereka yang untuk makan dan tempat tinggal saja, numpang kepada anak dan cucunya. Seolah-olah mereka hilang dari peredaran bangsa ini. 

Memang, biasanya pemerintah selalu menganugerahi gelar pahlawan kepada mereka yang sudah gugur di medan perang setiap kali tanggal 10 November. Itu patut diapresiasi. Namun yang tidak kalah penting adalah memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pejuang yang masih hidup karena mereka sudah mengorbankan air mata dan darahnya untuk Indonesia ini. 

Peringatan hari pahlawan ini merupakan momentum untuk menata kembali bangsa ini untuk menjadi bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, menghormati kiprah dan meneladani keberaniannya untuk Indonesia yang lebih baik serta meneruskan perjuangannya. Kita semua berharap bahwa peringatan hari pahlawan ini bukan hanya lip service semata dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Tujuh puluh dua tahun bukanlah waktu yang singkat, sudah semestinya kita mengkaji dan menerapkan nilai-nilai yang ditinggalkan para pahlawan kita. 

Semangat Hari Pahlawan harus kita tanamkan dalam benak kita setiap hari, bukan hanya pas saat 10 November saja. Jangan sampai setelah hari pahlawan lewat, semangat ‘pahlawan’ kita ikut lewat juga. Peringatan hari pahlawan ini seharusnya kita jadikan sebagai starting point untuk Indonesia yang lebih baik. Jangan sampai kita menjadi generasi latah yang hanya ikut-ikutan memperingati tanpa mengerti esensi yang kita peringati dan apa yang harus kita lakukan. 

*A Muchlishon Rochmat, Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh PKS Piyungan Taubat

Selasa, 24 Oktober 2017

Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka

Yogyakarta, PKS Piyungan Taubat - Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengucapkan belasungkawa atas wafat Gus Kelik. Menurutnya, yang kehilangan Gus Kelik itu bukan hanya keluarga Krapyak, tetapi juga PBNU. Karena, Gus Kelik adalah salah seorang yang menjaga husnuz zhan banyak orang terhadap NU. Berkat Gus Kelik itu, hingga hari ini banyak orang masih percaya terhadap NU.

Demikian disampaikan Gus dalam acara tahlil sembilan hari wafatnya Gus Kelik di halaman Pesantren Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, Rabu (10/8) malam.

Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka

“Ketika Gus Kelik wafat, orang-orang banyak saling berdebat sendiri-sendiri tentang persoalan, Gus Kelik itu wali atau bukan. Ada yang yakin kalau Gus Kelik itu wali. Karena berkat khoriqul adah, tidak seperti orang pada umumnya. Kalau khoriqul adah ya wali. Ada yang bantah lagi, wali kok kayak gitu?” ujar Gus Yahya.

PKS Piyungan Taubat

Kalau Gus Kelik, lanjut Gus Yahya itu sudah tidak saya pikir lagi, entah wali entah tidak. Tidak saya pikir.

“Hanya yang saya ingat itu, coba ingat njenengan-njenengan yang bergaul dengan Gus Kelik ketika hidup, kok tidak ada orang yang benci terhadapnya. Itu kok tidak ada. Padahal orang itu, sebaik apa pun itu, di mana-mana ada saja yang benci. Tidak ada orang senyleneh Gus Kelik, tapi banyak yang suka,” ujar Gus Yahya yang disambut gelak tawa para hadirin.

PKS Piyungan Taubat

Coba yang hadir ini, lanjut Gus Yahya, bawalah mobil lalu beli bensin setengah liter di penjual eceran. Pasti njenengan dimarah-marahi sama penjualnya.

Lha kalau Gus Kelik ini, nggak itu. Gus Kelik bawa mobil, beli bensin setengah liter di penjual eceran, ya dikasih. Penjualnya juga tidak marah. Itu kejadian benar, di Mangkuyudan,” cerita Gus Yahya yang sekali lagi disambut tawa para hadirin.

Malahan, kata Gus Yahya, yang kelihatan dengan sangat, banyak orang yang suka terhadap Gus Kelik. Lha orang segini banyaknya yang hadir ini, kan pada suka sama Gus Kelik. Ini kelihatan dengan sangat. Maka, saya yakin bahwa Gus Kelik itu bagian dari orang-orang saleh.

“Allah itu sudah janji, kalau ada hambanya yang saleh, maka Ia akan memberikan mahabbah kepadanya. Gus Kelik itu tidak usah mencari-cari cara, otomatis orang-orang itu pada suka. Kalau yang lainnya kan pada tebar pesona semuanya. Ada yang pencitraan. Gus Kelik itu tidak pernah seperti itu. Tidak pernah berpura-pura baik dengan orang itu tidak pernah,” ungkap Gus Yahya.

Apa pernah Gus Kelik itu, lanjut Gus Yahya, membagi-bagikan buku kepada tukang becak? Tidak pernah. Nyisir rambut saja tidak pernah. Lha kayak gitu kok banyak orang yang suka. Ya entah bagaimana, kok bisa suka itu entah bagaimana.

“Kalau dipikir-pikir, sukanya sama Gus Kelik itu apanya juga tidak jelas kok. Tapi kok yang suka dengan Gus Kelik banyak,” tandas Gus Yahya. (Nur Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Syariah PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock