Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang

Sawahlunto, PKS Piyungan Taubat. Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa mengatakan Peraturan Pemerintah Penggnti Undang-undang (Perppu) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual segera disahkan menjadi Undang-Undang (UU).

"Proses pembahasan di tingkat fraksi sudah selesai dilaksanakan, tinggal menunggu pengesahan yang diperkirakan selesai pada Agustus 2016," kata dia di Sawahlunto, usai melantik Laskar Anti Narkoba Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Barat (Sumbar) di Sawahlunto, Kamis (4/8).

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang

Setelah disahkan, jelasnya, maka pelaku kejahatan seksual yang korbannya mengalami trauma sangat dalam atau mengalami infeksi saluran hingga menyebabkan hilangnya nyawa korban akan diberikan hukuman tambahan berupa penghilangan fungsi ereksi organ vital atau biasa disebut dengan kebiri.

Hukuman tersebut juga akan diberlakukan jika pelaku kejahatan tersebut merupakan orang-orang terdekat korban atau orang yang memiliki profesi terhormat seperti pendidik atau oknum pejabat publik.

"Selain hukuman tambahan, pelaku kekerasan seksual juga dapat diberikan hukuman pemberatan seperti hukuman mati dan kurungan seumur hidup yang seluruhnya akan ditentukan oleh putusan majelis hakim sesuai tingkat kejahatan yang dilakukannya," tambah dia.

PKS Piyungan Taubat

Menurutnya, proses pemberian hukuman pemberatan dan hukuman tambahan tersebut sangat tergantung pada proses pembuktian oleh penyidik, antara lain kondisi korban serta latar belakang pelakunya.

Selain hukuman kebiri, lanjutnya jenis hukuman tambahan yang bisa dijatuhkan dapat berupa pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual kepada khalayak ramai serta pemasangan alat deteksi keberadaan pelaku dimana saja berada.

"Sehingga masyarakat dapat mewaspadai kehadirannya dan bisa melapor jika tindakan pelaku sudah mengarah pada perbuatan kekerasan seksual, disamping menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelakunya," ujar dia.

PKS Piyungan Taubat

Disinggung mengenai kegiatan Laskar Anti Narkoba yang ia lantik tersebut, dia mengatakan hal itu merupakan bentuk kepedulian organisasi Muslimat NU dalam menyikapi status darurat narkoba di negara ini.

"Laskar tersebut akan bekerja secara aktif dalam membantu tugas-tugas lembaga pemerintah yang mengurusi penyalahgunaan narkoba, salah satunya dengan memberikan penyuluhan serta deteksi dini indikasi penyalahgunaannya mulai dari lingkungan keluarga masing-masing," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit pada kesempatan itu mengemukakan pihaknya mencatat sebanyak 30 persen korban penyalahgunaan narkoba di provinsi itu, berasal dari kalangan anak-anak usia sekolah.?

Disamping itu, jelasnya, fakta lain yang tidak kalah mengejutkan adalah terjadinya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS akibat berkembangnya prilaku lesbian gay biseksual dan trangender (LGBT) di Sumatera Barat.

Berdasarkan penelitian ahli, lanjutnya, prilaku tersebut mampu menularkan virus mematikan itu lebih cepat dari penggunaan narkoba memakai jarum suntik.

"Jika menggunakan narkoba menggunakan jarum suntik membutuhkan waktu lima tahun menularkan virus kepada pengguna, maka prilaku LGBT bisa menularkan dalam waktu lebih singkat," kata dia. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Ubudiyah, Makam, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Senin, 12 Februari 2018

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko

Maroko, PKS Piyungan Taubat. Kiai NU yang mewakili Indonesia, Ahmad Najib Afandi berhasil meraih penghargaan penulisan makalah terbaik dalam The International Academic Center of ? Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) yang berlangsung di kota Fes, Maroko, (9-12/5).?

Pengasuh Pesantren asy- Syafiiyyah, Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat itu, menerima penghargaan dari Direktur IACSAS, Syeikh Dr Aziz ? al-Chubaeti, usai memaparkan makalah berjudul "Pengaruh Tasawuf ? Maroko terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia" di hadapan perwakilan dari 40 negara.

Gus Najib, demikian akrab disapa, berhasil membentangkan data pengaruh tasawuf Maroko terhadap keberagamaan di Indonesia.

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko

"Diantara bukti persambungan antara tasawuf Indonesia dengan tasawuf Maroko –yang selama ini sering dilupakan--baik melalui hubungan guru dan murid dan hubungan budaya, juga faktor lainnya. Ibrahim Harakat dalam bukunya Pengantar Sejarah Ilmu di Maroko, bahwa setelah berdirinya Maroko di wilayah Afrika yang subur dengan ulamanya telah membuka akses mereka untuk ekspansi ke Timur (masyriq) untuk berdakwah dengan membawa karya-karya monumentalnya sehingga tersebarlah mereka di wilayah Timur sampai memiliki banyak murid," tutur mantan wakil sekretaris Pengurus Pusat Maarif ? NU itu.

Dengan data tersebut, Gus Najib meyakini bahwa perjalanan ulama-ulama Maroko sampai ke Jawa setelah pertemuan mereka dengan orang Jawa di Tanah Suci, Mekah. Hal itu, katanya, dapat dibuktikan dengan banyaknya ulama yang dimakamkan di Jawa dengan nama Syeikh al-Maghribi.

PKS Piyungan Taubat

Sementara, bukti adanya hubungan intelektual secara langsung dengan ulama Maroko adalah banyaknya pelajar Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Maroko, seperti Syeikh Abdul Hadi (Abad IX) dari kerajaan Buton yang berguru kepada Syeikh Said al Maghribi, Syeikh Muhamad ? Nafis Al-Banjari (1710-1812 M) murid dari Syeikh Abdurahman bin Abdul Aziz al Maghribi ketika di Makkah, yang pendapatnya banyak dipakai oleh Syeikh Ihsan Jampes Kediri dalam karya fenomenalnya Sirajuttalibin.

Gus Najib memaparkan, sisi lain yang jelas menjadi bukti persambungan dan pengaruh tasawuf ? Maroko di Indonesia adalah karya para sufi ? Maroko, seperti, Asyifa karya Qadi Iyad, Dalail Khaerat karya Syeikh al-Jazuli, Jawahirul Maani dan Shalawat al-Fatih karya Syeikh Attijani.

"Selanjutnya banyak tarekat yang didirikan oleh ulama Maroko, kini besar di Indonesia, seperti As-Sadziliyah, At-tijaniyah, Al-Ahmadiyah (Ahmad bin Idris al - Maghribi (1760-1837 M)," kata Gus Najib.

Tasawuf Indonesia sebenarnya memiliki persambungan dengan banyak negara. Kurdi melalui Syeikh Amin al-Kurdi dengan kitabnya Tanwirul Qulub. India melalui karya Syeikh Burhanpuri dengan karyanya Tuhfat Al Mursalah yang menjadi referensi awal lahirnya tasawuf ? falsafi di Indonesia.

“Demikian juga dengan Persia melalui kitab "Syuab Al-Iman" karya al-Mulaibari yang dikomentari oleh Syeikh Nawawi Banten dengan nama Qamiut Tughyan,” ujarnya.

PKS Piyungan Taubat

Namun, dari sekian sumber tasawuf Indonesia itu, semuanya memiliki validitas referensi yang menjamin ke-sunah-an tasawuf Indonesia. Dengan sumber-sumber yang Islam natural itu, semestinya sudah menjamin segala praktik tasawuf dan tarekat di Indonesia tidak akan menyimpang dari syariat dan akidah. "Dan, dengan keragaman sumber itu pula, seharusnya menjadikan kuatnya kebhinekaan tasawuf dan Islam Indonesia," tegasnya.

"Bukti lain yang menguatkan adanya hubungan Islam Indonesia dengan Maroko, adanya persamaan ornamen ukiran kayu (yang kaya warna) di atap di sejumlah masjid di Maroko dengan yang ada di bangunan warisan budaya Indonesia, seperti, Masjid Sunan Gunung Jati dan Masjid Said Naum, Kebon Kacang, Jakarta. Juga lainnya," pungkas pria yang juga rektor Sekolah Tinggi Islam al-Hikmah Brebes itu. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Santri, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Kamis, 01 Februari 2018

Film Antikorupsi Pelajar SMK Ma‘arif NU 1 Yogyakarta Diputar di UGM

Yogyakarta, PKS Piyungan Taubat. Pelajar SMK Ma‘arif NU 1 Yogyakarta, menunjukkan kepeduliannya terhadap gerakan antokorupsi melalui karya. Mereka mengikutsertakan film dokumenter dengan semangat antikorupsi itu pada festival antikorupsi yang digagas Komisi Pemberantas Korupsi di UGM, Selasa-Kamis (9/12).

Film karya pelajar SMK Ma‘arif NU 1 yang beralamat di jalan HOS Cokroaminoto TR III/133 Tompeyan, Tegalrejo, Kota Yogyakarta ini, diputar di stand PWNU Yogyakarta di UGM. Film berdurasi 10 menit ini, diperankan oleh 13 siswa-siswi SMK Ma‘arif 1.

Film Antikorupsi Pelajar SMK Ma‘arif NU 1 Yogyakarta Diputar di UGM (Sumber Gambar : Nu Online)
Film Antikorupsi Pelajar SMK Ma‘arif NU 1 Yogyakarta Diputar di UGM (Sumber Gambar : Nu Online)

Film Antikorupsi Pelajar SMK Ma‘arif NU 1 Yogyakarta Diputar di UGM

Karya mereka ini mengisahkan seorang siswa yang mencuri makanan di Warung Kejujuran yang disediakan sekolah untuk melatih kejujuran siswa. Siswa yang terbukti mencuri ini akhirnya dijatuhkan sanksi atas perbuatannya.

PKS Piyungan Taubat

"Dengan film yang kami buat ini walaupun masih bisa dibilang amatiran, tetapi kami bertujuan agar menggugah penonton dalam menyadarkan para pejabat-pejabat agar tidak menyengsarakan rakyat kecil," kata salah seorang pemerannya, Arya Bima Saputra. (Ahmad Syaefudin/Alhafiz K)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Lomba, Sunnah, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Selasa, 30 Januari 2018

CBDRMNU Finalisasi Modul Penanggulangan Bencana

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Setelah bekerja keras hampir satu tahun, akhirnya modul penanggulangan bencana ala NU yang berbasiskan pesantren dan masyarakat difinalisasi dalam wokshop ke 3 yang diselenggarakan mulai 18-20 Juni di Bandung,

Program Manager Community Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama (CBDRMNU) Avianto Muhtadi menjelaskan bahwa konsep penanganan bencana yang dikembangkan oleh NU lebih bersifat preventif, bukan emergency response.

Untuk menyusun modul ini, tim CBDRMNU telah melakukan survey ke tiga pesantren percontohan, melakukan ToT kepada para santri dan selanjutnya para santri juga sudah memberikan pelatihan kepada masyarakat di sekitarnya. Masing-masing tahapan tersebut memberikan masukan yang sangat berharga dalam penyusunan modul.

CBDRMNU Finalisasi Modul Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRMNU Finalisasi Modul Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRMNU Finalisasi Modul Penanggulangan Bencana

Pesantren percontohan juga dipilih berdasarkan karakteristik kerawanan bencana yang berbeda. Pesantren Assidiqiyah Jakarta dipilih mewakili ancaman bencana banjir dan kebakaran. Pesantren Darussalam Watucongol dipilih mewakili ancaman bencana gunung berapi sedangkan Pesantren Nurul Islam dipilih mewakili ancaman bencana tanah longsor.

Ketua Banser DKI ini menjelaskan penanganan bencana berbasis komunitas yang dikembangkan oleh NU ini melibatkan tiga fihak dimasing-masing lokasi, yaitu pesantren, PCNU setempat dan masyarakat. Karena itu, dalam workshop ini masing-masing kelompok diwakili oleh 2 orang.

Dalam pertemuan finalisasi ini, masih terdapat masukan dari tiga pesantren yang menjadi proyek percontohan. Untuk Ponpes Assiddiqiyah mereka membuat program pengurukan dan pembersihan kali. Untuk pesantren Nurul Islam mereka meminta adanya reboisasi guna mencegah terjadinya banjir sedangkan Ponpes Darussalam Watucongol meminta dibuatkan jalur evakuasi.?

PKS Piyungan Taubat

Avianto menjelaskan sejauh ini AusAid sebagai penyandang dana untuk program ini telah berkomitmen untuk membantu program awal penanggulangan bencana yang diusulkan oleh masing-masing pesantren, namun dana yang diberikan sifatnya hanya sebagai pancingan. Selanjutnya pesantren dan masyarakat diharapkan dapat mengembangkannya upaya penanggulangan bencana ini dengan melibatkan elemen masyarakat lainnya seperti Satlak dan Pemda setempat.

PKS Piyungan Taubat

“Mereka kita jadikan ujung tombak NU dalam penanggulangan bencana berbasis pesantren. Kita tidak hanya berwacana dalam kelas, tatapi action langsung di lapangan, Sasat ini sudah 500 orang santri dan masyarakat yang sudah dilatih menangani bencana,” tandasnya.

Kendala yang masih dihadapi saat ini adalah status kelambagaan yang menaunginya karena dalam NU, belum ada lembaga khusus yang menanganinya “Mereka menanyakan bagaimana kelembagaannya, dimana keterlibatan PCNU dan pesantren serta masyarakat sementara NU tidak memiliki lembaga khusus ini,” tuturnya.

Modul yang rencananya akan dikembangkan ke 15 pesantren ini materinya berisi pengenalan bencana, preparedness, aspek teologis, penyadaran lewat moral dan akhlak, sama apa yang harus dilakukan, dan pengorganisasian masyarakat.

Hadir dalam acara tersebut 18 orang yang mewakili tiga lokasi rawan bencana sedangkan para pembicara datang dari PBNU, ITB dan LSM peduli bencana dan lingkungan seperti ACF dan Walhi. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Internasional, Bahtsul Masail, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Jumat, 12 Januari 2018

Makruhnya Mengubur Mayit dengan Peti

Mengubur mayit muslim dengan memasukkannya terlebih dahulu ke dalam peti, hukumnya adalah makruh sesuai pendapat mayorits ulama. Kecuali ada beberapa keperluan yang memang mengharuskan penggunaan peti seperti: 1) tanah kuburan yang basah dan mudah gugur. Sehingga tidak mungkin digali terus menerus. 2) kondisi mayat yang sangat rapuh karena terbakar atau musibah lain. 3) banyak binatang buas yang dapat menggali tanah dan mayit bisa aman hanya apabila dimasukkan ke dalam peti.

Ketiga alasan itu masih bisa ditambah lagi jika memang keberadaannya sangat penting dan menghawatirkan si mayit. Hal ini? sebagaimana dalam Nihayatl Muhtaj ila Syarhil Minhaj.

( ? ? ? ? ) ? ? ? ? ( ? ? ? ? ) ? ? ? ? ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Makruhnya Mengubur Mayit dengan Peti (Sumber Gambar : Nu Online)
Makruhnya Mengubur Mayit dengan Peti (Sumber Gambar : Nu Online)

Makruhnya Mengubur Mayit dengan Peti

Dan dimakruhkan mdengubur mayit di dalam peti, dengan ijma’ ulama karena hal itu dinilai bid’ah. Kecuali pada bumi yang basah atau sangat lembek...maka tidaklah makruh mengubur mayit dengan peti pada tanah yang tersebut karena maslahah, walaupun mayit sendiri berwashiat demikian. Begitu juga apabila keadaan mayit sangat rapuhnya, karena tersengat atau terbakar yang tidak mungkin mayit bisa utuh kecuali dengan cara dipeti. Atau terkecuali mayat adalah perempuan dan tidak ada muhrim yang dapat menguburkannya sehingga yang tersisa adalah orang lain (yang tidak boleh menyentuhnya) maka mayit boleh dipeti. Dan terakhir jika dikhawatirkan adanya berbagai binatang buas yang menghawatirkan mayat.

Demikianlah makruhnya mengubur mayit menggunakan peti yang telah disepakati mayoritas ulama. Kecuali ada alasan tertentu seperti diterangkan di atas. (Ulil H) ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat

PKS Piyungan Taubat Pesantren, Pendidikan, Hadits PKS Piyungan Taubat

Minggu, 07 Januari 2018

Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP

Jombang, PKS Piyungan Taubat. Romahurmuzy, putra pendiri IPNU, KH Tholhah Mansyur  siap menggantikan, Surya Darma Ali (SDA), Ketua DPP PPP pada Muktamar yang rencananya bakal digelar bulan Oktober 2014 mendatang. Cicit pendiri NU, KH Wahab Chasbullah ini sekarang  adalah Sekretaris Jendral Partai berlambang Kabah.

Rommy, demikian ia disapa, mengatakan pihaknya siap dicalonkan jika peserta Muktamar menghendaki dirinya untuk memimpin PPP ke depan.  "Kita mengalir saja, kita serahkan ke Muktamirin, jika mereka menghendaki, ya amanah harus diterima," ujarnya ditemui usai mengahadiri haul ke-43 KH Wahab Hasbullah, Sabtu (6/9) kemarin.

Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Cicit Pendiri NU Siap Gantikan SDA Pimpin PPP

Darah politik cucu mantan Menteri Agama RI, KH Wahib Wahab, ini mengalir sejak kecil, sehingga saat bergabung dengan PPP dan lolos menjadi anggota DPR RI, Rommy di percaya menjadi sekretaris Fraksi PPP dan juga Ketua Komisi IV.

PKS Piyungan Taubat

Menurut Romy, dunia politik adalah dunia permainan, namun jika sudah terjun dalam politik maka harus serius dan tidak boleh main main. "Kalau ikut bermain (politik) maka harus serius, seperti telah dicontohkan KH Wahab Chasbullah. Beliau adalah guru politik dan seorang negarawan," ujarnya saat memberikan sambutan mewakili keluarga.

Dukungan Rommy untuk maju sebagai ketua PPP ini dilontarkan salah satu ketua PBNU, Syaifullah Yusuf, yang ikut hadir dalam peringatan Haul KH Wahab Chasbullah. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengatakan bahwa Rommy sangat pantas menggantikan SDA untuk memimpin PPP.

PKS Piyungan Taubat

"Kemarin Muktamar PKB kembali dipegang Muhaimin Iskandar, jika PPP dalam Muktamar nanti dijabat Gus Rommy sudah pas. Kalau ada persoalan tinggal memanggil keduanya dan bisa diselesaikan di makam Mbah Wahab," ujar mantan Ketua Umum PP GP Ansor yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur ini menuturkan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaSantri, Aswaja, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Jumat, 05 Januari 2018

Guru Ekonomi Ini Ajak Siswanya Belajar di Bank, Pabrik dan Pasar

Widya Lestari Guru Ekonomi Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Pati Jawa Tengah ini meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengajak para siswi untuk belajar di luar kelas. Ia tidak mau siswa-siswinya terkungkung di dalam kelas.

“Saya datang ke BPR Artha Huda Abadi untuk minta izin kunjungan ke sana. Semua anak saya ajak ke sana. Waktu itu saya mengajar ekonomi kelas III. Mereka takjub luar biasa. Baru kali itu masuk sebuah bank,” katanya.

Yang membuat dirinya tertegun, pertanyaan-pertanyaan para siswi ke pihak bank sangat mengagetkan sekaligus menyedihkan. “Ya Allah, pertanyaan kayak gitu kok ditanyakan,” katanya.

Guru Ekonomi Ini Ajak Siswanya Belajar di Bank, Pabrik dan Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Ekonomi Ini Ajak Siswanya Belajar di Bank, Pabrik dan Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Ekonomi Ini Ajak Siswanya Belajar di Bank, Pabrik dan Pasar

“Misalnya, syarat jadi pegawai bank itu apa? Lucu banget kan!. Saya prihatin sekali. Memang, akses mereka keluar sangat terbatas sekali. Maklum, anak pondok. Tapi sebetulnya nggak masalah. Yang penting itu kan wawasan. Nah, wawasan mereka itu minim sekali,” ujar Widya.

Setahun kemudian, Widya mengajak anak-anak ke BPR Artha Huda Abadi lagi. Tahun berikutnya lagi, ia mengajak mereka ke pabrik Kacang Dua Kelinci di kota Pati.

“Saat itu mereka senang sekali. Ke Kacang Dua Kelinci saja mereka senangnya luar biasa. Mereka bisa melihat langsung bagaimana kacang itu bisa berjalan sendiri mulai proses awal hingga pengepakan,” kenangnya.

PKS Piyungan Taubat

Semenjak itu, setiap ada kegiatan yang bernama study excursion yang menggantikan study tour di Madrasah Salafiyah menjadi identik dengan dirinya.

“Jadi, tiap ada kegiatan belajar di luar itu pasti taunya dari saya. Sebab, yang menciptakan pertama kali di situ saya. Nah, sejak itu, tiap tahun kami mengadakan study excursion. Paling jauh, kami mengunjungi Bursa Efek Indonesia yang ada di Surabaya,” ujarnya bangga.

Ia mengajak siswanya ke alun-alun kota, lalu ke pasar menyaksikan aktifitas perekonomian.

PKS Piyungan Taubat

“Saya prihatin sekali dengan kondisi mereka. Karena apa, anak sini tidak pernah lihat kota Pati. Alun-alun Pati saja mereka belum pernah lihat. Bahkan, pasar juana pun tidak pernah,” ungkap Widya.

Siapa yang menginspirasi ide tersebut? Widya mengatakan, saat kuliah di Malang, Jawa Timur, ia pernah menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi Widya Gama Malang. Sebagai aktivis kampus, ia sering melakukan kegiatan seperti itu. Bahkan, aktivitas model itu sudah dimulainya sejak masih menjadi mahasiswa jurusan akhirnya menjadi Ketua BEM Fakultas.

“Saya pikir, itu merupakan satu langkah yang bagus yang menambah wawasan anak-anak. Daripada sekedar study tour, mereka kalau study excursion selalu ada ilmu yang dibawa pulang. Mereka harus bikin laporan, dan sesuai dengan materinya itu nanti mereka presentasi. Pada akhirnya tidak hanya materi ekonomi. Ada juga materi Bahasa Indonesia juga untuk penyusunan laporannya. Di dalamnya juga kimia, fisika, untuk anak IPA. Kalau untuk ada IPS arahnya ke ekonomi, sosiologi, dan geografi,” tuturnya. ? (Musthofa Asrori)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Jadwal Kajian, Pesantren, Nahdlatul PKS Piyungan Taubat

Kamis, 04 Januari 2018

Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan

Jakarta,PKS Piyungan Taubat  

Fatayat NU, sebagai salah satu perangkat Nahdlatul Ulama, berkepentingan mengampanyekan karakter keislaman dan keindonesiaan sebagaimana yang dirumuskan organisasi yang didirikan para kiai tersebut.

Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah mengatakan, untuk itu, pada peringatan Hari Lahir ke-63 ini, mengambil tema “Meneguhkan karakter keislaman dan Keindonesiaan”.

“Pemilihan tema ini merupakan refleksi dari berbagai persoalan kemasyarakat dan kebangsaan,” katanya pada pidato peringatan Harlah ke-63 yang diigelar PP Fatayat NU di gedung Langen Palikrama Pegadaian, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu, (24/4).

PKS Piyungan Taubat

Dengan tema ini, Fatayat NU ingin memberikan kontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan kemasayarakat dan kebangsaan.

Fatayat NU memandang berbagai persoalan seperti maraknya mafioso pangan dan ekonomi; korupsi yang terus terjadi, kekerasan, terorisme, penindasan dan pelanggaran HAM, penyalahgunaan narkoba, pornografi, hingga konflik sosial terjadi karena luruhnya karakter keislaman dan keindonesiaan.

PKS Piyungan Taubat

Oleh karena itu, bagi Fatayat NU, penyelesaian problem tersebut hanya mungkin bisa dilakukan dengan penanaman dan peneguhan karakter keislaman dan keindonesiaan.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua PBNU H. Slamet Effendi Yusuf, mantan Ketua Umum PP Fatayat NU periode 2000-2010 Maria Ulfa Ansor, dan salah seorang senior Fatayat NU Musdah Mulia. Hadir juga ratusan kader Fatayat.

Fatayat NU didirikan pada tanggal 24 April 1950 yang dirintis tiga serangkai, yaitu Murthasiyah, Khuzaimah Mansur, dan Aminah.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Santri, Pesantren, Kajian Islam PKS Piyungan Taubat

Kamis, 28 Desember 2017

Peran Kepemimpinan di Lembaga Pesantren

Jakarta, PKS Piyungan Taubat

Secara institusional pesantren merupakan salah satu corak lembaga pendidikan yang berkembang di segenap penjuru Nusantara. Eksistensinya, baik secara historis maupun sosiologis, secara legal formal menjadi bagian integral dari berbagai corak lembaga pendidikan yang diakui Negara (UU No. 20 Tahun 2003).

Presiden keempat RI, Gus Dur, secara sosiologis mewacanakan pesantren sebagai subsistem dari sistem pendidikan di negeri ini. Secara kultural pun demikian. Walau tidak dalam pola-pola tertentu yang seragam dan masif, kultur pesantren ikut mewarnai kultur masyarakat di sekitarnya, dalam relasi pesantren-masyarakat yang mengalami pasang-surut sesuai dengan dinamika kehidupan yang dialami. 

Peran Kepemimpinan di Lembaga Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Kepemimpinan di Lembaga Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Kepemimpinan di Lembaga Pesantren

Sepanjang Republik Indonesia ini ada, maka sepanjang itu pula barangkali tak perlu kekhawatiran yang berlebihan tentang eksistensi pesantren berdampingan dengan lembaga pendidikan formal, atau lembaga pendidikan sejenis lainnya. Persoalan eksistensi pesantren dapat menjadi isu krusial yang menguras perhatian apabila ditinjau dari aspek kultural-sosiologisnya. 

Pesantren sebagai subkultur bangsa ini, sebagaimana kultur bangsa secara keseluruhan, sedang berhadapan dengan arus globalisasi kultural dan sosiologis. Globalisasi menjadi harapan sekaligus tantangan bagi eksistensi pesantren di masa-masa yang akan datang. 

Persoalan-persoalan yang dialami lembaga pendidikan corak apapun di negeri ini terkait dengan globalisasi, yaitu: sumber daya, kepemimpinan, motivasi, dan kebangsaan. Dalam hal ini, sumber daya dapat di-breakdown menjadi sumber daya manusia dan sumber daya sarana-prasarana. Jikalau sumber daya-sumber daya ini relatif kuat dan berkualitas, niscaya ia akan mampu menghadapi dan melampaui tantangan global. 

PKS Piyungan Taubat

Dalam konteks manajerial suatu lembaga pendidikan—apapun coraknya, kemampuan melampaui tantangan global tersebut tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran-peran kepemimpinan dalam lembaga tersebut. 

Peran-peran kepemimpinan dapat ditinjau dari aspek bagaimana suatu kepemimpinan dilakoni, dan terindikasi sebagai gaya (style) seorang pemimpin memimpin lembaganya, memimpin dan mengelola sumber daya manusia dan sumber daya sarana-prasarana.

Di samping itu, tentu saja bagaimana seorang pemimpin dalam peran dan fungsi manajerialnya sehari-hari mengambil keputusan dan mencari solusi atas berbagai permasalahan dalam lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Dalam konteks pesantren tentu saja yang dimaksud adalah profil kiainya. 

PKS Piyungan Taubat

Sistem nilai yang dibangun bersama dalam suatu lembaga pendidikan juga ikut menentukan sejauh mana lembaga pendidikan mampu melampaui tantangan global. Sistem nilai sebagai identitas lembaga juga mengartikulasikan kemampuan lembaga tersebut untuk bertahan (survive ability). 

Motivasi sumber daya manusia internal lembaga, utamanya tenaga pendidik—dalam hal ini ustadz dalam pesantren, memiliki posisi kunci walau tidak sentral, dalam ikut membentuk sikap terhadap tradisi dan perubahan global. 

Terkait kemampuan dan kemauan lembaga pendidikan melampaui tantangan global adalah penanaman dasar dan pilar kebangsaan. Dampak dari penyelenggaraan suatu lembaga pendidikan—apapun coraknya—termasuk pesantren adalah memperkuat dan membangun spirit kebangsaan, minimal terhadap para santri, alumni, dan masyarakat di sekitar pesantren tersebut. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Kajian Sunnah, RMI NU, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Rabu, 27 Desember 2017

IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi

Rembang, PKS Piyungan Taubat. Departemen Perekonomian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Rembang, Jawa Tengah merencanakan kegiatan ekonomi bagi kalangan pelajar NU di Rembang supaya mandiri.

IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi

Anggota Departemen Perekonomian IPNU Cabang Rembang Ahmad Indraki pada Ahad pagi (21/6) di kantor sekretariat IPNU Cabang Rembang, kompleks Gedung NU Jalan Pemuda No 78 Rembang, mengatakan, pihaknya akan berupaya menggagas perekonomian pelajar NU ke depan. Pasalnya kebutuhan para pelajar masakini sangatlah banyak. Jika diteruskan meminta pada orang tua bukan tidak mungkin akan membuat para orang tua kesal.

“Kebutuhan pelajar masakini mulai dari pulsa himgga transportasi dan akomodasi menuju ke sekolah sangatlah banyak. Belum lagi keperluan mereka untuk perawatan mulai dari pakaian hingga yang lainnya, jika di hitung relatif tinggi.

PKS Piyungan Taubat

Mengenai usaha yang akan dirintis Ahmad Indraki menjelaskan akan membuat usaha kecil-kecilan yakni memberikan suplai barang kebutuhan pokok bagi warga nahdliyin di Rembang. Seperti beras, minyak goreng, dan dan kebutuhan dapur lainnya, yang akan di dimulai sebelum ramadan hari pertama dimulai.

PKS Piyungan Taubat

Dia menjelaskan, tak menarget mendapatkan untung banyak, tetapi bisa berjalan terlebih dahulu. Ahmad Indraki mengaku, tidak mudah dalam menjalankan usaha itu. Tetapi ia bersama pengurus IPNU-IPPNU yang lain akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan usaha itu.

Jika dihitung jumlah warga Nahdlatul Ulama di Kabupaten Rembang relatif tinggi, jika bersedia menjadi member bukan tidak mungkin usaha yang dirintis oleh Departemen Perekonomian IPNU-IPPNU akan dapat berdiri, sesuai dengan harapan. Serta program merintis ke uangan para pelajar NU dapat tercapai.

Sejauh ini, kata Ahmad Indraki pihaknya sudah berkomunikasi dengan Ketua Cabang Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) M Syafi Majlis. Hasilnya LPNU sangat mendukung rencana yang akan dilakukan oleh para pelajar NU untuk mulai merintis keuangannya sendiri.

“Kita tak muluk untung sebagaimana para pengusaha. Tetapi kami akan merintis usaha kecil yang akan dikembangkan secara bertahap. Agar nantinya dapat menjadi pembelajaran kita bersama dalam berusaha ke depan,” katanya. (Ahmad Asmu’i/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren PKS Piyungan Taubat

Senin, 25 Desember 2017

Sosialisasikan Ilmu Falak Lewat Pelatihan

Jepara, PKS Piyungan Taubat

Forum Komunikasi MAK (FKM) MA Hasyim Asyari Bangsri Jepara bekerja sama dengan Farabi Institute Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS Mora) IAIN Walisongo Semarang menyelengarakan Workshop Ilmu Falak di aula madrasah, Kamis-Jum’at (21-22/11) kemarin.

Sosialisasikan Ilmu Falak Lewat Pelatihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasikan Ilmu Falak Lewat Pelatihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasikan Ilmu Falak Lewat Pelatihan

Kegiatan yang diikuti 36 peserta difasilitasi 5 tim dari Farabi; Afrizal M Fauzi, M Sauqi Nahwandi, M Iqbal, Dhito Arif Pratama dan M Ihtirazun Niam dengan materi pengenalan kalkulator saintifik, fiqih dan perhitungan arah kiblat, penentuan arah kiblat dengan teodolit dan mizwala, praktik pengukuran arah kiblat serta fikih dan perhitungan awal waktu shalat.

Ketua panitia, M Khoirun Niam mengatakan, kegiatan merupakan bentuk sosialisasi ilmu falak di MA Hasyim Asyari. Tujuannya, menurut Niam, agar peserta semakin memahami ilmu falak utamanya penentuan arah kiblat dan awal waktu shalat.

PKS Piyungan Taubat

KH Khoirul Faizin Abdar selaku kepala madrasah mendukung kegiatan tersebut. “Harapan kami workshop tidak hanya berhenti sampai disini saja. Hanya mengetahui arah kiblat dan awal shalat tetapi kedepan perlu ada pelatihan yang berjenjang agar ilmunya juga semakin berkembang,” harapnya.

Hal lain ditambahkan KH Zamazi. Diungkapkannya ilmu falak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kiai Zamazi menyontohkan dalam beribadah misalnya ia menyebut untuk menentukan arah kiblat, mengetahui awal dan akhir waktu shalat serta penentuan bulan qamariyah tidak lepas dari fungsi ilmu falak.  

PKS Piyungan Taubat

Karenanya, Pengurus PC Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jepara memberikan apresiasi kepada pihak penyelenggara. “Ilmu falak merupakan diantara dua cabang ilmu selain ilmu Faraidl yang harus terus dikaji. Kami sangat bahagia sekali ketika adik-adik mau mempelajari ilmu falak karena memang ilmu ini dinilai sudah langka sekali peminatnya,” terangnya.    

Tri Rahayuningsih, salah satu peserta mengungkapkan ia sangat senang atas diselenggarakannya workshop tersebut. Selain menambah pengetahuan tentang pentingnya peranan ilmu falak dalam beribadah juga menambah teman-teman lintas jurusan yang ada di Hasyim Asyari. (Syaiful MustaqimMahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren PKS Piyungan Taubat

Selasa, 19 Desember 2017

Persiapan Panitia LSN Jatim 1 Maksimal

Trenggalek, PKS Piyungan Taubat - Panitia Nasional Liga Santri Nusantara menilai kesiapan Kabupaten Trenggalek sebagai tuan rumah kompetisi Liga Santri region Jawa Timur 1 sejauh ini sudah maksimal. Hal ini disampaikan setelah panitia nasional meninjau langsung kesiapan Stadion Menak Sopal Trenggalek sebagai tempat berlangsungnya pembukaan dan kompetisi yang akan digelar pada 17 September mendatang, Senin (7/8) siang.

Hal ini diungkapkan M Khoirudin Abbas, Senin (7/8) siang di lokasi. Khoirudin didampingi koordinator Regional Habib Mustofa, panitia pelaksana Khotamil Anam, melihat kesiapan fasilitas stadion. Mereka memeriksa ruang ganti yang biasanya dipergunakan para pemain saat pertandingan serta menginjakkan kaki di rumput hijau lapangan.

Persiapan Panitia LSN Jatim 1 Maksimal (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan Panitia LSN Jatim 1 Maksimal (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan Panitia LSN Jatim 1 Maksimal

Stadion Menak Sopal memiliki rumput yang berstandar nasional dan pernah menyandang predikat terbaik ketiga di Jawa Timur setelah stadion Gelora Bung Tomo Surabaya dan Pamekasan.

PKS Piyungan Taubat

Habib Mustofa menjelaskan, stadion ini mampu menampung 10.000 orang. Pihaknya optimis, stadion ini dapat menampung lebih banyak lagi penonton.

PKS Piyungan Taubat

"Dijadwalkan Menpora Imam Nahrawi akan hadir di stadion ini untuk membuka Kickoff liga santri. Saya akan pastikan lebih dari lima belas ribu penonton akan berbondong-bondong menuju stadion Trengalek ini," kata Habib Mustofa.

Sebelum meninjau stadion, M Khoiruddin Abbas melakukan pertemuan dengan Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak di Pendopo Kabupaten. "LSN ini adalah progam dari Kemenpora untuk memajukan persepakbolaan Indonesia dengan harapan LSN bisa mewujudkan bintang sepak bola dunia dari Pesantren," kata Khoirudin di hadapan Bupati Emil.

Pada kesempatan itu, Emil kembali menegaskan kesiapan Kabupaten Trenggalek sebagai tuan rumah LSN. Emil yang dibesarkan dalam kultur NU memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama memajukan dan mendukung sepakbola santri. "Saya itu juga dari keluarga NU. LSN ini merupakan kegiatan positif memasyarakatkan santri dan sepakbola," ungkapnya.

Sementara itu mengenai acara pembukaan, Ketua Umum Forum Shalawat Jaljalud Bumi Trengalek, Gus Badar akan turut meramaikan acara dengan mengerahkan 10.000 anggotanya.

"Kita adalah santri yang cinta kepada shalawat. Semoga dengan shalawat akan mendapatkan syafaat baginda Rasulullah Muhammad SAW. Karena kita juga bagian dari santri maka kita akan hadir dan memeriahkan acara ini," kata Gus Badar. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren, IMNU PKS Piyungan Taubat

Jumat, 08 Desember 2017

Bersama MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir Gratis di Smartphone

Jakarta,PKS Piyungan Taubat. Aswaja TV sebuah channel dakwah Nahdliyin yang telah mengudara sejak dua tahun terakhir. Selama ini hadir di layar kaca melalui frekwensi Free To Air yang dipancarkan melalui satelit Palapa D dan ditangkap melalui antena parabola serta hadir di internet melalui platform desktop di MIVO pioner live streaming channel pertama di Indonesia.

Bersama MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir Gratis di Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir Gratis di Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir Gratis di Smartphone

Kini Aswaja TV dapat dinikmati secara lebih luas dan ringan melalui Smartphone, Tablet, Smart TV dan Mobile Phone lainnya. Aswaja TV bersama lebih dari 40 saluran TV lain dapat diikuti melalui berbagai jenis telephone pintar secara gratis dan telah diunduh (download) oleh lebih dari 2,99 juta pengguna android.

Demikain dinyatakan General Manager Program Aswaja TV Syaifullah Amin dalam pers conference di bilangan Kemang Jakarta Selatan, Selasa (7/4). Menurut Syaifullah, dengan dapat dinikmatinya Aswaja TV melalui smartphone, maka siaran dakwah Ahlussunnah wal Jamaah dapat semakin menyebar lebih dalam ke dalam kehidupan tiap indiividu manusia.

PKS Piyungan Taubat

“Dengan aplikasi MIVO di smartphone Aswaja TV dapat diikuti oleh siapa pun, dari mana pun latar belakangnya, termasuk para remaja, mahasiswa dan kaum professional. Karena terpaket bersama channel-channel lain, Aswaja TV tidak lagi terbatas hanya dinikmati oleh kalangan santri,”? tandasnya.

PKS Piyungan Taubat

Dalam kesempatan yang sama, Marketing Manager Mivo Yuliana Chusna menyatakan, Aswaja TV bersama MIVO menjawab kebutuhan dakwah bagi warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Hal ini pula yang memotivasi MIVO untuk merilis aplikasi mobile bagi pengguna Android dan iOs (iPhone, iPad).

“Aswaja TV menjadi salah satu channel favorit yang ditonton oleh jutaan pengunjung tiap harinya di live streaming MIV O. Dengan kehadirannya di aplikasi telephone pintar, Kami berharap terus terjadi peningkatan pemirsa channel dakwah Muslim Indonesia ini,” harapnya.

Lebih lanjut Yuliana menjelaskan, aplikasi MIVO dapat diunduh di Google Play untuk android pada alamat: bit.ly/Mivo-android dan di Appstore untuk iPhone, iPad pada alamat: bit.ly/Mivo-iOs secara gratis.

“Pergeseran komunikasi di masyarakat membuat perangkat mobile semakin penting. Evolusi TV dan kemudahan akses internet mengubah pola nonton ke live streaming. Ini menjadikan TV menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap pemilik gadget atau smartphone sekaligus menjadi identitas pendukung,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren, Nusantara PKS Piyungan Taubat

Sabtu, 02 Desember 2017

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan

Kendal, PKS Piyungan Taubat. Ketika Nabi Muhammad pertama kali menginjakkan kaki di kota Mekkah, Ka’bah sudah ada di sana, bahkan ritual mengitari ka’bah atau thowaf pun juga dilakukan oleh masyarakat jahiliyyah dulu, tetapi mereka mengitari ka’bah untuk menyembah patung-patung yang dipajang di sekitarnya.?

Demikian disampaikan KH M. Yusuf Chudhori atau akrab disapa Gus Yusuf ketika menyampaikan pengajian dalam rangka Haflah Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Istiqomah, Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Selasa (25/10) pagi.

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Islam Datang Menata Kebudayaan, Bukan Menghancurkan

Lalu Nabi melakukan pendekatan kebudayaan ketika mendakwahkan Islam di sana, Nabi tidak menghancurkan ka’bah, akan tetapi mengubah orientasi peribadatannya, yang semula tertuju pada patung, lalu diubah memusatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.?

Thowaf pun kemudian dilaksanakan dengan membaca talbiyah. Itu merupakan salah satu wujud bahwa Islam datang bukan untuk menghancurkan kebudayaan, tetapi justru menata dan membangun kebudayaan.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok API Tegalrejo Magelang tersebut menghimbau para hadirin agar memilih pesantren yang jelas aqidah kiainya.

PKS Piyungan Taubat

“Orang tua harus berhati-hati memasukkan anaknya ke pesantren yang mana, paling tidak harus jelas kiainya siapa, akidahnya, kesehariannya. Kalau bisa lagi, cari yang cetho (jelas) NU nya, itu pasti aman dari paham radikal dan terorisme,” paparnya,?

Gus Yusuf mengatakan bahwa melihat akidah pimpinan pondok pesantren adalah hal yang penting, paling tidak kriteria ke-NU-an tertanam di sana sebagai bentuk pesantren yang tidak hanya mempelajari agama tapi juga mengajarkan rasa nasionalisme.?

Sebab, tuturnya, NU memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bersama dengan komponen bangsa yang lain. Sehingga Indonesia ini di mata orang NU adalah warisan para ulama yang harus dijaga.

Ketika menyinggung tentang kewajiban menuntut ilmu agama kepada seseorang, beliau juga mewanti-wanti para hadirin untuk tidak mudah terkecoh dengan jubah dan sorban yang dipakai seseorang.

PKS Piyungan Taubat

“Kanjeng Nabi dulu memang jubahan, sorbanan, tapi tunggu dulu, musuh-musuh Nabi juga pakai jubah dan sorban. Abu Jahal Abu Lahab dulu juga pakai sorban dan jubah. Maka kita lihat akhlaknya dulu, kesehariannya. Nabi adalah sosok yang murah senyum, tutur bahasanya menyejukkan, tidak pernah menakut-nakuti orang,” tuturnya.

Di hadapan ratusan hadirin yang berkumpul di halaman pondok pesantren pimpinan KH Aly Sodiqun tersebut, Gus Yusuf memberi pujian kepada para orang tua yang memondokkan anaknya di pesantren.?

Menurutnya, di jaman seperti saat ini, bisa diibaratkan dengan kondisi umat Nabi Nuh yang terkena banjir bandang, bedanya hanya terletak pada bentuknya. Kalau umat nabi Nuh dihadapkan banjir air, maka umat saat ini dibanjiri kemaksiatan.

“Maka perahu Nabi Nuh saat ini adalah pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah yang ada di pelosok negeri, perahu inilah yang akan menyelamatkan generasi muda kita dari banjir kemaksiatan yang merajalela,” pungkasnya. (Amar Alfikar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Tokoh, Halaqoh, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Minggu, 26 November 2017

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai

Jombang, PKS Piyungan Taubat. Kesiapan Panitia Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) PCNU Jombang akan diuji hari ini. Target kepemilikan kartu identitas hingga angka setengah juta adalah tantangan yang akan dibuktikan panitia.

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai

Peluncuran program Kartanu untuk wilayah Jombang dimulai hari ini, Ahad (10/3). Menempati gedung serba guna KH Hasbullah Said di area Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, rangkaian seremonial diselenggarakan.

“Pada acara pembukaan, akan diputarkan rekaman sosialisasi dari Kartanu ini,” tandas Didik Firdiyanto yang dipercaya sebagai ketua panitia. Rekaman itu adalah sebagai juklak dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

PKS Piyungan Taubat

Untuk bisa menggenjot target dari Kartanu untuk daerah MWC Jombang Kota, pihak panitia telah menyiapkan empat titik lokasi pemotretan. “yang pertama adalah di Tambakberas ini, juga di daerah Sengon, Tunggorono serta Kantor PCNU Jombang,” katanya kepada PKS Piyungan Taubat.

Diharapkan dengan lebih banyak titik tersebut, antusias warga untuk memiliki kartu identitas akan semakin mudah terlayani. “Waktu pemotretan juga akan berlangsung sejak jam 8 pagi hingga jam 9 malam,” lanjutnya.

PKS Piyungan Taubat

Sosialisasi yang secara silmultan dilakukan panitia dengan dukungan penuh para aktifis di PCNU semua tingkatan, lembaga, badan otonom serta lajnah cukup memberikan harapan bahwa target panitia akan terlampaui. “Kami juga akan melakukan jemput bola kepada sejumlah warga yang belum terlayani program ini,” tandasnya.

Memang khususu untuk di Jombang, ada beberapa keistimewaan bagi para pemegang Kartanu. “Ada sejumlah keringanan biaya saat menggunakan fasilitas di sejumlah rumah sakit NU,” kata Afandi, Sekretaris Panitia Kartanu. Rumah sakit yang telah menyatakan kesediaan adalah Rumah Sakit Unipdu Medika Peterongan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Jombang, serta Rumah Sakit Ibu dan Anak Muslimat Jombang. 

Bahkan Direktur Utama Rumah Sakit Unipdu Medika, DR Zulfikar As’ad berharap akan lebih banyak lagi manfaat yang akan diterima warga NU saat memiliki kartu identitas. “Inilah yang perlu dipikirkan oleh para pengusaha, pemilik lembaga pendidikan dan sejenisnya,” katanya. “Jangan hanya memanfaatkan warga NU namun tidak memberikan manfaat kepada mereka,” tandas Gus Ufik.

Program Kartanu di Jombang akan berlangsung dari tanggal  10 Maret hingga 8 Juli mendatang. Seluruh MWC akan mendapatkan giliran pemotretan Kartanu yang difasilitasi panitia dari PCNU Jombang. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren, Berita PKS Piyungan Taubat

Kamis, 23 November 2017

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya

Beberapa lama setelah berada di kampung halamannya, Tebuireng, Jombang di tahun-tahun 1972-1974, selain mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai menekuni kembali bakat menulisnya dan menjadi kolomnis di berbagi media massa nasional. Pada kurun ini tulisannya kerap bermunculan di berbagai media massa mulai dari majalah nasional umum seperti Tempo hingga majalah islami seperti Panji Masyarakat yang didirikan oleh Buya Hamka.

Selain memiliki kelebihan-kelebihan lainnya yang sudah jamak diketahui publik,? salah satu dari kemampuan lainnya Gus Dur yang menonjol bahkan sedari kanak-kanak adalah menulis. Di majalah Tempo sejak tahun 1970-an sampai 1980-an, ia kerap datang sendiri untuk menulis kolomnya. Begitu produktifnya hingga tulisan yang satu belum dimuat, sudah ada lagi tulisan yang lain. Produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Muhammad, pemimpin redaksi Tempo waktu itu mengambil inisiatif untuk menyediakan satu meja khusus plus mesin ketik untuknya. Hampir tiap minggu Gus Dur menulis. Menurut pengakuannya dalam suatu wawancara di televisi, itu dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya

Dalam menulis Gus Dur mempunyai banyak ide. Hal-hal yang bagi orang lain dipandang sepele dan remeh temeh, dibuatnya menjadi penting.? Keluasan wilayah pemikirannya mengagumkan banyak orang dan sulit untuk diimbangi. Dibanding dengan cendekiawan atau penulis lain, spektrum? perhatian Gus Dur masih jauh lebih luas. Tulisannya tidak hanya masalah-masalah agama dan sosial politik, melainkan juga budaya, sejarah, pertanian, musik, sampai sepakbola nasional dan internasional.

PKS Piyungan Taubat

Ketika menulis, Gus Dur kerap berangkat dari asumsi dan akumulasi pengetahuan yang dimilikinya. Karena Gus Dur secara umum dikenal mempunyai analisa yang banyak tepatnya, maka tak heran ia pernah diminta oleh harian terkemuka di ibu kota untuk menganalisis pertandingan-pertandingan sepakbola dalam suatu ajang piala dunia.

Menurut kesaksian salah satu saudara kandungnya, Salahuddin Wahid, Gus Dur memang mempunyai kemampuan menulis yang dimiliki sejak kecil. Kemampuan menulis Gus Dur tergolong luar biasa. Sewaktu SD, dia telah memenangkan lomba menulis se-Jakarta.? Bahkan ketika tidak dapat menulis sendiri, Gus Dur mendiktekan apa yang ingin ditulisnya. Meskipun hanya didektekan, tetapi hasilnya tetap merupakan sebuah tulisan yang bermutu dengan tata bahasa dan sistematika yang bagus. Di tangan Gus Dur, segala sesuatu dapat dijadikan sebagai obyek tulisannya.

PKS Piyungan Taubat

Pada saat Gus Dur dioperasi sekitar tahun 1993, ia diminta untuk membuat kata pengantar sebuah buku berbahasa Inggris. Buku itu dibacakan oleh salah seorang putrinya. Ternyata dengan mudah saja Gus Dur dapat membuat kata pengantar dengan mendiktekannya. Hal itu lantaran Gus Dur pandai menarik benang merah atau hal-hal pokok dari sebuah buku meski cuma dibacakan oleh orang lain.

Kemahiran menulis yang dimiliki Gus Dur sebagaimana di atas tentu saja banyak faktor pendukungnya. Di samping peran luasnya pergaulan, banyaknya pengalaman dan aspek bakat, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah karena faktor budaya bacanya yang tinggi yang telah tertanam sejak dari kecil.

Sejak kecil saat masih tinggal di rumahnya di Matraman, oleh ayahnya memang Gus Dur dan saudara-saudaranya telah dididik dan diarahkan agar mereka gemar membaca buku. Untuk putra-putrinya, KH Wahid Hasyim menyediakan buku-buku di rumah tersebut dengan sangat beragam topik dan temanya, tidak hanya tentang keislaman. Selain buku, disediakan pula olehnya di samping media-media Islam, juga terdapat media massa Katolik dan terbitan non-Muslim lainnya. Gus Dur dan adik-adiknya melalui bejibun bahan bacaan tersebut dirangsang untuk membaca apa saja yang mereka sukai.

M. Haromain, Warga NU bergiat di Forum Santri Temanggung

Disarikan dari:

Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH. A. Wahid Hasyim, Penerbit: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, Jakarta, 2007.? ?

Majalah Tebuireng, edisi 09, Januari-Maret, 2010? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren PKS Piyungan Taubat

Selasa, 21 November 2017

PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang

Jakarta, PKS Piyungan Taubat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah dan DPR meninjau ulang Undang Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air atau lebih dikenal sebagai undang-undang privatisasi air karena tidak adil bagi masyarakat.

"Demi keadilan kita minta undang-undang privatisasi air ditinjau ulang," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj usai membuka rapat kerja Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU sekaligus seminar bertajuk "Perubahan iklim, Penanggulangan Bencana dan Lingkungan di Indonesia" di Jakarta, Jumat.

PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta UU SDA Ditinjau Ulang

Sebelumnya, di dalam forum tersebut, yang dihadiri antara lain Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, CEO WWF Indonesia Efriansyah, Deputi Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sugeng Tri Utomo, Direktur Bappenas Suprayoga Hadi, dan Ketua LPBINU Avianto Muhtadi, Said Aqil menyoroti privatisasi dan monopoli terhadap sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak.

PKS Piyungan Taubat

Padahal, lanjutnya, konstitusi negara, UUD 1945, mengamanatkan cabang-cabang produksi yang yang menguasai hajat hidup orang banyak, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

PKS Piyungan Taubat

Islam, kata Said Aqil, juga melarang keras penguasaan sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak oleh orang atau kelompok tertentu sehingga menyengsarakan yang lain.

“Dalam Islam ditegaskan bahwa air, api dan rumput diharamkan dimiliki oleh individu, ini merupakan barang publik untuk kepentingan bersama,” katanya.

Dalam konteks sekarang, air bisa dikategorikan sebagai sumber-sumber mata air yang kini banyak dikuasai oleh perusahaan air minum dalam kemasan, yang akhirnya menyebabkan penduduk sekitarnya kesulitan air.

Sementara itu, “api” bisa dimaknai dengan berbagai macam bentuk sumber energi seperti minyak bumi, batubara dan lainnya. Kang Said mengungkapkan, secara kasat mata bisa dilihat bekas-bekas galian batubara di Kalimantan dan Sumatra yang bisa menimbulkan bencana besar, sementara hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Dalam konteks “rumput” ia menjelaskan bahwa hal ini bisa dianalogikan dengan potensi sumberdaya hutan, yang sekarang juga mengalami kerusakan luar biasa. Lebih dari 80 juta hektar hutan di Indonesia rusak, sementara penduduk yang berdiam di sekeliling hutan tetap menderita.

Ia menegaskan, jika ada aturan Allah yang dilanggar, maka manusia akan mendapatkan dampaknya. Segala doa dan permohonan tidak akan dikabulkan karena ada aturan besar yang dilanggar.

“Doa dari para ulama dan istighotsah tak ada faedahnya karena melanggar aturan, kecuali tindakannya diperbaiki,” tuturnya.

Ia menegaskan himbaun untuk meninjau ulang aturan privatisasi air ini sama sekali bukan politis atau karena kepentingan tertentu, tetapi murni demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren, RMI NU, Hadits PKS Piyungan Taubat

PMII Metro Makassar Diharap Hasilkan Kader Berakhlak Mulia

Maros, PKS Piyungan Taubat. Mapaba PMII Universitas Islam Makassar cabang Metro Makassar di pesantren Nahdatul Ulum Soreang Kabupaten Maros, Kamis (2/10). Pada kesempatan ini Rektor UIM DR Majdah M Zain membawakan materi di hadapan 328 peserta Mapaba yang bertema "Peran Mahasiswa menuju Indonesia Berakhlakul Karimah.

"PMII harus tampil sebagai garda terdepan untuk mencetak generasi muda yang unggul dan tentunya berakhlak mulia. Melihat dewasa ini Indonesia dengan generasi mudanya masih banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi, tentunya sebagai orang tua berharap anaknya mampu tumbuh dan menjadi solusi atas permasalahan ini," kata DR Majdah.

PMII Metro Makassar Diharap Hasilkan Kader Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Metro Makassar Diharap Hasilkan Kader Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Metro Makassar Diharap Hasilkan Kader Berakhlak Mulia

Putri dari sesepuh NU lokal Gurutta KH Muhyiddin Zain berharap PMII tidak kehilangan identitas sebagai organisasi yang dilahirkan oleh NU, tentunya sebagai organisasi kemahasiswaan yang masih memegang budaya akhlak santri yang sangat menghormati ulama dan guru.

PKS Piyungan Taubat

"Kemudian PMII harus tampil sebagai pengawal ideologi NU Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja), di tengah maraknya propaganda pemahaman yang melenceng dari nilai-nilai Islam Aswaja," tambahnya.

Sebelumnya Kamis (1/10) Rais Syuriyah NU Sulsel yang juga sebagai Pimpinan PP Nahdlatul Ulum Soreang hadir dan memberikan taushiyah. Tampak hadir mendampingi Rektor UIM, jajaran rektorat UIM seperti Dr Musdalifah Mahmud, Saripuddin Muddin, dan Dr A Rahim Mas P Sanjata. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

PKS Piyungan Taubat

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat RMI NU, Syariah, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Senin, 13 November 2017

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Kediri, PKS Piyungan Taubat. Hujan yang mengguyur kota Pare, Kediri, Selasa (13/11) tidak menyurutkan semangat ribuan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Kediri untuk menggelar Apel dalam rangka memperingati Resolusi Jihad NU dan Peringatan Tahun Baru Hijriyah.

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Bertempat di halaman masjid Jami’ An-Nur, Pare Kediri, ribuan Banser tumpleg bleg di arena itu. Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur  H Imam Kusnin Ahmad SH.

Meski dalam kondisi hujan acara apel berjalan lancar tidak ada satu pasukanpun yang bergeser dari barisan. Mereka tetap antusias mendengarkan pidato arahan dari Komadan Banser Jatim tersebut.

PKS Piyungan Taubat

“Hujan tidak akan menyurutkan semangat anggota Banser dalam apel ini. Apalagi hujan. Darah dan nyawapun akan dikorbankan oleh Banser untuk memperrtahankan ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah ala NU dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,’’ ujar Kang Kusnin membakar semangat anggota Banser dan Ansor yang hadir pada saat itu, yang disambut dengan pekikan Allahu Akbar bebera pakali dari para peserta yang hadir.

Menurutnya, kalau dibanding dengan perjuangan para pahlawan dan pendahulu, tidak sebanding sama sekali. Para pahlawan dan suahada’ taruhannya jiwa dan raga  untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. “ Para pahlawan tidak perfikir saya akan mendapat apa dalam perjuangan ini. Prinsipnya bagaimana negeri ini terbebas dari penjajahan yang nota bene simbul keangkara murkaan,’’ terang Kang Kusnin.

PKS Piyungan Taubat

Maka sangat tepat bila, kader-kader muda NU memperingati resolusi Jihad NU yang tercetus pada 22 Oktober 1945 itu. Karena dengan adanya resolusi Jihad menjiwai semanat umat Islam untuk mepertahankan  Kemerdekaan Indonesia, yang saat ini kita kenal dengan peringatan hari Pahlawan 10 November itu.

“Jadi NU selalu setia kepada NKRI begitu pula dengan Ansor dan Banser-nya. Mengapa, karena NU dan Ansor ibarat sebuah perusahaan, organisasi ini memiliki saham yang sah di negara ini. Sehingga apa bila ada piahk-pihak yang ingin memporandakan negara ini. NU dan Banser akan membela mati-matian. Dan saat ini upaya-upaya itu nampaknya sudah mulai terjadi,’’ tegas dia.

Untuk itu, ia minta seluruh anggota Banser  harus merapatkan barisan, persatu padu untuk mepertahankan NKRI dari upaya perpecahan. “ Sebagai kader bangsa kita berkewajiban mempertahankan negeri ini dari segala bentuk ancaman. Baik dari dalam maupun dari luar,’’ kilahnya.

Selain itu, Kang Kusnin juga meminta para anggota Banser untuk lebih profesional dalam menjalankan tugasnya. Agar bias melaksanakan tanggung jawabnya. Yakni , pertama menjaga, memelihara dan menjamin kelangsungan hidup serta kejayaan Gerakan Pemuda Ansor dan NU.

Kedua,berpartisipasi aktif melakukan pengamanan dan ketertiban terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, NU serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang tidak bertentangan dengan perjuangan NU.

Ketiga, bersama dengan kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI.

Usai apel, acara dilanjutkan atraksi kekebalan tubuh dari satuan Densus 99 Banser Kabupaten Kediri dan kemampuan anggota Bagana ( Banser Tanggap Bencana) dalam memberikan pertolongan kepada para korban letusan gunung Kelud. “ Apel ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati resolusi jihad NU dan sekaligus untuk peringatan tahun Islam,’’ ujar Agus Tariadi Ketua PC Ansor Kab. Kediri.

Selain apel, hari ini akan diselenggarakan oleh panitia gaungan dari PCNU dan banomnya. Diantaranya pawai ta’aruf, pengajian akbar dan malam bersholawat yang menghadirkan 5 ribu anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) milik NU. “Yang akan memberikan ceramah adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj. Acara akan berlangsung di Stadion Canda Bhirawa Pare,” katanya. (Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat Pesantren PKS Piyungan Taubat

Minggu, 29 Oktober 2017

Nusantara dalam Seni Rupa: Kosmopolitanisme Spiritual dan Pergeseran Struktur Waktu

Oleh: Faisal Kamandobat

I

Pada tahun 2011, seniman kelahiran India yang bermukim di Inggris, Anish Kapoor, memamerkan karya berjudul The Death of Leviathan di Grand Palais, Paris. Kapoor menggambarkan Leviathan (monster buas yang dilukiskan oleh Thomas Hobbes sebagai lambang kejahatan) dalam rupa gelembung darah dari karet sintetis berukuran raksasa hingga puncaknya bersentuhan dengan atap gothic yang merupakan ciri umum arsitektur suci di Eropa. Melihat ukurannya, para pengunjung yang masuk ke dalam "gelembung darah" raksasa tersebut jadi tampak begitu kecil, sama kecilnya dengan saat mereka berhadapan dengan kekuatan hasrat dan kesucian maha besar (sebagai simbol dari kapitalisme dan gereja) yang berabad menggerakkan peradaban mereka. Demikianlah Kapoor "menginterupsi" peradaban Barat tepat di ulu hatinya, dengan menampilkan ironi skismogenesis yang membuat laju peradaban Barat mengalami kebuntuan. Ironi tersebut kian dalam mengingat pelakunya bukan seniman asal London atau Paris sebagai ibu kota peradaban Barat, melainkan oleh seniman asal India (sebuah bangsa dengan peradaban yang berbeda, dianggap minor karena kemiskinan serta dibuat inferior oleh penjajahan). Hal tersebut menandakan tengah terjadi pergeseran konsep waktu dalam peradaban, baik struktur, posisi, maupun orientasinya.

Nusantara dalam Seni Rupa: Kosmopolitanisme Spiritual dan Pergeseran Struktur Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusantara dalam Seni Rupa: Kosmopolitanisme Spiritual dan Pergeseran Struktur Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusantara dalam Seni Rupa: Kosmopolitanisme Spiritual dan Pergeseran Struktur Waktu

Struktur waktu yang membentuk sejarah, sejak modernitas menjadi paradigma dunia, bergerak dalam struktur linear-progresif yang melaju demi menggapai ideologi kemajuan (progress). Dalam paradigma tersebut, bangsa atau peradaban Barat yang mampu mengumpulkan kekayaan, pengetahuan dan inovasi diposisikan berada di puncak sejarah, sedangkan bangsa-bangsa atau peradaban-peradaban non-Eropa yang dianggap lebih miskin, bodoh dan lamban diposisikan berada di belakangnya, mengantre di "ruang tunggu sejarah" (waiting room of history) menanti datangnya masa depan (Alatas, 2010). Struktur waktu linear-progresif, dengan demikian, bukan kategori ilmiah dan objektif, melainkan kategori politis-ideologis yang digunakan oleh sebuah peradaban untuk mendominasi dan mengontrol peradaban-peradaban lain yang memiliki struktur waktu berbeda—terutama struktur waktu siklis-spiritual yang berputar sesuai irama ritual, pola pertanian dan pelayaran, serta kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Seni rupa yang dicanangkan Barat, dilahirkan dan berada dalam konteks modernitas, termasuk instrumen sekaligus korban dari dominasi waktu linear-progresif tersebut, sebagaimana seniman-seniman non-Barat dianggap sebagai sekedar pengikut yang tertatih menapaki anak tangga tatanan seni rupa dunia, dengan para maestro Barat berada di puncak waktu dan sejarah.

Akan tetapi, struktur waktu linear-progresif tersebut perlahan mengalami ancaman seiring rapuhnya fondasi ekonomi, politik dan pengetahuan yang mendukungnya. Dalam bidang ekonomi, arus modal tengah bergerak dari Barat ke Asia, seiring jumlah populasi, ketersediaan bahan mentah, dan target pasar yang melimpah. Dalam bidang pengetahuan, ilmuwan-ilmuwan Asia kian menduduki posisi penting di berbagai perguruan tinggi dunia, dengan temuan-temuannya yang fundamental. Dalam politik, mengingat kekuatan ekonomi yang dimiliki, posisi Asia secara geopolitik terus menguat, dari hanya penggembira menjadi penentu di dunia. Begitu pula dalam seni rupa di mana seniman-seniman China, India, Jepang, dan Arab mulai menjadi pemain-pemain penting dalam peta seni rupa dunia.

Kenyataan tersebut telah mengganggu arus waktu linear-progresif yang semula berpuncak di New York, London, Paris dan Berlin, perlahan mulai digeser ke Beijing, New Delhi, Dubai dan Tokyo. Dengan kata lain, struktur waktu linear-progresif yang dicanangkan di Barat sejak Abad Pencerahan, daya magisnya mulai memudar seiring cadangan devisa, pengetahuan, dan peran politik yang kian melemah, sehingga mengancam keberadaan "menara waktu" itu. Salah satu respon Barat terhadap hal tersebut adalah dengan mengakomodasi individu dan kosmologi budaya yang berbeda-beda dalam peradabannya, seperti tampak pada Venice Binennale 2015 yang bertema Universes in Universe dengan kurator asal Nigeria, Ekwui Enwezor. Tema tersebut merupakan strategi Barat untuk keluar dari kutukan Angelus Novus, sosok malaikat dalam lukisan Paul Klee (1920) yang ditafsir oleh Walter Benjamin sebagai sang penjaga "metafisika kemajuan". Ia terbang dengan sedih ke masa depan, dengan puing-puing korban berserakan di bawahnya.

PKS Piyungan Taubat

Di tengah situasi demikian, pameran seni rupa yang mengangkat tema spiritual menemukan momentumnya untuk kembali mewarnai peradaban, baik dengan mereorientasi struktur waktu dari linear-progresif yang berujung pada kekayaan tanpa batas menuju struktur waktu siklis yang mengembalikan setiap capaian sejarah ke titik berangkat kelahirannya, maupun dengan mereposisi puncaknya yang semula hanya berada di Barat dipluralisasi ke berbagai titik di luar itu. Apa yang dilakukan seniman seperti Anis Kapoor yang India dan Zaha Hadid yang Irak di London, Cai Guo Qiang yang China dan Shirin Neshat yang Iran di New York, bukanlah semata perwujudan kosmopolitanisme baru hasil mobilitas dan hibriditas di era kapitalisme dan demokrasi sekarang ini, melainkan usaha yang secara sadar dilakukan untuk melakukan reorientasi dan reposisi peradaban dengan membawa pesan dari akar budaya mereka untuk didiskusikan, disemai, dan didialogkan dengan peradaban lain—dalam hal ini Barat—yang tengah mengalami keletihan dalam menggapai metafisika sejarah bernama kemajuan.

II

Unsur spiritual yang ditawarkan dalam pameran kali ini merupakan rangkaian dari Muktamar Nahdhatul Ulama ke-33, bertema "Islam Nusantara". Sesuai karakteristik geografis dan ekologisnya, Nusantara merupakan kawasan terbuka di mana berbagai kebudayaan dapat masuk sehingga kawasan ini menjadi salah satu daerah paling dinamis dan kosmopolitan di dunia. Arus kebudayaan tersebut jalin-menjalin dalam sejarah, mulai dari era Salakanagara di ujung Barat pulau Jawa, kemudian masuknya arus Indianisasi yang membentuk institusi kerajaan Hindu-Budha dengan raja sebagai pusat orientasi politis dari kosmologi mandala, diikuti Islam yang menawarkan etika sosial dan model organisasi jaringan keagamaan yang cocok dengan era perdagangan maritim ketika itu, kemudian Barat masuk membawa tata politik govermentalis sebagaimana tercermin dalam model organisasi, tata birokrasi dan benteng-benteng pertahanan sebagai pusat dagang, politik, dan sekaligus militer yang, seperti pernah ditegaskan Radhar Panca Dahana, "sesuai dengan karakter daratan Eropa". Di sela-sela arus besar tersebut gelombang migrasi dari China daratan berdatangan dan membentuk pusat-pusat kebudayaan di berbagai kota pelabuhan di kepulauan ini. Pengaruh mereka pun cukup penting baik kultural, politik dan terutama ekonomi.

PKS Piyungan Taubat

Kelompok-kelompok yang datang silih berganti sesuai era dan masanya telah ikut serta membentuk sedimentasi dalam struktur mental setiap generasi di kawasan ini, persis seperti struktur geologis wilayah yang dihuninya: lapisan terdalam mental orang Nusantara adalah mistis, kemudian kosmopolitanisme khas Asia, dan modernitas berada di lapisan permukaan (Lombard, 2005). Tidak mengherankan jika kebanyakan orang Indonesia semakin modern justru semakin spiritual, sebagaimana para ilmuwan yang kian saleh, aktivis yang sekuler di masa mudanya berbalik menjadi mistikus di masa tuanya, para pejabat yang pergi ke dukun, dan pengusaha sukses kian aktif dalam organisasi keagamaan.

Hal tersebut juga tampak dalam seni rupa. Unsur-unsur spiritual banyak ditemukan justru dalam usahanya memaknai modernitas yang sekuler itu. Misalnya, konsep "jiwa ketok" Sudjodjono, kontemplasi geometris Ahmad Sadali, perubahan ruang demografi dan kosmologis Fajar Sidik, hingga matahari-matahari dalam kanvas Affandi, dekora-magis Widayat, cerita-cerita mitologis lukisan Nasirun, wayang kontemporer Heri Dono, dan banyak lagi lainnya. Menjadi modern, dengan kata lain, adalah sekaligus menjadi semakin spiritual dan kosmopolitan. Dalam proposisi yang lebih berani: spiritualitas dan kosmopolitan adalah usaha mereka menjinakkan modernitas agar tidak menjadi kekuatan liar yang bergerak ke masa depan dengan melindas segala sesuatu, namun menjadi kosmologi yang dapat hidup secara koeksisten dengan kosmologi-kosmologi lain di Nusantara.

Dengan kata lain, berbagai arus kebudayaan yang masuk ke Nusantara, betapa pun memiliki doktrin, orientasi dan ciri intrinsik lain yang berbeda-beda pada akhirnya ikut dibentuk oleh karakteristik ekologis dan geografis kepulauan ini. Secara geografis, mengingat kawasan ini merupakan kawasan terbuka yang bisa dimasuki dari berbagai penjuru, maka hampir semua kelompok sosial-budaya yang masuk ke kawasan ini cenderung tidak melakukan penguasaan teritorial melainkan ideologis (sampai kemudian berdiri institusi negara-bangsa bernama Indonesia). Dengan ikatan ideologis, afiliasi politis dibentuk lebih berdasarkan ikatan kultural; berbeda dengan ikatan teritorial di mana afiliasi politis dibentuk berdasarkan klaim atas wilayah.

Dalam afiliasi politik berdasarkan ideologi, kesamaan kultural menjadi tali yang mengikat anggota kelompok yang menyebar dan hidup berpindah-pindah di berbagai wilayah. Tidak heran jika di Nusantara ini keraton-keraton dari kerajaan yang berbeda berdiri berdekatan mengingat orientasi politik mereka yang utama bukan wilayah melainkan manusia—berdasarkan kesesuaian ideologi atau budaya dari penghuni yang menyebar dan bergerak sesuai musim tanam dan panen, arah angin serta tujuan pelayaran, jadwal ritual dan festival yang digelar, dalam irama waktu siklis sejarah. Hal tersebut berbeda dengan afiliasi politis berdasarkan klaim teritorial seperti negara-bangsa, di mana kebudayaan suatu kelompok penguasa boleh berganti, namun wilayah yang dikuasai tetap dalam batas yang sama—persis seperti migrasi bangsa Eropa di "Dunia Baru" Amerika, di mana mereka menancapkan bendera untuk menandai tanah tersebut telah "resmi" menjadi miliknya.

Menyaksikan hal tersebut, antropolog Tony Rudyansjah (2011) mengilustrasikan bahwa di Nusantara ini para penguasa tak ubahnya kelompok-kelompok seniman yang melakukan pertunjukan keliling di berbagai pulau, dengan keraton-keraton sebagai panggungnya, ritual-ritual sebagai karya seninya, rakyat sebagai pengiringnya, para pedagang sebagai sponsor dan semua yang terlibat menjadi pelaku sekaligus penontonnya. Implikasinya, terjadi massifikasi pertukaran budaya dalam bentangan sejarah. Beragam kelompok sosial-budaya hidup dengan mengikuti irama waktu siklis di berbagai kawasan, saling bertukar nada dan irama dalam tembang, saling meminjam dan memberikan metafor dalam puisi, berbagi tokoh-tokoh pahlawan, lakon-lakon cerita, untuk disalin, diterjemahkan dan dibentuk ulang sesuai kebutuhan, sebagaimana ditunjukkan dalam kajian klasik Adrian Vickers (2009) tentang cerita Panji yang muncul dalam berbagai versi mulai Bali sampai Thailand, juga kajian mutakhir Ronit Ricci (2011) tentang terjemahan kitab berbahasa Arab yang muncul dalam berbagai versi di Asia Selatan dan Tenggara.

Dalam kebudayaan demikian, wajar jika tokoh Sibatara dari Majapahit ditemukan dalam puisi orang Luwu, lalu masuk dalam serat sastra di Buton dan muncul dalam senandung kabanti; sosok Sunan Kalijaga yang Islam muncul dalam kitab orang Budha di Lasem, ditemukan dalam pantun orang Melayu, dan menjadi acuan dalam primbon Jawa; lalu makam Sunan Gunungjati yang Islam di Cirebon menjadi tempat peribadatan orang China, maulid Nabi di Pekalongan diikuti umat berbagai agama, orang Islam ikut merayakan Natal di Papua, dan pemakaman umum menjadi tempat peristirahatan abadi orang-orang dengan latar belakang iman yang berbeda. Pertukaran puisi, serat dan tembang itulah yang memembentuk berbagai kelompok sosial-budaya di kawasan ini secara mendalam sebagai sebuah bangsa daripada tesis Bennedict Anderson (1981) tentang kapitalisme cetak yang hanya mengikat identitas kebangsaan komunitas elit terpelajar bentukan kolonial.

Karakteristik geografi yang terbuka, orientasi politik ideologis serta kultur kosmopolitan seperti dipaparkan di atas, dibentuk sekaligus membentuk model organisasi jaringan untuk mengelola kekayaan kultural dan natural di Nusantara. Hal tersebut karena dalam masyarakat yang mobile, organisasi jaringan dianggap lebih fleksibel dan efektif daripada organisasi piramida sosial yang lebih cocok untuk masyarakat yang menetap. Dengan organisasi jaringan, masyarakat yang menyebar dan jalin-menjalin, diversifikasi sumberdaya alam yang berada di berbagai daerah, dan ekologi maritim yang luas, dapat lebih mudah mengorganisasi diri. Berdasarkan model organisasi semacam itu, maka stratifikasi sosial lebih bersifat cair dan horizontal, dan usaha untuk melakukan pemisahan sosial dan kultural secara tegas akan mengalami kesulitan, entah dengan elitisasi atau demarkasi. Agama, misalnya, dalam konteks ini akan melebur dengan adat, pembagian kerja yang berbasis di alam, orientasi politis dan kesenian sehingga menjadi tradisi yang longgar dan dinamis, yang dengan cara itu ikut mewarnai segala sesuatu menjadi spiritual. Demikian halnya dengan aturan hukum, afiliasi politis, aturan kekerabatan dan perdagangan yang juga bersifat longgar, dikodifikasi dalam tembang yang terbuka ditafsir, diikuti dan digubah sesuai kecakapan seseorang dalam menimbang kebutuhan dan memahami perlambang.

Jika geografi yang terbuka membentuk kosmopolitanisme Nusantara, ekologi yang kaya membentuk mentalitas ekonomi yang tidak agresif terhadap alam (Agusyanto, 2013). Di Nusantara, kekayaan bukanlah usaha mengeksploitasi, mengakumulasi alam, dan menyimpannya di gudang untuk cadangan hingga bergenerasi; sebab bagi mereka kebun dan ladang adalah gudang penyimpan kekayaan yang sebenarnya—terlebih iklim di kawasan ini tidak seperti di daerah empat musim yang membutuhkan cadangan makanan untuk bertahan hidup dalam waktu yang panjang. Maka tidak heran jika tidak ada perang berskala besar di kawasan ini yang dilakukan hanya demi berebut "seonggok gunung" (Geertz, 1980), karena setiap kelompok memiliki "harta" semacam itu. Implikasinya, tidak dibutuhkan kekuasaan politis yang besar dan aturan hukum yang rumit serta rigid dalam kehidupan sosial. Hal tersebut berbeda dengan di Barat, di mana negara lahir sebagai kekuatan super untuk menjinakkan nafsu liar manusia (oleh Hobbes disebut Leviathan) demi berebut sumber makanan di tengah ekologi yang miskin, iklim yang ganas, dan banyaknya populasi—agar tidak membahayakan sesama.

Perbedaan mental itulah yang diangkat oleh Heri Dono di Venice Biennale 2015 dengan karya berjudul Trojan Comodos: Asia menguasai dunia dengan perdagangan dan kebudayaan, sedang Barat menguasai dengan perang dan politik kontrol govermentalisasi di segala bidang, sebagaimana kelompok dagang VOC datang ke kawasan Nusantara dilengkapi pasukan bersenjata, mendirikan benteng-benteng pertahanan, dan seterusnya. Karya tersebut menemukan makna politis yang penting—sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Heri Dono dalam sebuah perbincangan—ditampilkan di Venice sebagai kota kelahiran kapitalisme pada Abad XV. Kapitalisme, kita tahu, merupakan sistem ekonomi yang kelak akan mengubah struktur waktu sejarah dunia dari siklis-spiritual menjadi linear-progresif-sekuler, dengan Barat yang berhasil menumpuk kekayaaan melalui penjajahan di seantero bumi (hal tersebut dilakukan karena alamnya miskin, dan karena itu menjadi agresif terhadap alam) diposisikan berada di garis depan sejarah.

III

Sebagaimana kebudayaan-kebudayaan lain, Islam tidak bisa lepas dari penyesuaian-penyesuaian dengan mental dan praktik masyarakat yang tinggal di kawasan Nusantara ini, terlebih karakteristik intrinsik doktrinnya banyak yang sesuai dengan eko-geografi kawasan ini. Dari tinjauan alam, Nusantara dan Arab memiliki kesamaan sebagai masyarakat dengan mobilitas sosial tinggi, meski dengan ekologi yang berbeda. Di Nusantara, masyarakat hidup secara nomadik di laut, sedang di Arab hidup secara nomadik di padang pasir. Bagi orang Arab, padang pasir dianggap sebagai samudera, unta tak ubahnya perahu, dan oasis-oasis serta daerah tempat tinggal menetap (madain) disebut sebagai pulau-pulau. Itulah kenapa bangsa Arab menamai wilayahnya dengan sebutan jazirah yang berarti "kepulauan". Dan barangkali karena itu pula bagi orang Jawa, Arab dianggap sebagai "segara wedi" (lautan pasir)—layaknya kembaran lain dari Nusantara yang maritim.

Lahir dan hidup dalam ekologi dan kultur nomadik baik di padang pasir maupun di lautan membuat Islam tidak mengenal sistem kependetaan yang lebih berorientasi teritorial namun lebih menekankan pada tanggung jawab individu dalam relasi sosial, dengan struktur organisasi lebih berbentuk jaringan daripada stratifikasi apalagi kelas sosial ekonomi yang tegas. R. Michael Feener dan Terenjit Seeva (2009) menyebut organisasi jaringan yang membentuk peradaban tersebut dengan frasa "Islamic connection" yang jejaknya dapat dijumpai pada tradisi santri kelana dan peziarah keliling di Nusantara ini hingga hari ini. Kesesuaian mental, model organisasi, dan orientasi agama demikian membuat Islam lebih mudah diterima di Nusantara pada era kebangkitan perdagangan Asia Tenggara daripada era kejayaan agraris. Dalam perdagangan, posisi individu yang lebih otonom mendukung praktik transaksi, dan cara kerja jaringan lebih relevan untuk kebutuhan distribusi. Berbeda dengan posisi individu yang tunduk sepenuhnya terhadap struktur total kosmologi mandala Hindu-Budha yang memang lebih sesuai untuk perekonomian agraris dan masyarakat menetap. Itu pula dalam Islam, hukum perdagangan diatur dengan sangat terperinci dibanding hukum pertanian, perkawinan, terlebih ritual. Mengingat besarnya pengaruh Islam dalam membentuk konsep individu serta kemampuannya mengaransemen Nusantara menjadi peradaban, Denys Lombard (2005) menyebut bahwa modernisasi di Nusantara lebih dibentuk oleh Islam daripada Barat (VOC) yang datang membawa tengkulak dan senapan.

Nusantara, dengan eksposisi sedikit puitis, tak ubahnya untaian batu mulia yang memancarkan cahaya spiritual, dirajut dalam siklus sejarah, irama ritual dan festival. Pantulan cahayanya, kendati sumber cahayanya yang kuat berada di masa lalu, namun pijar spiritnya masih menyala di masa kini, bertransformasi ke dalam berbagai bentuk ekspresi, beradaptasi dalam berbagai konteks, dan bersanding dengan kosmologi-kosmologi lain yang hadir ke kawasan ini pada masa selanjutnya, termasuk seni rupa modern yang ditampilkan dalam pameran bertajuk Matja ini. Sebagaimana disampaikan kurator A. Anzieb dan Hasan Basri, pameran ini berusaha membaca, mengolah dan menampilkan khazanah "Islam Nusantara" yang sejak lama mampu hidup saling merajut dengan kosmologi-kosmologi spiritual lain, bahkan dengan modernitas. Hal itu ditunjukkan dalam keragaman tema, ekspresi, teknik, dan medium yang digunakan para seniman dalam pameran ini.

IV

Matja merupakan turunan dari surat pertama Al-Quran Iqra (dan karena itu memiliki bobot spiritual) yang berarti "Bacalah!". Membaca, dalam konteks ini, bukan aktivitas kognitif-intelektual semata melainkan juga aktivitas eskperiensial dan penghayatan. Ketika kata tersebut ditempatkan dalam konteks seni rupa, makna "membaca" bukan semata memahami dengan mencerap fenomena luar ke dalam kesadaran, melainkan juga memproduksi fenomena tersebut melalui kerja kreatif yang bersifat praktikal-eksperiensial dan memancarkannya ke luar—dalam wujud karya rupa yang material. Singkatnya, dalam seni rupa arti kata "membaca" juga sekaligus "menulis", atau mengkonsumsi sekaligus memproduksi makna baik kognitif, eksperiensial, maupun praktikal. Dan sesuai bentuk materialnya, membaca dalam seni rupa juga sekaligus mengembangkan sesuatu yang abstrak (ide/konsep) menjadi konkret (karya seni) dan memberi bobot abstrak (ide/konsep) terhadap sesuatu yang konkret (karya seni). Membaca sebuah karya seni dengan membuang salah satu unsur tadi akan mendistorsi substansi dari seni rupa sebagai salah satu jalan yang mampu mentransformasi kemanusiaan ke puncak tertinggi, khususnya bagi pribadi-pribadi yang dikaruniai bakat khusus dalam bidang ini.

Respon para perupa terhadap spiritualitas Nusantara tersebut, menyebut kecenderungan yang pertama dalam pameran ini, adalah dengan melakukan transendensi terhadap simbol yang merepresentasikan tatanan kosmis yang suci. Melalui transendensi, seniman mengambil simbol tersebut untuk digapai dan diafsir lewat lukisan. Usaha tersebut dilakukan, misalnya, oleh Agus Kamal dalam gaya kaligrafi modern dengan teknik "realisme kerok" yang khas kreasinya. Melalui karyanya ini, ia memilih menghayati dan mengekspresikan spiritualitasnya secara formal, dengan bentuk ekspresi lafadz Ilahi bergaya arkais dan siklis, sehingga pusat suci Ilahi dapat tampil dalam kepurbaan yang agung. Karya kaligrafi lain juga muncul dalam lukisan abstrak A. Mustofa Bisri (Gus Mus) berjudul Hanya Lafal. Lukisan tersebut berupa garis-garis vertikal yang puitis, anggun, bersahaja dan modern. Dalam proses transendensi yang kontemplatif tersebut, baik Kamal maupun Gus Mus, juga terjadi dialog imajinatif antar budaya (Nusantara dan Arab) dan zaman (masa lalu dan masa kini), dengan memperkaya perkembangan seni kaligrafi Arab, mulai dari bentuk paku di Levant (juga disebuat Syami—kini meliputi Syria, Jordania, Lebanon dan Palestina) dan Yaman, kemudian berkembang ke gaya klasik standar dengan struktur baku, hingga ke bentuk modern yang menampung kebebasan ekspresi individu seniman—mungkin agar ibadah artistiknya semakin mudah dan leluasa.

Adapun usaha transendensi di luar bahasa religius formal dapat ditemukan dalam lukisan abstrak eskpresionis Najib Amrullah berjudul Gembiraku Gembira Kita, dengan pilihan warna riang dan sapuan kuas yang bebas. Dengan lukisan tersebut, spiritualitas ditafsir sebagai pelepasan dari beban psikologis. Di samping itu, terdapat juga usaha transendensi yang berusaha mengontrol transendensi ke arah ikonissai fenomena. Dengan ikonisasi, fenomena diangkat ke realitas yang lebih tinggi dan mengerucut pada figur yang mampu mewakili realitas yang lebih luas dengan mencakup dan menyatukan makna-makna yang kontradiktif; persis seperti ikon jam mewakili semua jenis jam dan simbol salib atau bintang sabit mewakili semua umat Kristen dan Islam yang belum tentu rukun di antara sekte-sektenya. Agus Suwage dalam karya The Champ melakukannya dengan melukis rupa figur harimau di atas meja, namun bayangan (ruhnya) meloncat bebas. Harimau adalah ikon dari kemenangan dan kekuasaan, serta merupakan totem dari berbagai usaha mistik, magis dan spiritual terkait kekuatan dan kependekaran. Sedang Jeihan dalam karya Sunan Kalijaga berusaha melakukan ikonisasi fenomena dalam aktivitas transendensinya. Fenomena tersebut dilakukan dengan langsung pada figur penting Sunan Kali Jaga yang mengaransemen Islam di kawasan Nusanatara dengan merajut agama, adat istiadat, sistem politik, lanskap kota tata negara, dan seni sebagai kesatuan kosmologis. Mengingat Sunan Kali Jaga sendiri adalah ikon, maka usaha Jeihan disini melakukan ikonissai dari ikon yang sudah diterima secara umam, sehingga apa yang ia lakukan bukan menambah makna, melainkan lebih berusaha menegaskan dan melebarkan pancaran Sang Sunan dalam konteks seni rupa modern..

Abstraksi dan transendensi dalam bentuk lain dilakukan Rocha Radipa dalam Echoes of Glory dengan kecenderungan abstrak ekspresionis. Karya ini menarik karena menyerupai cara khas Nusantara dalam memaknai sejarah yang amat dipengaruhi oleh gema resital pantun dan tembang. Sejarah, dalam konstruksi budaya Nusantara, bukan urutan perisitiwa kronologis melainkan momentum-momentum yang dianggap penting yang dihadirkan lewat serial nyanyian, sehingga waktu yang hadir bukan sekuensi peristiwa yang sebenarnya terjadi melainkan durasi serialitas dan paralelitas irama puisi tentang peristiwa tersebut. Kejayaan kerajaan dan kisah para pahlawan di masa lalu dikisahkan tidak persis seperti yang terjadi di masa lalu, melainkan lebih sebagai hasil konstruksi puitis dan musikal di masa kini tentang masa lalu itu. Inilah yang menjadi pokok kajian James Siegel tentang budaya tembang di Sumatera dalam Shadow and Sound (1981) dan kajian James Fox dalam Panen Lontar (1996) tentang puisi naratif manaholo masyarakat Rote. Dengan kata lain, peristiwa yang berjalan dalam kronologi linear sejarah digubah ke dalam struktur siklis pola rima pantun dan nyanyian yang berulang-ulang.

Usaha transendensi di luar ekspresi keagamaan formal, ekspresionis dan ikonisasi adalah transendensi tradisi spiritual dengan bahasa ungkap tradisional. Usaha tersebut tampak pada lukisan gunungan karya Lukman dan Tri Purwanto. Keduanya melukis gunungan dalam bentuk segitiga geometri modern dengan dibubuhi ragam hias dekoratif khas Nusantara: tumbuhan, laut, dan gunung itu sendiri. Praktik ini merupakan usaha memberi bobot spiritual terhadap modernitas dan vice versa: memberi bobot modern terhadap spiritualitas. Dengan cara itu, laju modernitas dalam struktur waktu progresif diinterupsi oleh kekuatan spiritual besar sang Pengendali Sejarah yang coba digapai oleh senimannya, mengingat gunung (meru) merupakan simbol dari hierarki kesucian dalam usaha manusia menyatu dengan Tuhan. Dalam konteks ini, seni rupa modern yang telah demikian sekuler di Barat berubah menjadi spiritual karena diubah oleh aktivitas seniman yang bersemangatkan ritual.

Hal itu membedakan transendensi di Barat dengan di sini. Di Barat, transendensi dilakukan dengan menafsir realitas berdasarkan praktik abstraksi dalam sains analitis seperti dilakukan Kandinsky, Rothko, Mondrian, dan terutama Vasarely. Implikasinya, semakin transenden seorang pelukis akan semakin jauh dari alam, karena cara berpikir analitis (dari kata "analiyen" yang berarti "menarik dari" atau "memisahkan dari") justru menjauhkan seniman dari fenomena yang direspon. Jika fenomena yang direspon adalah realitas suci, maka akan semakin jauh pula dari kesucian itu. Sedangkan di sini, abstraksi dilakukan tidak dengan pendekatan analitis layaknya fisikawan atau matematikawan, melainkan dengan penghayatan dan kontemplasi menuju pemurnian layaknya meditasi mistikus, sehingga semakin transenden seorang seniman dalam berkarya akan semakin menyatu secara ontologis dengan alam dan pusat suci (divine core). Oleh karena itu, transendensi di Barat merupakan usaha sekulerisasi terhadap entitas suci dengan mengambil simbol suci namun memutus afiliasinya dengan institusi keagamaan, sedang di sini sebaliknya: melakukan spiritualisasi terhadap sekularisme di mana bentuk-bentuk abstrak modern ditafsir sesuai konsep spiritual dari agama yang telah melebur menjadi tradisi (bukan institusi). Dengan cara itu, struktur waktu linear-progresif dari modernitas diubah agar selaras dengan struktur waktu siklis-spiritual dalam tradisi tersebut—yang dalam keseluruhannya memiliki makna spiritual.

V

Transendensi dan kontemplasi semacam itu bukan tanpa risiko; sebagaimana meditasi yang terlalu intens akan membuat seseorang berada di ketinggian dan terasing dari kehidupan sosial sehari-hari. Kesucian yang digapai dengan melukis atau mengukir gunungan akan bertahan di puncak abstraksinya sebagai entitas yang tetap dan absolut, namun steril dari gerak sejarah yang dinamis dan liar; begitu indah dan abadi, namun kehadirannya dalam kehidupan kurang aktual. Dalam tradisi Nusantara yang kosmopolit dan egaliter, semedi dilakukan tidak setiap saat melainkan dalam waktu-waktu tertentu yang dianggap keramat atau ketika ada hajat yang sangat mendesak. Waktu selanjutnya digunakan untuk bekerja, melakukan ritual dan festival sesuai kalender kosmis yang berlaku.

Kecenderungan kedua setelah transendensi adalah Matja ditafsir sebagai usaha merefleksikan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, simbol suci yang telah berada di ketinggian sebagaimana dibayangkan para seniman abstrak berusaha diturunkan ke dalam realitas sosial-budaya yang lebih praktis dan ekperiensial. Masuk dalam kategori ini karya Nasirun Matja Maning dan instalasi Perahuku Samuderaku, Semar Wayang Golek karya Tarman, Aksara Kagangga karya Edopop, Dongengan Bapak karya Rahman Seblat, Body Swing dan Is It as Simple and as Easy karya Ivan Sagita dan Cahaya lukisan karya Bunga Jeruk.

Nasirun, seperti biasa, mengolah moral and spiritual story dari kehidupan rakyat jelata namun ditempatkan dalam lanskap pemahaman yang luas, hingga terjadi komunikasi yang menggetarkan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Sebuah karya yang mampu merujuk pada dirinya sendiri, menjadi sebuah realitas atau "dunia" dalam karya itu sendiri. Cara kerja demikian dibentuk oleh lingkungan asal Nasirun sebagai penduduk desa di Banyumas yang kental nuansa tradisi, spiritualitas,dan tidak mengenal tata aristokratik Jawa, sehingga metafor yang dipilih adalah figur dan dunia batin orang kecil di tengah kosmologinya. Dalam lukisan Matja Maning, Nasirun menempatkan seniman Slamet Gundono yang juga berasal dari Jawa manca-negari (dari Tegal, sama seperti Banyumas yang juga berada di luar batas negara konsentris Kesultanan Mataram) tengah menafsir bintang-bintang jagad raya, dengan teks tembang memenuhi langit-langitnya. Slamet, yang juga santri dan seniman yang berorientasi kerakyatan, adalah seorang inovator "seni rakyat" agar tetap relevan dan aktual, tidak hanya dalam realitas kekinian budaya Jawa namun juga mampu menempatkannya dalam konteks seni kontemporer yang akomodatif terhadap inovasi-inovasi lokal. Dengan demikian, Nasirun tengah menegaskan bahwa di Nusantara ini, spiritualitas dibagi secara adil dan merata, tanpa peduli kelas sosial, tanpa pandang modern atau tradisional—semua mendapat tempat yang sama dalam tatanan kosmisnya yang suci.

Tidak berhenti di situ, sosok Slamet Gundono yang adalah seorang dalang kemudian disalin ke dalam instalasi wayang dan ditempatkan di atas perahu berjudul Perahuku Samuderaku. Instalasi tersebut mengandung makna yang khas Nusantara; bukan semata karena perahu adalah metafor paling jelas dari ekologi maritim kawasan ini, melainkan juga karena perahu merupakan simbol spiritual bagi kalangan sufi—kelompok yang menyatukan spiritualitas dan seni dalam mewarnai sejarah Nusantara ini. Para sufi mengibaratkan kejernihan hati yang telah diasah di hadapan Tuhan bagaikan intan, sedangkan pencari intannya adalah para sufi yang berlayar di atas gelombang nafsu yang harus dijinakkan. Sang sufi dalam instalasi tersebut adalah Slamet Gundono, sosok dalang yang telah diubah menjadi wayang, ketika pencarian itu telah menjadi paripurna.

Tafsir yang mencoba merespon realitas sehari-hari juga dilakukan oleh Tarman dalam wujud Semar dari versi wayang golek. Semar dalam lukisan Tarman digambarkan tengah membawa saudara-saudaranya sesama Punokawan. Sebuah usaha interpretasi simbolik tentang Semar sebagai lambang dari kosmos yang mampu merangkul keseluruhan kerabatnya. Perbedaannya, jika Nasirun menafsir realitas sehari-hari dengan nuansa mistis yang kuat, Tarman melakukan visualisasi dengan gaya yang lebih realis, sehingga materialitas lukisan hadir lebih kuat daripada alam pikiran yang dikandungnya. Hal tersebut kurang lebih senada dengan Rahman Seblat dalam Dongengan Bapak. Seblat menggambarkan seorang ayah yang berperan sebagai dalang yang bercerita untuk anak-anaknya dengan gaya karikatural. Pelukisan semacam itu telah mentransformasi wayang dari pertunjukan besar ke ruang keluarga, serta dari alam pikiran dewasa menuju alam pikiran anak-anak, sehingga pesan spiritual hadir tidak dalam bentuk mistis yang menakutkan seperti Nasirun namun dalam keriangan karikatural sesuai alam pikiran bocah. Adapun Edopop menghadirkan lukisan sebagai interpretasi kosmologis di tengah tata ekologis yang berubah dalam rupa sosok-sosok pinggiran di tepian ladang dan gunung sebagai pusat tata dunia konsentris.

Termasuk dalam spiritualitas keseharian adalah lukisan Ivan Sagita dan Bunga Jeruk Permata Pakerti, meski keduanya memiliki kecenderungan estetis yang berbeda. Ivan, salah seorang pionir "surealisme Jogja", menghadirkan dunia mistis dari kewajaran sehari-hari dalam Body Swing Series dan Is It as Simple and as Easy—sebuah penggambaran yang surealis jika dipandang dari kaca mata modernitas yang lebih menekankan dimensi empiris namun bagi orang Jawa lebih dipandang sebagai realitas karena bagi orang Jawa dimensi meta-phenomena yang gaib dianggap lebih nyata daripada yang dapat diindera. Adapun bunga Jeruk menfsirkan Matja dalam rupa dua orang anak yang tengah membaca langit yang dipenuhi buah-buah cinta berguguran. Lukisan yang bertendensi romantis dan bergaya naif tersebut menyerupai lukisan Nasirun Matja Maning dari komposisinya (manusia di tengah lanskap angkasa), namun sang pembaca langit dalam lukisan Bunga bukan seorang dalang yang sufistik melainkan sepasang bocah yang masih bening pikir dan batin—paralel dengan kecenderungan estetiknya yang naïf.

VI

Setelah spiritualitas diintensifkan melalui transendensi, kemudian dipancarkan dalam realitas sehari-hari, akhirnya tiba saatnya spiritualitas dipertemukan dengan realitas-realitas yang penuh paradoks. Kosmologi suci adalah sesuatu yang ideal dalam kontemplasi, namun saat ditempatkan dalam kehidupan luas yang penuh persoalan, di situ spiritualitas akan tampil lebih menggetarkan dan memiliki implikasi lebih luas. Itulah kecenderungan ketiga dari karya-karya yang tampil dalam pameran ini.

Masuk kategori ini adalah karya novelis Ahmad Tohari berjudul Macan Dikejar Masuk Langgar. Dalam masyarakat Banyumas, langgar adalah nama lokal untuk mushola sebagai tempat ibadah untuk rumpun penduduk yang kecil. Lebih dari sekadar tempat ibadah, langgar juga digunakan untuk istirahat sehabis dari ladang, menonton pertunjukan ketoprak, lengger atau wayang di larut malam, juga tempat anak-anak bermain. Langgar, dengan kata lain, adalah tempat orang desa menyimpan keluh kesah dan menaruh nilai-nilai yang paling luhur. Adapun macan bagi orang Jawa adalah lambang kekuasaan, ambisi, dan keperkasaan. Dengan lukisan ini, Ahmad Tohari tengah berbicara soal abuse of religion dimana (institusi) agama digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan di luar fungsi dan nilai-nilai dasarnya. "Kalau sudah memakai peci dan surban, siapa yang menyangka kalau orang tersebut bajingan?" Kurang lebih demikian kata pelukis dalam sebuah perbincangan. Implikasinya adalah agama yang semula merupakan wahana masyarakat bernaung dan menyempurnakan kemanusiaannya, justru menjadi wahana yang menghancurkannya, seiring tabel nilainya menjadi berantakan karena ketidak sesuaian antara strultur (moraluitas) dengan aktor (umat, terutama pemimpinnya) serta tujuannya.

Usaha membongkar spiritualitas dalam realitas juga dilakukan oleh S Teddy D dan Bob Sick Yudhita dalam pertunjukan yang "bandel". Bob adalah seniman yang setia menempuh jalan kesakitan demi menanggung penderitaan dunia. Cara kerjanya terkesan konyol, namun jika dilihat lebih dalam, Bob sebenarnya tengah memasuki jalan eksistensial dalam berkesenian dengan menjadikan tubuhnya sebagai kanvas: seluruh badan dibubuhi tato "buruk rupa" (bukan tato salon yang indah). Dalam pertunjukannya, Bob yang tubuhnya penuh tato mengendarai vespa berbendera Nahdhatul Ulama dan ikat kepala Front Pembela Islam (FPI). Dengan praktiknya tersebut, Bob tengah menunjukkan begitu banyak paradoks dalam realitas keagamaan mutakhir di negeri ini: manusia bertato yang identik dengan brandal justru adalah seorang manusia religius, adapun religiusitas yang seharusnya hadir sesuai nilai-nilai ideal justru dikoyak oleh kepentingan pemimpin-pemimpinnya. Atau dengan kata lain, Bob sedang menjadikan dirinya sendiri sebagai simbol dari korban politik keagamaan.

Dengan mode of discourse menyerupai para seniman Dada dan pop-kiri tersebut, Bob memprovokasi sekaligus menelanjangi penyalahgunaan entitas spiritual untuk tujuan di luar itu (abuse of religion); mirip semangat Ahmad Tohari Macan Dikejar Lari ke Langgar. Bedanya, Bob menjadikan tubuhnya sendiri sebagai art property sehingga tampil lebih performatif dan radikal dalam modus operasi wacananya.

Masih dalam kecenderungan yang sama, seniman Arahmaiani menghadirkan kata "I Love You" dalam kaligrafi Arab bergaya pop art. Sekilas, karya ini biasa dan sederhana, namun sebenarnya ia membongkar cakupan wacana cukup luas. Pop-art lahir sebagai counter terhadap high art yang telah menjadi milik elit intelektual dan borjuis. Dalam cara kerjanya, pop art tidak menggunakan basis konseptual khas ilmuwan dan filsuf seperti para pelukis high art Eropa, namun dengan melukis produk-produk kapitalisme pasar yang telah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat konsumer Amerika (Kamandobat, 2007). Adapun kaligrafi Arab, sesuai bahasanya, secara ontologis memiliki bobot spiritual mengingat bahasa tersebut merupakan bahasa wahyu. Ketika bahasa wahyu yang spiritual digunakan untuk menulis kata cinta dalam gaya pop art, maka akan terbuka sebuah medan pemaknaan: kapitalisme yang sekuler ternyata memiliki hubungan baik dengan entitas spiritual, persis sebagaimana sejumlah penguasa Arab menjadi kapitalis baru dunia, dan menjalin kerjasama dengan penguasa dan pengusaha Amerika-Eropa. Dengan kata lain, karya ini membongkar "perselingkuhan yang indah" antara penguasa agama dengan penguasa modal dalam rangka melipatgandakan keuntungan. Dalam konteks politik waktu, keduanya bersepakat menjinakkan waktu siklis spiritual dan waktu linear progresif kapitalisme untuk dijadikan rel demi meluncurkan kereta kekuasaan dalam rangka menaklukkan wilayah dan sejarah, di mana Timur dan Barat serta masa lalu dan masa depan tunduk pada motif dan kehendak pribadi.

Selain karya-karya yang masuk dalam koridor pop art, baik yang cenderung "kanan" seperti Arahmaiani maupun yang "kiri" seperti Bob Sick, muncul karya Tisna Sanjaya yang tegas, frontal dan bertenaga khas seni activism. Lukisan Tisna berjudul Mooi Indie 2 berupa pemandangan alam dari beras dan hasil alam lain di Nusantara ini sebagai critical review terhadap isu mooi indie dan kelas sosial tertentu yang menikmatinya. Pelukis Sudjodjono pernah mengkritik tendensi mooi indie Barat yang cenderung melihat Nusantrara dari keindahan alamnya namun melupakan jiwa dan nasib penghuninya. Tisna, lebih jauh dari Sudjodjono namun masih dalam semangat yang sama, menegaskan bahwa hal paling romantis dan eksotis dari mooi indie bukanlah pemandangan alamnya melainkan hasil alamnya: rempah-rempah yang membuat kawasan ini menjadi sasaran penjajahan dari dulu hingga kini. Singkatnya, mooi indie bukanlah persoalan "politik seni rupa" namun persoalan "politik ekonomi" dalam rupa eksploitasi alam dan manusia yang terus berlangsung hingga kini. Dengan demikian, lewat lukisan Tisna tersebut kita menjadi tahu bahwa alam yang merupakan manifestasi simbolik dari pandangan spiritual masyarakat Nusantara justru menjadi sumber penderitaannya: firdaus yang indah itu telah menjadi barang jarahan berabad-abad, dan para penghuninya menderita tepat di kuil sucinya—keindahan alam tropis dengan segala flora fauna serta ritual dan festivalnya.

Di tengah situasi menyedihkan tersebut, Heri Dono tampil sebagai pendongeng kontemporer dalam instalasi dan pertunjukan Flying Dress, bekerjasama dengan Wiwiek Poengky Art Fashion. Fashion show ini menampilkan busana"haute couture" yang dibuat khusus untuk merespon gaya hidup para penggila haute couture yang sebenarnya. Baju-baju rancangan Heri Dono dan Wiwiek tidak dibuat dari sutra, taffeta atau organdi layaknya haute couture beneran melainkan dari daur ulang sampah hasil buangan masyarakat yang telah dibuat super konsumtif oleh kapitalisme pasar dengan cara memanipulasi tabel kebutuhan dan menaikkan kurva kepuasan di luar batas. Kenyataan karya ini ditampilkan dalam pameran seni rupa yang juga telah masuk ke dalam perangkap kapitalisme, justru menimbulkan implikasi bukan semata pada tatanan ekonomi kapitalisme tetapi juga nasib seni rupa sendiri. Alih-alih merayakan gemerlapnya, karya ini justru menunjuk sumber kemegahannya yang telah mengubah cahaya spiritual seni menjadi superfisial. Karena itu, ekomomi kesejahteraan dan yang sekarang tengah menjadi metafor global dan riuh rendah seni rupa tiba-tiba berubah menjadi komikal berkat "fashion show" ini.

Cara kerja semacam itu merupakan ciri khas Heri Dono yang menggunakan "logika bengkok" dalam sampakan ketoprak Mataraman sebagai mode of discourse. Dengan "logika bengkok" dimaksudkan, sebagaimana dikatakan oleh senimannya, tentang adanya hal yang masuk akal di balik hal yang tidak masuk akal. Misalnya, fashion show dengan menggunakan sampah adalah tidak masuk akal, namun ia menjadi masuk akal mengingat pesan moral dan politik yang disampaikan. Bayangkan jika tata dunia yang kita diami, baik politik, ekonomi, dan kultural, dibaca dengan "logika bengkok" semacam itu: kita akan jatuh ke dalam komedi hitam (black comedy) menyaksikan otoritas-otoritas dunia ditelanjangi dan dilucuti. Dalam konteks inilah karya ini mengandung muatan spiritual dan memiliki implikasi luas melebihi ruang wacana dalam seni namun juga dalam ekonomi, politik, dan ekologi.

VII

Namun, implikasi yang luas secara wacana belum cukup untuk menjadikan spiritualitas Nusantara sebagai energi yang signifikan dalam lanskap antarperadaban. Spirit tersebut perlu diolah dengan basis konseptual lebih kuat serta mencakup antardisiplin dan wilayah, digarap dengan kecakapan teknis yang lebih baik, dan lebih berani dalam mempertanyakan arsitektur budaya, ekonomi dan politik yang beroperasi secara global. Itulah yang dilakukan Anish Kapoor dalam Mirror Clouds di metropolitan-metropolitan dunia. Dengan karyanya itu, ia berusaha mengubah struktur waktu modern, orientasi kapitalisme yang progresif, dan masyarakat urban yang kompleks, ke dalam tata mandala klasik khas India dengan menggunakan instalasi cermin raksasa sebagai titik pusat konsentrisnya. Singkatnya, Kapoor telah mentransformasi mandala ke dalam realitas kontemporer dunia sehingga dunia kontempoter mengikuti konsep tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh Zaha Hadid yang menafsir lukisan Malevich dari fisika quantum. Dengan konsepnya itu, kita akan melihat beragam bidang geometris dari dimensi waktu, sehingga bidang-bidang tersebut menjadi bergerak layaknya lekuk tubuh wanita dan gelombang padang pasir di Arab (negeri asal Zaha) yang dimaterialkan dalam beragm karya instalasi dan arsitektur yang memenuhi kota-kota metropolitan dunia. Nada yang sama juga dilakukan oleh Cai Guo Qiang dalam Falling Back To The Earth yang merefleksikan kehancuran ekologis akibat praktik eksploitasi alam yang lompatan volumenya meningkat berkat kapitalisme yang bergerak dalam struktur waktu linear progresif menuju kepemilikan tanpa batas.

Untuk mengamplifikasi dimensi spiritual seni rupa kita dalam konteks kosmopolitan berskala global, bakat, kecerdasan dan semangat go international saja tidak cukup. Kalangan seni rupa kita perlu melakukan restrukturisasi secara menyeluruh, baik tata lembaga, aturan main, meritokrasi orang-orang yang terlibat, struktur jaringan yang beroperasi secara global, maupun strategi wacana di level internasional. Itulah yang dilakukan oleh China, Arab dan India dengan migrasi global di berbagai wilayah, bidang keahlian, dan zaman. Nusantara memiliki modal kultural tak terhingga untuk diolah, agar irama siklis waktu spritualnya dapat mengonduksi irama sejarah dalam cakupan wilayah lebih luas. Jika itu terjadi, posisi Indonesia dalam peta geopolitik seni rupa bukan hanya sebagai penyeimbang (seperti selama ini terjadi di hampir semua bidang), melainkan berkembang menjadi salah satu pemain yang menentukan.

 

Daftar Pustaka

Alatas, Ismail Fajrie. "Momok Ketimpangan: Waktu, Antropologi, Sejarah, dan Modernitas. Antropologi Indonesia, No. 1. (2010) Agusyanto, Ruddy. Budaya Sontoloyo: Matahari Itu Berkah atau Kutukan? Institut Antropologi Indonesia (2013) Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Verso (1981) Lombard, Denys. Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia. Gramedia Pustaka Utama (2005) Kamandobat, Faisal. Multikulturalisme: Basquiat yang Mendobrak Warhol. Kompas, 20 Oktober 2007. Rudyansjah, Tony. Maula, M. Jadul. Prahara, Hestu. Kesepakatan Tanah Wolio: Ideologi Kebhinekaan Dan Eksistensi Budaya Bahari Di Buton. Universitas Indonesia (2011) Ricci, Ronit. Islam Translated: Literature, Conversion,and TheArabic Cosmopolith of the South and Souteast Asia. University of Chicago Press (2011) Geertz, Clifford. Negara: The Theatre State in 19th Century Bali. Princeton University Press (1980) Feener, Michael R. Seeva, Terenjit (ed.) Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia. ISEAS (2009) Siegel, James. Shadow and Sound: The Historical Thought of a Sumatran People. Duke University Press (1982) Fox, James J. Panen Lontar: Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu. Pustaka Sinar Harapan (1996) Vickers, Adrian. Peradaban Pesisir: Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara. Pustaka Larasan (2009) Dari Nu Online: nu.or.id

PKS Piyungan Taubat AlaNu, Pesantren PKS Piyungan Taubat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PKS Piyungan Taubat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PKS Piyungan Taubat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PKS Piyungan Taubat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock